Sebelum memasuki alam pikiran Antonio
Gramsci ada baiknya kita mengetahui latar belakang dari Gramsci. Latar
belakang ini tentu mempengaruhi Gramsci dalam melahirkan
pemikiran-pemikirannya. Antonio Gramsci atau lebih dikenal Gramsci
adalah seorang Marxis Italia. Gramsci (1891-1937) awalnya adalah seorang
wartawan. Kemudian pada awalnya ia adalah anggota partai sosialis
Italia dan kemudian menjadi ketua dari Partai Komunis Italia (PCI).
Pemikiran Gramsci sangat dipengaruhi oleh filosof besar Italia Benedetto
Croce. Dari Croce Gramsci belajar menghargai ilmu sejarah sebagai usaha
Intelektual untuk mencakup moralitas, politik, dan seni.
Crocemembuatnya memahami keterbatasan yang ada pada positivisme yang
hanya mengakui “fakta objektif”. Namun kemudian Gramsci mengkritik bahwa
Croce berhenti pada pengertian teoritis demokrat-liberal yang tidak
berani menarik konsekuensi untuk praxis revolusioner. Bagi Gramsci Marxisme selalu akan merupakan ”filsafat praxis”. (Magnis Suseno, 2003: 173)
Gramsci yang berpijak pada tradisi
Marxis, dijatuhi hukuman penjara oleh rezim fasis Mussolini. Di dalam
penjaralah ia mencatat dan mengahsilkan tulisan-tilsan yang kemudian
dibukukan Selection from the Prison Notebooks. Banyak hal yang
ditulis oleh Gramsci ketika ia di penjara, salah satunya adalah
analisanya mengenai kelemahan dari masyarakat Italia dan kenapa sampai
muncul fasisme. Gramsci memerankan peran kunci dalam transisi
determinisme ekonomi menuju Marxian yang lebih modern. Gramsci bersikap
kritis terhadap Marxis yang “determinis, fatalistis, dan mekanistis”.
Jika Marx meyakini bahwa ideologi dan kesadaran palsu dari para buruh
diakibatkan, dikreasikan dan dijaga oleh mereka yang mengontrol dan
menguasai material dalam hal ini ekonomi atau determinisme ekonomi. Marx
berargumentasi bahwa siapa saja yang menguasai “means of productions & modes of production”
maka merekalah yang mengontrol negara dan pada akhirnya mengerakannya
dalam suatu ideologi. Kemudian kaum proletariat atau kaum yang tidak
memiliki modal akan diam sampai pertentangan-pertentangan dalam
masyarakat kapitalis semakin nampak, sehingga pada akhirnya mereka
melakukan dan menuntut revolusi kepada para opresornya. Gramsci juga
mengkritik para Marxis yang berusaha untuk menerapkan analisa Marx dan
Engels sebagai kepastian ilmiah untuk menjelaskan hukum masyarakat.
Gramsci kemudian mengkritik buku karangan Nikolai Bukharin seorang
anggota Politbiro Uni Soviet yang berjudul Historical Materialism: A System of Sociology.
Buku yang dimaksudkan sebagai buku teks tentang Marxisme Leninisme
untuk partai komunis yang lebih tinggi. Selain menjelaskan ajaran
Marxisme-Leninisme sebagai pandangan dunia proletariat, Bukharin juga
banyak memakai faham sosiologi kontemporer untuk menunjukan bahwa
materilisme historis merupakan sosiologi tentang proletariat dengan
kepastian ilmiah. Ada beberapa kritik Gramsci terhadapa Bukharin
(Magnis-Suseno, 2003: 175), yaitu:
- Buku tersebut bermaksud untuk membuat kaum proletar memahami pokok-pokok ajaran komunis, membentuk pemahaman mereka terhadap komunisme. Kritik Gramsci kemudian adalah, ia menyatakan bahwa tugas kaum intelektual bukan menyampaikan ide-ide mereka yang sudah jadi kepada masyarakat melainkan bertolak pada sesuatu yang sedang dipercayai dan diyakini oleh masyarakat sendiri. Titik tolak segala usaha untuk mewujudkan kesadaran politik yang tepat adalah apa-apa yang sesungguhnya merupakan kesadaran proletariat.
- Gramsci menolak bahwa ada teori objektif yang benar pada seluruh aspek. Menurutnya sebuah teori selalu hanya benar jika mengungkapkan apa yang sedang dialami oleh kelas sosial yang bersangkutan. Dengan kata lain, teori tidak dapat dilepaskan dari praxis. Teori dan Praxis merupakan suatu kesatuan, di mana teori merumuskan dalam konsep-konsep apa yang dirasakan sebagai kebutuhan dan dorongan oleh masyarakat. menurut Gramsci setiap usaha untuk merumuskan sebuah teori yang kemudian diterapkan pada masyarakat adalah sesuatu yang salah kaprah, dan merupakan positivisme dan saintifisne yang harus ditolak.
- Sesuai penolakan di atas, Gramsci juga menolak Materialisme yang menurut Engels dan Lenin merupakan pandangan dasar Marxisme. Dengan materialisme sebagai ajaran tentang seluruh hakikat seluruh realitas maka materialisme termasuk positivistic dan naturalistik. Sebagai ajaran mengenai hakikat objektif seluruh realitas materialisme bersifat “metafisik” dan tidak masuk akal karena mengabstraksi dari praxis sosial.
- Dengan menolak kemungkinan sebuah teori objektif ilmiah tentang masyarakat yang lepas dari perjuangan kelas sosial, Gramsci menolak kerangka pikiran “superstructure”. Ia menolak bahwa jalan sejarah sudah pasti dan terdeterminasi. Ia menolak bahwa kebudayaan ditentukan oleh hubungan-hubungan produksi. Ia menolak anggapan bahwa alam pemikiran sekedar superstructure dari struktur kekuasaan ekonomi.
- Gramsci juga berbeda pendapat dengan Bukharin tentang makna dan manfaat filsafat. Jika Bukharin menyatakan bahwa filsafat adalah analisa teoritis atas dasar ilmu-ilmu alam. Bagi Gramsci filsafat muncul dalam dua bentuk, yaitu dalam pemikiran kaum intelektual dan dalam bentuk akal sehat masyarakat. dalam kedua bentuk tersebut filsafat mengangkat kondisi-kondisi cultural objektif sosialisme ke dalam dimensi cita-cita dan pemikiran, sehingga menjadi potensial untuk dinyatakan dalam tindakan praktis. Filsafat membuka cakrawala tindakan yang akan mengubah masyarakat.
Oleh karena itu kita dapat memahami
mengapa Marxisme menurut Gramsci harus bertolak dari apa yang hidup dari
hati dan pemikiran masyarakat. pemikiran tersebut yang akan
mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka untuk mengubah
struktur-struktur lama masyarakat ke arah sosialisme. Kesadaran
merupakan faktor kunci bukan hanya sekunder.
Pemikiran Gramsci
Ketika membaca karya Gramsci maka kita
akan memfokuskan diri pada konsep hegemoni. Gramsci memiliki fokus untuk
mengkombinasikan analisis dari ekonomi Marxis dan penekanannya pada
proses politik dan kultur. Gramsci membangun konsep yang dapat
menjelaskan kenapa beberapa kelompok mampu memiliki kekuasaan dan
bagaimana kelompok yang berkuasa tersebut kemudian membangun dan menjaga
kepemimpinan moral dan kepemimpinan budaya. Berbeda pendapat dengan
dengan determinisme ekonomi, Gramsci berpendapat bahwa hegemoni tidak
otomatis berasal dari mereka yang memiliki dominasi ekonomi dari kelas
yang berkuasa, tetapi adalah sesuatu yang harus dibangun dan
diperjuangkan.
Karya Gramsci yang paling terkenal adalah
tulisan-tulisannya semasa ia dipenjara oleh rezim fasis Mussolini.
Seperti yang telah disampaikan di atas Gramsci adalah ketua partai
komunis Italia sebelum ia dipenjarakan. Ia mengamati kekhasan situasi
yang ada di Italia ketika itu. Gramsci menyatakan bahwa sekonomi
bukanlah faktor utama dari perjalanan sejarah manusia, akan tetapi
hubungan seseorang di dalam masyarakat, posisi seseorang dalam
masyarakat, bagaimana seseorang kemudian mencari kesepakatan diantara
sesamanya, dan kemudian membangun masyarakat berdasarkan kesepatakan
tersebut. Gramsci menolak bahwa ekonomi adalah satu-satunya faktor yang
memainkan peran yang signifikan dalam masyarakat. Ia meyatakan harus
dicapai keseimbangan antara kondisi ekonomi dan pembangunan kekuatan
ekonomi, kebudayaan dan ide.
Gramsci mengakui bahwa ada sebuah
keteraturan sejarah di dalam suatu masyarakat, tetapi ia menolak bahwa
perkembang sejarah masyarakat adalah sesuatu yang otomatis dan tak
terhindarkan. Ia menyatakan agar revolusi terwujud maka masyarakat
seharusnya bertindak, dan sebelum mereka bertindak mereka harus mampu
memahami hakikat dan situasi keberadaan mereka dalam suatu sistem yang
sedang mereka jalani. Gramsci mengakui arti penting faktor struktural,
khususnya ekonomi akan tetapi ia tidak percaya hanya faktor-faktor
inilah yang mengakibatkan masyarakat melakukan perlawanan. Gramsci
mengatakan perlu ada ide revolusioner yang mampu menggerakan massa. Ide
revolusioner ini tidak hanya muncul dari masyarakat, tetapi harus ada
yang mengembangkan dan menyebarkannya. Kemudian Gramsci menyatakan harus
ada gagasan yang dibangun oleh para intelektual yang kemudian
disebarluaskan ke masyarakat dan dipraktekan oleh mereka sendiri.
menurutnya massa tidak dapat membangun gagasan-gagasan semacam itu.
Kalaupun mampu dan ada, mereka hanya dapat mengalami pada level
keyakinan. Masyarakat tidak dapat sadar dengan sendirinya, mereka harus
dibantu oleh para elit sosial yang mempengaruhi mereka agar melakukan
aksi yang mengarah kepada revolusi sosial. Gramsci memokuskan pada
gagasan kolektif dibanding pada struktur sosial seperti ekonomi yang
menjadi basis dari kaum Marxian. Gramsci menghubungkan konstruksi
hegemoni dengan perjuangan ideologi untuk memenangkan hati masyarakat.
Peran krusial untuk memantapkan ideologi tersebut ada di intelektual.
Para intelektual tersebut harus mengakar di masyarakat.
Gramsci adalah seorang Hegelian. Konsep
besar Gramsci yang mencerminkan Hegelianismenya adalah konsep hegemoni.
Ia percaya bahwa mereka yang ada di kelas kontrol itu hegemonik, yang
bukan hanya mengontrol harta benda dan kekuasaan, tetapi juga ideologi
masyarakat. Gramsci mendefinisikan Hegemoni sebagai kepemimpinan budaya
yang dijalankan oleh pihak yang berkuasa. Hegemoni berbeda dengan
koersi yang dijalankan oleh pemilik kekuasaan baik eksekutif maupun
legislatif.
Selain itu yang membedakan Gramsci dengan
pemikiran Marxian awal adalah jika Marxian awal memokuskan pada
determisme ekonomi dan aspek koersif dari dominasi negara, maka Gramsci
memokuskan pada hegemoni kepemimpinan budaya. Konsep hegemoni membantu
kita untuk memahami dominasi yang terjadi di masyarakat kapitalis. Dalam
analisis kapitalismenya, Gramsci ingin mengetahui peranan para
intelektual yang bekerja atas nama kapitalisme memperoleh kepemimpinan
budaya serta sikap patuh dari massa. Hegemoni dominan dari nilai dan
norma kaum borjuis yang menguasai kelas subordinat. Kemudian Gramsci
melihat peranan kunci intelektual komunitas dan partai komunis untuk
mampu meraih kepemimpinan budaya terhadap seluruh masyarakat. Dominasi
dari kelompok sosial yang berkuasa tidak hanya diakibatkan oleh kondisi
ekonomi mereka yang mendominasi, tetapi juga harus dikonstruksi dari
kepemimpinan moral dan kepemimpinan budaya.
Hegemoni digunakan untuk menunjukan
kekuasaan dari suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya dalam hal
ini penguasaan dari kelas borjuis terhadap kelas proletar. Hegemoni
seperti yang telah dinyatakan diatas bukan saja dalam masalah ekonomi
dan politik saja. akan tetapi menunjukan kemampuan suatu kelas sosial
yang dominan untuk memproyeksikan dan mempertunjukan bagaimana mereka
memandang dunia, cara pandang mereka terhadap sesuatu. Sehingga pada
akhirnya kelas yang terhegemoni akan mengikuti cara pandang yang
dilakukan oleh kelas yang berkuasa sebagai sesuatu yang biasa. Kemudian
bagaimana kelas yang berkuasa tersebut menjaga hegemoninya? Hal ini
dapat dilakukan melalui masyarakat sipil. Misalnya dengan memciptakan
suatu konsensus kultural dan politik melalui serikat pekerja, partai
politik, sekolah media, tempat ibadah dan berbagai organisasi sukarela.
Salah satu konsep pendidikan yang menarik
dari Gramsci adalah pemikirannya mengenai pendidikan. Gramsci
menyatakan agar kelas pekerja dapat melakukan counter hegemony dan
mendapatkan kepemimpinan hegemoninya, maka mereka harus mendapatkan
pendidikan agar kelak dapat menciptakan para cendikiawan yang mampu
menciptkan ideologi baru yang mampu membawa perbaikan kehidupan kelas
pekerja. Counter hegemony harus dilakukan oleh kaum intelektual
organik yang muncul dari kelas pekerja yang kemudian membuat perubahan
politik melalui partai yang revolusioner. Para intelektual organik ini
kemudian mematahkan dominasi dari kaum borjuis dan menciptakan konsep
baru mengenai masyarakat berdasarkan konsepsi kaum proletar bukan kaum
borjuis. Kaum intelektual organik ini muncul dari kalangan kelas pekerja
itu sendiri. seperti yang dinyatakan Gramsci bahwa setiap kelas sosial
melahirkan lapisan kaum intelektualnya sendiri. Menurutnya kaum
intelektual organik berbeda dengan kaum intelektual tradisional yang
cenderung mengisolasikan diri dalam masyarakat dan membentuk sebuah
lapisan tersendiri yang mengambang di atas masyarakat. kaum intelektual
organik tidak terpisah dari masyarakat, mereka menyadari posisinya
secara organic terhubung dengan masyarakat (Magnis-Suseno, 2003: 195).
Kaum intelektual organic mengungkapkan kecenderungan-kecenderungan
objektif dalam masyarakat dan berpihak kepada kaum pekerja. Mereka ikut
merasakan apa yang dirasakan oleh para pekerja dan memiliki emosi dan
semangat yang sama dengan apa yang dirasakan oleh para pekerja,
mengungkapkan apa yang dialamu mereka.
Seperti Lenin, Gramsci menyatakan bahwa
revolusi sosialis dan keberhasilannya tidaklah terjadi secara otomatis.
Revolusi akan terjadi jika benar kaum pekerja memiliki keinginan yang
kuat untuk melaksanakannya. Hal ini terjadi jika kaum pekerja
mendapatkan agitasi politik dan pendidikan yang baik, yang tentu saja
dilakukan oleh para intelektual organik. Oleh karena itu kaum pekerja
membutuhkan partai yang revolusioner, partai modern yang harus mendidik
dan melatih kaum pekerja untuk membebaskan diri dari kaum borjuis.
Berbeda dengan konsepsi Lenin mengenai partai politik -walaupun Leninlah
yang menyadarkan peran kunci dari partai politik- yang menyatakan bahwa
partai politik harus dipimpin oleh sekelompok orang yang merupakan
sekelompok kecil orang-orang yang menguasai teori revolusioner dan
seakan-akan berasal dari luar kalangan kaum pekerja yang memberikan
penyadaran kepada kaum pekerja, dan kaum pekerja akan mengikuti partai
tersebut. Gramsci berpendapat bahwa partai politik tidak berada di atas
kaum pekerja tetapi berada di dalam kaum pekerja tersebut dan mengangkat
dan membuat sadar tujuan dan misi kelas buruh itu sendiri. Partai
diperlukan untuk pendidikan buruh dan untuk mengorganisasikan perjuangan
mereka.
Kemudian Gramsci menyatakan bahwa tugas
awal dari partai revolusioner adalah merebut hegemoni sipil. Sehingga
kemudian muncul istilah “perang posisi” dan “revolusi pasif”. Melalui
perang posisi dan revolusi pasiflah partai mengusahakan perubahan
kesadaran masyarakat dan membuat kelas-kelas sosial lain mau menerima
nilai-nilai moral dan cultural kaum pekerja. Apabila kaum pekerja sudah
memapankan kepemimpinan intelektual dan moralnya maka sesungguhnya
mereka sudah memiliki hegemoni dan memiliki kuasa. Hal ini karena kaum
buruh sudah didukung oleh kelas-kelas sosial lainnya. Gramsci
mengemukakan bahwa tidak perlu mengandalkan kekerasan fisik dan unsur
paksaan untuk merebut kekuasaan seperti yang dilakukan oleh kaum komunis
di Rusia. Hegemoni yang disampaikan oleh Gramsci bukan sekedar
memastikan bahwa kaum pekerja lebih berkuasa dibandingkan kelas lain
yang menjadi sekutunya, melainkan suatu kekuasaan berdasarkan suatu
konsensus sungguh-sungguh. Perebutan kekuasaan tidak berarti dengan
melakukan penindasan para musuh yang kontra revolusi, melainkan
perebutan hati dan pikiran masyarakat oleh pandangan dunia, nilai-nilai
dan keyakinan kaum buruh (Magnis-Suseno, 2003: 197).
Referensi
Magnis Suseno, Frans. 2003. Dalam Bayangan Lenin, Enam Pemikir Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Social Theory, A Reader
Ritzer, George & Goodman, Douglas J. (2010). Teori Sosiologi, dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Post-Modern (Edisi Terjemahan). Bantul: Kreasi Wacana.
Turner, Jonathan H. (1998). The Structure of Sociological Theory, Six Edition. Wardsworth Publishing Company.
Komentar