Ayat Ayat Cinta
Novel Pembangun Jiwa
Karya
Habiburrahman Saerozi
Alumnus Universitas Al Azhar, Cairo
1. Gadis Mesir Itu Bernama Maria
Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari
berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan
menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin
sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi
dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada
dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai
tertutup rapat.
Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan
pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski
sekadar untuk shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan
menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan
hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad
beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang
tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia
tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal
kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk
memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh,
tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.
Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.
Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri
sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu
derajat celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan
panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat
yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini,
memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes
dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di
dalam kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum,
mendinginkan badan di kamar mandi.
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa
aras-arasen1 aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah
berada di Masjid Abu Bakar
1 Rasa malas melakukan sesuatu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
2
Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara
Cairo, untuk talaqqi2 pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku
belajar qiraah sab’ah3 dan ushul tafsir4. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud
Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh
Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.
Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin
itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu.
Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak
ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku
absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang
menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah. Siapa saja yang ingin belajar
qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz
dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun
ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang
beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena, di
samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Qur’an pada
beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena di antara sepuluh orang yang
terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir. Aku
satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran
jika beliau meng-anakemas-kan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang
merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya,
jika aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman.
Mereka akan bertanya kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain
sebagainya. Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh
perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu
bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima puluh
kilo meter lebih jauhnya.
Kuambil mushaf tercinta.
Kucium penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas
cangklong hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia
2 Belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau
ulama.
3 Membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh Imam.
4 Ilmu tafsir paling pokok.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
3
menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah
sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia, di delta
Nil ini. Aku mengambil satu botol kecil berisi air putih di kulkas. Kumasukkan
dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku selalu membiasakan diri
membawa air putih jika bepergian, selain sangat berguna juga merupakan salah
satu bentuk penghematan yang sangat terasa. Apalagi selama menempuh perjalanan
jauh dari Hadayek Helwan sampai Shubra El-Khaima dengan metro5, tidak akan ada
yang menjual minuman.
Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir. Angin
sahara terdengar mendesau-desau. Keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan betapa
kacaunya di luar sana. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan. Suasana
yang jauh dari nyaman. Namun niat harus dibulatkan. Bismillah tawakkaltu ‘ala
Allah6, pelan-pelan kubuka pintu apartemen. Dan...
Wuss!
Angin sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu
bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup kembali
pintu apartemen. Rasanya aku melupakan sesuatu.
“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa
tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar dari
kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.
“Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat tidak
enak pada Syaikh Utsman jika tidak datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh
puluh lima tahun selalu datang. Tepat waktu lagi. Tak kenal cuaca panas atau
dingin. Padahal rumah beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo,” tukasku
sambil bergegas masuk kamar kembali, mengambil topi dan kaca mata hitam.
“Allah yubarik fik7, Mas,” ujarnya serak. Tangan kanannya
mengusapkan sapu tangan pada hidungnya. Mungkin darahnya merembes lagi.
“Wa iyyakum!8” balasku sambil memakai kaca mata hitam dan
memakai topi menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.
5 Kereta listrik, disebut juga trem.
6 Dengan menyebut nama Allah, aku berserah diri kepada
Allah.
7 Semoga Allah melimpahkan berkah padamu.
8 Dan semoga melimpahkan (berkah-Nya) pada kalian semua.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
4
“Sudah bawa air putih, Mas?”
Aku mengangguk.
“Saif, Rudi minta dibangunkan pukul setengah dua. Tadi malam
dia lembur bikin makalah. Kelihatannya dia baru tidur jam setengah sepuluh
tadi. Terus tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula, dan minyak goreng.
Hari ini dia yang piket belanja. Oh ya, hampir lupa, nanti sore yang piket
masak Hamdi. Dia paling suka masak oseng-oseng wortel campur kofta9. Kebetulan
wortel dan koftanya habis. Bilang sama Rudi sekalian.”
Sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga—meskipun
tanpa seorang ibu rumah tangga—aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan
kesejahteraan anggota. Dalam flat ini kami hidup berlima; aku, Saiful, Rudi,
Hamdi dan Mishbah. Kebetulan aku yang paling tua, dan paling lama di Mesir.
Secara akademis aku juga yang paling tinggi. Aku tinggal menunggu pengumuman
untuk menulis tesis master di Al Azhar. Yang lain masih program S.1. Saiful dan
Rudi baru tingkat tiga, mau masuk tingkat empat. Sedangkan Misbah dan Hamdi
sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar Lc. atau Licence.
Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei sampai awal Juni
yang lalu. Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini,
pengumuman belum juga keluar.
Dan hari ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang,
yaitu aku, Saiful dan Rudi. Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya kegiatan di
Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo. Ia diminta untuk memberikan
pelatihan kepemimpinan pada remaja masjid yang semuanya adalah putera-puteri
para pejabat KBRI. Siang ini katanya selesai, dan nanti sore dia pulang.
Sedangkan Mishbah sedang berada di Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Katanya ia
harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya Mas Khalid, untuk merancang
draft pelatihan ekonomi Islam bersama Profesor Maulana Husein Shahata,
pertengahan September depan. Masing-masing penghuni flat ini punya kesibukan.
Aku sendiri yang sudah tidak aktif di organisasi manapun, juga mempunyai jadwal
dan kesibukan. Membaca bahan untuk tesis, talaqqi qiraah sab’ah, menerjemah,
dan diskusi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh
S.2. dan S.3. di Cairo.
9 Daging yang telah dicincang halus dengan mesin.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
5
Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak dan membuang
sampah, jika tidak diatur dengan bijak dan baik akan menjadi masalah. Dan akan
mengganggu keharmonisan. Kami berlima sudah seperti saudara kandung. Saling
mencintai, mengasihi dan mengerti. Semua punya hak dan kewajiban yang sama.
Tidak ada yang diistimewakan. Semboyan kami, baiti jannati. Rumahku adalah
surgaku. Tempat yang kami tinggali ini harus benar-benar menjadi tempat yang
menyenangkan. Dan sebagai yang paling tua aku bertanggung jawab untuk membawa
mereka pada suasana yang mereka inginkan.
Aku melangkah ke pintu.
“Saif. Jangan lupa pesanku tadi!” kembali aku mengingatkan
sebelum membuka pintu.
“Insya Allah, Mas.”
Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar kata
Saiful, cuaca sebetulnya kurang baik.
Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih
panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring
di padang Mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala.
Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat.
Dan amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa
muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat,
bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau
tidak ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah
warisan dari kakek. Kalau tidak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air
mata dan selaksa doa dari ibu, ayah dan sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa
jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau tak ingat itu semua, shalat
zhuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan
lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau untaian shalawatnya
Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi
minum ashir10 mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas atau
makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan. Masya Allah, alangkah
segarnya.
Kubuka pintu apartemen perlahan.
10 Juice
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
6
Wuss!
Angin sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar
lalu menuruni tangga satu per satu. Flat kami ada di tingkat tiga. Gedung
apartemen ini hanya enam tingkat dan tidak punya lift. Sampai di halaman
apartemen, jilatan panas matahari seakan menembus topi hitam dan kopiah putih
yang menempel di kepalaku. Seandainya tidak memakai kaca mata hitam, sinarnya
yang benderang akan terasa perih menyilaukan mata.
Kulangkahkan kaki ke jalan.
“Psst..psst...Fahri! Fahri!”
Kuhentikan langkah. Telingaku menangkap ada suara
memanggil-manggil namaku dari atas. Suara yang sudah kukenal. Kupicingkan
mataku mencari asal suara. Di tingkat empat. Tepat di atas kamarku. Seorang
gadis Mesir berwajah bersih membuka jendela kamarnya sambil tersenyum. Matanya
yang bening menatapku penuh binar.
“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”
“Shubra.”
“Talaqqi Al-Qur’an ya?”
Aku mengangguk.
“Pulangnya kapan?”
“Jam lima, insya Allah.”
“Bisa nitip?”
“Nitip apa?”
“Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”
“Baik, insya Allah.”
Aku membalikkan badan dan melangkah.
“Fahri, istanna suwayya!11”
“Fi eh kaman?12”
Aku urung melangkah.
“Uangnya.”
“Sudah, nanti saja, gampang.”
“Syukran Fahri.”13
11 Tunggu sebentar.
12 Ada apa lagi? AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
7
“Afwan.”
Aku cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk
shalat zhuhur. Panasnya bukan main.
Gadis Mesir itu, namanya Maria. Ia juga senang dipanggil
Maryam. Dua nama yang menurutnya sama saja. Dia puteri sulung Tuan Boutros
Rafael Girgis. Berasal dari keluarga besar Girgis. Sebuah keluarga Kristen
Koptik yang sangat taat. Bisa dikatakan, keluarga Maria adalah tetangga kami
paling akrab. Ya, paling akrab. Flat atau rumah mereka berada tepat di atas
flat kami. Indahnya, mereka sangat sopan dan menghormati kami mahasiswa
Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar.
Maria gadis yang unik.
Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya
qibthi, namun ia suka pada Al-Qur’an. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Qur’an.
Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku
mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro.
Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan
aku juga pulang kuliah dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku. Suatu
kebetulan.
“Hei namamu Fahri, iya ‘kan?”
“Benar.”
“Kau pasti tahu namaku, iya ‘kan?”
“Iya. Aku tahu. Namamu Maria. Puteri Tuan Boutros Girgis.”
“Kau benar.”
“Apa bedanya Maria dengan Maryam?”
“Maria atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud.
Yang jelas namaku tertulis dalam kitab sucimu. Kitab yang paling banyak dibaca
umat manusia di dunia sepanjang sejarah. Bahkan jadi nama sebuah surat. Surat
kesembilan belas, yaitu surat Maryam. Hebat bukan?”
“Hei, bagaimana kau mengatakan Al-Qur’an adalah kitab suci
paling banyak dibaca umat manusia sepanjang sejarah? Dari mana kamu tahu itu?”
selidikku penuh rasa kaget dan penasaran.
13 Terima kasih. AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
8
“Jangan kaget kalau aku berkata begitu. Ini namanya
objektif. Memang kenyataannya demikian. Charles Francis Potter mengatakan seperti
itu. Bahkan jujur kukatakan, ‘Al-Qur’an jauh lebih dimuliakan dan dihargai
daripada kitab suci lainnya. Ia lebih dihargai daripada Perjanjian Baru dan
Perjanjian Lama. Pendeta J. Shillidy dalam bukunya The Lord Jesus in The Koran
memberikan kesaksian seperti itu. Dan pada kenyataannya tak ada buku atau kitab
di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh jutaan manusia setiap detik melebihi
Al-Qur’an. Di Mesir saja ada sekitar sepuluh ribu Ma’had Al Azhar. Siswanya
ratusan ribu bahkan jutaan anak. Mereka semua sedang menghafalkan Al-Qur’an.
Karena mereka tak akan lulus dari Ma’had Al Azhar kecuali harus hafal
Al-Qur’an. Aku saja, yang seorang Koptik suka kok menghafal Al-Qur’an.
Bahasanya indah dan enak dilantunkan,” cerocosnya santai tanpa ada keraguan.
“Kau juga suka menghafal Al-Qur’an? Apa aku tidak salah
dengar?” heranku.
“Ada yang aneh?”
Aku diam tidak menjawab.
“Aku hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar kepala.”
“Benarkah?”
“Kau tidak percaya? Coba kau simak baik-baik!”
Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal. Anehnya
ia terlebih dahulu membaca ta’awudz14 dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara
membaca Al-Qur’an. Jadilah perjalanan dari Mahattah15 Anwar Sadat Tahrir sampai
Tura El-Esmen kuhabiskan untuk menyimak seorang Maria membaca surat Maryam dari
awal sampai akhir. Nyaris tak ada satu huruf pun yang ia lupa. Bacaannya cukup
baik meskipun tidak sebaik mahasiswi Al Azhar. Dari Tura El-Esmen hingga
Hadayek Helwan Maria mengajak berbincang ke mana-mana. Aku tak menghiraukan
tatapan orang-orang Mesir yang heran aku akrab dengan Maria.
Itulah Maria, gadis paling aneh yang pernah kukenal.
Meskipun aku sudah cukup banyak tahu tentang dirinya, baik melalui ceritanya
sendiri saat tak sengaja bertemu di metro, atau melalui cerita ayahnya yang
ramah. Tapi aku masih menganggapnya aneh. Bahkan misterius. Ia gadis yang
sangat cerdas. Nilai ujian
14 Yaitu membaca A’udzubillahi minasy syaithaanir rajiim.
15 Stasiun, terminal.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
9
akhir Sekolah Lanjutan Atasnya adalah terbaik kedua tingkat
nasional Mesir. Ia masuk Fakultas Komunikasi, Universitas Cairo. Dan tiap
tingkat selalu meraih predikat mumtaz atau cumlaude. Ia selalu terbaik di
fakultasnya. Ia pernah ditawari jadi reporter Ahram, koran terkemuka di Mesir.
Tapi ia tolak. Ia lebih memilih jadi penulis bebas. Ia memang gadis Koptik yang
aneh. Menurut pengakuannya sendiri, ia paling suka dengar suara azan, tapi
pergi ke gereja tidak pernah ia tinggalkan. Sekali lagi, ia memang gadis Koptik
yang aneh. Aku tidak tahu jalan pikirannya.
Selama ini, aku hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu
hal-hal yang positif tentang Islam. Dalam hal etika berbicara dan bergaul ia
terkadang lebih Islami daripada gadis-gadis Mesir yang mengaku muslimah. Jarang
sekali kudengar ia tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya
longgar, sopan dan rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang
sampai tumit. Hanya saja, ia tidak memakai jilbab. Tapi itu jauh lebih sopan
ketimbang gadis-gadis Mesir seusianya yang berpakaian ketat dan bercelana
ketat, dan tidak jarang bagian perutnya sedikit terbuka. Padahal mereka banyak
yang mengaku muslimah. Maria suka pada Al-Qur’an. Ia sangat mengaguminya,
meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah. Penghormatannya pada Al-Qur’an
bahkan melebihi beberapa intelektual muslim.
Ia pernah cerita, suatu kali ia ikut diskusi tentang aspek
kebahasaan Al-Qur’an di Fakultas Sastra Universitas Cairo. Pemakalahnya adalah
seorang doktor filsafat jebolan Sorbonne Perancis. Maria merasa risih sekali
dengan kepongahan doktor itu yang mengatakan Al-Qur’an tidak sakral karena
dilihat dari aspek kebahasaan ada ketidakberesan. Doktor itu mencontohkan dalam
Al-Qur’an ada rangkaian huruf yang tidak diketahui maknanya. Yaitu, alif laam
miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, thaaha nuun, kaf ha ya ‘ain shaad, dan
sejenisnya.
Maria berkata padaku,
“Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari
Sorbonne itu. Dia itu orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan
hal yang stupid begitu. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya
Al-Qur’an dengan alif laam miim-nya. Kurasa rangkaian huruf-huruf seperti alif
laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad adalah
rumus-rumus
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
10
Tuhan yang dahsyat maknanya. Susah diungkapkan maknanya,
tapi keagungannya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki cita rasa bahasa
Arab yang tinggi. Jika susunan itu dianggap sebagai suatu ketidakberesan,
orang-orang kafir Quraisy yang sangat tidak suka pada Al-Qur’an dan memusuhinya
sejak dahulu tentu akan mengambil kesempatan adanya ketidakberesan itu untuk
menghancurkan Al-Qur’an. Dan tentu mereka sudah mencela bahasa Al-Qur’an
habis-habisan sepanjang sejarah. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Mereka
mengakui keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka menganggap bahasa
Al-Qur’an bukan bahasa manusia biasa tapi bahasa yang datang dari langit. Jadi
kukira doktor itu benar-benar stupid. Tidak semestinya seorang doktor sekelas
dia mengatakan hal seperti itu.”
Aku lalu menjelaskan kepada Maria segala hal berkaitan
dengan alim laam miim dalam Al-Qur’an. Lengkap dengan segala rahasia yang
digali oleh para ulama dan ahli tafsir. Maknanya, hikmahnya, dan pengaruhnya
dalam jiwa. Juga kuterangkan bahwa pendapat Maria yang mengatakan huruf-huruf
itu tak lain adalah rumus-rumus Tuhan yang maha dahsyat maknanya, dan hanya
Tuhan yang tahu persis maknanya, ternyata merupakan pendapat yang dicenderungi
mayoritas ulama tafsir. Maria girang sekali mendengarnya.
“Wah pendapat yang terlintas begitu saja dalam benak kok
bisa sama dengan pendapat mayoritas ulama tafsir ya?” komentarnya sambil
tersenyum bangga.
Aku ikut tersenyum.
Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak
bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diriku. Termasuk kenapa ada gadis
seperti Maria. Dan aku pun tidak merasa perlu untuk bertanya padanya kenapa
tidak mengikuti ajaran Al-Qur’an. Pertanyaan itu kurasa sangat tidak tepat
ditujukan pada gadis cerdas seperti Maria. Dia pasti punya alasan atas
pilihannya. Inilah yang membuatku menganggap Maria adalah gadis aneh dan
misterius. Di dunia ini banyak sekali hal-hal misterius. Masalah hidayah dan
iman adalah masalah misterius. Sebab hanya Allah saja yang berhak menentukan
siapa-siapa yang patut diberi hidayah. Abu Thalib adalah paman nabi yang
mati-matian membela dakwah nabi. Cinta nabi pada beliau sama dengan cinta nabi
pada ayah
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
11
kandungnya sendiri. Tapi masalah hidayah hanya Allah yang
berhak menentukan. Nabi tidak bisa berbuat apa-apa atas nasib sang paman yang
amat dicintainya itu. Juga hidayah untuk Maria. Hanya Allah yang berhak
memberikannya.
Mungkin, sejak azan berkumandang Maria telah membuka daun
jendela kayunya. Dari balik kaca ia melihat ke bawah, menunggu aku keluar.
Begitu aku tampak keluar menuju halaman apartemen, ia membuka jendela kacanya,
dan memanggil dengan suara setengah berbisik. Ia tahu persis bahwa aku dua kali
tiap dalam satu minggu keluar untuk talaqqi Al-Qur’an. Tiap hari Ahad dan Rabu.
Berangkat setelah azan zhuhur berkumandang dan pulang habis Ashar. Dan ini hari
Rabu. Seringkali ia titip sesuatu padaku. Biasanya tidak terlalu merepotkan.
Seperti titip membelikan disket, memfotocopykan sesuatu, membelikan tinta
print, dan sejenisnya yang mudah kutunaikan. Banyak toko alat tulis, tempat
foto copy dan toko perlengkapan komputer di Hadayek Helwan. Jika tidak ada di
sana, biasanya di Shubra El-Khaima ada.
Suhu udara benar-benar panas. Wajar saja Maria malas keluar.
Toko alat tulis yang juga menjual disket hanya berjarak lima puluh meter dari
apartemen. Namun ia lebih memilih titip dan menunggu sampai aku pulang nanti.
Ini memang puncak musim panas. Laporan cuaca meramalkan akan berlangsung sampai
minggu depan, rata-rata 39 sampai 41 derajat celcius. Ini baru di Cairo. Di
Mesir bagian selatan dan Sudan entah berapa suhunya. Tentu lebih menggila.
Ubun-ubunku terasa mendidih.
Panggilan iqamat16 terdengar bersahut-sahutan. Panggilan
mulia itu sangat menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan
kesejahteraan masih terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah. Tiga puluh meter
di depan adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh
kenangan tak terlupakan. Masjid tempat aku mencurahkan suka dan deritaku selama
belajar di sini. Tempat aku menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak, tujuh
tahun sudah aku berpisah dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada Yang Maha
Pemberi rizki saat berada dalam keadaan kritis kehabisan uang. Saat hutang pada
teman-teman menumpuk dan belum terbayarkan. Saat uang honor terjemahan
terlambat datang.
16 Tanda bahwa shalat berjamaah segera didirikan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
12
Tempat aku menata hati, merancang strategi, mempertebal azam
dan keteguhan jiwa dalam perjuangan panjang.
Begitu masuk masjid...
Wusss!
Hembusan udara sejuk yang dipancarkan lima AC dalam masjid
menyambut ramah. Alhamdulillah. Nikmat rasanya jika sudah berada di dalam
masjid. Puluhan orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat jamaah. Kuletakkan
topi dan tas cangklongku di bawah tiang dekat aku berdiri di barisan shaf
kedua. Kedamaian menjalari seluruh syaraf dan gelegak jiwa begitu kuangkat
takbir. Udara sejuk yang berhembus terasa mengelus-elus leher dan mukaku. Juga
mengusap keringat yang tadi mengalir deras. Aku merasa tenteram dalam elusan
kasih sayang Tuhan Yang Mahapenyayang. Dia terasa begitu dekat, lebih dekat
dari urat leher, lebih dekat dari jantung yang berdetak.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
13
2. Peristiwa di dalam Metro
Usai shalat, aku menyalami Syaikh Ahmad. Nama lengkapnya
Syaikh Ahmad Taqiyyuddin Abdul Majid. Imam muda yang selama ini sangat dekat
denganku. Beliau tidak pernah menyembunyikan senyumnya setiap kali berjumpa
denganku. Beliau masih muda, umurnya baru tiga puluh satu, dan baru setengah
tahun yang lalu ia meraih Magister Sejarah Islam dari Universitas Al Azhar.
Anaknya baru satu, berumur dua tahun. Kini beliau bekerja di Kementerian Urusan
Wakaf sambil menempuh program doktoralnya. Beliau juga menjadi dosen Sejarah
Islam di Ma’had I’dadud Du’at17 yang dikelola oleh Jam’iyyah Syar’iyyah
bekerjasama dengan Fakultas Dakwah, Universitas Al Azhar. Di seluruh Mesir
sampai sekarang ma’had ini baru ada dua: di Ramsis dan di Hadayek Helwan.
Meskipun masih muda, namun kedalaman ilmu agama dan
kefashihannya membaca serta mentafsirkan Al-Qur’an membuat masyarakat
memanggilnya “Syaikh”. Kerendahan hati, dan komitmennya yang tinggi membela
kebenaran membuat sosoknya dicintai dan dihormati semua lapisan masyarakat
Hadayek Helwan dan sekitarnya. Yang menarik, dia dekat dengan kawula muda.
Panggilan ‘Syaikh’ tidak membuatnya lantas merasa canggung untuk ikut sepak
bola setiap Jum’at pagi bersama anak-anak muda. Jika Maria adalah gadis Koptik
yang aneh. Aku merasa Syaikh Ahmad adalah ulama muda yang unik.
“Akh18 Fahri, mau ke mana?” tanya Syaikh ramah dengan senyum
menghiasi wajahnya yang bersih. Jenggotnya tertata rapi. Kutatap wajah beliau
sesaat. Sejatinya Syaikh Ahmad memang tampan. Tak kalah dengan Kazem Saheer,
penyanyi tenar asal Irak yang digandrungi gadis-gadis remaja seantero Timur
Tengah. Nada suaranya juga indah berwibawa. Tak heran jika beliau disayangi
semua orang. Seandainya suara indah Kazem Saheer digunakan untuk membaca
Al-Qur’an seperti Syaikh Ahmad mungkin akan lain cerita belantika selebritis
Mesir.
“Seperti biasa Syaikh, ke Shubra,” jawabku datar.
17 Sekolah Tinggi Juru Dakwah.
18 Saudara.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
14
Beliau langsung paham aku mau ke mana dan mau apa. Sebab Syaikh
Ahmad dulu juga belajar qiraah sab’ah pada Syaikh Utsman di Shubra. Sesekali
bahkan masih datang ke sana.
“Cuacanya buruk. Sangat panas. Apa tidak sebaiknya
istrirahat saja? Jarak yang akan kau tempuh itu tidak dekat. Pikirkan juga
kesehatanmu, Akh,” lanjut beliau sambil meletakkan tangan kanannya dipundak
kiriku.
“Semestinya memang begitu Syaikh. Tapi saya harus komitmen
dengan jadwal. Jadwal adalah janji. Janji pada diri sendiri dan janji pada
Syaikh Utsman untuk datang.”
“Masya Allah, semoga Allah menyertai langkahmu.”
“Amin,” sahutku pelan sambil melirik jam dinding di atas
mihrab.
Waktunya sudah mepet.
“Syaikh, saya pamit dulu,” kataku sambil bangkit berdiri.
Syaikh Ahmad ikut berdiri. Kucangklong tas, kupakai topi dan kaca mata.
Syaikh Ahmad tersenyum melihat penampilanku.
“Dengan topi dan kaca mata hitammu itu kau seperti bintang
film Hong Kong saja. Tak tampak sedikit pun kau seorang mahasiswa pascasarjana
Al Azhar yang hafal Al-Qur’an.”
“Syaikh ini bisa saja,” sahutku sambil tersenyum, “mohon doanya.
Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh.”
Di luar masjid, terik matahari dan gelombang angin panas
langsung menyerang. Cepat-cepat kuayunkan kaki, berlari-lari kecil menuju
mahathah metro yang berada tiga puluh lima meter di hadapanku. Ups, sampai juga
akhirnya. Aku langsung menuju loket penjualan tiket.
“Ya Kapten, wahid Shubra!”19 seruku pada penjaga loket
berkepala botak dan gemuk. Wajahnya penuh keringat, meskipun tepat di
belakangnya ada kipas angin kecil berputar-putar. Ia tampak berkenan kusapa
dengan kapten. Memang untuk menyapa lelaki yang tidak dikenal cukup memakai ‘ya
kapten’ bisa juga ‘ya basya’ atau kalau agak tua ‘ya ammu’. Jika kira-kira
sudah haji memakai ‘ya haj’.”
19 Kapten, Shubra satu!
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
15
“Masyi ya Andonesy,”20 jawab penjaga loket sambil
mengulurkan karcis kecil warna kuning kepadaku. Ia mengambil uang satu pound
yang kuberikan dan memberi kembalian 20 piesters. Di pintu masuk karcis aku
masukkan untuk membuka pintu penghalang. Setelah melewati pintu penghalang
karcis itu kuambil lagi. Sebab tanpa karcis itu saya tidak akan bisa keluar di
Shubra nanti. Dan jika ada pemeriksaan di dalam metro karcis itu harus aku
tunjukkan. Jika tidak bisa menunjukkan, akan kena denda. Biasanya sepuluh
pound. Itu pun setelah dimaki-maki oleh petugas pemeriksa.
Bagi penduduk Mesir, khususnya Cairo, metro bisa dikatakan
transportasi kebanggaan. Lumayan canggih. Mahattah bawah tanah yang ada di
Attaba, Tahrir dan Ramsis kelihatan modern dan canggih. Itu wajar. Sebab
arsiteknya, semuanya orang Perancis. Orang-orang Mesir sering menyombongkan
diri begini,
‘Kalau Anda berada di mahattah metro Tahrir atau Ramsis itu
sama saja Anda berada di salah satu mahattah metro kota Paris.’
Benarkah?
Aku tidak tahu, sebab aku tidak pernah pergi ke Paris. Tapi
aku pernah membaca sebuah majalah, memang ada stasiun bawah tanah di kota Paris
yang dibuat bernuansa Mesir kuno. Dinding-dindingnya diukir dengan Hieroglyph,
huruf-huruf Mesir kuno. Beberapa sisinya dihiasi dengan patung-patung dan
simbol-simbol Mesir kuno, seperti tugu Alexandria, kunci pyramid yang sekilas
tampak seperti salib, patung Tutankhmoun, Tutmosis, Ramses III, Amenophis III,
Cleopatra dan lain sebagainya. Nuansa seperti itu sangat kental di mahattah
metro Anwar Sadat-Tahrir, yang berada tepat di jantung kota Cairo.
Sebuah metro biru kusam datang. Pintu-pintunya terbuka
perlahan. Beberapa orang turun. Setelah itu, barulah para penumpang yang
menunggu naik. Aku masuk gerbong nomor lima. Aku yakin sekali akan dapat tempat
duduk. Dalam cuaca panas seperti ini pasti penumpang sepi. Begitu sampai di
dalam, aku langsung mengedarkan pandangan mencari tempat duduk. Sayang, semua
tempat duduk telah terisi. Bahkan ada lima penumpang yang berdiri. Sungguh
mengherankan, bagaimana mungkin ini terjadi? Di hari-hari biasa yang tidak panas
saja seringkali ada tempat duduk kosong.
20 Baik, Orang Indonesia.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
16
Aku mengerutkan kening.
Dapat tempat duduk adalah juga rizki. Jika tidak dapat
tempat duduk berarti belum rizkinya. Aku menggeser diri ke dekat pintu di mana
ada kipas angin berputar-putar di atasnya. Namun kipas itu nyaris tak berguna.
Udara panas yang diputar tetap saja panas. Metro melaju kencang. Udara yang
masuk dari jendela juga panas. Padang pasir seperti mendidih. Semua penumpang
basah oleh air peluh.
Seorang pemuda berjenggot tipis yang berdiri tak jauh dari
tempat aku berdiri memandangi diriku dengan tersenyum. Aku membalas senyumnya.
Ia mendekat dan mengulurkan tangannya.
“Ana akhukum, 21 Ashraf,” ia memperkenalkan diri dengan
sangat sopan. Ia menggunakan kalimat ‘akhukum’ berarti ia sangat yakin aku
seorang muslim seperti dirinya.
“Ana akhukum, Fahri,” jawabku.
“Min Shin?”22
Orang Mesir terlalu susah membedakan orang Asia Tenggara
dengan orang China.
“La. Ana Andonesy.”23
Kami pun lantas berbincang-bincang. Mula-mula aku
memancingnya dengan masalah bola. Orang Mesir paling suka berbicara masalah
bola. Terutama membicarakan persaingan tiga klub besar Mesir yaitu Ahli,
Zamalek dan Ismaili. Ia ternyata pendukung Zamalek. Dengan bangga ia berkata,
“Syaikh Muhammad Jibril juga pendukung setia Zamalek.” Aku hanya tersenyum. Aku
tidak perlu mempertanyakan lebih lanjut kebenaran kata-katanya. Tidak penting.
Pendukung fanatik sebuah klub akan mencari banyak data untuk mendukung klub
kesayangannya. Maka aku langsung menyambungnya dengan memuji kehebatan beberapa
pemain andalan Zamalek. Terutama Hosam Hasan. Ia tampak senang. Tujuanku memang
membuat dia merasa senang. Tak lebih. Aku merasa tak rugi membaca buku-buku
Syaikh Abbas As-Sisi tentang bagaimana caranya mengambil hati orang lain.
Pembicaraan terus melebar ke mana-mana. Ia sangat
21 Aku saudaramu.
22 Dari China?
23 Tidak. Aku orang Indonesia. AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
17
senang ketika tahu bahwa aku mahasiswa pascasarjana Al
Azhar. Lebih kaget ketika ia tahu aku hendak ke Shubra untuk talaqqi pada
Syaikh Utsman.
Ia berkata,
“Di Helwan saya belajar qiraah riwayat Imam Hafsh pada
Syaikh Hasan yang tak lain adalah murid Syaikh Utsman. Berkali-kali Syaikh
Hasan memintaku untuk ikut belajar qiraah sab’ah langsung pada Syaikh Utsman,
tapi aku tak ada waktu. Aku sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga.
Jadi, kau termasuk orang yang beruntung, orang Indonesia.”
Metro terus berjalan. Tak terasa sudah sampai daerah
Thakanat Maadi.
“Akh Ashraf, kamu mau turun di mana?” tanyaku ketika metro
perlahan berhenti dan beberapa orang bersiap turun.
“Sayyeda Zaenab. Insya Allah.”
Pintu metro terbuka. Beberapa orang turun. Dua kursi kosong.
Kalau mau, aku bisa mengajak Ashraf mendudukinya. Namun ada seorang bapak
setengah baya masih berdiri. Dia memandang ke luar jendela, tidak melihat ada
dua bangku kosong. Kupersilakan dia duduk. Dia mengucapkan terima kasih. Kursi
masih kosong satu. Sangat dekat denganku. Kupersilakan Ashraf duduk. Dia tidak
mau, malah memaksaku duduk. Tiba-tiba mataku menangkap seorang perempuan
berabaya biru tua, dengan jilbab dan cadar biru muda naik dari pintu yang satu,
bukan dari pintu dekat yang ada di dekatku. Kuurungkan niat untuk duduk. Masih
ada yang lebih berhak. Perempuan bercadar itu kupanggil dengan lambaian tangan.
Ia paham maksudku. Ia mendekat dan duduk dengan mengucapkan, “Syukran!”
Metro atau kereta listrik terus melaju.
Ashraf kembali mengajakku berbincang. Kali ini tentang
Amerika. Ia geram sekali pada Amerika. Seribu alasan ia beberkan. Kata-katanya
menggebu seperti Presiden Gamal Abdul Naser berorasi memberi semangat dunia
Arab dalam perang 1967.
“Ayatollah Khomeini benar, Amerika itu setan! Setan harus
dienyahkan!” katanya berapi-api. Orang Mesir memang suka bicara. Kalau sudah
bicara ia merasa paling benar sendiri. Aku diam saja. Kubiarkan Ashraf
berbicara sepuas-puasnya. Hanya sesekali, pada saat yang tepat aku menyela.
Sesekali aku
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
18
menyapukan pandangan melihat keadaan sekeliling. Juga ke
luar jendela agar tahu metro sudah melaju sampai di mana. Sekilas ujung mataku
menangkap perempuan bercadar biru mengeluarkan mushaf dari tasnya, dan
membacanya dengan tanpa suara. Atau mungkin dengan suara tapi sangat lirih
sehingga aku tidak mendengarnya. Orang-orang membaca Al-Qur’an di metro, di
bis, di stasiun dan di terminal adalah pemandangan yang tidak aneh di Cairo.
Apalagi jika bulan puasa tiba.
Metro sampai di Maadi, kawasan elite di Cairo setelah
Heliopolis, Dokki, El-Zamalek dan Mohandesen. Sebagian orang malah mengatakan
Maadi adalah kawasan paling elite. Lebih elite dari Heliopolis. Tidak terlalu
penting membandingkan satu sama lain. Nama-nama itu semuanya nama kawasan
elite. Masing-masing punya kelebihan. Dokki terkenal sebagai tempatnya para
diplomat tinggal. Mohandesen tempatnya para pengusaha dan selebritis. Sedangkan
Maadi mungkin adalah kawasan yang paling teratur tata kotanya. Dirancang oleh
kolonial Inggris. Jalan-jalannya lebar. Setiap rumah ada tamannya. Dan dekat
sungai Nil. Tinggal di Maadi memiliki prestise sangat tinggi. Prestise-nya
seumpama tinggal di Paris dibandingkan dengan tinggal di kota-kota besar
lainnya di Eropa. Itu keterangan yang aku dapat dari Tuan Boutros, ayahnya
Maria yang bekerja di sebuah bank swasta di Maadi. Masalah prestise memang
sangat subjektif. Orang yang tinggal di kawasan agak kumuh Sayyeda Zaenab
merasa lebih prestise dibandingkan dengan tinggal di kawasan lain di Cairo.
Alasan mereka karena dekat dengan makam Sayyeda Zaenab, cucu Baginda Nabi Saw.
Demikian juga yang tinggal di dekat masjid Amru bin Ash. Mereka merasa lebih
beruntung dan selalu bangga bisa tinggal di dekat masjid pertama yang didirikan
di benua Afrika itu.
Begitu pintu metro terbuka, beberapa penumpang turun. Lalu
beberapa orang naik-masuk. Mataku menangkap ada tiga orang bule masuk. Yang
seorang nenek-nenek. Ia memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Wajahnya
tampak pucat. Mungkin karena kepanasan. Ia diiringi seorang pemuda dan seorang
perempuan muda. Mungkin anaknya atau cucunya. Keduanya memakai ransel. Pemuda
bule itu memakai topi berbendera Amerika dan berkaca mata hitam. Ia juga hanya
berkaos sport putih dan celana pendek sampai lutut. Yang perempuan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
19
memakai kaos ketat tanpa lengan, you can see. Dan bercelana
pendek ketat. Semua bagian tubuhnya menonjol. Lekak-lekuknya jelas. Bagian
pusarnya kelihatan. Ia seperti tidak berpakaian. Mereka berdua mengitarkan
pandangan. Mencari tempat duduk. Sayang, tak ada yang kosong. Beberapa orang
justru berdiri termasuk diriku.
Aku tersenyum pada Ashraf sambil berkata,
“Ashraf kau mau titip pesan pada Presiden Amerika nggak?”
“Apa maksudmu?”
“Itu, mumpung ada orang Amerika. Minggu depan mereka mungkin
sudah kembali ke Amerika. Kau bisa titip pesan pada mereka agar presiden mereka
tidak bertindak bodoh seperti yang kau katakan tadi.”
Ashraf menoleh ke kanan dan memandang tiga bule itu dengan
raut tidak senang. Tiba-tiba ia berteriak,
“Ya Amrikaniyyun, la’natullah ‘alaikum!”24
Kontan para penumpang yang mendengar perkataan Ashraf itu
melongok ke arah tiga bule yang baru masuk itu. Gerakan persis anak-anak ayam
yang kaget atas kedatangan musang di kandangnya. Kusisir wajah orang-orang
Mesir. Raut-raut kurang simpati dan tidak senang. Apalagi pakaian perempuan
muda Amerika itu bisa dikatakan tidak sopan. Orang-orang Mesir memang menganggap
Amerika sebagai biang kerusakan di Timur Tengah. Orang-orang Mesir sangat marah
pada Amerika yang mencoba mengadu domba umat Islam dengan umat Kristen Koptik.
Amerika pernah menuduh pemerintah Mesir dan kaum muslimin berlaku semena-mena
pada umat Koptik. Tentu saja tuduhan itu membuat gerah seluruh penduduk Mesir.
Bapa Shnouda, pemimpin tertinggi dan kharismatik umat Kristen Koptik serta
merta memberikan keterangan pers bahwa tuduhan Amerika dusta belaka. Sebuah
tuduhan yang bertujuan hendak menghancurkan sendi-sendi persaudaraan umat Islam
dan umat Koptik yang telah kuat mengakar berabad-abad lamanya di bumi
Kinanah.25
Untung ketiga orang Amerika itu tidak bisa bahasa Arab.
Mereka kelihatannya tidak terpengaruh sama sekali dengan kata-kata yang diucapkan
Ashraf. Memang, kalau sedang jengkel orang Mesir bisa mengatakan apa saja. Di
24 Hai orang-orang Amerika, laknat Allah untuk kalian!
25 Kinanah: salah satu julukan untuk bumi Mesir.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
20
pasar Sayyeda Zainab aku pernah melihat seorang penjual ikan
marah-marah pada isterinya. Entah karena apa. Ia menghujani isterinya dengan
sumpah serapah yang sangat kasar dan tidak nyaman di dengar telinga. Di antara
kata-kata kasar yang kudengar adalah: Ya bintal haram, ya syarmuthah, ya bintal
khinzir...!26 Bulu romaku sampai berdiri. Ngeri mendengarnya. Sang isteri juga
tak mau kalah. Ia membalas dengan caci maki dan serapah yang tak kalah keras
dan kotornya. Dan sumpah serapah yang mengandung laknat adalah termasuk paling
kasar.
Telingaku paling tidak suka mendengar caci mencaci, apalagi
umpatan melaknat. Tak ada yang berhak melaknat manusia kecuali Tuhan. Manusia
jelas-jelas telah dimuliakan oleh Tuhan. Tanpa membedakan siapa pun dia. Semua
manusia telah dimuliakan Tuhan sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, Wa laqad
karramna banii Adam. Dan telah Kami muliakan anak keturunan Adam! Jika Tuhan
telah memuliakan manusia, kenapa masih ada manusia yang mencaci dan melaknat
sesama manusia? Apakah ia merasa lebih tinggi martabatnya daripada Tuhan?
Tindakan Ashraf melaknat tiga turis Amerika itu sangat aku
sesalkan. Tindakannya jauh dari etika Al-Qur’an, padahal dia tiap hari membaca
Al-Qur’an. Ia telah menamatkan qiraah riwayat Imam Hafsh. Namun ia berhenti
pada cara membacanya saja, tidak sampai pada penghayatan ruh kandungannya.
Semoga Allah memberikan petunjuk di hatinya.
Yang aku herankan, dalam kondisi panas seperti ini, kenapa
bule-bule itu ada di dalam metro. Seandainya mau bepergian kenapa tidak memakai
limousin atau taksi yang ber-AC. Dalam hati aku merasa kasihan pada mereka.
Mereka seperti tersiksa. Basah oleh keringat. Wajah dan kulit mereka kemerahan.
Yang paling kasihan adalah yang nenek-nenek. Beberapa kali ia menenggak air
mineral. Mukanya tetap saja pucat. Mereka tidak biasa kepanasan seperti ini.
Aku jadi teringat Majidov, teman dari Rusia. Ia sangat tidak tahan dengan
panasnya Mesir. Ia tinggal di Madinatul Bu’uts, atau biasa disebut Bu’uts saja.
Yaitu asrama mahasiswa Al Azhar dari seluruh penjuru dunia. Di Bu’uts tidak ada
AC-nya. Jika musim panas tiba dia akan hengkang dari Bu’uts dan menyewa flat
bersama beberapa temannya di kawasan Rab’ah El-Adawea. Mencari yang ada AC-nya.
26 Ya bintal haram (Hai anak haram/anak hasil perzinaan), Ya
Syarmuthah (Hai pelacur), Ya bintal khinzir (Hai anak babi).
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
21
Tapi tidak semua mahasiswa dari Rusia seperti Majidov.
Banyak juga yang tahan dengan musim panas.
Tak ada yang bergerak mempersilakan nenek bule itu untuk
duduk. Ini yang aku sesalkan. Beberapa lelaki muda atau setengah baya yang
masih kuat tetap saja tidak mau berdiri dari tempat duduk mereka. Biasanya,
begitu melihat orang tua, apalagi nenek-nenek, beberapa orang langsung berdiri
menyilakan duduk. Tapi kali ini tidak. Lelaki bule itu mengajak bicara seorang
pemuda Mesir berbaju kotak-kotak lengan pendek yang duduk di dekatnya. Sekilas
di antara deru metro kutangkap maksud perkataan si bule. Ia minta kepada pemuda
Mesir itu memberi kesempatan pada ibunya yang sudah tua untuk duduk. Mereka
bertiga akan turun di Tahrir. Tapi pemuda Mesir itu sama sekali tidak
menanggapinya. Entah kenapa. Apa karena dia tidak paham bahasa Inggris, atau
karena ketidaksukaannya pada orang Amerika? Aku tidak tahu.
Nenek bule itu kelihatannya tidak kuat lagi berdiri. Ia
hendak duduk menggelosor di lantai. Belum sampai nenek bule itu benar-benar
menggelosor, tiba-tiba perempuan bercadar yang tadi kupersilakan duduk itu
berteriak mencegah,
“Mom, wait! Please, sit down here!”
Perempuan bercadar biru muda itu bangkit dari duduknya. Sang
nenek dituntun dua anaknya beranjak ke tempat duduk. Setelah si nenek duduk,
perempuan bule muda berdiri di samping perempuan bercadar. Aku melihat
pemandangan yang sangat kontras. Sama-sama perempuan. Yang satu auratnya tertutup
rapat. Tak ada bagian dari tubuhnnya yang membuat jantung lelaki berdesir. Yang
satunya memakai pakaian sangat ketat, semua lekak-lekuk tubuhnya kelihatan,
ditambah basah keringatnya bule itu nyaris seperti telanjang.
“Thank you. It’s very kind of you!” Perempuan bule muda
mengungkapkan rasa terima kasih pada perempuan bercadar.
“You’re welcome,” lirih perempuan bercadar. Bahasa
Inggrisnya bagus. Sama sekali tak kuduga. Keduanya lalu berkenalan dan
berbincang-bincang. Perempuan bercadar minta maaf atas perlakuan saudara seiman
yang mungkin kurang ramah. Ternyata lebih dari yang kunilai. Perempuan bercadar
itu benar-benar berbicara sefasih orang Inggris. Biasanya orang Mesir sangat
susah
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
22
berbahasa Inggris dengan fasih. Kata ‘friend’ selalu mereka
ucapan ‘bren’. Huruf ‘f’ jadi ‘b’. Aku sering geli mendengarnya. Tapi perempuan
bercadar ini sungguh fasih. Lebih fasih dari pembaca berita Nile TV. Perempuan
bule tersenyum dan berkata,
“Oh not at all. It’s all right. Cuaca memang panas dan
melelahkan. Semuanya lelah. Dalam keadaan lelah terkadang susah untuk mengalah.
Dan itu sangat manusiawi.”
“Busyit! Hei perempuan bercadar, apa yang kau lakukan!”
Pemuda berbaju kotak-kotak bangkit dengan muka merah. Ia
berdiri tepat di samping perempuan bercadar dan membentaknya dengan kasar.
Rupanya ia mendengar dan mengerti percakapan mereka berdua.
Perempuan bercadar kaget. Namun aku tidak bisa menangkap
raut kagetnya sebab mukanya tertutup cadar. Yang bisa kutangkap adalah gerakan
kepalanya yang terperangah, kedua matanya yang sedikit menciut, kulit putih
antara dua matanya sedikit mengkerut, alisnya seperti mau bertemu.
“Hal a..ana khata’?”27 Ucap perempuan bercadar tergagap. Ia
memakai bahasa fusha28, bukan bahasa ‘amiyah.29 Maksudnya bisa dipahami, tapi
susunannya janggal. Apakah mungkin karena dirinya terlalu kaget atas bentakan
pemuda Mesir itu.
Mendengar jawaban seperti itu si pemuda malah semakin naik
pitam. Ia kembali membentak dan memaki-maki secara kasar dengan bahasa ‘amiyah,
“Yakhrab baitik!30 Kau telah menghina seluruh orang Mesir
yang ada di metro ini. Kau sungguh keterlaluan! Kelihatannya saja bercadar, sok
alim, tapi sebetulnya kau perempuan bangsat! Kau kira kami tidak tahu
sopan-santun apa? Sengaja kami mengacuhkan orang Amerika itu untuk sedikit
memberi pelajaran. Ee..bukannya kau mendukung kami. Kau malah mempersilakan
setan-setan bule itu duduk. Dan seolah paling baik, kau sok jadi pahlawan
dengan memintakan maaf atas nama kami semua. Kau ini siapa, heh?”
27 Hal ana khata’ ? Maksudnya, apakah saya salah? Susunannya
yang tepat adalah Hal ana mukhthi’ah?
28 Bahasa Arab yang fashih secara gramatikal, bukan bahasa
pergaulan.
29 Bahasa Arab pergaulan, yang biasa digunakan dalam
percakapan harian.
30 Yakhrab baitik! (Artinya secara bahasa semoga rumahmu
roboh, biasanya digunakan untuk mengumpat dalam bahasa Jawa senada dengan
kata-kata: Bajingan! Dancouk! Dan sejenisnya).
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
23
Pemuda itu sudah keterlaluan. Aku berharap ada yang
bertindak. Ashraf dan seorang lelaki setengah baya berpakaian abu-abu mendekati
pemuda dan perempuan bercadar. Aku sedikit lega.
“Kau memang sungguh kurang ajar perempuan! Kau membela
bule-bule Amerika yang telah membuat bencana di mana-mana. Di Afganistan. Di
Palestina. Di Irak dan di mana-mana. Mereka juga tiada henti-hentinya
menggoyang negara kita. Kau ini muslimah macam apa, hah!?” Ashraf marah sambil
menuding-nuding perempuan bercadar itu.
Aku kaget bukan main. Aku tak mengira Ashraf akan berkata
sekasar itu. Kelegaanku berubah jadi kekecewaan mendalam.
“Meski kau bercadar dan membawa mushaf ke mana-mana, nilaimu
tak lebih dari seorang syarmuthah!”31 umpat lelaki berpakaian abu-abu.
Ini sudah keterlaluan. Menuduh seorang perempuan baik-baik
sehina pelacur tidak bisa dibenarkan.
Aku membaca istighfar dan shalawat berkali-kali. Aku sangat
kecewa pada mereka. Perempuan bercadar itu diam seribu bahasa. Matanya
berkaca-kaca. Bentakan, cacian, tudingan dan umpatan yang ditujukan padanya
memang sangat menyakitkan. Aku tak bisa diam. Kucopot topi yang menutupi kopiah
putihku. Lalu aku mendekati mereka sambil mencopot kaca mata hitamku.
“Ya jama’ah, shalli ‘alan nabi, shalli ‘alan nabi!”32 ucapku
pada mereka sehalus mungkin. Cara menurunkan amarah orang Mesir adalah dengan
mengajak membaca shalawat. Entah riwayatnya dulu bagaimana. Di mana-mana, di
seluruh Mesir, jika ada orang bertengkar atau marah, cara melerai dan
meredamnya pertama-tama adalah dengan mengajak membaca shalawat. Shalli ‘alan
nabi, artinya bacalah shalawat ke atas nabi. Cara ini biasanya sangat manjur.
Benar, mendengar ucapanku spontan mereka membaca shalawat.
Juga para penumpang metro lainnya yang mendengar. Orang Mesir tidak mau
dikatakan orang bakhil. Dan tiada yang lebih bakhil dari orang yang mendengar
nama nabi, atau diminta bershalawat tapi tidak mau mengucapkan shalawat. Begitu
penjelasan Syaikh Ahmad waktu kutanyakan ihwal cara aneh orang Mesir
31 Syarmuthah: Pelacur.
32 Wahai Jamaah (untuk menyapa orang banyak)! Bacalah
shalawat ke atas nabi, bacalah shalawat ke atas nabi!
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
24
dalam meredam amarah. Justru jika ada orang sedang marah
lantas kita bilang padanya, La taghdhab! (yang artinya: jangan marah!)
terkadang malah akan membuat ia semakin marah.
Lalu aku menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan
perempuan bercadar itu benar. Bukanya menghina orang Mesir, justru sebaliknya.
Dan umpatan-umpatan yang ditujukan padanya itu sangat tidak sopan dan tidak
bisa dibenarkan. Aku beberkan alasan-alasan kemanusiaan. Mereka bukannya sadar,
tapi malah kembali naik pitam. Si pemuda marah dan mencela diriku dengan
sengit. Juga si bapak berpakaian abu-abu. Sementara Ashraf bilang, “Orang Indonesia,
sudahlah, kau jangan ikut campur urusan kami!”
Aku kembali mengajak mereka membaca shalawat. Aku nyaris
kehabisan akal. Akhirnya kusitir beberapa hadits nabi untuk menyadarkan mereka.
Tapi orang Mesir seringkali muncul besar kepalanya dan merasa paling menang
sendiri.
Pemuda Mesir malah menukas sengak, “Orang Indonesia, kau
tahu apa sok mengajari kami tentang Islam, heh! Belajar bahasa Arab saja baru
kemarin sore. Juz Amma entah hafal entah tidak. Sok pintar kamu! Sudah kau diam
saja, belajar baik-baik selama di sini dan jangan ikut campur urusan kami!”
Aku diam sesaat sambil berpikir bagaimana caranya menghadapi
anak turun Fir’aun yang sombong dan keras kepala ini. Aku melirik Ashraf. Mata
kami bertatapan. Aku berharap dia berlaku adil. Dia telah berkenalan denganku
tadi. Kami pernah akrab meskipun cuma sesaat. Kupandangi dia dengan bahasa mata
mencela. Ashraf menundukkan kepalanya, lalu berkata,
“Kapten, kau tidak boleh berkata seperti itu. Orang
Indonesia ini sudah menyelesaikan licence-nya di Al Azhar. Sekarang dia sedang
menempuh program magisternya. Walau bagaimana pun, dia seorang Azhari. Kau
tidak boleh mengecilkan dia. Dia hafal Al-Qur’an. Dia murid Syaikh Utsman Abdul
Fattah yang terkenal itu.”
Pembelaan Ashraf ini sangat berarti bagiku. Pemuda berbaju
kotak-kotak itu melirik kepadaku lalu menunduk. Mungkin dia malu telah berlaku
tidak sopan kepadaku. Tetapi lelaki berpakaian abu-abu kelihatannya tidak mau
menerima begitu saja.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
25
“Dari mana kau tahu? Apa kau teman satu kuliahnya?”
tanyanya.
Ashraf tergagap, “Tidak. Aku tidak teman kuliahnya. Aku tahu
saat berkenalan dengannya tadi.”
“Kau terlalu mudah percaya. Bisa saja dia berbohong. Program
magister di Al Azhar tidak mudah. Jadi murid Syaikh Utsman juga tidak mudah.”
Lelaki itu mencela Ashraf. Dia lalu berpaling ke arahku dan berkata, “Hei orang
Indonesia, kalau benar kau S.2. di Al Azhar mana kartumu!?”
Lelaki itu membentak seperti polisi intel. Berurusan dengan
orang awam Mesir yang keras kepala memang harus sabar. Tapi jika mereka sudah
tersentuh hatinya, mereka akan bersikap ramah dan luar biasa bersahabat. Itulah
salah satu keistimewaan watak orang Mesir. Terpaksa kubuka tas cangklongku.
Kuserahkan dua kartu sekaligus. Kartu S.2. Al Azhar dan kartu keanggotaan
talaqqi qiraah sab’ah dari Syaikh Utsman. Tidak hanya itu, aku juga menyerahkan
selembar tashdiq33 resmi dari universitas. Tasdiq yang akan kugunakan untuk
memperpanjang visa Sabtu depan.
Lelaki setengah baya lalu meneliti dua kartu dan tashdiq
yang masih gres itu dengan seksama. Ia manggut-manggut, kemudian menyerahkannya
pada pemuda berbaju kotak-kotak yang keras kepala yang ada di sampingnya.
“Kebetulan saat ini saya sedang menuju masjid Abu Bakar
Ash-Shiddiq untuk talaqqi. Kalau ada yang mau ikut menjumpai Syaikh Utsman
boleh menyertai saya.” Ujarku tenang penuh kemenangan.
Kulihat wajah mereka tidak sepitam tadi. Sudah lebih
mencair. Bahkan ada gurat rasa malu pada wajah mereka. Jika kebenaran ada di
depan mata, orang Mesir mudah luluh hatinya.
“Maafkan kelancangan kami, Orang Indonesia. Tapi perempuan
bercadar ini tidak pantas dibela. Ia telah melakukan tindakan bodoh!” kata
pemuda Mesir berbaju kotak-kotak sambil menyerahkan kembali dua kartu dan
tashdiq kepadaku.
33 Tashdiq adalah surat keterangan resmi dari Universitas,
bahwa pemiliknya benar-benar mahasiswa pada fakultas, jurusan dan program
tertentu di universitas itu. Tashdiq biasanya diperlukan untuk urusan-urusan
resmi. Misalnya perpanjangan visa belajar, pengambilan visa haji, meminta atau
memperpanjang beasiswa pada suatu lembaga dan lain sebagainya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
26
Aku menghela nafas panjang. Metro melaju kencang menembus
udara panas. Sesekali debu masuk berhamburan.
“Terus terang, aku sangat kecewa pada kalian! Ternyata sifat
kalian tidak seperti yang digambarkan baginda Nabi. Beliau pernah bersabda
bahwa orang-orang Mesir sangat halus dan ramah, maka beliau memerintahkan
kepada shahabatnya, jika kelak membuka bumi Mesir hendaknya bersikap halus dan
ramah. Tapi ternyata kalian sangat kasar. Aku yakin kalian bukan asli orang
Mesir. Mungkin kalian sejatinya sebangsa Bani Israel. Orang Mesir asli itu
seperti Syaikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi yang ramah dan pemurah,” ucapku
datar. Aku yakin akan membuat hati orang Mesir yang mendengarnya bagaikan
tersengat aliran listrik.
“Maafkan kami, Orang Indonesia. Kami memang emosi tadi. Tapi
jangan kau katakan kami bukan orang Mesir. Jangan pula kau katakan kami ini
sebangsa Bani Israel. Kami asli Mesir. Kami satu moyang dengan Syaikh Sya’rawi
rahimahullah,” lelaki setengah baya itu tidak terima. Syaikh Sya’rawi memang
seorang ulama yang sangat merakyat. Sangat dicintai orang Mesir. Hampir semua orang
Mesir mengenal dan mencintai beliau. Mereka sangat bangga memiliki seorang
Sya’rawi yang dihormati di seantero penjuru Arab.
“Yang aku tahu, selama ini, orang Mesir asli sangat
memuliakan tamu. Orang Mesir asli sangat ramah, pemurah, dan hatinya lembut
penuh kasih sayang. Sifat mereka seperti sifat Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub.
Syaikh Sya’rawi, Syaikh Abdul Halim Mahmud, Syaikh Muhammad Ghazali, Syaikh
Muhammad Hasan, Syaikh Kisyk, Syaikh Muhammad Jibril, Syaikh Athea Shaqr,
Syaikh Ismail Diftar, Syaikh Utsman dan ulama lainnya adalah contoh nyata orang
Mesir asli yang berhati lembut, sangat memuliakan tamu dan sangat memanusiakan
manusia. Tapi apa yang baru saja kalian lakukan?! Kalian sama sekali tidak
memanusiakan manusia dan tidak punya rasa hormat sedikit pun pada tamu kalian.
Orang bule yang sudah nenek-nenek itu adalah tamu kalian. Mereka bertiga tamu
kalian. Tetapi kenapa kalian malah melaknatnya. Dan ketika saudari kita yang
bercadar ini berlaku sebagai seorang muslimah sejati dan sebagai seorang Mesir
yang ramah, kenapa malah kalian cela habis-habisan!? Kalian
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
27
bahkan menyumpahinya dengan perkataan kasar yang sangat
menusuk perasaan dan tidak layak diucapkan oleh mulut orang yang beriman! ”
“Tapi Amerika sudah keterlaluan! Apa salah jika kami sedikit
saja mengungkapkan kejengkelan kami dengan memberi pelajaran sedikit saja pada
orang-orang Amerika itu?!” Lelaki setengah baya masih berusaha membenarkan
tindakannya. Aku tidak merasa aneh. Begitulah orang Mesir, selalu merasa benar.
Dan nanti akan luluh jika berhadapan dengan kebenaran yang seterang matahari.
“Kita semua tidak menyukai tindak kezhaliman yang dilakukan
siapa saja. Termasuk yang dilakukan Amerika. Tapi tindakan kalian seperti itu
tidak benar dan jauh dari tuntunan ajaran baginda Nabi yang indah.”
“Lalu kami harus berbuat apa dan bagaimana? Ini mumpung ada
orang Amerika. Mumpung ada kesempatan. Dengan sedikit pelajaran mereka akan
tahu bahwa kami tidak menyukai kezhaliman mereka. Biar nanti kalau pulang ke
negaranya mereka bercerita pada tetangganya bagaimana tidak sukanya kami pada
mereka!”
“Justru tindakan kalian yang tidak dewasa seperti anak-anak
ini akan menguatkan opini media massa Amerika yang selama ini beranggapan orang
Islam kasar dan tidak punya perikemanusiaan. Padahal baginda Rasul mengajarkan
kita menghormati tamu. Apakah kalian lupa, beliau bersabda, siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka hormatilah tamunya. Mereka bertiga adalah tamu
di bumi Kinanah ini. Harus dihormati sebaik-baiknya. Itu jika kalian merasa
beriman kepada Allah dan hari akhir. Jika tidak, ya terserah! Lakukanlah apa
yang ingin kalian lakukan. Tapi jangan sekali-kali kalian menamakan diri kalian
bagian dari umat Islam. Sebab tindakan kalian yang tidak menghormati tamu itu
jauh dari ajaran Islam.”
Lelaki setengah baya itu diam. Pemuda berbaju kotak-kotak
menunduk. Ashraf membisu. Para penumpang yang lain, termasuk perempuan bercadar
juga diam. Metro terus berjalan dengan suara bergemuruh, sesekali mencericit.
“Coba kalian jawab pertanyaanku ini. Kenapa kalian berani
menyakiti Rasulullah?!” tanyaku sambil memandang ketiga orang Mesir bergantian.
Mereka agak terkejut mendengar pertanyaanku itu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
28
“Akhi, mana mungkin kami berani menyakiti Rasulullah yang
kami cintai,” jawab Ashraf.
“Kenapa kalian kelak di hari akhir berani berseteru di
hadapan Allah melawan Rasulullah?” tanyaku lagi.
“Akhi, kau melontarkan pertanyaan gila. Kita semua di hari
akhir kelak mengharap syafaat Rasulullah, bagaimana mungkin kami berani
berseteru dengan beliau di hadapan Allah!” jawab Ashraf.
“Tapi kalian telah melakukan tindakan sangat lancang. Kalian
telah menyakiti Rasulullah. Kalian telah menantang Rasulullah untuk berseteru
di hadapan Allah kelak di hari akhir!” ucapku tegas sedikit keras.
Lelaki setengah baya, Ashraf, pemuda berbaju kotak-kotak dan
beberapa penumpang metro yang mendengar ucapanku semuanya tersentak kaget.
“Apa maksudmu, Andonesy? Kau jangan bicara sembarangan!”
jawab lelaki setengah baya sedikit emosi.
“Paman, aku tidak berkata sembarangan. Aku akan sangat malu
pada diriku sendiri jika berkata dan bertindak sembarangan. Baiklah, biar aku
jelaskan. Dan setelah aku jelaskan kalian boleh menilai apakah aku berkata
sembarangan atau bukan. Harus kalian mengerti, bahwa ketiga orang bule ini
selain tamu kalian mereka sama dengan ahlu dzimmah. Tentu kalian tahu apa itu
ahlu dzimmah. Disebut ahlu dzimmah karena mereka berada dalam jaminan Allah,
dalam jaminan Rasul-Nya, dan dalam jaminan jamaah kaum muslimin. Ahlu dzimmah
adalah semua orang non muslim yang berada di dalam negara tempat kaum muslimin
secara baik-baik, tidak ilegal, dengan membayar jizyah dan mentaati peraturan
yang ada dalam negara itu. Hak mereka sama dengan hak kaum muslimin. Darah dan
kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan kaum muslimin. Mereka harus
dijaga dan dilindungi. Tidak boleh disakiti sedikit pun. Dan kalian pasti tahu,
tiga turis Amerika ini masuk ke Mesir secara resmi. Mereka membayar visa. Kalau
tidak percaya coba saja lihat paspornya. Maka mereka hukumnya sama dengan ahlu
dzimmah. Darah dan kehormatan mereka harus kita lindungi. Itu yang diajarkan
Rasulullah Saw. Tidakkah kalian dengar sabda beliau, ‘Barangsiapa menyakiti
orang zhimmi (ahlu zhimmah) maka aku akan menjadi seterunya. Dan siapa yang aku
menjadi seterunya dia pasti kalah di
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
29
hari kiamat.’34 Beliau juga memperingatkan, ‘Barangsiapa
yang menyakiti orang dzimmi, dia telah menyakiti diriku dan barangsiapa
menyakiti diriku berarti dia menyakiti Allah.’35 Begitulah Islam mengajarkan
bagaimana memperlakukan non muslim dan para tamu asing yang masuk secara resmi
dan baik-baik di negara kaum muslimin. Imam Ali bahkan berkata, ‘Begitu
membayar jizyah, harta mereka menjadi sama harus dijaganya dengan harta kita,
darah mereka sama nilainya dengan darah kita.’ Dan para turis itu telah
membayar visa dan ongkos administrasi lainnya, sama dengan membayar jizyah.
Mereka menjadi tamu resmi, tidak ilegal, maka harta, kehormatan dan darah
mereka wajib kita jaga bersama-sama. Jika tidak, jika kita sampai menyakiti
mereka, maka berarti kita telah menyakiti baginda Nabi, kita juga telah
menyakiti Allah. Kalau kita telah lancang berani menyakiti Allah dan Rasul-Nya,
maka siapakah diri kita ini? Masih pantaskan kita mengaku mengikuti ajaran
baginda Nabi?”
Lelaki setengah baya itu tampak berkaca-kaca. Ia
beristighfar berkali-kali. Lalu mendekati diriku. Memegang kepalaku dengan
kedua tangannya dan mengecup kepalaku sambil berkata, “Allah yaftah ‘alaik, ya
bunayya! Allah yaftah ‘alaik! Jazakallah khaira!”36 Ia telah tersentuh. Hatinya
telah lembut.
Setelah itu giliran Ashraf merangkulku.
“Senang sekali aku bertemu dengan orang sepertimu, Fahri!”
katanya.
Aku tersenyum, ia pun tersenyum. Pemuda berbaju kotak-kotak
lalu mempersilakan pria bule yang berdiri di dekat neneknya untuk duduk di
tempat duduknya. Dua pemuda Mesir yang duduk di depan nenek bule berdiri dan
mempersilakan pada perempuan bercadar dan perempuan bule untuk duduk.
Begitulah.
Salah satu keindahan hidup di Mesir adalah penduduknya yang
lembut hatinya. Jika sudah tersentuh mereka akan memperlakukan kita seumpama
raja. Mereka terkadang keras kepala, tapi jika sudah jinak dan luluh mereka
bisa melakukan kebaikan seperti malaikat. Mereka kalau marah meledak-ledak tapi
kalau sudah reda benar-benar reda dan hilang tanpa bekas. Tak ada dendam di
34 Diriwayatkan oleh Al-Khathib dengan sanad baik.
35 Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dengan sanad baik.
36 Semoga Allah membuka hatimu (menambahkan ilmumu) Anakku!
Dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan!
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
30
belakang yang diingat sampai tujuh keturunan seperti orang
Jawa. Mereka mudah menerima kebenaran dari siapa saja.
Metro terus melaju. Tak terasa sudah sampai mahattah Mar
Girgis. Ashraf mendekatkan diri ke pintu. Ia bersiap-siap. Mahattah depan
adalah El-Malik El-Saleh, setelah itu Sayyeda Zeinab dan ia akan turun di sana.
Aku menghitung masih ada tujuh mahattah baru sampai di Ramsis. Setelah itu aku
akan pindah metro jurusan Shubra El-Khaima. Perjalanan masih jauh. Metro
kembali berjalan. Pelan-pelan lalu semakin kencang. Tak lama kemudian sampai di
El-Malik El-Saleh. Metro berhenti. Pintu dibuka. Beberapa orang turun. Lelaki
setengah baya hendak turun. Sebelum turun ia menyalami diriku dan mengucapkan
terima kasih sambil mulutnya tiada henti mendoakan diriku. Aku mengucapkan amin
berkali-kali. Topi dan kaca mata hitamku kembali aku pakai. Tak jauh dariku,
perempuan bercadar nampak asyik berbincang dengan perempuan bule.
Sedikit-sedikit telingaku menangkap isi perbincangan mereka. Rupanya perempuan
bercadar sedang menjelaskan semua yang tadi terjadi. Kejengkelan orang-orang
Mesir pada Amerika. Kekeliruan mereka serta pembetulan-pembetulan yang aku
lakukan. Perempuan bercadar juga menjelaskan maksud dari hadits-hadits nabi
yang tadi aku ucapkan dengan bahasa Inggris yang fasih. Perempuan bule itu
mengangguk-anggukkan kepala. Sampai di Sayyeda Zeinab, Ashraf turun setelah
terlebih dahulu melambaikan tangan padaku. Seorang ibu yang duduk di samping
nenek bule turun. Kursinya kosong. Aku bisa duduk di sana kalau mau. Tapi
kulihat seorang gadis kecil membawa tas belanja masuk. Langsung kupersilakan
dia duduk.
Metro kembali melaju. Perempuan bercadar dan perempuan bule
masih berbincang-bincang dengan akrabnya. Tapi kali ini aku tidak mendengar
dengan jelas apa yang mereka perbincangkan. Angin panas masuk melalui jendela.
Aku memandang ke luar. Rumah-rumah penduduk tampak kotak-kotak tak teratur
seperti kardus bertumpukan tak teratur. Metro masuk ke lorong bawah tanah.
Suasana gelap sesaat. Lalu lampu-lampu metro menyala. Tak lama kemudian metro
sampai mahattah Saad Zaghloul dan berhenti. Beberapa orang turun dan naik. Tiga
bule itu bersiap hendak turun, juga perempuan bercadar. Berarti mereka mau
turun di Tahrir. Perempuan bercadar masih bercakap dengan perempuan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
31
bule. Keduanya sangat dekat denganku. Aku bisa mendengar
dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Tentang asal mereka masing. Perempuan
bercadar itu ternyata lahir di Jerman, dan besar juga di Jerman. Namun ia
berdarah Jerman, Turki dan Palestina. Sedangkan perempuan bule lahir dan besar
di Amerika. Ia berdarah Inggris dan Spanyol. Keduanya bertukar kartu nama.
Perempuan bule tepat berada di depanku. Wajahnya masih
menghadap perempuan bercadar. Metro bercericit mengerem. Gerbong sedikit
goyang. Tubuh perempuan bule bergoyang. Saat itulah dia melihat diriku. Ia
tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata,
“Hai Indonesian, thank’s for everything. My name’s Alicia.”
“Oh, you’re welcome. My name is Fahri,” jawabku sambil
menangkupkan kedua tanganku di depan dada, aku tidak mungkin menjabat
tangannya.
“Ini bukan berarti saya tidak menghormati Anda. Dalam ajaran
Islam, seorang lelaki tidak boleh bersalaman dan bersentuhan dengan perempuan
selain isteri dan mahramnya.” Aku menjelaskan agar dia tidak salah faham.
Alicia tersenyum dan berseloroh, “Oh, never mind. And this
is my name card, for you.” Ia memberikan kartu namanya.
“Thank’s,” ujarku sambil menerima kartu namanya.
“It’s a pleasure.”
Metro berhenti.
Alicia, neneknya dan saudaranya mendekati pintu hendak
keluar. Perempuan bercadar masih berdiri di tempatnya. Ia melihat ke arah
orang-orang yang hendak turun. Perlahan pintu dibuka. Ketika orang-orang mulai
turun, perempuan bercadar itu bergerak melangkah, ia menyempatkan untuk
menyapaku,
“Indonesian, thank you.”
Aku teringat dia orang Jerman. Aku iseng menjawab dengan
bahasa Jerman,
“Bitte!”
Agaknya perempuan bercadar itu kaget mendengar jawabanku
dengan bahasa Jerman. Ia urung melangkah ke pintu. Ia malah menatap diriku
dengan sorat mata penuh tanda tanya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
32
“Sprechen Sie Deutsch?”37 tanyanya dengan bahasa Jerman. Ia
mungkin ingin langsung meyakinkan dirinya bahwa apa yang tadi ia dengarkan
dariku benar-benar bahasa Jerman. Bahwa aku bisa berbahasa Jerman. Bahwa ia
tidak salah dengar.
“Ja, ein wenig.38 Alhamdulillah!” jawabku tenang. Kalau
sekadar bercakap dengan bahasa Jerman insya Allah tidak terlalu susah. Kalau
aku disuruh membuat tesis dengan bahasa Jerman baru menyerah.
“Sind Sie Herr Fahri?”39
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ia bertanya seperti
itu. Berarti ia benar-benar mendengarkan dengan baik pendebatanku dengan tiga
orang Mesir tadi sehingga tahu namaku. Atau dia mendengarkan aku berkenalan
dengan Alicia.
“Ja. Mein name ist Fahri.”40 Jawabku.
“Mein name ist Aisha,” sahutnya sambil menyerahkan kartu
nama. Ia lalu menyodorkan buku notes kecil dan pulpen.
“Bitte, schreiben Sie ihren namen!”41 katanya.
Kuterima buku notes kecil dan pulpen itu. Aku paham maksud
Aisha, tentu tidak sekadar nama tapi dilengkapi dengan alamat atau nomor telpon.
Masinis metro membunyikan tanda alarm bahwa sebentar lagi pintu metro akan
ditutup dan metro akan meneruskan perjalanan. Aku hanya menuliskan nama dan
nomor handphone-ku. Lalu kuserahkan kembali padanya. Aisha langsung bergegas
turun sambil berkata,
“Danke, auf wiedersehn!”42
“Auf wiedersehn!” jawabku.
Metro kembali berjalan. Ada tempat kosong. Saatnya aku
duduk. Sudah separuh perjalanan lebih. Sudah setengah dua lebih lima menit.
Waktu masih cukup. Insya Allah sampai di hadapan Syaikh Utsman tepat pada
waktunya. Kalaupun terlambat hanya beberapa menit saja. Masih dalam batas yang
bisa
37 Kau berbicara bahasa Jerman.
38 Ya. Sedikit-sedikit.
39 Apakah Anda tuan Fahri.
40 Ya nama saya Fahri.
41 Maaf, bisa tuliskan nama Anda.
42 Terima kasih, sampai bertemu lagi.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
33
dimaafkan. Dengan duduk aku merasa lebih tenang. Ini saatnya
aku mengulang dan memperbaiki hafalan Al-Qur’an yang akan aku setorkan pada
Syaikh Utsman.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
34
3. Keributan Tengah Malam
Aku sampai di flat jam lima lebih seperempat. Siang yang
melelahkan. Ubun-ubun kepalaku rasanya mendidih. Cuaca benar-benar panas. Yang
berangkat talaqqi pada Syaikh Utsman hanya tiga orang. Aku, Mahmoud dan Hisyam.
Syaikh Utsman jangan ditanya. Disiplin beliau luar biasa. Meskipun cuma tiga
yang hadir, waktu talaqqi tetap seperti biasa. Jadi, kami bertiga membaca tiga
kali lipat dari biasanya. Jatah membaca Al-Qur’an sepuluh orang kami bagi
bertiga. Untungnya masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq ber-AC. Jika tidak, aku tak
tahu seperti apa menderitanya kami. Mungkin konsentrasi kami akan berantakan,
dan kami tidak bisa membaca seperti yang diharapkan.
Seperti mengerti keinginan kami, begitu selesai talaqqi, Amu
Farhat, takmir masjid yang baik hati itu membawakan empat gelas tamar hindi43
dingin. Bukan main segarnya ketika minuman segar itu menyentuh lidah dan
tenggorokan. Selesai minum aku pulang. Mahmoud, Hisyam, Amu Farhat dan Syaikh
Utsman meneruskan perbincangan menunggu ashar.
Perjalanan pulang ternyata lebih panas dari berangkat.
Antara pukul setengah empat hingga pukul lima adalah puncak panas siang itu.
Berada di dalam metro rasanya seperti berada dalam oven. Kondisi itu nyaris
membuatku lupa akan titipan Maria. Aku teringat ketika keluar dari mahattah
Hadayek Helwan. Ada dua toko alat tulis. Kucari di sana. Dua-duanya kosong..
Aku melangkah ke Pyramid Com. Sebuah rental komputer yang biasanya juga menjual
disket. Malang! Rental itu tutup. Terpaksa aku kembali ke mahattah dan naik
metro ke Helwan. Di kota Helwan ada pasar dan toko-toko cukup besar. Di sana
kudapatkan juga disket itu. Aku beli empat. Dua untuk Maria. Dan dua untuk
diriku sendiri. Kusempatkan mampir ke masjid yang berada tepat di sebelah barat
mahattah Helwan untuk shalat ashar.
Terik matahari masih menyengat ketika aku keluar masjid
untuk pulang. Di tengah perjalanan aku melewati Universitas Helwan yang
lengang. Hanya seorang polisi berpakaian lusuh yang menjaga gerbangnya.
Tampangnya mengenaskan. Masih muda, tapi kurus kering. Seperti pohon pisang
kering. Atau
43 Air buah asam.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
35
seperti dendeng di Saudi kala musim haji. Mukanya tampak
kering. Panas sahara seperti menghisap habis darahnya. Ia pasti prajurit wajib
militer yang biasa disebut duf’ah. Polisi paling menderita karena bertugas
dengan sangat terpaksa. Tanpa gaji memadai. Hanya beberapa pound saja. Wajar
jika tampangnya mengenaskan. Bisa jadi ia masih berstatus mahasiswa. Karena
memang seluruh laki-laki Mesir terkena wajib militer. Seorang kumsari44
mendekat. Ia gemuk, kepalanya bulat penuh keringat. Perutnya buncit seperti
balon mau meletus. Beda sekali dengan polisi penjaga gerbang universitas itu.
Dunia ini memang penuh perbedaan-perbedaan dan hal-hal kontras yang terkadang
tidak mudah dimengerti. Metro terus melaju.
Sampai di flat, tenagaku nyaris habis. Kulepas sepatu dan
kaos kaki lalu masuk kamar. Sampai di kamar langsung kunyalakan kipas angin,
kulepas tas, topi, kaca mata hitam, dan kemeja putihku. Kuusap mukaku dengan
tissu. Hitam. Banyak debu menempel. Aku lalu beranjak ke ruang tengah, membuka
lemari es, mencari yang dingin-dingin untuk menyegarkan badan. Begitu membuka
pintu lemari es mataku membelalak berbinar. Ada sebotol ashir ashab.45 Dingin.
Kutuangkan untuk satu gelas. Sambil membawa gelas berisia ashir ashab aku
berteriak,
“Siapa nih yang beli ashir ashab. Pengertian sekali. Syukran
ya. Semoga umurnya diberkahi Allah.”
Rudi keluar dari kamarnya dengan wajah ceria.
“Mas. Ashir ashab itu bukan kami yang beli.”
“Terus dapat dari mana?”
“Tadi diberi oleh Maria.”
“Apa? Diberi oleh Maria?”
“Iya. Katanya untuk Mas. Makanya masih utuh satu botol. Kami
tidak menyentuhnya sebelum dapat izin dari Mas. Sekarang kami boleh ikut
mencicipi ‘kan Mas?”
“Ah kamu ini ada-ada saja. Kalau ambil ya ambil saja. Yang
penting aku disisain. Pakai menunggu izin segala.”
44 Kondektur.
45 Sari air tebu. (Minuman paling memasyarakat di Mesir saat
musim panas).
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
36
“Masalahnya ini dari Maria, Mas. Sepertinya puteri Tuan
Boutros itu perhatian sekali sama Mas. Jangan-jangan dia jatuh hati sama Mas.”
“Hus jangan ngomong sembarangan! Mereka itu memang tetangga
yang baik. Sejak awal kita tinggal di sini mereka sudah baik sama kita. Bukan
sekali ini mereka memberi sesuatu pada kita.”
“Tapi kenapa Maria bilang untuk Mas. Bukan untuk kita
semua?”
“Lha ketahuan ‘kan? Kau cemburu, jangan-jangan kau yang
jatuh cinta. Ya udah nanti biar kusampaikan sama Maria dan Tuan Boutros
ayahnya, kalau memberi sesuatu biar yang disebut namamu hehehe.”
“Jangan Mas. Bukan itu maksudku?”
“Terus?”
“Tapi Maria sepertinya punya perhatian lebih pada Mas.”
“Akh Rudi, kamu jangan berprasangka yang bukan-bukan. Kamu
‘kan tahu. Maria berbuat begitu atas nama keluaganya, atas petunjuk ayahnya
yang baik hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka
tiap kali memberi makanan, minuman atau menyampaikan sesuatu ya selalu lewat aku,
as a leader here. Dia menyampaikan sesuatu atas nama keluarganya dan aku
dianggap representasi kalian semua. Jadi ini bukan hanya interaksi dua person
saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih besar dari itu, dua bangsa dan dua
penganut keyakinan yang berbeda. Inilah keharmonisan hidup sebagai umat manusia
yang beradab di muka bumi ini. Sudahlah kau jangan memikirkan hal yang terlalu
jauh. Tugas kita di sini adalah belajar. Kita belajar sebaik-baiknya. Di
antaranya adalah belajar bertetangga yang baik. Karena kita telah diberi, ya
nanti kita gantian memberi sesuatu pada mereka. Wa idza huyyitum bi tahiyyatin
fa hayyu bi ahasana minha!”46
“Saya mengerti, Mas. Afwan jika ucapan saya tadi ada yang
kurang berkenan.”
“Udah jangan dipikir. Emm..bagaimana makalahmu? Sudah
selesai?”
“Alhamdulillah, Mas.”
“Kapan dipresentasikan?”
“Sabtu sore.”
46 Dan jika kamu diberi penghormatan dengan sesuatu
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya
(QS. An-Nisaa’: 86)
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
37
“Di mana?”
“Di Wisma Nusantara.”
“Ma’at taufiq.”47
Aku melangkah ke kamar sambil membawa segelas ashir ashab.
Kuselonjorkan kakiku di atas karpet. Punggungku kusandarkan ke pinggir tempat
tidur. Untung tembok apartemen ini tebal. Jendelanya rapat. Sehingga udara
panas di luar apartemen tidak mudah menembus masuk. Meskipun agak hangat tapi
tidak sepanas di luar. Dan dengan kipas angin sudah cukup membuat udara yang
hangat itu menjadi sejuk. Kuteguk ashir ashab. Perlahan. Dingin mengaliri
tenggorokan. Oh luar biasa nikmatnya. Di kawasan beriklim panas, seperti Mesir
dan negara Timur Tengah lainnya, air dingin memang sangat menyenangkan. Jika
air dingin itu membasahi tenggorokan yang kering rasanya seperti meneguk air
sejuk dari surga, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Orang yang kehausan di
tengah sahara yang paling ia damba dan ia cinta adalah air dingin penawar
dahaga. Tak ada yang lebih ia cinta dari itu. Di sinilah baru bisa kurasakan
betapa dahsyat doa baginda Nabi,
‘Ya Allah jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku pada
harta, keluarga dan air yang dingin’.
Beliau meminta agar cintanya kepada Allah melebihi cintanya
pada air yang dingin, yang sangat dicintai, disukai, dan diingini oleh siapa
saja yang kehausan di musim panas. Di daerah yang beriklim panas, cinta pada
air yang sejuk dingin dirasakan oleh siapa saja, oleh semua manusia. Jika cinta
kepada Allah telah melebihi cintanya seseorang yang sekarat kehausan di tengah
sahara pada air dingin, maka itu adalah cinta yang luar biasa. Sama saja dengan
melebihi cinta pada nyawa sendiri. Dan memang semestinya demikianlah cinta
sejati kepada Allah Azza Wa Jalla. Jika direnungkan benar-benar, baginda Nabi
sejatinya telah mengajarkan idiom cinta yang begitu indah.
Setelah keringat hilang, dan ubun-ubun kepala mulai dingin
aku bangkit hendak mengambil handuk. Aku harus mandi, badan rasanya tidak
nyaman. Harus dibersihkan dan disegarkan. Baru menyentuh handuk, handphone-ku
memerik singkat. Ada sms masuk. Kubuka. Dari Maria,
47 Semoga sukses.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
38
“Sudah pulang ya? Bagaimana dengan titipanku, dapat?”
Langsung kujawab,
“Dapat. Terima kasih atas ashir ashabnya.”
Kuletakkan handphone-ku di atas meja. Aku langsung bergegas
mandi. Baru menutup kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku, kudengar si
handphone memekik lagi. Maria pasti mengirim pesan balik. Ah, biar, nanti saja
setelah mandi. Kuputar kran wastafel. Aku ingin cuci tangan. Air mengalir.
Kusentuh. Hangat sekali. Berarti pipa-pipa yang berada di dalam tanah berpasir
yang mengalirkan air dari tandon raksasa itu telah panas. Aku jadi teringat
saat umrah ke Saudi di puncak musim panas tahun lalu. Baik siang atau pun
malam, kalau hendak mandi harus mendinginkan air dulu di ember besar. Sebab air
yang keluar dari kran sangat panas. Harus ditampung di ember besar dan ditunggu
sampai dingin. Kulihat bath-tub penuh dengan air. Alhamdulillah, teman-teman
sangat pengertian dan cerdas. Aku bisa langsung mandi tanpa menunggu air
dingin. Ketika air menyiram seluruh tubuh rasa segar itu susah diungkapkan
dengan bahasa verbal. Habis mandi tenaga rasanya pulih kembali.
Usai berganti pakaian kurebahkan diriku di atas kasur. Oh,
alangkah nikmatnya. Ini saatnya istirahat. Kunyalakan tape kecil di samping
tempat tidur. Enaknya adalah memutar murattal48 Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri.
Suaranya yang sangat lembut dan indah penuh penghayatan dalam membaca Al-Qur’an
sering membawa terbang imajinasiku ke tempat-tempat sejuk. Ke sebuah danau
bening di tengah hutan yang penuh buah-buahan. Kadang ke suasana senja yang
indah di tepi pantai Ageeba, pantai laut Mediterania yang menakjubkan di Mersa
Mathruh. Bahkan bisa membawaku ke dunia lain, dunia indah di dalam laut dengan
ikan-ikan hias dan bebatuan yang seperti permata-permata di surga. Dalam
keadaan lelah selalu saja suara Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri menjadi musik
pengantar tidur yang paling nikmat. Meski terkadang aku harus terlebih dahulu
meneteskan air mata, kala mendengar Syaikh Syathiri sesengukan menangis dalam
bacaannya. Kunyalakan murattal Syaikh Syatiri. Suaranya yang indah langsung
mengelus-elus syaraf-syarafku. Mataku mulai liyer-liyer hendak
48 Kaset yang merekam Al-Qur’an dibaca secara tartil.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
39
terpejam. Tiba-tiba handphone-ku kembali memekik. Aku
teringat sesuatu. Titipan Maria. Kubaca pesan Maria.
Ada tiga pesan:
“Buka jendela sekarang. Aku akan turunkan keranjang.”
“Kau sedang apa? Aku sudah turunkan keranjang. Lama sekali.”
“Kenapa tidak ada respons?”
Aduh, kasihan Maria. Dia tadi sudah lama membuka jendelanya
dan menurunkan keranjang.
Langsung kujawab,
“Afwan. Tadi saya langsung mandi. Jadi tiga pesanmu terakhir
baru kubuka setelah mandi. Afwan. Sekarang bisa kau turunkan keranjang.”
Kutunggu respons darinya. Tak lama pesannya masuk,
“O, begitu. Tak apa-apa. Ini kuturunkan keranjangnya.”
Aku bangkit dari tempat tidur. Mengambil dua disket dalam
tas. Lalu menuju jendela. Kubuka jendela. Hawa panas langsung masuk. Sebuah
keranjang kecil dijulurkan dengan tambang kecil putih dari atas. Ada uang
sepuluh pound di dalamnya. Kuletakkan dua disket itu dalam keranjang tanpa
menyentuh uang sepuluh pound itu sama sekali.
Kamar Maria memang tepat di atas kamarku, dan jendela
kamarnya tepat di atas jendela kamarku. Orang Mesir yang berada di atas lantai
dua biasanya memiliki keranjang kecil yang seringkali digunakan untuk suatu
keperluan tanpa harus turun ke bawah. Jika ibu-ibu Mesir belanja buah-buahan
atau sayur-sayuran pada penjual buah atau penjual sayur keliling, biasanya
mereka menggunakan keranjang kecil itu, tanpa harus turun dari rumah mereka
yang berada di atas. Mereka cukup pesan berapa kilo, setelah sepakat harganya
mereka menurunkan keranjang kecil yang di dalamnya sudah ada uang untuk
membayar barang yang dipesannya. Tukang buah atau tukang sayur akan mengisi
keranjang itu dengan barang yang dipesan setelah mengambil uangnya. Jika
uangnya lebih, mereka akan mengembalikannya sekaligus bersama barang yang
dipesan. Barulah si ibu mengangkat keranjangnya seperti orang menimba.
Transaksi yang praktis. Pertama kali melihat aku heran. Yang aku herankan
adalah begitu amanah-nya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
40
penjual buah itu. Mereka tidak curang. Tidak berusaha nakal.
Maria atau ibunya juga biasa membeli sayur atau buah dengan cara seperti itu.
Maria mengangkat keranjangnya. Aku menutup jendela. Tak lama
kemudian handphone-ku kembali bertulalit. Maria lagi,
“Harganya berapa? Uangnya kok tidak diambil, kenapa?”
Kujawab,
“Harganya zero, zero, zero pound. Jadi tak perlu dibayar.”
Ia menjawab,
“Jangan begitu. Itu tidak wajar.”
Kujawab,
“Harganya seperti biasa. Uangnya kau simpan saja.
Kalau kau buat Ruzz bil laban49 titip ya. Bolehkan?”
Ia menjawab,
“Baiklah kalau begitu. Dengan senang hati. Syukran!”
Kujawab,
“Afwan.”
Klik. Handphone kunonaktifkan. Aku ingin tidur. Pada saat
yang sama, kudengar suara pintu terbuka. Lalu suara Hamdi mengucapkan salam.
Kujawab lirih. Alhamdulillah dia pulang. Dia nanti akan masak oseng-oseng
wortel campur kofta. Aku senang bahwa teman-teman satu rumah ini mengerti
dengan kewajiban masing-masing. Kewajiban memasak sesibuk apa pun adalah hal
yang tidak boleh ditinggalkan. Sepertinya remeh tapi sangat penting untuk
sebuah tanggung jawab. Masak tepat pada waktunya adalah bukti paling mudah
sebuah rasa cinta sesama saudara. Ya inilah persaudaraan. Hidup di negeri orang
harus saling membantu dan melengkapi. Tanpa orang lain mana mungkin kita bisa
hidup dengan baik.
Sambil rebahan kunikmati suara Syaikh Syathiri membaca
Al-Qur’an mengalun indah. Maghrib masih lama. Dalam musim panas, siang lebih
panjang dari malam. Aku harus beristirahat. Nanti malam harus kembali memeras
otak. Menerjemah untuk biaya menyambung hidup. Ya, hidup ini—kata Syauqi, sang
raja penyair Arab—adalah keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang
49 Ruzz bil laban: Bubur dari beras yang dibuat dengan susu.
Setelah dingin dimasukkan dalam kulkas.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
41
mukmin sejati—kata Imam Ahmad bin Hanbal—tidak akan berhenti
kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga.
* * *
Seperti biasa, usai shalat maghrib berjamaah di masjid kami
berkumpul di ruang tengah untuk makan bersama. Kali ini kami hanya berempat.
Masih kurang satu, yaitu Si Mishbah. Ia belum pulang. Ia masih di Wisma
Nusantara yang menjadi sentral kegiatan mahasiswa Indonesia. Gedung yang
diwakafkan oleh Yayasan Abdi Bangsa itu terletak di Rab’ah El-Adawea, Nasr
City.
Hamdi baru pulang dari Masjid Indonesia. Ia banyak bercerita
tentang anak-anak para pejabat KBRI yang lucu-lucu dan manja-manja.
Dibandingkan yang ada di negara lain, KBRI di Cairo bisa dibilang termasuk yang
beruntung. Komunitas yang mereka urusi adalah mahasiswa Al Azhar. Kegiatan
keislaman dan pengajian antaribu-ibu KBRI juga berjalan lancar. Tiap Ramadhan
ada tarawih bersama. Juga ada pesantren kilat untuk putera-puteri mereka.
Semuanya dipandu oleh mahasiswa dan mahasiswi Al Azhar. Masalah yang dihadapi
KBRI Cairo tidak serumit yang dihadapi oleh KBRI di Saudi Arabia misalnya, yang
setiap hari berurusan dengan TKI atau TKW dengan setumpuk masalahnya yang
sangat memuakkan. Misalnya, tidak dibayar majikan, disiksa majikan, diperkosa
majikan, diperlakukan seperti budak oleh majikan, dihamili oleh sesama tenaga
kerja dari Indonesia, ditangkap polisi karena tidak punya izin tinggal resmi,
dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.
Masjid Indonesia yang dibangun oleh para pejabat KBRI bahkan
telah memiliki perpustakaan yang cukup mengasyikkan bagi putera-puteri mereka.
Manajemen masjidnya lumayan baik. Teks khutbah Jum’atnya dibukukan tiap tahun.
Masjid Indonesia bahkan biasa menjadi tempat rekreasi para mahasiswa yang ingin
melepas penat pikiran. Mereka yang mayoritasnya tinggal di Nasr City, jika
merasa bosan bisa main ke Dokki. Silaturrahmi ke rumah pejabat KBRI yang
dikenal. Atau ke Masjid Indonesia yang terletak di Mousadda Street. Pergi ke
Dokki pada hari Jum’at sangat tepat. Selain shalat Jum’at bersama dan
bersilaturrahim dengan sesama orang Indonesia, usai shalat Jum’at biasanya ada
makan bersama di belakang masjid. Makanan disediakan oleh para pejabat KBRI
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
42
muslim secara bergiliran. Jika keadaan ini terus bertahan
niscaya sangat indah untuk dikisahkan dan dikenang.
Usai makan, aku melakukan rutinitasku di depan komputer.
Mengalihbahasakan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Kali ini yang
aku garap adalah kitab klasik karya Ibnu Qayyim, yaitu kitab Miftah Daris
Sa’adah. Dua jilid besar. Kitab berat. Menggarap kitab ini benar-benar menguras
pikiran dan tenaga. Aku harus ekstra serius dan hati-hati pada saat Ibnu Qayyim
membahas masalah ilmu perbintangan, horoskop, pengaruh planet-planet, ramalan
nasib, dan lain sebagainya. Bahasa ilmu falak dan astronomi adalah bahasa yang
tidak mudah. Aku terpaksa membuka kamus klasik berkali-kali. Apalagi bahasa
yang dipakai Ibnu Qayyim adalah bahasa Arab klasik. Itu saja tidak cukup, harus
juga didampingi dengan kamus dan buku astronomi modern. Dan tatkala yang
ditulis Ibnu Qayyim telah terang maksudnya, aku bagaikan menemukan mutiara
tidak ternilai harganya. Ibnu Qayyim ternyata juga seorang astronom yang luar
biasa.
Menerjemahkan sebuah kitab klasik terkadang terasa sangat
menjemukan. Namun ketika rasa jemu bisa teratasi kegiatan itu akan berubah
menjadi sebuah rekreasi yang sangat mengasyikkan. Andaikan Ibnu Rusyd masih
hidup, aku ingin bertanya, rasanya seperti apa ketika dia sedang menerjemahkan
karya-karya Aristoteles. Dan seperti apa rasanya ketika telah selesai semuanya?
Malam ini jadwalku sampai jam dua belas. Berhenti ketika
shalat Isya. Akhir bulan naskah harus sudah aku kirim ke Jakarta. Setelah itu
ada dua buku yang siap diterjemah. Buku kontemporer, bahasanya lebih mudah.
Seorang teman pernah mencibir diriku, bahwa menjadi penerjemah sama saja
menjadi mesin pengalih bahasa. Aku tak peduli dengan segala cibiran mereka. Aku
merasa nikmat dengan apa yang aku kerjakan. Aku bisa belajar menambah ilmu,
mentransfer ilmu pengetahuan dan berarti ikut serta mencerdaskan bangsa. Aku
bisa berkarya, sekecil apa pun bentuknya. Berdakwah, dengan kemampuan seadanya.
Dan yang terpenting aku bisa hidup mandiri dengan royalti yang aku terima.
Tidak seperti mereka yang bisanya mencibir saja. Menuruti kata orang tidak akan
pernah ada habisnya. Kamu tidak akan mungkin bisa memenuhi segala
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
43
kesesuaian dengan hati semua manusia! Kata-kata Imam Syafii
mengingatkan diriku.
* * *
Pukul 22.00 waktu Cairo. Handphone-ku berdering. Ada sms
masuk. Dari Musthafa, teman Mesir satu kelas di pasca. Ia memberikan kabar
gembira,
“Mabruk. Kamu lulus. Kamu bisa nulis tesis. Tadi sore
pengumumannya keluar.”
Aku merasa seperti ada hawa dingin turun dari langit.
Menetes deras ke dalam ubun-ubun kepalaku lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Seketika itu aku sujud syukur dengan berlinang air mata. Aku merasa seperti dibelai-belai
tangan Tuhan. Setelah puas sujud syukurku aku mengungkapkan rasa gembiraku pada
teman-teman satu rumah. Mereka semua menyambut dengan riang gembira. Dengan
tasbih, tahmid dan istighfar. Dengan mata yang berbinar-binar. Kukatakan pada
mereka,
“Malam ini juga kita syukuran. Kita beli firoh masywi50 dua.
Lengkap dengan ashir mangga. Kita makan nanti tengah malam, bersama-sama di
sutuh sana. Bagaimana. Eh ra’yukum51?”
“Kalau ini sih usul yang susah ditolak!” sahut Saiful
senang. Siapa yang tidak senang diajak makan ayam bakar gratis.
Kukeluarkan uang lima puluh pound.
“Biar aku sama Saiful saja yang beli. Mas Fahri sama Hamdi
di rumah saja. Kalian masih capek ‘kan karena perjalanan tadi siang. Okay?”
Rudi menawarkan diri.
“Okay. Oh ya jangan cuma ashir mangga, beli juga tamar hindi
ya? Jangan lupa!” sahut Hamdi. Ia memang paling suka sama tamar hindi. Waktu
musim dingin saja ia mencari tamar hindi, apa tidak aneh.
“Beres bos,” seru Saiful.
Keduanya membuka pintu dan keluar.
“Mas aku buat sambal sama menanak sedikit nasi ya?” kata
Hamdi.
“Sip. Kita buat bareng,” sambutku sambil mengacungkan kedua
jempolku. Memang, tanpa membuat sambal ala Indonesia kurang mantap. Ayam bakar
Mesir
50 Ayam bakar.
51 Apa pendapat kalian.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
44
tidak pakai sambal. Padahal kami berempat adalah orang yang
doyan sambal, terutama Hamdi. Dia jebolan pesantren Lirboyo, harus pakai
sambal.
Saat melangkah ke dapur aku teringat Mishbah. Tidak adil
rasanya kami berempat berpesta tampa mengikutsertakan dia. Namanya keluarga,
ketika senang harus dirasakan bersama. Aku tersenyum. Masalah yang mudah.
Kutelpon Wisma. Aku minta disambungkan pada Mishbah. Kuberitahukan padanya
orang satu rumah akan syukuran atas kelulusanku. Ia berteriak gembira,
“Mas apa aku pulang saja sekarang? Pakai taksi ‘kan cepat!”
“Kerjamu sudah selesai?” tanyaku.
“Belum sih sekarang aku lagi membuat estimasi dana sama Mas
Khalid.”
“Kalau begitu kau selesaikan saja pekerjaanmu. Kalau kau
pulang ke Hadayek Helwan kau akan terlalu capek. Begini saja Akhi, kau ajak
saja Mas Khalid istirahat ke Babay atau ke mana terserah. Ajak makan firoh
masywi. Pakai uangmu atau uangnya Mas Khalid dulu. Nanti aku ganti. Jadi adil,
bagaimana?”
“Kalau begitu siiip-lah Mas. Pokoknya alfu mabruk deh.”
Suaranya terdengar girang. Aku tersenyum. Ah, musim panas yang menyenangkan,
meskipun melelahkan.
Dalam segala musim, Tuhan selalu Penyayang.
Itu yang aku rasakan.
* * *
Tepat tengah malam kami pergi ke suthuh.52 Membawa tikar,
nampan besar, empat gelas plastik, ashir mangga, tamar hindi, dan dua bungkus
firoh masywi yang masih hangat dan sedap baunya.
Kami benar-benar berpesta. Dua ciduk nasi hangat digelar di
atas nampan. Sambal ditumpahkan. Lalu dua ayam bakar dikeluarkan dari
bungkusnya. Tak lupa acar dan lalapan timun. Satu ayam untuk dua orang.
“Sekali-kali kita jadi orang Mesir beneran, satu ayam untuk
dua orang,” komentar Rudi.
“Kalau ini bukan makan nasi lauk ayam. Ini makan ayam lauk
nasi. Nasinya dikit sekali. Mbok ditambah dikit,” sambung Saiful.
52 Lantai apartemen paling atas dan menghadap langit (atap
apartemen).
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
45
“Tujuannya memang kita makan ayam bakar. Nasi pelengkap saja
untuk melestarikan budaya Indonesia. Bagi yang mau tambah nasi ambil saja
sendiri. Benar nggak Mas?” sahut Hamdi.
“Sekarang bukan saatnya diskusi. Kalau mau diskusi besok
Sabtu di Wisma Nusantara. Rudi presentatornya. Bismillah, ayo jangan banyak
cingcong langsung kita ganyang saja!” ucapku sambil mencomot daging ayam di
hadapanku. Serta merta mereka melakukan hal yang sama. Kami makan sambil
ngobrol, di belai udara malam yang tidak dingin dan tidak panas. Semilir sejuk.
Keindahan musim panas memang pada waktu malam. Kala langit cerah. Bulan terang.
Bintang-bintang gemerlapan. Dan debu tidak berhamburan. Menikmati suasana alam
di atas suthuh apartemen sangat menyenangkan. Nun jauh di sana cahaya
lampu-lampu rumah dan gedung-gedung dekat sungai Nil tampak berkerlap-kerlip
diterpa angin. Sayup-sayup kami mendengar bunyi irama musik rakyat mengalun di
kejauhan sana. Mungkin ada yang sedang pesta. Alunan itu ditingkahi puja-puji
syair sufi. Sangat khas senandung malam di delta Nil.
Suasana nyaman ini akan jadi kenangan tiada terlupakan. Dan
kelak ketika kami sudah kembali ke Tanah Air, kami pasti akan merindukan
suasana indah malam musim panas di Mesir seperti ini.
Usai makan kami tidak langsung turun. Kami tetap
bercengkerama ditemani semilir angin dari sungai Nil dan satu botol air segar
tamar hindi. Kami bercerita tentang malam-malam berkesan yang pernah kami
lewati. Rudi Marpaung yang berasal dari Medan menceritakan pengalamannya
menginap bersama teman-temannya ketika masih aliyah di Brastagi. Menyewa vila
dan mengadakan shalat tahajjud bersama dalam dinginnya malam. Suasana jadi
semakin asyik ketika Hamdi mengisahkan pengalamannya yang menegangkan selama
tersesat di lereng Gunung Lawu selama dua hari.
“Kami berempat belas. Dibagi dalam dua kelompok. Kami
mencoba jalur baru. Kelompok kami istirahat terlalu lama. Kami mengejar
kelompok pertama. Sayang kurang kompak. Kami bertiga tertinggal dan terlunta
selama dua hari dalam hutan Gunung Lawu. Hanya pertolongan dari Allah yang
membuat kami tetap hidup.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
46
Sedangkan Saiful yang waktu SMP pernah diajak ayahnya ke
Turki bercerita tentang indahnya malam di teluk Borporus. Ia bercerita detil
teluk Borporus. Lalu mengajak kami membayangkan bagaimana Sultan Muhammad
Al-Fatih merebut Konstantinopel dengan memindahkan puluhan kapal di malam hari
lewat daratan dan menjadikan kapal itu jembatan untuk menembus benteng
pertahanan Konstantinopel.
Di tengah asyiknya bercengkerama, tiba-tiba kami mendengar
suara orang ribut. Suara lelaki dan perempuan bersumpah serapah berbaur dengan
suara jerit dan tangis seorang perempuan. Suara itu datang dari bawah. Kami ke
tepi suthuh dan melihat ke bawah.
Benar, di gerbang apartemen kami melihat seorang gadis diseret
oleh seorang lelaki hitam dan ditendangi tanpa ampun oleh seorang perempuan.
Gadis yang diseret itu menjerit dan menangis. Sangat mengibakan. Gadis itu
diseret sampai ke jalan.
“Jika kau tidak mau mendengar kata-kata kami, jangan
sekali-kali kau injak rumah kami. Kami bukan keluargamu!” sengit perempuan yang
menendangnya.
Kami kenal gadis itu. Kasihan benar dia. Malang nian
nasibnya. Namanya Noura. Nama yang indah dan cantik. Namun nasibnya selama ini
tak seindah nama dan paras wajahnya. Noura masih belia. Ia baru saja naik ke
tingkat akhir Ma’had Al Azhar puteri. Sekarang sedang libur musim panas. Tahun
depan jika lulus dia baru akan kuliah. Sudah berulang kali kami melihat Noura
dizhalimi oleh keluarganya sendiri. Ia jadi bulan-bulanan kekasaran ayahnya dan
dua kakaknya. Entah kenapa ibunya tidak membelanya. Kami heran dengan apa yang
kami lihat. Dan malam ini kami melihat hal yang membuat hati miris. Noura
disiksa dan diseret tengah malam ke jalan oleh ayah dan kakak perempuannya.
Untung tidak musim dingin. Tidak bisa dibayangkan jika ini terjadi pada puncak
musim dingin.
Noura sesengukan di bawah tiang lampu merkuri. Ia duduk
sambil mendekap tiang lampu itu seolah mendekap ibunya. Apa yang kini dirasakan
ibunya di dalam rumah. Tidakkah ia melihat anaknya yang menangis tersedu dengan
nada menyayat hati. Tak ada tetangga yang keluar. Mungkin sedang lelap
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
47
tidur. Atau sebenarnya terjaga tapi telah merasa sudah
sangat bosan dengan kejadian yang kerap berulang itu. Ayah Noura yang bernama
Bahadur itu memang keterlaluan. Bicaranya kasar dan tidak bisa menghargai
orang. Seluruh tetangga di apartemen ini dan masyarakat sekitar jarang yang mau
berurusan dengan Si Hitam Bahadur. Kulitnya memang hitam meskipun tidak sehitam
orang Sudan. Hanya kami yang mungkin masih sesekali menyapa jika berjumpa. Itu
pun kami terkadang merasa jengkel juga, sebab ketika disapa ekspresi Bahadur
tetap dingin seperti algojo kulit hitam yang berwajah batu. Sejak kami tinggal
di apartemen ini belum pernah Si Muka Dingin Bahadur tersenyum pada kami. Kalau
suara tawanya yang terbahak-bahak memang sering kami dengar.
Aku paling tidak tahan mendengar perempuan menangis. Kuajak
teman-teman turun kembali ke flat. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan
untuk menolong Noura. Aku diam belum menemukan jawaban. Aku masuk kamar, kubuka
jendela, angin malam semilir masuk. Noura masih terisak-isak di bawah tiang
lampu. Aku dan teman-teman tidak mungkin turun ke bawah menolong Noura. Meskipun
dengan sepatah kata untuk menghibur hatinya. Atau untuk memberitahukan padanya
bahwa sebenarnya ada yang peduli padanya. Tidak mungkin. Jika ada yang salah
persepsi urusannya bisa penjara. Apalagi Si Hitam Bahadur bisa melakukan apa
saja tanpa pertimbangan akal sehatnya.
Aku teringat Maria. Ia gadis yang baik hatinya. Rasa ibaku
pada Noura menggerakkan tanganku untuk mencoba mengirim sms pada Maria.
“Maria. Apa kau bangun. Kau dengar suara tangis di bawah
sana?”
Kutunggu. Lima menit. Tak ada jawaban. Kuulangi lagi.
Kutunggu lagi. Ada jawaban.
“Ya aku bangun. Aku mendengarnya. Aku lihat dari jendela
Noura memeluk tiang lampu.”
“Apa kau tidak kasihan padanya?”
“Sangat kasihan.”
“Apa kau tidak tergerak untuk menolongnya.”
“Tergerak. Tapi itu tidak mungkin.”
“Kenapa?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
48
“Si Hitam Bahadur bisa melakukan apa saja. Ayahku tidak mau
berurusan dengannya.”
“Tidakkah kau bisa turun dan menyeka air matanya. Kasihan Noura.
Dia perlu seseorang yang menguatkan hatinya.”
“Itu tidak mungkin.”
“Kau lebih memungkinkan daripada kami.”
“Sangat susah kulakukan!” Maria menolak.
“Kumohon turunlah dan usaplah air matanya. Aku paling tidak
tahan jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal
baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang
jauh dari linangan air mata selama-lamanya.”
“Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa!”
“Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih. Kumohon!”
“Baiklah, demi cintaku pada Al-Masih akan kucoba. Tapi kau
harus tetap mengawasi dari jendelamu. Jika ada apa-apa kau harus berbuat
sesuatu.”
“Jangan kuatir. Tuhan menyertai orang yang berbuat
kebajikan.”
Benar dugaanku. Sebenarnya banyak tetangga yang terbangun
oleh teriakan-teriakan Bahadur dan jeritan Noura. Tapi mereka tidak tahu harus
berbuat apa. Pernah seorang tetangga memanggil polisi, tapi Noura tidak mau
ayahnya diperkarakan, Noura malah mengaku dia yang salah dan ayahnya berhak marah.
Mau bagaimana? Noura sepertinya tidak mau dibela padahal apa yang dilakukan
ayahnya padanya telah melewati batas. Tuan Boutros, ayah Maria pernah menegur
Si Hitam Bahadur atas perlakuannya yang tidak baik pada anak bungsunya. Tapi
apa yang terjadi? Bahadur malah melontarkan sumpah serapah yang tidak enak
didengar telinga.
Dari jendela aku melihat Maria berjalan mendekati Maria. Ia
memakai jubah biru tua. Rambutnya yang hitam tergerai ditiup angin malam. Maria
lalu duduk di samping Noura. Ia kelihatannya berbicara pada Noura sambil
mengelus-elus kepalanya. Noura masih memeluk tiang lampu. Maria terus berusaha.
Akhirnya kulihat Noura memeluk Maria dengan tersedu-sedu. Maria memperlakukan
Noura seolah adiknya sendiri. Sambil memeluk Noura Maria menengok ke arahku.
Aku menganggukkan kepala. Kulihat jam dinding, pukul
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
49
dua empat puluh lima menit. Teman-teman sudah terlelap.
Mereka kekenyangan makan. Maria masih memeluk Noura. Cukup lama mereka berpelukan.
Maria melepaskan pelukannya. Tangan kanannya memenjet handphone-nya dan
meletakkan di telingannya.
Handphoneku menjerit. Maria bertanya,
“Sekarang apa yang harus kulakukan?”
“Tidak bisakah kau ajak dia ke kamarmu?”
“Aku kuatir Bahadur tahu.”
“Aku yakin dia sudah terlelap. Dan biasanya akan bangun
sekitar jam sepuluh pagi. Dia pekerja malam. Tadi jam setengah dua baru pulang
terus membuat keributan.”
“Baiklah akan kucoba.”
“Tunggu! Sekalian kau bujuk Noura menceritakan apa yang
sebenarnya dialaminya selama ini, agar kita semua para tetangga yang peduli
pada nasibnya bisa menolongnya dengan bijaksana.”
“Akan kucoba.”
Sebenarnya Maria bisa bicara langsung tanpa melalui
handphone. Tapi dia harus bersuara sedikit keras, dan itu akan mengganggu tetangga
yang tidur. Maria memang tidak seperti Mona dan Suzana, dua kakak perempuan
Noura yang genit dan keras bicaranya. Seringkali Mona atau Suzana memanggil
orang di rumah mereka dari bawah dengan suara keras. Tidak siang tidak malam.
Padahal rumah mereka hanya di lantai dua tapi suaranya seperti memanggil orang
di lantai tujuh.
Kulihat Maria berhasil membujuk Noura untuk ikut dengannya
dan berjalan memasuki gerbang apartemen. Hatiku sedikit lega. Masih ada waktu
satu jam setengah sampai subuh tiba. Kupasang beker. Aku ingin melelapkan mata
sebentar saja.
* * *
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
50
4. Air Mata Noura
Meskipun cuma terlelap satu jam setengah, itu sudah cukup
untuk meremajakan seluruh syaraf tubuhku. Setelah satu rumah shalat shubuh
berjamaah di masjid, kami membaca Al-Qur’an bersama. Tadabbur sebentar,
bergantian. Teman-teman sangat melestarikan kegiatan rutian tiap pagi ini.
Selama ada di rumah, membaca Al-Qur’an dan tadabbur tetap berjalan, meskipun
pagi ini kulihat mata Saiful dan Rudi melek merem menahan kantuk.
Usai tadabbur Saiful, Rudi, dan Hamdi merebahkan diri di
tempat tidur masing-masing. Di musim panas, karena malamnya pendek, tidur
selepas shubuh adalah hal biasa bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia. Tidak putera,
tidak puteri, semua sama. Wa bilkhusus para aktivis yang sering begadang sampai
shubuh. Mereka para raja dan para ratu tidur pagi hari. Orang Mesir pun juga
banyak melakukan hal yang sama. Begitu mendengar azan shubuh mereka yang tidak
mau berjamaah langsung shalat lalu tidur dan bangun sekitar pukul setengah
sembilan. Kantor-kantor dan instansi benar-benar membuka pelayanan setelah jam
sembilan. Toko-toko juga banyak yang baru buka jam sembilan. Meskipun tidak
semua. Ada beberapa instansi dan toko yang telah buka sejak jam tujuh. Yang
paling disiplin buka pagi adalah warung penjual roti isy dan ful.53 Mereka
telah buka sejak pagi-pagi sekali.
Kebiasaan tidur setelah shalat shubuh kurang baik ini sering
disindir para Imam. Dalam sebuah khutbah Jum’at, imam muda kami, yaitu Syaikh
Ahmad Taqiyyuddin pernah mengatakan,
‘Seandainya Israel menggempur Mesir pada jam setengah tujuh
pagi maka mereka tidak akan mendapatkan perlawanan apa-apa. Mereka akan sangat
mudah sekali memasuki kota Cairo dan membunuh satu per satu penduduknya. Karena
pada saat itu seluruh rakyat Mesir sedang terlelap dalam tidurnya dan baru akan
benar-benar bangun pukul sembilan.’
Kata-kata itu mungkin tidak seratus persen benar, tapi cukup
mewakili untuk menggambarkan kelengangan kota Cairo pada jam setengah tujuh di
musim
53 Roti Isy dan Ful adalah makanan pokok orang Mesir. AYAT
AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
51
panas. Padahal pada saat yang sama, di Jakarta sedang
sibuk-sibuknya orang berangkat kerja, dan kemacetan terjadi di mana-mana.
Aku termasuk orang yang anti tidur langsung setelah shalat
shubuh. Aku tidak mau berkah yang dijanjikan baginda Nabi di waktu pagi lewat
begitu saja. Hal ini juga kutanamkan pada teman-teman satu rumah. Jadi
seandainya semalam begadang dan mata sangat lelah, tetaplah diusahakan shalat
shubuh berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan sedikit tadabbur. Semoga yang sedikit
itu menjadi berkah. Barulah tidur. Jika bisa tahan dulu sampai waktu dhuha
datang, shalat dhuha baru tidur.
Kunyalakan komputer untuk kembali menerjemah. Baru setengah
halaman bel berbunyi. Ada tamu. Ternyata Tuan Boutros dan Maria. Kupersilakan
keduanya duduk.
“Fahri, maaf menganggu. Ada yang perlu kita bicarakan,” kata
Tuan Boutros.
“Apa itu Tuan?”
“Noura.”
Maria langsung menyahut,
“Begini Fahri. Aku sudah berusaha keras. Tapi Noura tidak
mau menceritakan segalanya. Dia hanya bilang telah diusir oleh ayah dan
kakaknya karena tidak bisa melakukan hal yang ia tidak bisa melakukannya.”
“Hal yang ia tidak bisa melakukan itu maksudnya apa?”
tanyaku.
“Ia tidak mau mengaku. Hanya itu yang bisa kudapat. Kami
sekeluarga hanya bisa membantu sampai di sini.”
“Terus terang sebelum Si Bahadur bangun, Noura harus sudah
meninggalkan rumah kami?” sahut Tuan Boutros.
“Bukannya kami tidak peduli. Kau tentu tahu sifat Si Bahadur
itu. Di samping itu Noura memang ingin pergi untuk sementara. Ia kelihatan
ketakutan dan cemas sekali. Ia tidak mau ayahnya tahu kalau ia ada di rumah
kami,” sambung Maria.
“Lantas apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.
“Untuk itulah kami berdua kemari. Mau tidak mau, pagi ini
Noura memang harus pergi. Untuk kebaikan dirinya, dan untuk kebaikan seluruh
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
52
penghuni apartemen ini. Jika sampai ia masih ada di sini,
ayahnya akan kembali membuat keributan. Noura akan jadi bulan-bulanan.
Masalahnya, semua orang sudah bosan. Yang jadi pikiran kami adalah Noura harus
pergi ke mana. Kami tidak tega dia pergi tanpa tujuan dan tanpa rasa aman,”
jelas Tuan Boutros.
“Anda benar Tuan Boutros. Dia harus pergi ke suatu tempat
yang aman dan tinggal di sana beberapa waktu sampai keadaan membaik.
Hmm..apakah dia tidak punya sanak saudara. Paman, bibi, atau nenek misalnya?”
“Di Cairo ini dia tidak memiliki siapa-siapa selain keluarga
yang telah mengusirnya. Dia masih punya paman dan bibi. Tapi sangat jauh di
Mesir selatan, dekat Aswan sana. Tepatnya di daerah Naq El-Mamariya yang
terletak beberapa puluh kilo di sebelah selatan Luxor. Bahadur dan isterinya
yaitu Madame Syaima berasal dari sana. Tapi Noura tidak bisa ke sana. Katanya,
seingatnya ia baru dua kali ke sana dan tidak tahu jalannya. Ia tidak bisa
sendirian ke sana,” jawab Maria.
“Teman sekolahnya?” tanyaku.
“Kami sudah memberikan saran itu padanya. Tapi Noura tidak
mau. Ia ingin pergi ke tempat yang tidak akan ditemukan ayah dan kedua kakaknya
sementara waktu. Seluruh rumah temannya telah diketahui ayahnya. Dia pernah
diseret ayahnya saat tidur di rumah salah seorang temannya di Thakanat Maadi.
Itu akan membuatnya malu pada setiap orang. Begitu katanya.”
Aku mengerutkan kening.
“Bagaimana dengan saudara atau kenalan kalian? Pasti kalian
punya saudara dan kenalan yang tidak akan terlacak oleh ayahnya Noura. Dan itu
bisa membantu Noura,” selorohku.
Tuan Boutros dan Maria sedikit kaget mendengar usulku.
Keduanya berpandangan.
“Fahri, mohon kau mengertilah posisi kami. Sungguh kami
ingin menolong Noura. Tapi menempatkan Noura di rumah kami, atau rumah saudara
dan kenalan kami itu tidak mungkin kami lakukan. Karena ini akan menambah
masalah?”
“Maksud Tuan Boutros?”
“Fahri, sebetulnya bisa saja kami membawa Noura ke tempat
saudara kami. Tapi kalau nanti sampai ketahuan Bahadur masalahnya akan runyam.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
53
Bahkan kalau ada orang tidak bertanggung jawab yang suka
memancing ikan di air keruh masalahnya bisa berkembang tidak hanya antara kami
dan Bahadur. Bisa lebih gawat dari itu. Kau ‘kan tahu, kami sekeluarga ini
penganut Kristen Koptik. Bahadur sekeluarga adalah muslim. Seluruh sanak
saudara dan kolega kami yang paling dekat adalah orang-orang Koptik. Jika Noura
bersembunyi di rumah kami atau rumah saudara kami bisa mendatangkan masalah.
Meskipun kami tidak melakukan apa-apa kecuali menyediakan tempat dia
berlindung. Kami nanti bisa dianggap merekayasa meng-Kristen-kan Noura. Kami
harus menjaga perasaan Noura sendiri dan perasaan semuanya. Kau tentu tahu
Noura siswi Ma’had Al Azhar. Dia tentu akan merasa asing di rumah orang yang
bukan satu keyakinan dengannya. Dia akan merasa canggung untuk shalat, membaca
Al-Qur’an dan lain sebagainya. Di rumah kami saja yang tetangganya, yang kenal
baik dengannya, dia merasa canggung. Untuk shalat dia merasa tidak enak. Tadi
kami yang mempersilakan dia untuk shalat. Kami tidak ingin ini terjadi pada
Noura. Apa pun alasannya, yang paling bijak adalah menempatkan Noura di tempat
orang yang satu keyakinan dengannya. Yang bisa mengerti keadaannya. Terus
terang untuk ini kami minta bantuanmu. Meskipun kamu bukan orang Mesir tapi
kamu tentu punya kenalan orang Mesir yang muslim. Menurut kami semua orang
muslim itu baik kecuali Si Bahadur itu,” jelas Maria panjang lebar.
Aku merenungkan penjelasan Maria. Sungguh bijak dia.
Kata-kata adalah cerminan isi hati dan keadaan jiwa. Kata-kata Maria
menyinarkan kebersihan jiwanya. Sebesar apa pun keikhlasan untuk menolong tapi
masalah akidah, masalah keimanan dan keyakinan seseorang harus dijaga dan
dihormati. Menolong seseorang tidak untuk menarik seseorang mengikuti pendapat,
keyakinan atau jalan hidup yang kita anut. Menolong seseorang itu karena kita
berkewajiban untuk menolong. Titik. Karena kita manusia, dan orang yang kita
tolong juga manusia. Kita harus memanusiakan manusia tanpa menyentuh sedikit
pun kemerdekaannya meyakini agama yang dianutnya. Tak lebih dan tak kurang. Ah,
andaikan umat beragama sedewasa Maria dalam memanusiakan manusia, dunia ini
tentu akan damai dan tidak ada rasa saling mencurigai. Diam-diam aku bersimpati
pada sikap Maria.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
54
Aku lalu berpikir sejenak mencari jalan keluar. Sebenarnya
aku bisa ke tempat Syaikh Ahmad. Tapi masalahnya, waktu sangat mendesak. Noura
harus segera pergi sebelum keluarganya bangun. Dan dia harus pergi sendiri,
agar tidak ada yang disalahkan, atau terseret ke dalam pusaran masalahnya
dengan keluarganya. Aku teringat sesuatu.
“Oh ya aku ada ide,” kataku.
“Apa itu?” tuan Boutros dan Maria menyahut bareng.
“Bagaimana kalau sementara waktu Noura tinggal di salah satu
rumah mahasiswi Indonesia di Nasr City.”
“Saya kira ini usul yang bagus. Mungkin mahasiswi Indonesia
itu bisa mendekatinya dan Noura bisa menceritakan semua derita yang dialaminya.
Setelah itu bisa dicarikan pemecahan bersama yang lebih baik. Sebab dia
kelihatannya sudah benar-benar dimusuhi keluarganya. Noura berkata, bahkan
ibunya sendiri yang dulu sering membelanya kini berbalik ikut memusuhinya. Kita
tidak tahu apa yang terjadi pada Noura sebenarnya,” ujar Maria.
“Baiklah aku akan menghubungi seorang mahasiswi Indonesia di
Nasr City.”
“Lebih cepat lebih baik. Waktunya semakin sempit.”
Aku langsung bergegas mengambil gagang telpon dan memutar
nomor rumah Nurul, Ketua Wihdah, induk organisasi mahasiswi Indonesia di Mesir.
Seorang temannya bernama Farah yang menerima, memberitahukan Nurul baru sepuluh
menit tidur, sebab tadi malam ia bergadang di sekretariat Wihdah.
“Tolong, ini sangat mendesak!” paksaku.
Akhirnya beberapa menit kemudian Nurul berbicara,
“Ada apa sih Kak. Tumben nelpon kemari?”
Aku lalu mengutarakan maksudku, meminta bantuannya, agar
bisa menerima Noura bersembunyi di rumahnya beberapa hari. Mula-mula Nurul
menolak. Ia takut kena masalah. Di samping itu, tinggal bersama gadis Mesir belum
tentu mengenakkan. Aku jelaskan kondisi Noura. Akhirnya Nurul menyerah dan siap
membantu.
“Begini saja Kak Fahri. Si Noura suruh turun di depan Masjid
Rab’ah. Aku dan Farah akan menjemputnya tepat pukul setengah sembilan.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
55
“Baiklah.”
Hasil pembicaraanku dengan Nurul aku jelaskan pada Tuan
Boutros dan Maria. Mereka tersenyum lega. Mereka mengajakku ke atas ke flat
mereka untuk menjelaskan segalanya pada Noura. Di ruang tamu rumah Tuan Boutros,
Noura menunduk dengan wajah sedih. Ada bekas biru lebam di pipinya yang putih.
Matanya memerah karena terlalu banyak menangis. Aku meyakinkan, dia akan aman
di tempat Nurul. Mereka semua mahasiswi Al Azhar dari Indonesia yang halus
perasaannya dan baik-baik semua. Noura mengucapkan terima kasih atas
pertolongan dan meminta maaf karena merepotkan. Kujelaskan di mana dia akan
dijemput Nurul dan Farah.
“Biar cepat, kau naik metro sampai Ramsis. Setelah itu naik
Eltramco jurusan Hayyul Asyir atau Hayyu Sabe’ yang lewat masjid Rab’ah. Turun
di masjid Rab’ah dan cari dua mahasiswi Indonesia. Kau tentu tahu ‘kan muka
orang Indonesia. Nurul memakai kaca mata jilbabnya panjang. Farah tidak pakai
kaca mata, dia suka jilbab kecil. Ditunggu setengah sembilan tepat. Ini nomor
telpon rumahnya,” kataku sambil menyerahkan selembar kertas bertuliskan nomor
telpon dan selembar uang dua puluh pound. “Terimalah untuk ongkos perjalanan
dan untuk menelpon kalau ada apa-apa.”
Noura terlihat ragu.
“Jangan ragu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Kita ini satu
atap dalam payung Al Azhar. Sudah selayaknya saling menolong,” kataku
meyakinkan.
“Noura, terimalah. Fahri ini orang yang baik. Dia hafal
Al-Qur’an. Apa kamu tidak percaya dengan orang yang hafal Al-Qur’an?” ucap
Maria meyakinkan Noura.
Akhirnya Noura mau menerima kertas dan uang dua puluh pound
itu dengan mata berlinang. Bibirnya bergetar mengucapkan rasa terima kasih.
Pagi itu juga Noura pergi ke Nasr City dengan langkah gontai. Saat menatap
Maria ia mengucapkan rasa terima kasih dan berusaha tersenyum.
* * *
Pukul sembilan Nurul menelpon, Noura sudah berada di
tempatnya. Dia minta saya datang, sebab ada seorang anggota rumahnya yang belum
bisa menerima Noura tinggal di sana. Terpaksa saat itu juga aku meluncur ke
Nasr
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
56
City. Sampai di sana aku menjelaskan panjang lebar apa yang
menimpa Noura. Aku jelaskan penderitaannya seperti yang telah berkali-kali aku
lihat. Tentang ayahnya, ibunya dan kakak perempuannya yang tiada henti menyiksa
fisik dan batinnya. Tentang betapa baiknya keluarga Maria dan betapa dewasanya
mereka menyarankan agar Noura tinggal di rumah orang yang seiman dengannya agar
lebih at home. Mendengar itu semua mereka menitikkan air mata dan siap menerima
Noura.
Dari Nasr City aku langsung ke kampus Al Azhar di Maydan
Husein. Langsung ke syu’un thullab dirasat ulya.54 Mereka mengucapkan selamat
atas kelulusanku. Aku diminta segera mempersiapkan proposal tesis. Setelah itu
aku ke toko buku Dar El-Salam yang berada di sebelah barat kampus, tepat di
samping Khan El-Khalili yang sangat terkenal itu. Untuk melihat buku-buku
terbaru Dar El-Salam adalah tempat yang paling tepat dan nyaman. Buku terbaru
Prof. Dr. M. Said Ramadhan El-Bouthi menarik untuk dibaca. Kuambil satu.
Keluar dari Dar El-Salam matahari sudah sangat tinggi
mendekati pusar langit. Udara sangat panas. Tak jauh dari Dar El-Salam ada
penjual tamar hindi. Aku tak bisa mengekang keinginanku untuk minum. Satu gelas
saja rasanya luar biasa segarnya. Aku pulang lewat Attaba. Aku teringat jadwal
belanja. Kusempatkan mampir di pasar rakyat Attaba. Dua kilo rempelo ayam, satu
kilo kibdah55 dan dua kilo suguq56 kukira cukup untuk lauk beberapa hari.
Begitu masuk mahattah metro, azan zhuhur berkumandang. Dalam
perjalanan, panas matahari kembali memanggang. Sampai di rumah pukul dua kurang
seperempat. Aku masuk kamar dengan ubun-ubun kepala terasa mendidih. Musim
panas memang melelahkan. Sampai di flat aku langsung teler. Telentang di karpet
dengan dada telanjang menikmati belaian hawa sejuk yang dipancarkan kipas angin
kesayangan yang membuatku terlelap sesaat.
Dalam lelap, aku melihat Noura di pucak Sant Catherin, Jabal
Tursina. Ia melepas jilbabnya, rambutnya pirang, wajahnya bagai pualam, ia
tersenyum padaku. Aku kaget, bagaimana mungkin Noura berambut pirang, padahal
ayah dan ibunya mirip orang Sudan. Hitam dan rambutnya negro. Aku menatap Noura
54 Syuun thullab dirasat ulya: Bagian yang mengurusi
mahasiswa pascasarjana.
55 Hati.
56 Semacam sausage, bentuknya bundar memanjang.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
57
dengan heran. Lalu Nurul datang. Ia menangis padaku, lalu
marah-marah pada Noura. Aku terbangun membaca ta’awudz dan beristighfar
berkali-kali. Jam setengah tiga. Aku belum shalat. Setan memang suka
memanfaatkan kelemahan manusia. Tak pernah merasa kasihan. Untung waktu zhuhur
masih panjang. Aku beranjak untuk shalat.
Usai shalat aku kembali menelentangkan badan. Kali ini di
atas tempat tidur, entah kenapa kepalaku terasa nyut-nyut. Atau mungkin karena
kelelahan dua hari ini. Mimpi bertemu Noura masih ada dipikiran. Juga Nurul,
kenapa ia menangis dan marah. Apakah ini hanya kebetulan, atau jangan-jangan
betulan. Aku jarang sekali bermimpi yang bukan-bukan. Mimpi bertemu perempuan
bagiku adalah mimpi yang bukan-bukan. Aku masih bisa menghitung berapa kali aku
bermimpi bertemu perempuan. Tak ada sepuluh kali. Semuanya bertemu perempuan
yang satu, yaitu ibuku. Kali ini aku bertemu Noura yang memperlihatkan
rambutnya yang pirang dan Nurul yang menangis dan marah. Yang kupikirkan adalah
Nurul. Apakah Nurul sejatinya menerima kehadiran Noura dengan terpaksa. Hatiku
tidak tenang. Aku bangkit. Tidak jadi tidur lagi. Kutelpon Nurul.
“Tidak ada acara Nur?”
“Sore ini tidak ada Kak. Jadwalnya istirahat.”
“Bagaimana dengan Noura?”
“Baik. Dia sekarang sedang tidur di kamarku. Benar katamu
Kak, dia memang patut di kasihani. Punggungnya penuh luka cambuk.”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Apa dia sudah bercerita banyak pada kalian?”
“Belum. Masih dalam taraf mencoba saling kenal. Tapi dia
tidak tahan merasakan sakit di punggungnya akhirnya dia sedikit bercerita kalau
ayahnya suka mencambuknya dengan ikat pinggang. Ayah yang kejam!”
“Sudah dibawa ke dokter?”
“Belum, rencananya nanti sore.”
“Nur, boleh aku tanya sedikit. Ini soal pribadi.”
“Apa itu Kak?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
58
“Apa kau sedang marah?”
“Marah kenapa?”
“Karena Noura. Apa kalian menerimanya dengan terpaksa?”
“Jangan suudhan pada saya dan teman-teman Kak. Keberadaan
Noura di sini tidak ada masalah kok. Kenapa sih Kakak terlalu berprasangka
begitu?”
“Ya aku kuatir saja kalian merasa terganggu dan direpotkan.”
“Nggak. Nggak apa-apa. Sure nggak apa-apa. Jangan kuatir!”
“Syukran kalau begitu.”
“Afwan.”
Benar, tadi itu yang datang dalam lelapku dari setan.
Nurul tidak apa-apa.
Suaranya juga bening ceria seperti biasa. Tidak ada rasa
jengkel atau marah sedikit pun. Sekarang Noura berambut pirang. Benarkah?
Selama ini aku tidak pernah melihat Noura lepas jilbab. Dari mana aku akan cari
info. Tanya pada ibu atau kedua kakaknya, gila apa. Tanya Maria. Ya Maria,
mungkin dia tahu. Aku balik ke kamar. Mengambil handphone dan mengirim pesan
pada Maria.
“Maria boleh tanya?”
Lima menit kemudian,
“Boleh. Tanya apa?”
“Jangan kaget ya? Mungkin pertanyaan aneh.”
“Apa itu?”
“Apa Noura berambut pirang?”
“Pertanyaanmu memang aneh. Jawabnya ya, dia berambut pirang.
Kenapa kau tanyakan itu?”
“Ingin tahu saja. Tapi jika dia berambut pirang memang
aneh.”
“Aneh bagaimana? Orang Mesir biasa berambut pirang.”
“Bukan itu maksudku. Bukankah ayah dan ibunya seperti orang
Sudan? Hitam dan berambut negro?”
“Kau ingin mengatakan Noura bukan anak mereka.”
“Entahlah. Ini hanya firasat.”
“Tapi firasatmu mungkin ada benarnya.”
“Hanya Tuhan yang tahu.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
59
Aku kembali menelentangkan badan di atas kasur. Saatnya
tidur. Baru dua detik mata terpejam, handphoneku menjerit. Nomor tak kukenal.
Siapa ya? Kuangkat,
“Assalamu’alaikum.”
Suara bening perempuan. Logatnya agak aneh. Siapa ?
“Wa ‘ailakumussalam. Ini siapa ya?” jawabku balik bertanya.
“Sind Sie Herr Fahri?”57 Dia malah balik bertanya dengan
bahasa Jerman. Aku langsung teringat perempuan bercadar biru muda yang kemarin
bertemu di dalam metro. Dia pasti Aisha.
“Ja. Sie Aisha?” jawabku dengan bahasa Jerman.
“Ja. Herr Fahri, haben Sie zeit?58” Pertanyaannya mengandung
maksud mengajak bertemu.
“Heute?”59
“Ja. Heute, ba’da shalat el ashr.”60
Aku ingin tertawa mendengar dia mencampur bahasa Jerman
dengan bahasa Arab. Tapi memang tepat. Kata-kata shalat sejatinya susah
diterjemahkan ke dalam bahasa lain secara pas.
“Nein danke, heute ba’da shalat el ashr habe ich leider
keine Zeit! Ich habe schon eine verabredung!” 61 Maksudku adalah janji pada
jadwal untuk menerjemah.
Aisha lalu menjelaskan ia ingin bertemu denganku secepatnya.
Ia minta aku bisa meluangkan sedikit waktu. Karena sangat penting. Berkaitan
dengan Alicia yang katanya ingin berbincang seputar Islam dan ajaran moral yang
dibawanya. Alicia ingin sekali bertanya banyak hal padaku sejak kejadian di
atas metro itu. Aisha memohon dengan sangat, sebab menurutnya ini kesempatan
yang baik untuk menjelaskan Islam yang sebenarnya pada orang Barat. Aisha
mengatakan Alicia seorang reporter berita. Ia wartawan dan ini kesempatan emas.
Mau tak mau aku mengiyakan dan menawarkan bagaimana jika bertemu besok. Ia
senang sekali mendengarnya. Kami membuat kesepakatan bertemu di mahattah
57 Apakah Anda Tuan Fahri.
58 Tuan Fahri, apakah kau punya waktu?
59 Hari ini?
60 Ya. Hari ini setelah shalat ashar.
61 Tidak, terima kasih, sayang aku tidak ada waktu selepas
shalat ashar! Aku punya janji.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
60
metro bawah tanah Maydan Tahrir tepat jam setengah sebelas.
Aku minta padanya untuk datang tepat waktu. Ia tertawa. Sedikit ia meledek,
bukankah seharusnya dia yang meminta padaku untuk datang tepat waktu. Aku
tersenyum kecut. Memang orang Indonesia terkenal jam karetnya. Aku tidak sangka
kalau orang seperti Aisha tahu akan hal itu. Aku tidak perlu bertanya padanya
dari mana ia tahu itu. Sebuah pertanyaan bodoh di dunia global seperti sekarang
ini. Bukankah dengan kecanggihan teknologi jarum jatuh di pelosok Merauke sana
bisa terdengar sampai ke New York dan ke seluruh penjuru dunia?
Aku langsung menulis janji bertemu Aisha pada planning
kegiatan esok hari. Ternyata padat. Besok jadwal khutbah di masjid Indonesia.
Berarti nanti malam mempersiapkan bahan khutbah. Pagi diketik dan langsung
di-print. Lantas istirahat. Tidak ke mana-mana. Tidak juga sepak bola. Untak
stamina khutbah. Kalaupun ingin melakukan sesuatu lebih baik menerjemah
beberapa halaman. Jam sembilan berangkat. Sampai di Tahrir kira-kira jam
sepuluh. Kalau misalnya metro sedikit terlambat, aku bisa tetap datang tepat
waktu. Lantas berbincang dengan Aisha dan Alicia sampai jam sebelas. Setelah
itu pergi ke Dokki untuk khutbah. Aku harus datang di awal waktu biar tidak
gugup. Begitu rencananya. Jika tidak dibuat outline yang jelas seperti itu akan
membuat hidup tidak terarah dan banyak waktu terbuang percuma.
Kulihat kalender. Melihat kalender adalah hal yang paling
kusuka. Karena bagiku dengan melihatnya optimisme hidup itu ada.
Jum’at tanggal sembilan dan Sabtu tanggal sepuluh. Ada tanda
pada tanggal sepuluh. Hmm..kapan aku memberi tanda dan untuk apa? Jangan-jangan
aku ada janji dengan seseorang. Aku berusaha mengingat-ingat. Rancangan
kegiatan satu bulan aku lihat. Juga tidak ada janji khusus. Terus itu tanda apa
ya? Hari Minggunya, tanggal sebelas juga ada tanda yang sama. Dua hari
berturut-turut. Aku teringat sesuatu. Ya itu tanda yang aku bubuhkan tiga bulan
lalu begitu tahu tanggal lahir seluruh keluarga Tuan Boutros. Aku berniat
memberikan hadiah untuk mereka, tepat di hari ulang tahun mereka. Madame Nahed,
ibunya Maria, ulang tahun tanggal 10 Agustus. Si Yousef adik lelaki Maria
tanggal 11 Agustus, satu hari setelah ibunya. Sedangkan Tuan Boutros 26
Oktober, dan Maria 24 Desember. Tanggal-tanggal itu telah aku beri tanda. Aku
paling suka memberi
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
61
kejutan pada teman atau kenalan. Teman satu rumah sudah
mendapatkan hadiah mereka pada hari istimewa mereka. Berarti besok kegiatannya
bertambah satu, mencarikan hadiah untuk Madame Nahed dan Yousef. Hadiah yang
sederhana saja. Sekadar untuk memberikan rasa senang di hati tetangga.
Tiba-tiba aku berpikir ingin memberikan hadiah pada Si Muka Dingin Bahadur,
ayah Noura yang mirip orang Sudan itu. Apa reaksinya kira-kira?
* * *
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
62
5. Pertemuan di Tahrir
Jam 10.10 aku sampai di mahattah metro bawah tanah Maydan
Tahrir. Sesuai dengan janji, kami akan bertemu di jalur metro menuju Giza
Suburban. Tempatnya lebih nyaman. Lebih indah. Aku mencari tempat duduk yang
paling mudah dilihat. Janjinya tepat setengah sebelas. Aku datang dua puluh
menit lebih awal. Sambil menunggu aku membaca kembali bahan khutbah yang telah
kupersiapkan. Keadaan mahattah tidak terlalu ramai. Menjelang shalat Jum’at
seperti ini biasanya memang agak lengang. Seorang polisi bersiaga dengan
senjata di pinggang. Petugas kebersihan berseragam menyapu pelan-pelan. Seorang
perempuan berjubah hitam bercadar hitam datang. Kukira dia Aisha, ternyata
bukan. Perempuan itu tidak melihat ke arahku sama sekali. Begitu metro datang,
ia langung naik dan hilang.
Sudah pukul sebelas Aisha belum juga datang. Aku akan
menunggu sampai seperempat jam ke depan jika ia tidak datang aku akan langsung
pergi ke Dokki. Pukul sebelas lima menit ada seorang perempuan berabaya cokelat
tua dengan jilbab dan cadar di kepalanya. Ia melangkah tergesa ke arahku. Ia
mengucapkan salam dan aku menjawabnya.
“Nehmen Sie platz!” 62 kupersilakan dia duduk.
“Danke schon.”63 Selorohnya sambil bergerak duduk di samping
kananku.
“Bitte.”64
Aisha melihat jam tangannya. Dia minta maaf datang
terlambat. Aku hanya tersenyum. Kami lalu mulai berbincang-bincang. Aisha
memilih pakai bahasa Jerman.
“Wo ist Alicia?”65 Tanyaku karena aku tidak juga melihat
bule Amerika itu datang.
“Insya Allah, dia akan datang sepuluh menit lagi. Dia sedang
dalam perjalanan dari wawancara dengan Ibrahem Nafe’, Pemimpin Redaksi Harian
Ahram.”
62 Silakan duduk.
63 Terima kasih banyak.
64 Kembali.
65 Di mana Alicia? AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
63
Aku bisa memaklumi, namun aku perlu menjelaskan padanya
bahwa tepat setengah dua belas aku harus meninggalkan Tahrir. Sekali lagi Aisha
minta maaf atas keterlambatannya dan keterlambatan Alicia. Dalam hati aku
senang, bahwa memang perlu sekali-kali orang Barat minta maaf pada orang
Indonesia, karena mereka datang tidak tepat waktu. Makanya, jangan main-main
dengan murid Syaikh Utsman yang terkenal disiplin.
“Semoga lima belas menit cukup bagi Alicia untuk mendapatkan
jawaban atas ketidaktahuannya akan Islam,” kata Aisha dengan nada sedikit
menyesal.
“Sebetulnya saya senang diajak berbincang untuk menjelaskan
keindahan Islam. Tapi kali ini saya ada jadwal khutbah. Maafkan saya.”
“Kalau waktunya tidak cukup, anggaplah ini pertemuan
pengantar saja. Semoga Anda tidak keberatan seandainya Alicia minta waktu lagi,
entah kapan.”
“Insya Allah. Dengan senang hati.”
Aisha lalu bertanya-tanya tentang saya. Tentang Indonesia.
Tentang Jawa. Dia pun sempat sedikit mengenalkan dirinya. Dia baru empat bulan
di Cairo. Tujuannya untuk belajar bahasa Arab dan memperbaiki bacaan
Al-Qur’annya. Di Jerman ia sudah tingkat akhir Fakultas Psikologi. Ayahnya asli
Jerman. Ibunya asli Turki. Dari ibunya ia memiliki darah Palestina. Sebab
neneknya atau ibu ibunya adalah wanita asli Palestina. Ibunya bilang, neneknya
lahir di Giza. Aku bertanya sejak kapan memakai jilbab dan cadar. Ia menjawab
memakai jilbab sejak SMP dan memakai cadar sejak tiba di Mesir, mengikuti
bibinya. Sementara ia memang tinggal di Maadi bersama bibi dan pamannya.
Bibinya sedang S.2. di Kuliyyatul Banat Universitas Al Azhar, beliau adik
bungsu ibunya. Sedangkan pamannya sedang S.3., juga di Al Azhar. Aku mengenal
beberapa orang Turki yang ada di program pascasarjana. Aku teringat sebuah
nama.
“Aku kenal seorang mahasiswa Turki. Dia cukup akrab
denganku. Dia pernah bilang tinggal di dekat Kentucky Maadi, mungkin pamanmu
kenal,” kataku.
“Dekat Kentucky? Siapa namanya? Coba nanti aku tanyakan pada
paman,” Aisha penasaran.
“Namanya Eqbal Hakan Erbakan?”
“Siapa?” AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
64
“Eqbal Hakan Erbakan.”
“La ilaaha illallah!”
“Kenapa?”
“Itu pamanku.”
“So ein zufall!66 ”
“Dunia begitu sempit bukan? Tak kukira kau kenal pamanku.”
“Sampaikan salamku untuknya. Katakan saja dari Fahri
Abdullah Shiddiq, teman i’tikaf di masjid Helmeya Zaitun tahun lalu. Juga
sampaikan salamku pada bibimu dan kedua puteranya yang lucu; Amena dan Hasan.”
“Insya Allah dengan senang hati.
Dari kejauhan aku melihat seorang perempuan bule datang.
“Apakah dia Alicia?”
“Kelihatannya.”
Penampilannya memang berbeda dengan waktu aku melihatnya di
metro dua hari yang lalu. Sekarang tampak lebih sopan. Memakai hem lengan
panjang. Tidak kaos ketat dengan bagian perut terlihat. Ia menyapa kami dengan
tersenyum. Aisha menjelaskan waktu yang ada sangat sempit, karena jam setengah
dua belas aku harus cabut ke Masjid Indonesia di Dokki. Alicia bisa mengerti
dan minta maaf atas keterlambatan. Ia langsung membuka dengan sebuah
pertanyaan,
“Begini Fahri, di Barat ada sebuah opini bahwa Islam
menyuruh seorang suami memukul isterinya. Katanya suruhan itu terdapat dalam
Al-Qur’an. Ini jelas tindakan yang jauh dari beradab. Sangat menghina martabat
kaum wanita. Apakah kau bisa menjelaskan masalah ini yang sesungguhnya?
Benarkah opini itu, atau bagaimana?”
Aku menghela nafas panjang. Aku tidak kaget dengan
pertanyaan Alicia itu. Opini yang sangat mendiskreditkan itu memang seringkali
dilontarkan oleh media Barat. Dan karena ketidakmengertiannya akan ajaran Islam
yang sesungguhnya banyak masyarakat awam di Barat yang menelan mentah-mentah
opini itu. Dengan kemampuan yang ada aku berusaha menjelaskan sebenarnya. Aku
berharap Alicia bisa memahami bahasa Inggrisku dengan baik,
66 Sungguh suatu kebetulan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
65
“Tidak benar ajaran Islam menyuruh melakukan tindakan tidak
beradab itu. Rasulullah Saw. dalam sebuah haditsnya bersabda, ‘La tadhribu
imaallah!’67 Maknanya, ‘Jangan kalian pukul kaum perempuan!’ Dalam hadits yang
lain, beliau menjelaskan bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah yang
berbuat baik pada isterinya.68 Dan memang, di dalam Al-Qur’an ada sebuah ayat
yang membolehkan seorang suami memukul isterinya. Tapi harus diperhatikan
dengan baik untuk isteri macam apa? Dalam situasi seperti apa? Tujuannya untuk
apa? Dan cara memukulnya bagaimana? Ayat itu ada dalam surat An-Nisa, tepatnya
ayat 34:
“Sebab itu, maka Wanita yang saleh ialah yang ta'at kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka
nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”
Jadi seorang suami diperbolehkan untuk memukul isterinya
yang telah terlihat tanda-tanda nusyuz.”
Alicia menyela, “Nusyuz itu apa?”
“Nusyuz adalah tindakan atau perilaku seorang isteri yang
tidak bersahabat pada suaminya. Dalam Islam suami isteri ibarat dua ruh dalam
satu jasad. Jasadnya adalah rumah tangga. Keduanya harus saling menjaga, saling
menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling mengisi, saling
memuliakan dan saling menjaga. Isteri yang nusyuz adalah isteri yang tidak lagi
menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya. Isteri yang tidak lagi
komitmen pada ikatan suci pernikahan. Jika seorang suami melihat ada gejala
isterinya hendak nusyuz, hendak menodai ikatan suci pernikahan, maka Al-Qur’an
memberikan tuntunan bagaimana seorang suami harus bersikap untuk mengembalikan
isterinya ke jalan yang benar, demi menyelamatkan keutuhan rumah tangganya.
Tuntunan itu ada dalam surat An-Nisaa ayat 34 tadi. Di situ Al-Qur’an
memberikan tuntunan melalui tiga tahapan,
67 Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Nasai dan
Ibnu Majah.
68 Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu
Hibban.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
66
Pertama, menasihati isteri dengan baik-baik, dengan
kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hatinya sehingga dia bisa
segera kembali ke jalan yang lurus. Sama sekali tidak diperkenankan mencela
isteri dengan kata-kata kasar. Baginda Rasulullah melarang hal itu. Kata-kata
kasar lebih menyakitkan daripada tusukan pedang.
Jika dengan nasihat tidak juga mempan, Al-Qur’an memberikan
jalan kedua, yaitu pisah tempat tidur dengan isteri. Dengan harapan isteri yang
mulai nusyuz itu bisa merasa dan interospeksi. Seorang isteri yang benar-benar
mencintai suaminya dia akan sangat terasa dan mendapatkan teguran jika sang
suami tidak mau tidur dengannya. Dengan teguran ini diharapkan isteri kembali
salehah. Dan rumah tangga tetap utuh harmonis.
Namun jika ternyata sang isteri memang bebal. Nuraninya
telah tertutupi oleh hawa nafsunya. Ia tidak mau juga berubah setelah
diingatkan dengan dua cara tersebut barulah menggunakan cara ketiga, yaitu
memukul.
Yang sering tidak dipahami oleh orang banyak adalah cara
memukul yang dikehendaki Al-Qur’an ini. Tidak boleh sembarangan. Suami boleh
memukul dengan syarat:
Pertama, telah menggunakan dua cara sebelumnya namun tidak
mempan. Tidak diperbolehkan langsung main pukul. Isteri salah sedikit main
pukul. Ini jauh dari Islam, jauh dari tuntunan Al-Qur’an. Dan Islam tidak
bertanggung jawab atas tindakan kelaliman seperti itu.
Kedua, tidak boleh memukul muka. Sebab muka seseorang adalah
segalanya bagi manusia. Rasulullah melarang memukul muka.
Ketiga, tidak boleh menyakitkan. Rasulullah Saw. bersabda,
‘Bertakwalah kepada Allah dalam masalah perempuan (isteri). Mereka adalah
orang-orang yang membantu kalian. Kalian punya hak pada mereka, yaitu mereka
tidak boleh menyentuhkan pada tempat tidur kalian lelaki yang kalian benci.
Jika mereka melakukan hal itu maka kalian boleh memukul mereka dengan pukulan
yang tidak menyakitkan (ghairu mubrah). Dan kalian punya kewajiban pada mereka
yaitu memberi rizki dan memberi pakaian yang baik.’69 Para ulama ahli fiqih dan
ulama tafsir menjelaskan kriteria ‘ghairu mubrah’ atau ‘tidak menyakitkan’
yaitu tidak
69 Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
67
sampai meninggalkan bekas, tidak sampai membuat tulang
retak, dan tidak di bagian tubuh yang berbahaya jika kena pukulan.
Dengan menghayati benar-benar kandungan ayat suci Al-Qur’an
itu dan makna hadits-hadits Rasulullah itu akan jelas sekali seperti apa
sebenarnya ajaran Islam. Apakah seperti yang dituduhkan dan diopinikan di Barat
yang menghinakan wanita? Apakah tuntunan mulia seperti itu, yang bertujuan
menyelamatkan bahtera rumah tangga karena ada gejala isteri hendak nusyuz,
tidak lagi bersahabat pada suaminya, hendak menodai ikatan suci pernikahan
dianggap tiada beradab?
Kapan seorang suami diperbolehkan memukul? Pada isteri macam
apa? Syaratnya memukulnya apa saja? Tujuannya apa? Itu semua haruslah
diperhatikan dengan seksama. Memukul seorang isteri jahat tak tahu diri dengan
pukulan yang tidak menyakitkan agar ia sadar kembali demi keutuhan rumah
tangga, apakah itu tidak jauh lebih mulia daripada membiarkan isteri berbuat
seenak nafsunya dan menghancurkan rumah tangga?
Ya inilah ajaran Islam dalam mensikapi seorang isteri yang
berperilaku tidak terpuji. Islam sangat memuliakan perempuan, bahwa di telapak
kaki ibulah surga anak lelaki. Hanya seorang lelaki mulia yang memuliakan
wanita. Demikian Islam mengajarkan.”
Rasanya sudah cukup panjang aku menjelaskan. Alicia tampak
mengangguk-anggukkan kepala. Sekilas kulihat mata Aisha berkaca-kaca. Entah
kenapa. Sebenarnya aku ingin memaparkan ratusan data tentang perlakuan tidak
manusiawi orang-orang Eropa pada isteri-isteri mereka. Namun kuurungkan.
Biarlah suatu saat nanti sejarah sendiri yang membeberkan pada Alicia dan
orang-orang seperti Alicia. Di Inggris, beberapa abad yang lalu isteri tidak
hanya boleh dipukul tapi boleh dijual dengan harga beberapa poundsterling saja.
Ada seorang Perdana Menteri Jepang yang mengatakan bahwa cara terbaik
memperlakukan wanita adalah dengan menamparnya. Dengan bangga Perdana Menteri
itu mengaku sering menampar isteri dan anak perempuannya. Ia bahkan menasihati
suami puterinya agar tidak segan-segan menampar isterinya. Untungnya Inggris
dan Jepang bukan negara yang mayoritas penduduknya muslim. Jika mereka negara
Islam atau mayoritas penduduknya muslim pastilah protes keras atas
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
68
perlakuan tidak beradab pada perempuan itu akan datang
bagaikan gelombang badai.
Aku menengok jam tangan. Pukul 11.35.
“Maaf. Aku harus pergi sekarang. Aku sudah terlambat lima
menit dari rencana,” ucapku pada Alicia dan Aisha sambil bangkit dari duduk.
“Dari jawaban yang kau berikan aku mendapatkan masukan yang
sama sekali baru aku mengerti. Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin aku
tanyakan kepadamu.Tentang Islam memperlakukan perempuan. Tentang Islam
memperlakukan non-Islam. Tentang Islam dan perbudakan dan lain sebagainya. Dan
aku berharap akan mendapatkan jawaban yang baik dalam perspektif yang adil,”
Alicia mengungkapkan harapannya.
“Saya senang berjumpa dengan orang seperti Anda Nona Alicia.
Sebisa mungkin saya akan memenuhi harapan Anda itu, insya Allah. Tapi terus
terang, bulan ini saya sangat sibuk. Saya harus komitmen dengan jadwal yang
telah ada. Anda tentu bisa memaklumi. Apalagi saya sedang menyelesaikan
magister saya. Jadi terus terang saya akan berusaha mencuri-curi waktu. Saya
ada ide. Bagaimana kalau semua pertanyaan yang ingin Anda sampaikan, Anda tulis
saja dalam sebuah kertas. Anda print. Dan nanti serahkan pada saya. Saya akan
menjawabnya di sela-sela waktu senggang saya. Jika sudah terjawab semua akan
saya serahkan kembali pada Anda. Lalu kita bertemu dalam suatu tempat dan kita
diskusikan masalah yang belum clear. Bagaimana?”
“Saya kira ini ide yang bagus. Saya akan tuliskan pertanyaan
saya secepatnya. Dalam dunia jurnalistik wawancara tertulis lazim juga
digunakan. Terus bagaimana kita bisa bertemu lagi. Meskipun cuma sebentar untuk
menyerahkan pertanyaan-pertanyaan saya itu?”
Aku berpikir sesaat. Mengingat jadwal aku keluar.
“Anda sekarang tinggal di mana?” tanyaku setelah aku ingat
jadwal keluar dari Hadayek Helwan dalam waktu dekat.
“Saya menginap di Nile Hilton Hotel.”
“Sampai kapan?”
“Kira-kira masih sembilan hari di Mesir.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
69
“Baik. Bagaimana kalau kita berjumpa besok Senin, tepat
pukul sebelas pagi?”
“Okey. Di mana?”
“Di kafetaria National Library. Letaknya di Kornes Nil
Street tak jauh dari hotel Anda. Semua orang Mesir di hotel Anda, yang Anda
tanya pasti tahu.”
“Baiklah.”
“Aku boleh datang ‘kan?” sela Aisha.
“Tentu saja,” jawabku dan Alicia hampir bersamaan.
“Kalau begitu aku pamit dulu. Bye!”
Aku beranjak pergi meninggalkan keduanya tepat pada saat
sebuah metro dari Shubra El-Khaima datang. Perlahan berhenti. Perlahan-lahan
terbuka. Kutunggu orang-orang yang turun habis. Baru aku naik. Ada banyak
tempat duduk kosong. Aku pilih paling dekat. Duduk melihat ke arah jendela.
Masinis membunyikan tanda. Ding dung...ding dung! Tanda metro sebentar lagi
berjalan.
Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang perempuan menyapaku
dengan bahasa Arab minta izin duduk, “Hal tasmahuli an ajlis!”
Aku menengok ke asal suara. Perempuan bercadar. Aisha! Aku
sedikit kaget. Aku menggeser tempat dudukku. Aisha duduk di sampingku.
“Mau ke mana?” tanyaku. Kali ini kami berbincang dalam
bahasa Arab. Aku berusaha menggunakan kalimat-kalimat fusha yang mudah dipahami
olehnya. Kuhindari bahasa ‘amiyah sama sekali.
“Aku perlu ikut kamu ke Masjid Indonesia,” jawabnya.
“Untuk apa?”
Metro mulai berjalan. Dua menit lagi metro akan melintas di
bawah sungai Nil. Sayangnya pemandangan di luar jendela hanya gelap berseling
cahaya lampu neon menempel di dinding terowongan.
“Aku ingin tahu komunitas orang Indonesia di Mesir. Siapa
tahu aku bisa dapat bahan untuk tesis psikologi sosial S.2.-ku kelak. Aku lagi
melengkapi data tentang masyarakat Jawa. Jadi mumpung ada kesempatan. Aku tidak
akan melewatkan begitu saja. Siapa tahu nanti di masjid ada mahasiswi atau
muslimah Indonesia, aku bisa kenalan. Dan besok-besok jika aku ada perlu, bisa
datang sendiri.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
70
“O, begitu. Kalau ingin bertemu mahasiswi Indonesia,
seandainya di masjid nanti tidak ada, namun semoga ada, insya Allah aku bisa
bantu.”
“Terima kasih. Aku dengar dari paman, di Nasr City banyak
mahasiswi Indonesia.”
“Benar. Mahasiswa Asia Tenggara mayoritas tinggal di sana.”
“Tadi kau bilang mau buat proposal tesis. Boleh tahu
rencananya tema apa yang hendak kau garap?”
“Mungkin Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said
An-Nursi.”
“Ulama pembaru dari Turki itu?”
“Benar.”
“Pasti akan sangat menarik. Kebetulan keluarga kami di Turki
adalah pengikut setia jamaah Syaikh Said An-Nursi rahimahullah.”
“Aku tahu, Eqbal Hakan pernah cerita padaku.”
“Di rumahnya banyak buku-buku karangan Syaikh An-Nursi.”
“Ya. Suatu saat aku akan ke sana jika aku perlu data
tambahan.”
“Apa kau yakin sekarang tidak perlu data tambahan?”
“Untuk sekadar proposal mengajukan judul, konsepnya sudah
matang dan tinggal saya ketik. Saya sudah punya empat ratus referensi. Jika
diterima oleh tim penilai, barulah perlu bahan selengkap-lengkapnya untuk
penyusunan tesis.”
“Semoga diterima. Jika kelak tesismu jadi siapa tahu bisa
diterbitkan di Turki.”
“Amin.”
Metro sampai di mahattah Dokki. “Kita turun?” tanya Aisha.
“Tidak, mahattah depan. Tapi tidak ada salahnya siap-siap.”
Kami beranjak ke dekat pintu. Kami berdiri berdekatan. Di
kaca pintu metro aku melihat bayanganku sendiri. Sama tingginya dengan Aisha.
Mungkin aku lebih tinggi sedikit. Satu atau dua sentimeter saja. Metro berjalan
lagi. Tak lama kemudian sampai di mahattah El-Behous. Antara mahattah Dokki dan
mahattah El-Behous jaraknya memang tidak terlalu jauh. Keduanya masih dalam
satu kawasan, yaitu kawasan Dokki.
Metro berhenti. Kami turun. Mahattah El-Behous berada
sekitar dua puluh lima meter di bawah tanah. Dengan eskalator kami naik ke
atas. Kami keluar ke
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
71
permukaan seperti vampire keluar dari sarangnya di siang
bolong. Sinar matahari terasa sangat menyilaukan. Panasnya menyengat dan
menyiksa. Cepat-cepat kuambil kaca mata hitam dari tas cangklongku. Lumayan,
untuk menyejukkan kornea mata. Aku berjalan dengan langkah cepat menuju
Mousadda Street. Aisha mengimbangi langkah dua meter di belakangku. Kami diam
seribu bahasa.
11.30.14 waktu Cairo, kami tiba di Masjid Indonesia yang tak
lain adalah lantai dasar sebuah gedung yang disebut Sekolah Indonesia Cairo
atau biasa disebut SIC. Lantai dasar itu cukup luas dan benar-benar layak
disebut masjid. Beberapa kali Bapak Duta Besar Indonesia di Cairo mengundang
diplomat negara lain yang muslim untuk shalat Jum’at di masjid ini. Dari gerbang
masjid aku menangkap suara riuh anak-anak mengeja Al-Qur’an. Mereka adalah
putera-puteri para pejabat KBRI yang belajar mengaji dibimbing oleh mahasiswa
dan mahasiswi Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar. Kupersilakan Aisha
masuk.
Kulihat ada dua kelompok anak-anak mengaji. Di sebelah
selatan dekat mihrab, kelompok putera dibimbing oleh Fathurrahman dan Hasyim,
keduanya mahasiswa Al Azhar yang mengabdikan diri menjadi takmir. Di sebelah
utara, kelompok puteri dibimbing oleh seorang perempuan bercadar, aku tidak
tahu namanya dan seorang mahasiswi yang aku kenal yaitu Nurul, Ketua Wihdah.
Diam-diam aku salut pada Nurul. Meskipun ia jadi ketua umum organisasi
mahasiswi Indonesia paling bergengsi di Mesir, tapi ia tidak pernah segan untuk
menyempatkan waktunya mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Setelah bersalaman
dengan Fathurrahman dan Hasyim, kuajak Aisha menemui Nurul yang sedang
mengajar, dan beberapa kali melihat ke arah kami. Mungkin ia heran melihat aku
datang bersama seorang perempuan bercadar. Selama ini aku dikenal tidak pernah
jalan bersama seorang perempuan mana pun.
Kukenalkan Aisha pada Nurul dan Nurul pada Aisha. Kujelaskan
siapa Aisha pada Nurul dan kujelaskan siapa Nurul pada Aisha. Nurul menyambut
Aisha dengan senyum mengembang. Setelah mereka berbincang beberapa kalimat,
barulah aku minta diri pada mereka untuk mempersiapkan khutbah. Sebelumnya aku
jelaskan pada Aisha jika masih ingin berbincang, selepas shalat Jum’at ada
waktu, meskipun sebentar.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
72
Meskipun telah mandi, aku merasa perlu mandi lagi agar segar
kembali. Musim panas selalu membuatku ingin mandi berkali-kali. Aku langsung ke
ruang takmir yang tidak asing lagi bagiku. Melepas pakaian ganti sarung dan
mandi. Masjid ini bisa dikatakan sangat lengkap peralatannya. Mulai dari
peralatan ibadah, sound system, dan lain sebagainya. Bahkan peralatan dapur pun
ada. Masjid memiliki dapur yang integral dengan dapur SIC. Memang kelebihan
materi jika dialirkan untuk ibadah membuat segalanya jadi indah. Usai mandi aku
kembali ke kamar takmir. Hasyim meminjamkan sarung baru, jas, serban dan kopiah
putih. Aku memang sudah memesannya Jum’at yang lalu. Hasyim sudah paham, di
antara sekian banyak mahasiswa yang mendapat jadwal khutbah hanya aku yang
paling aneh. Datang memakai pakaian santai. Mandi dan merapikan diri di masjid.
Sebab perjalanan dari Hadayek Helwan sampai Dokki cukup memakan waktu. Aku
tidak mau ribet.
Pukul 12.00 pengajian anak-anak selesai. Pukul 12.20 Hasyim
membaca Al-Qur’an dengan mujawwad menunggu jamaah datang. Pukul 12.35 ritual
ibadah shalat Jum’at di mulai. Bapak Duta ada di barisan ketiga. Beliau datang
agak terlambat. Tema khutbah yang diberikan takmir kepadaku adalah ‘Indahnya
Cinta Karena Allah.’ Selesai pukul 13.20. Kami lalu makan bersama di belakang
masjid. Menunya adalah Coto Makasar dan Es Buah.
Usai makan aku mendekati Aisha dan Nurul untuk pamitan.
Kutanyakan pada Aisha apa masih ada yang bisa kubantu. Sebuah pertanyaan
basa-basi. Dia bilang tidak. Kutanyakan apa mau pulang bersama. Sebab jalurnya
sama. Sekali lagi sebuah pertanyaan basa-basi. Dia jawab masih ada yang
dibicarakan dengan Nurul. Lalu Aku teringat Noura.
“Nur, bagaimana kabar Noura?”
“Dia sudah mulai dekat dengan kita-kita dan bisa tertawa.”
“Dia cerita tentang dirinya nggak?”
“Ya. Tapi baru sebatas sekolahnya.”
“Tentang perlakuan keluarganya padanya?”
“Belum.”
“Tolong dekati dia. Sepertinya dia memendam masalah serius.
Perlakuan keluarganya selama ini tidak wajar. Kata Tuan Boutros, kita tidak
akan bisa
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
73
membantu kalau dia tidak jujur menjelaskan masalahnya.
Kenapa malam-malam sampai dicambuk dan diusir ayahnya. Dia cerita pada Maria,
ayah dan dua kakak perempuan menyuruh dia melakukan suatu pekerjaan yang dia
tidak bisa melakukannya. Pekerjaan apa itu? Dan kenapa dia tidak bisa
melakukannya? Apa masalah dia sesungguhnya. Kalau ayahnya menuntut dia harus
kerja untuk dapat uang, Madame Nahed, ibunya Maria menawarkan dia bisa kerja di
kliniknya sore hari. Tolong Nur, kau dekati dia dan bicaralah dari hati ke hati.
Aku paling tidak tahan kalau melihat ada orang tertindas dan menderita di depan
mataku.”
“Insya Allah Kak.”
“Oh ya, ini, untuk biaya makan Noura satu bulan. Semoga
cukup,” aku mengulurkan amplop yang baru kuterima dari takmir.
“Tidak usah Kak.”
“Sudah jangan pakewuh. Kita sama-sama mahasiswa. Kita makan
juga iuran. Kalau uang dapur ngepres kita juga ketar-ketir. Ayo terimalah!
Apalagi Noura orang Mesir, dia tidak bisa selalu makan masakan kalian. Dia
harus makan makanan Mesir dan itu perlu biaya ‘kan? Terimalah!”
Akhirnya Nurul mau menerimanya.
Bagaimana mungkin aku yang sudah merepotkan mereka masih
juga membebankan biaya pada mereka. Dakwah ya dakwah. Ibadah ya ibadah. Tapi
elokkah ongkos dakwah dan ibadah dibebankan orang lain?
Aku jadi teringat sepenggal episode perjalanan hijrah Nabi.
Ketika akan berangkat hijrah ke Madinah beliau diberi seekor onta oleh Abu
Bakar. Namun beliau tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma. Beliau mau menerima
dengan syarat onta itu beliau beli. Abu Bakar inginnya memberikan secara
cuma-cuma untuk perjalanan hijrah Nabi. Tapi baginda Nabi tidak mau beban
sarana dakwah dipikul oleh Abu Bakar yang tak lain adalah umatnya. Baginda Nabi
tidak mau menggunakan kesempatan pengorbanan orang lain. Abu Bakar punya
keluarga yang harus dihidupi. Dakwah harus berjalan profesional meskipun
pengorbanan-pengorbanan tetap diperlukan. Dan Nabi mencontohkan profesional
dalam berdakwah. Beliau tidak mau menerima onta Abu Bakar kecuali dibayar
harganya. Mau tak mau Abu Bakar pun mengikuti keinginan Nabi. Onta itu dihargai
sebagaimana umumnya dan Baginda Nabi membayar harganya. Barulah
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
74
keduanya berangkat hijrah. Itulah pemimpin sejati. Tidak
seperti para kiai di Indonesia yang menyuruh umat mengeluarkan shadaqah
jariyah, bahkan menyuruh santrinya berkeliling daerah mencari sumbangan dana
dengan berbagai macam cara termasuk menjual kalender, tapi dia sendiri cuma
ongkang-ongkang kaki di masjid atau di pesantren.
Ketika seseorang telah disebut ‘kiai’ dia lalu merasa malu
untuk turun ke kali mengangkat batu. Meskipun batu itu untuk membangun masjid
atau pesantrennya sendiri. Dia merasa hal itu tugas orang-orang awam dan para
santri. Tugasnya adalah mengaji. Baginya, kemampuan membaca kitab kuning di
atas segalanya. Dengan membacakan kitab kuning ia merasa sudah memberikan
segalanya kepada umat. Bahkan merasa telah menyumbangkan yang terbaik. Dengan
khutbah Jum’at di masjid ia merasa telah paling berjasa. Banyak orang lalai,
bahwa baginda Nabi tidak pernah membacakan kitab kuning. Dakwah nabi dengan
perbuatan lebih banyak dari dakwah beliau dengan khutbah dan perkataan. Ummul
Mu’minin, Aisyah ra. berkata, “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an!” Nabi adalah
Al-Qur’an berjalan. Nabi tidak canggung mencari kayu bakar untuk para
sahabatnya. Para sahabat meneladani apa yang beliau contohkan. Akhirnya mereka
juga menjadi Al-Qur’an berjalan yang menyebar ke seluruh penjuru dunia Arab
untuk dicontoh seluruh umat. Tapi memang, tidak mudah meneladani akhlak Nabi.
Menuntut orang lain lebih mudah daripada menuntut diri sendiri.
“Nanti kalau ada apa-apa, atau ada yang kurang bilang saja.
Juga kalau Noura sudah menceritakan masalahnya, langsung kontak secepatnya!”
kataku pada Nurul.
Nurul mengangguk. Aku minta diri. Aku berdoa semoga masalah
Noura segera selesai dan gadis malang itu tidak lagi menanggung derita yang
mengenaskan. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menyambuk anak gadisnya sampai
mengelupas punggungnya. Di mana rasa kasih sayangnya? Apakah dia tiada pernah
mendengar sabda nabi, siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang dia tidak
akan disayang oleh Allah?
* * *
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
75
Dari El-Behous aku langsung ke Attaba. Aku harus mencari
hadiah untuk Madame Nahed dan Yousef menyambut hari istimewa mereka. Meskipun
sederhana, pasti akan jadi kejutan tersendiri, bahwa tetangganya dari Indonesia
memberikan hadiah yang tiada disangka.
Aku ingat acara dunia wanita yang ditayangkan Nile TV. Di
antara benda-benda yang disukai wanita adalah tas tangan. Kurasa tidak salah
kalau aku menghadiahi Madame Nahed dengan tas tangan. Dan untuk Yousef aku akan
belikan kaset percakapan bahasa Perancis dan kamusnya. Kuharap dia senang.
Sebab dia pernah bilang jika kuliah nanti ingin mengambil sastra Perancis.
Attaba adalah pasar rakyat terbesar di Mesir. Semua ada.
Harganya relatif lebih murah dibandingkan tempat yang lain. Meskipun begitu,
seni menawar dan bergurau tetap penting untuk memperoleh harga miring. Orang
Mesir paling suka dengan lelucon dan guyonan. Teater rakyat di Mesir sampai
sekarang masih eksis, penontonnya selalu penuh melebihi gedung bioskop. Itu
karena sandiwara humornya. Film Shaidi Fi Jamiah Amrika atau ‘Orang Kampung di
Universitas Amerika’ adalah film yang sukses besar karena kocaknya. Mona Zaki
bintang Lux Mesir itu tampil kocak di film itu. Aku sering mengumpulkan
pepatah-pepatah kocak Mesir yang membuat orang Mesir akan terkaget dan tertawa
saat kuajak bicara. Mereka akan terheran-heran aku dapat pepatah itu dari mana.
Universitas Al Azhar tidak mungkin mengajarkannya. Pernah, seorang pedagang
gendut yang kelihatannya enak diajak guyon kusapa dengan ‘Ya Kapten, kaif hal
waz zaman syurumburum!” 70 Ia kaget dan terheran-heran. Aku tertawa dia pun
tertawa. Kata-kata syurumburum adalah kata-kata aneh. Cara menyapa aneh ini aku
dapat dari seorang pemilik qahwaji71di Sayyeda Zaenab.
Ohoi, sebetulnya hidup di Mesir sangat menyenangkan. Penuh
seni dan hal-hal mengejutkan.
Di toko tas dan sepatu milik seorang lelaki muda bermuka
bundar aku berhasil membawa tas tangan putih cantik dengan harga 50 pound.
Padahal di tiga toko sebelumnya tas yang sama merk dan bentuknya tidak boleh 70
pound. Itu karena guyonan renyah. Ketika berbincang-bincang aku tahu dia
penggemar aktor komedi legendaris Ismael Yaseen. Kubilang padanya aku ini cucu
Ismael Yaseen.
70 Hei Kapten, apa kabar, zaman kok syurumburum (nggak jelas
begini).
71 Kedai kopi.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
76
Lalu aku perlihatkan tingkah, mimik dan gaya bicara seperti
Ismael Yasin. Dia terpingkal. Dan tas itu pun kena. Setelah dapat tas aku
mencari kaset dan kamus untuk Yousef. Kutemukan yang murah di toko kaset Sono
Cairo. Dalam perjalanan pulang di dalam metro ada anak kecil berjualan koran.
Aku ambil dua, Ahram dan Akhbar El-Yaum.
Menjelang Ashar aku tiba di flat dengan tenaga yang nyaris
habis dan darah menguap kepanasan. Benar-benar lemas. Rudi tahu aku pulang dan
sangat kelelahan. Ia membawakan segelas karikade dingin. Rasanya sangat segar.
Meskipun Rudi orang Medan yang kalau berbicara tidak bisa sehalus orang Jawa,
tapi hatinya halus dan penuh pengertian. Melihat bungkusan yang aku bawa dia
penasaran. Ia minta izin membukanya. Dia kaget aku beli tas wanita.
“Untuk siapa ini Mas? Sudah punya calon rupanya? Diam-diam
menghanyutkan. Tapi memang sudah saatnya. Oh iya, tadi Nurul nelpon.
Jangan-jangan dia nih calonnya. Terus ini beli kaset percakapan bahasa Perancis
segala, memangnya mau S.3. ke Sorbonne apa? Aku jadi ingat wawancara di
bulletin Citra bulan lalu, Si Ketua Wihdah itu katanya juga sedang kursus
bahasa Perancis di Ain Syams. Pas buanget. Benarlah kata orang Inggris, love
and a cough cannot be hid. Cinta dan batuk tidak dapat disembunyikan!”
“Sudahlah Akhi. Aku lagi capek sekali. Nanti habis maghrib
aku jelaskan semua. Tidak usah berprasangka yang bukan-bukan.”
Anak muda di mana-mana sama.
Mataku sudah liyer-liyer. Rudi bangkit, “Akh, aku istirahat
sebentar. Jam lima seperempat dibangunkan ya?”
“Kalau ada telpon dari Nurul bagaimana?”
“Sudah jangan terus menggoda.”
“Congratulation Mas. She is the star, she is the true coise,
she will be a good wife!”
Anak ini kalau menggoda tak ada habisnya. Agak keterlaluan
sebenarnya. Tapi aku malas meladeninya. Aku memejamkan mata. Tak perlu
kutanggapi sekarang, nanti juga dia akan tahu yang sesungguhnya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
77
6. Hadiah Perekat Jiwa
Senja musim panas sungguh indah meskipun tetap tidak seindah
musim semi. Aku membuka jendela kamar lebar-lebar. Semburat mega kemerahan
menghiasi langit. Bau uap pasir masih terasa. Angin bertiup semilir seolah
menghapus hawa panas. Jendela Maria kelihatannya juga terbuka. Habis maghrib
paling enak memang membuka jendela. Membiarkan angin semilir mengalir.
Sayup-sayup aku mendengar Maria bernyanyi.
Kalimatin laisat kal kalimaat!
Ia melantunkan lagu Majida Rumi dengan sangat indah. Suara
Maria memang seindah suara penyanyi tersohor dari Lebanon itu.
Di kamar sebelah Saiful masih membaca An-Naml. Spontan aku
menangkap makna ayat-ayat yang dibaca Saiful. Seekor semut berseru pada
teman-temannya, “Hai semut-semut sekalian cepat masuklah ke dalam liang kalian.
Sebentar lagi Sulaiman dan bala tentaranya akan lewat, kalian bisa terinjak kaki
mereka dan mereka sama sekali tidak merasa menginjak kalian!” Nabi Sulaiman
ternyata mendengar dan mengerti apa yang diucapkan semut itu. Nabi Sulaiman
tersenyum. Aku pun tersenyum.
Aku duduk di depan meja belajar. Menulis beberapa baris
kalimat indah untuk Yousef dan Madame Nahed dalam dua kertas berbeda.
Masing-masing kumasukkan amplop. Dan kumasukkan dalam dua kardus kecil yang
siap kubungkus. Hamdi dan Rudi masuk.
“Katanya mau membuat konferensi pers Mas?” canda Hamdi. Rudi
cengar-cengir.
“Panggil Saiful sekalian!” sahutku tenang. Agaknya Saiful
mendengar pembicaraan kami. Dia menyudahi bacaan Al-Qur’annya dan menyahut,
“I’m coming!”
“Rud, tolong sambil kau bantu membungkus yang satu! Kau ‘kan
jagonya membungkus kado,” pintaku pada Rudi.
“Beres Mas.”
Sambil membungkus kado aku menjelaskan untuk siapa kado ini
sebenarnya. “Kita mengamalkan hadits Nabi, Tahaadu tahaabbu! Salinglah kalian
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
78
memberi hadiah maka kalian akan saling mencintai! Ini waktu
yang tepat untuk memberikan kejutan pada tetangga kita yang baik itu. Mereka
sering sekali memberi makanan dan minuman kepada kita. Mereka juga perhatian
pada kita. Jadi begitu sesungguhnya. Bukan untuk calon isteri. Jangan
berprasangka sebab sebagian prasangka itu dosa!”
Mereka semua menganggukkan kepala. Rudi minta maaf. Kubalas
dengan senyum.
“Kapan kado ini akan disampaikan Mas?” tanya Saiful.
“Insya Allah nanti menjelang mereka tidur,” jawabku.
“Bagaimana kita tahu mereka mau tidur?” sahut Hamdi.
“Jika aku mendengar Maria menutup jendela, biasanya dia siap
untuk tidur. Dan Maria bilang mamanya selalu tidurnya lebih lambat darinya.”
* * *
Kira-kira pukul sebelas kudengar suara jendela ditutup. Itu
Maria. Dua menit kemudian kukirim pesan ke nomor handphone-nya:
“Kalau mau tidur jangan lupa doa! Semoga mimpi bertemu
Al-Masih.”
Tak lama kemudian datang balasan,
“Bagaimana kamu tahu aku akan tidur?”
Kujawab,
“Firasat orang beriman banyak benarnya.”
“Kau benar. Selamat malam.”
Saatnya telah tiba.
Kuajak teman-teman semua ke atas. Ke rumah Maria. Aku yakin
Yousef dan Madame Nahed belum tidur. Tuan Boutros mungkin baru akan tidur. Kami
menekan bel dua kali. Yousef membuka pintu dan melongok.
“Oh kalian. Ada perlu?” tanya Yousef. Ia belum melihat
hadiah yang kami bawa.
“Mama ada? Kami perlu bicara dengan beliau,” tukasku.
“Ayo masuk.”
Yousef ke dalam memanggil mamanya. Tak lama kemudian Madame
Nahed keluar dengan sedikit kaget. Biasanya kami selalu berurusan dengan Tuan
Boutros atau Maria. Jarang sekali dengan beliau.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
79
“Malam-malam begini mencari saya ada apa ya? Apa ada yang
sakit?” tanya beliau yang memang seorang dokter, tapi tidak praktek di rumah.
“Maafkan kami Madame, jika kedatangan kami mengganggu. Kami
datang untuk mengungkapkan rasa cinta dan hormat kami pada keluarga ini.
Kebetulan kami telah menyiapkan hadiah ala kadarnya. Ini untuk Madame dan yang
satunya untuk Yousef. Hadiah sederhana untuk ulang tahun Madame dan Yousef.
Kami mendoakan semoga Madame dan Yousef bahagia dan berjaya.” Aku menjelaskan
maksud kedatanganku dan teman-teman.
Madame Nahed benar-benar terkejut. Ia menerima hadiah itu
dengan mata berkaca-kaca. Yousef mengucapkan terima kasih tiada terhingga.
Setelah itu kami mohon diri meskipun Madame Nahed ingin kami minum kopi dulu.
“Kami tahu sudah saatnya istirahat. Kami tidak ingin
istirahat Madame dan Yousef terganggu.”
Madame Nahed tidak bisa mengucapkan apa-apa kecuali terima
kasih berkali-kali. Saat kami menuruni tangga, kami mendengar Madame Nahed
berteriak-teriak senang memanggil Maria dan Tuan Boutros. Selanjutkan kami
tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah Madame Nahed itu.
Ketika aku bersiap untuk tidur, handphone-ku memekik. Ada
pesan masuk. Kubaca. Dari Maria,
“Apa yang kalian lakukan sampai membuat Mama menangis haru?”
Aku merasa tidak perlu menjawab. Hatiku mengucapkah puji
syukur kepada Tuhan berkali-kali. Tidak sia-sia rasanya panas-panas ke Attaba.
Maria kembali mengirim pesan,
“Hai orang Indonesia, kenapa tidak dijawab? Kau sudah tidur
ya?”
Aku jawab, “Ya.”
Apa pesan masuk lagi. Tidak kulihat. Aku harus istirahat.
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca aku belum pernah memberikan kado pada ibuku
sendiri di Indonesia. Sebelum kenal Kairo aku adalah orang desa yang tidak
kenal yang namanya kado. Di desa hadiah adalah membagi rizki pada tetangga agar
semua mencicipi suatu nikmat anugerah Gusti Allah. Jika ada yang panen mangga
ya semua tetangga dikasih biar ikut merasakan. Ulang tahun tidak pernah
diingat-ingat oleh orang desa. Yang diingat adalah netu, atau hari lahir
menurut hitungan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
80
Jawa, misalnya Kamis Pon, Jum’at Wage dan seterusnya. Pada
hari itu, seperti yang kuingat waktu kecil dulu, ibu akan membuat bubur merah
atau makanan lengkap dengan lauk-pauknya di letakkan di atas tampah yang telah
dialasi dengan daun pisang. Tampah adalah wadah seperti nampan bundar besar
yang terbuat dari bambu Di bawah daun pisang ibu meletakkan uang recehan banyak
sekali. Setelah siap semua teman-temanku dipanggil untuk makan bersama.
Sebelum makan ibu mengingatkan agar kami tidak lupa membaca
basmalah bersama. Jika Mbah San kebetulan ada, ibu akan minta Mbak Ehsan berdoa
dan kami, anak-anak, mengamininya. Barulah kami makan berramai-ramai. Setelah
makanannya habis kami akan membuka daun pisang yang tadi dibuat alas makan.
Lalu kami berebutan mengambil uang receh dengan serunya. Semua kebagian. Sebab
jika ada yang dapat uang lebih dan ada yang tidak dapat maka sudah jadi
kewajiban yang dapat lebih untuk membaginya pada yang tidak dapat. Biasanya ibu
sudah menghitung jumlah anak yang akan diundang dan uangnya sesuai dengan
jumlah anak itu. Jadi semuanya dapat jatah sama. Sebenarnya kami tahu jatah
uang logamnya satu-satu. Tapi selalu saja dibuat rebutan dahulu. Masa kecil
yang seru. Begitulah cara ibu-ibu di desaku menyenangkan hati anak-anak kecil.
Kenangan indah yang tiada terlupakan. Lebih indah dari pesta meniup lilin dan
bernyanyi happy bird day to you.
Pernah ada kiai muda dalam suatu pengajian di surau melarang
ibu-ibu membuat pesta untuk anak-anak seperti itu. Katanya itu bid’ah. Ibu-ibu
bingung dan lapor pada Mbah Ehsan. Mbah Ehsan yang pernah belajar di Pesantren
Mambaul Ulum Surakarta itu hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa, tidak
bid’ah, malah dapat pahala menyenangkan anak kecil. Kanjeng Nabi adalah
teladan. Beliau paling suka menyenangkan hati anak kecil.
Ketika aku sudah sampai Mesir, dan setelah membaca kitab Al
I’tisham karangan Imam Syathibi dan kitab As-Sunnah Wal Bid’ah yang ditulis
Syaikh Yusuf Qaradhawi aku merenungkan kembali jawaban Mbah Ehsan. Sungguh
suatu jawaban yang sangat arif. Sungguh tidak mudah untuk membid’ahkan suatu
perbuatan terpuji yang tiada larangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Sungguh tidak
bijak bertindak sembarangan menghukumi orang.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
81
Pada kenyataannya, ibu-ibu di desa tidak pernah menganggap
pesta pada netu anaknya sebagai suatu kewajiban agama yang harus dilakukan.
Yang jika dilakukan dapat pahala jika tidak dapat dosa. Atau sebagai ibadah
sunah, jika dilakukan dapat pahala jika ditinggal tidak apa-apa. Tidak ada
anggapan itu masuk bagian dari ajaran agama. Apa yang dilakukan ibu-ibu di desa
tak lebih dari ungkapan rasa sayangnya pada anaknya. Ia ingin anaknya merasa
senang. Dan teman anak-anaknya juga senang. Itu saja.
Orang desa adalah orang yang hidupnya susah dan pas-pasan.
Jika punya kelebihan rizki sedikit saja ingin berbagi kepada sesama. Ibu-ibu
ingin menanamkan hal itu dalam jiwa anak-anaknya. Ketika seorang ibu di desa
memiliki rizki ia ingin membahagiakan anaknya. Membuatkan sesuatu yang istimewa
untuk anaknya. Tapi ia juga ingin anaknya membagi kebahagiaan dengan
teman-temannya. Maka dibuatlah makanan yang agak banyak untuk dibancak
bersama-sama. Adapun itu dipaskan dengan hari netu anaknya adalah agar anaknya
merasa memiliki sesuatu istimewa. Ia merasa dihormati, dicintai dan disayangi.
Hari itu ia merasa memiliki rasa percaya diri. Ia merasa ada sebagai manusia.
Ia didoakan oleh teman-temannya yang mengamini doa Mbah Ehsan. Atau ia merasa
ketika seluruh teman-temannya membaca basmalah bersama-sama, itu adalah doa
mereka untuk dirinya. Pada hari itu anak orang paling miskin di suatu desa
sekalipun akan tumbuh rasa percaya dirinya. Sebab anak orang kaya ikut serta
makan satu nampan dengan seluruh anak-anak yang ada. Anak orang kaya makan pada
nampan yang dibuat ibunya untuk dirinya pada hari istimewanya. Ia tidak merasa
rendah diri. Seluruh anak-anak desa merasa sama. Makan bersama. Cuil mencuil
tempe. Saling tarik menarik secuil rambak. Dan tertawa bersama. Lalu rebutan
uang receh dan saling berbagi. Orang-orang desa adalah orang-orang susah dan
mereka kaya akan cara menutupi kesusahan mereka dan menyulapnya menjadi
kebahagian yang bisa dirasakan bersama-sama.
* * *
Pagi usai shalat shubuh ada orang menekan bel. Ternyata
Yousef. Ia datang untuk sekali lagi mengucapkan terima kasih dan mengabarkan
kami sesuatu,
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
82
“Mama ingin membuat pesta ulang tahun kami berdua di sebuah
Villa di Alexandria. Kalian satu rumah kami undang. Semua ongkos perjalanan
jangan dipikirkan Mama sudah siapkan,” ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Kulihat wajah teman-teman cerah. Wisata gratis ke Alexandria siapa tidak mau.
Lain dengan diriku. Bulan ini jadwalku padat sekali. Terjemahan belum selesai.
Proposal tesis. Mengaji dengan Syaikh Utsman yang sangat sayang jika aku
tinggalkan, meskipun cuma satu hari. Dan lain sebagainya. Aku merasa tidak bisa
ikut. Tapi aku pura-pura bertanya,
“Kapan?”
“Minggu depan. Menurut ramalan cuaca sudah tidak terlalu
panas. Rencananya berangkat Sabtu, setengah dua siang. Menginap di sana
semalam. Minggu sore sebelum maghrib baru pulang. Bagaimana, kalian bisa ‘kan?
Kalian ‘kan masih libur?” kata Yousef.
Meskipun wajah teman-teman tampak cerah, tapi mereka tidak
spontan menjawab. Mereka sangat menghargai diriku sebagai kepala rumah tangga
dan sebagai yang tertua.
“Kurasa teman-teman bisa ikut. Tapi mohon maaf, saya tidak
bisa. Sebab jadwal saya padat sekali. Terus terang saya sedang menyelesaikan
proyek terjemahan dan sedang menggarap proposal tesis. Sampaikan hal ini pada
Mama ya?” jawabku.
“Mas, kenapa tidak diluangkan satu hari saja sih. Kasihan
mereka ‘kan?” sahut Rudi.
“Rud, semua orang punya skala prioritas. Banyak hal penting
di hadapan kita, tapi kita tentu memilih yang paling penting dari yang penting.
Aku punya kewajiban menyelesaikan kontrak. Itu yang harus aku dahulukan
daripada ikut ke Alex. Jika ada rencana yang tertunda dua hari saja, maka akan
banyak rencana yang rusak. Tolonglah pahami aku. Silakan kalian ikut aku tidak
apa-apa. Sungguh!” jelasku mohon pengertian teman-teman satu rumah. Yousef
mengerti semua yang aku katakan sebab Rudi dan aku mengatakannya dalam bahasa
Arab.
“Baiklah. Akan aku sampaikan ini pada Mama,” ujar Yousef
sambil bangkit minta diri. Aku beranjak ke kamar untuk menyalakan komputer.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
83
Sementara Saiful ke dapur untuk piket masak. Rudi dan Hamdi
tetap di ruang tamu membaca-baca koran yang kemarin kubeli.
Baru saja aku mengetik tujuh baris. Bel kembali berbunyi.
“Mas Fahri, Yousef!” teriak Hamdi.
Aku bergegas ke depan.
“Begini Fahri. Setelah aku beritahukan semuanya, Mama
memutuskan untuk membatalkan rencana ke Alex,” ucap Yousef dengan kerut muka
sedikit kecewa.
“Kenapa?”
“Karena kau tidak bisa ikut.”
“Kan acara tetap bisa berjalan dengan baik tanpa
keikutsertaanku.”
“Pokoknya itu keputusan mama.”
“Ana asif jiddan! Wallahi, ana asif jiddan!72” ucapku sedih.
Sebetulnya aku tidak ingin mengecewakan siapapun juga.
“Tak apa-apa. Mama ingin menggantinya dengan sebuah acara
yang tidak akan menyita waktu banyak. Dan untuk acara ini mama minta dengan
sangat kalian bisa ikut semua. Sekali lagi dengan sepenuh permohonan, tidak
boleh ada yang tidak bisa.”
“Acaranya apa, dan kapan?”
“Kami sekeluarga akan mengajak kalian sekeluarga ke sebuah
restaurant di Maadi untuk makan malam. Kalian tidak boleh menolak. Begitu pesan
mama.”
Aku berpikir sejenak.
“Sudahlah Mas. Untuk yang ini sedikit toleranlah. Masak
jadwal menerjemahnya ketat buanget sih!” desak Hamdi.
“Baiklah. Insya Allah, kami sekeluarga bisa. Jam berapa kita
berangkat?” kulihat wajah Yousef lebih cerah. Ia tersenyum.
“Setelah kalian shalat maghrib kita langsung berangkat. Biar
tidak kemalaman,” ucapnya senang.
“Waktu yang tepat sekali,” gumamku.
“Kalau begitu aku naik dulu. Terima kasih atas
kesediaannya.”
“Terima kasih atas ajakannya.”
72 Aku menyesal sekali. Demi Allah, saya sangat menyesal.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
84
Hamdi, Rudi, dan Saiful tersenyum riang.
“Wah lumayan. Pengiritan uang dapur,” kata Saiful.
“Sekali-kali kita makan di restaurant mewah, masak cuma bisa
makan qibdah 35 piaster,” sahut Rudi.
“Memang enaknya punya tetangga baik,” tukas Hamdi.
“ Hei, jangan lupa sama teman. Si Mishbah diberi tahu suruh
pulang. Harus sampai rumah sebelum maghrib.” Selorohku sambil berjalan masuk
kamar untuk kembali menerjemah. Tak lama kemudian kudengar Si Hamdi berbicara
di telpon. Mishbah akan pulang selepas shalat ashar.
Baru lima halaman Rudi berteriak, “Mas Fahri telpon from the
true coise!” Rudi itu masih meledek aku rupanya ia menyebut Nurul “the true
coise”. The true coise bagi siapa? Aku mendesah panjang. Pagi-pagi mau tenang
sedikit saja tidak bisa. Kuangkat gagang telpon, “Halo. Siapa ya?”
“Alah, udah tahu pura-pura tanya pula!” celetuk Rudi dengan
logat Medannya yang membuat telingaku terasa gatal. Anak ini resek sekali.
“Ini Nurul. Ini dengan Kak Fahri ya?” suara di seberang
sana.
“Ya. Kemarin katanya nelpon ya?Ada apa?”
“Ah enggak. Kemarin sebetulnya ada yang ingin Nurul
tanyakan, tapi jawabannya sudah ketemu.”
“Lha ini nelpon ada apa?”
“Tentang Noura.”
“Ada apa dengan Noura?”
“Tadi malam dia sudah menceritakan semuanya pada saya. Dia
memang gadis yang malang. Ceritanya sangat mengenaskan.”
“Bagaimana ceritanya?”
“Maaf Kak, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Sangat
panjang.”
“Oh aku paham. Kau tutup saja telponmu. Biar aku yang
telpon.”
“Bukan pulsa masalahnya Kak.”
“Terus enaknya bagaimana?”
“Sore nanti kami, pengurus Wihdah diundang Pak Atdikbud di
rumahnya yang dekat SIC. Kakak bisa nggak ke SIC jam lima?”
“Sayang nggak bisa Nur.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
85
“Terus bagaimana?”
“Minggu-minggu ini jadwalku padat. Susah meluangkan waktu
buat appoinment baru. Bagaimana kalau segala yang diceritakan Noura kau tulis
saja semuanya. Pakai tulisan tangan tidak apa-apa. Kulihat cerpenmu pernah
nampang di bulletin Citra. Kayaknya lebih praktis. Lebih enak. Tapi kalau bisa
secepatnya.”
“Akan Nurul usahakan. Kapan Kakak ingin mengambilnya?”
Aku berpikir sejenak. Kapan aku akan keluar ke Nasr City.
Satu minggu lagi. Terlalu lama. Oh ya, aku ingat, Mishbah masih di wisma dia
akan pulang selepas shalat ashar. Dan Rudi setelah makan pagi nanti akan pergi
ke Wisma untuk diskusi.
“Kalau kau bisa menulisnya sekarang juga, habis zhuhur aku
bisa minta teman untuk mengambilnya.”
“Insya Allah bisa. Siapa nanti yang mengambil Kak?”
“Kalau tidak Mishbah ya Rudi.”
“Bilang jangan lebih jam tiga. Aku sudah tidak dirumah. Itu
saja Kak ya.”
“Terima kasih Nur.”
“Kembali.”
Aku menutup gagang telpon dengan hati penasaran. Apa
sesungguhnya yang dialami oleh gadis Mesir yang lemah lembut bernama Noura itu.
Aku berharap nanti sore atau nanti malam sudah mengetahuinya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
86
7. Di Cleopatra Restaurant
“Dia benar-benar anak pelacur sial! Dia benar-benar anak
setan! Anak tak tahu diuntung. Kalau sampai tampak batang hidungnya akan
kurajah-rajah mukanya biar tahu rasa!”
Kami mendengar Si Muka Dingin Bahadur menyumpah serapah dari
dalam flatnya dengan suara seperti guntur. Entah ada apa lagi. Lalu kami
mendengar suara perempuan membentak tak kalah sengitnya. Ia menyalahkan Si Muka
Dingin dan memakinya habis-habisan. Itu mungkin suara Madame Syaima, isteri Si
Muka Dingin. Madame Syaima tidak terima dibilang pelacur. Lalu terdengar
tamparan dan jeritan. Beberapa barang pecah. Kami berlima sudah sampai di
halaman. Baru Yousef yang turun menyusul. Pakaiannya fungky betul. Tuan
Boutros, Madame Nahed dan Maria belum turun.
“Maaf ya agak terlambat. Biasa, perempuan dandan dulu,” kata
Yousef.
Kami manggut-manggut saja. Tak lama kemudian Tuan Boutros,
Madame Nahed dan Maria tampak menuruni tangga apartemen satu persatu. Mereka
berjalan mendekati kami. Tuan Boutros tampak lebih muda dari biasanya. Ia
memakai kemeja warna krem dengan lengan dilingkis. Madame Nahed berpenampilan
seperti aristokrat Perancis. Pafumnya menyengat. Ini yang aku tidak suka.
Wanita Mesir kalau memakai parfum seolah harus tercium dari jarak seratus
meter. Yang paling menawan tentu saja Maria. Dengan gaun malam merah tua dan
menggelung rambutnya ia terlihat sangat cantik. Wajah pualamnya seperti
bersinar di kegelapan malam. Mereka benar-benar siap ke pesta. Kami berlima
berpakaian biasa saja. Si Rudi malah memakai celana trening warna biru muda.
Trening yang terkadang buat main sepak bola. Memang benar-benar seadanya.
Tuan Boutros mengatur siapa yang ikut mobilnya dan siapa
yang ikut mobil Yousef. Keluarga itu memang memiliki dua mobil. Jeep Cheroke
hijau metalik yang biasa dibawa Tuan Boutos kerja dan sedan forsa hitam yang
seringkali dibawa Yousef. Empat orang dari kami ikut mobil Yousef. Madame Nahed
dan Maria ikut Tuan Boutros. Aku melangkah ke arah mobil Yousef. Namun Tuan
Boutros memanggil, “Fahri, kau ikut aku!”
“Ya, kau naik sini Fahri!” seru Madame Nahed.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
87
Terpaksa aku belok ke mobil Cheeroke. Madame Nahed naik di
depan dan duduk di samping Tuan Boutros. Maria di belakang. Masak aku harus
duduk di samping Maria. Dan parfumnya itu. Nuraniku tidak setuju. Satu mobil
tak apa, tapi selama tempat duduk bisa di atur lebih aman di hati kenapa tidak.
Aku mendekati Madame Nahed dan berbicara dengan halus,
“Maaf Madame, boleh saya duduk di depan. Saya ingin
berbincang-bincang dengan Tuan Boutros selama dalam perjalanan.”
Madame Nahed tersenyum, “Oh ya, dengan senang hati.”
Dia lalu turun dan pindah ke belakang duduk di samping
puterinya. Aku naik dan duduk di samping Tuan Boutros. Belum sempat Tuan
Boutros menyalakan mesin terdengar suara Si Muka Dingin memanggil dengan suara
mengguntur,
“Hai Boutros tunggu!”
Kami semua menoleh ke asal suara. Si Muka Dingin datang
dengan tergopoh.
“Di mana Noura kau sembunyikan, Boutros!”
Kami berpandangan. Si Muka Dingin telah berdiri di dekat
Tuan Boutros. Dengan tenang Tuan Boutros menjawab, “Apa saya tidak memiliki
urusan yang lebih penting dari mengurusi anakmu, heh?”
“Kau pasti tahu di mana Noura berada?”
“Siapa yang peduli dengan anakmu?”
“Malam itu sebelum tidur Mona melihat Maria turun menghibur
Noura di jalan. Kalian pasti tahu sekarang di mana Noura berada!”
“Malam itu malam itu apa? Aku tidak tahu! Kalau begitu tanya
saja sama Maria. Jangan tanya aku!”
“Hai Maria bicara kau! Kalau tidak kusumpal mulutmu dengan
sandal!” si Muka Dingin menyalak keras seperti anjing.
Dadaku panas sekali mendengar kalimat Si Muka Dingin yang
tidak tahu sopan santun ini. Tuan Boutros kulihat menggerutukkan giginya, ia
tentu marah puterinya dibentak kasar begitu, tapi mukanya tetap tenang
memandang ke depan. Ia tidak menjawab sepatah kata pun.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
88
“Tuan Bahadur, memang benar, malam itu aku turun menghibur
Noura. Tapi Noura tidak bisa dihibur. Ia menangis terus dan tidak berbicara
sepatah kata pun padaku. Aku jengkel, lalu ya kutinggal dia. Setelah itu aku
tidak tahu kemana dia. Kukira dia kembali ke rumah Anda.”
“Hmm...jadi begitu. Anak itu memang keras kepala dan
menjengkelkan bukan? Kau saja dibuat jengkel. Aku ayahnya dibuat jengkel setiap
hari. Kalau ketemu akan kubunuh anak itu biar tidak membuat jengkel lagi!”
“Sudah cukup bicaramu Bahadur? Kami ada urusan!” Kata Tuan
Boutros.
Si Muka Dingin tidak menjawab. Ia hanya pergi begitu saja
sambil mengepalkan tinjunya, ia mendesis “Kalau kembali anak itu akan kukuliti
biar tahu rasa!”
“Puji pada Tuhan, Si Brengsek itu tidak macam-macam.” Madame
Nahed mendesah lega. Tuan Boutros cepat-cepat menyalakan mesin. Lalu perlahan
menjalankan mobil meninggalkan halaman apartemen dibuntuti oleh Yousef. Selama
dalam perjalanan Tuan Boutros banyak bercerita tentang hal menjengkelkan Si
Muka Dingin. Aku meminta beliau tidak usah meneruskan. Aku minta topik
pembicaraan yang menarik, yang mengasyikkan, yang menyenangkan seirama dengan
malam kebahagiaan Madame Nahed. Maria memuji usulku. Madame Nahed lalu
bercerita tentang Maria kecil. Hal-hal kecil yang Maria lakukan. Maria sesekali
menjerit manja minta mamanya tidak meneruskan. Ia malu katanya. Tapi Madame
Nahed malah seperti tertantang untuk menceritakan semakin banyak. Tuan Boutros
sekali menimpal kisah yang diceritakan isterinya. Maria jadi lakon. Aku diam
saja. Hanya sesekali bertanya, benarkah? Maria akan langsung menyahut, tidak
benar, mama bohong! Madame Nahed dan Tuan Boutros akan menyahutnya dengan tawa
terpingkal-pingkal.
“Maria ini waktu kecil sampai umur empat tahun masih
menetek. Umur lima tahun masih ngompol apa nggak menyebalkan!” kata Madame
Nahed memperolok puterinya.
“Benarkah itu?” sahutku santai sambil memandang sinar
purnama yang keperakan di atas riak sungai Nil yang memanjang di samping kiri
jalan.
“Ah itu bohong. Tak mungkin itu terjadi!” tukas Maria cepat
setengah teriak.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
89
“Itu benar. Kalau tidak percaya nanti kalau bibinya yang
bernama Latefa datang tanyakan padanya,” kata Tuan Boutros membela isterinya.
“Itu bukan sesuatu yang tidak baik. Tidak apa-apa. Menetek
pada ibu dalam waktu yang lama malah membuat cerdas. Begitu yang kubaca pada
sebuah majalah,” sahutku.
Maria berterima kasih padaku karena aku membelanya.
Akhirnya Tuan Boutros memarkir mobilnya di halaman sebuah
restaurant mewah. Cleopatra Restaurant. Terletak di pinngir sungai Nile.
Bersebelahan dengan Good Shot dan Maadi Yacht Club. Pantas saja mereka
berpakaian dan berpenampilan serius. Kami berlima berpandang-pandangan.
“Santai saja. Kita ini turis. Turis ‘kan biasa berpakaian
santai?” bisik Hamdi dalam bahasa Indonesia.
“Tapi masak pakai trening yang sudar pudar warnanya begitu?”
lirih Saiful sambil meringis memandang Rudi. Aku tersenyum. Baru kali ini
kulihat Rudi tidak percaya diri. Muka anak Medan ini seperti kepiting rebus. Di
antara kami berlima yang berpakaian paling mengenaskan memang dia. Hamdi
lumayan necis, tapi sandal kulit bututnya membuat hati yang melihatnya tidak
tahan. Sudah berkali-kali aku mengingatkan agar keduanya membuang jauh-jauh adat
klowor yang mereka bawa dari pesantren tradisional. Tapi mereka masih saja suka
klowor, padahal baginda Nabi mencontohkan kerapian, kebersihan dan penampilan
yang meyakinkan. Memang tidak mudah merubah watak dan gaya hidup. Namun Rudi
dan Hamdi jauh lebih baik dari saat pertama kali aku mengenal dan serumah
dengannya. Sekarang sudah mulai bisa membagi waktu dan disiplin. Kalau mau
diskusi mau menyeterika baju biar sedikit rapi. Tapi aku sangat menyayangkan
mereka tadi tidak mau mendengar nasihatku agar berpenampilan sedikit necis.
Mereka hanya menyahut, “Alah cuma mau makan saja kok repot-repot!”
Untung Saiful dan Mishbah mengerti nasihatku. Aku sendiri
berpakaian tidak bagus sekali namun juga tidak akan memalukan. Kaos katun hijau
muda dan rompi santai hijau tua, warna kesayangan. Tak kalah fungkynya dengan
Yousef .
Tuan Boutros membawa kami masuk restoran dan memilihkan
tempat duduk yang paling menjorok ke sungai Nil seperti dek kapal. Terbuka
tanpa atap,
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
90
bintang-bintang kelihatan. Restauran ini ada dua bagian.
Bagian tertutup dan bagian terbuka. Mejanya juga beraneka. Namun warnanya sama.
Ada yang untuk dua orang. Empat orang. Dan ada yang bundar untuk enam orang.
Kami memilih dua meja bundar yang berdekatan. Tuan Boutros, Madan Nahed, dan
Maria telah duduk satu meja terlebih dahulu. Aku mengajak Yousef duduk di meja
yang satunya. Teman-teman mengikuti aku. Pas enam orang. Tuan Boutros meminta
satu di antara kami duduk satu meja dengan mereka. Kusuruh Rudi. Dia tidak mau.
Kupaksa Saiful. Dengan agak ragu-ragu akhirnya dia beranjak juga. Kulihat para
pengunjung yang ada. Mereka berpakaian bagus-bagus. Ada sepasang orang bule.
Yang lelaki pakai jas yang perempuan pakai gaun malam resmi. Di pojok kanan
orang Mesir gemuk botak dengan isterinya. Keduanya rapi. Yousef berbisik
kepadaku, “Ini restauran orang besar. Para diplomat dan bisnisman sering
kemari. Lihat siapa yang ada di meja dekat lampu hias itu, kau pasti
mengenalnya!”
Aku melihat ke arah yang ditunjukkan Yousef. Aku nyaris
tidak percaya dengan apa yang kulihat. Di sana ada Adel Imam dan Yusra sedang
menyantap makanan dan berbincang. Dua artis Mesir itu makan malam di restauran
ini. Teman-teman melongok ke arah keduanya. Yousef mengingatkan, “Jangan terlalu
kelihatan heboh! Restauran ini menjaga ketenangan dan kenyamanan pelanggannya.”
Seorang pelayan menanyakan menu. Madame Nahed berkata kepada
kami, “Silakan pilih sendiri menunya. Jangan malu-malu. Hai Hamdi, kau pilih
apa?”
Hamdi bingung. Ini baru pertama kalinya dia makan di
restauran elite. Menunya juga asing semua.
“Semua masakan khas Timur Tengah ada,” bisik Yousef.
Tiba-tiba Saiful beranjak mendekati aku dan berbisik, “Mas,
tolong kau saja yang satu meja dengan Tuan Boutros, aku tidak enak. Aku tidak
bisa bicara banyak.”
Wajahnya kulihat pucat. Aku merasa kasihan juga melihatnya.
Kalau dia sampai malu, dan pulang masih lapar padahal baru saja dari restauran
besar, apa tidak kasihan. Aku jadi teringat dengan cerita teman satu pondok
dulu. Namanya Bayu. Pakdenya dari ibu dapat isteri kalangan keraton Kasunanan
dan tinggal di kawasan elite Jakarta. Suatu kali ia liburan ke tempat Pakdenya
itu. Di sana semua AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
91
serba teratur. Waktu tidur, waktu belajar, waktu istirahat,
baju tidur, baju santai, dan makannya juga teratur waktu dan tata caranya. Saat
itu dia kelas tiga SMP. Dia yang biasa di desa serba tidak teratur jadi grogi.
Biasa makan tanpa sendok tanpa meja makan, tanpa garpu dan lain sebagainya jadi
serba grogi. Dia sebenarnya ingin tambah karena masih lapar, tapi tidak berani.
Padahal menunya sangat nikmat. Menu yang jarang sekali ia makan di desanya. Ia
takut untuk tambah. Ketika hendak tidur ia merasa masih lapar. Ia tidak bisa
tidur dengan perut lapar. Akhirnya ia minta izin pada Pakdenya untuk keluar
rumah sebentar. Ia pergi ke warteg dan makan sampai kenyang. Ternyata anak
pakdenya yang paling besar melihatnya saat baru pulang dari rumah temannya. Ia
pun ditanya sama budenya kenapa jajan padahal telah tersedia banyak makanan,
apa makanan di rumah budenya tidak enak? Ia tidak bisa menjelaskan, malah
menangis. Aku tidak mau teman-teman mengalami nasib tragis seperti Bayu kecil
itu.
Sebelum beranjak ke meja Tuan Boutros, aku berpesan pada
teman-teman dengan bahasa Indonesia, “Nanti makan yang banyak santai saja. Jika
masih ingin tambah ya tambah saja seperti di rumah sendiri.”
Tuan Boutros heran Saiful pindah tempat duduk. Kubilang ia
ingin berbincang dengan Yousef. Tuan Boutros menganggukkan kepala.
Pelayan restauran beralih mendekati aku dan bilang,
“Anda pesan apa? Teman-teman Anda ikut Anda?”
Madame Nahed tersenyum. Maria kelihatannya ingin tahu aku
suka menu apa. Untung aku pernah diajak makan malam ke sebuah restauran tak
kalah elitenya di Mohandesen oleh Bapak Atdikbud yang jadi ketua takmir masjid
Indonesia di Cairo. Jadi, aku tidak merasa asing sekali dengan menu yang
tertulis.
“Minumnya Seasonal Fresh Fruits. Makannya Chicken
Mugharabieh with Valanciane Rice dan menu penutupnya minta Pineapple Gateau,”
kataku mantap. Itu adalah menu yang dipilih Ibu Atdikbud yang waktu itu tidak
aku rasakan. Sebab waktu itu aku memilih menu utama Onion and Cheese Omelette
yang tak jauh beda dengan telur dadar, cuma lebih besar dan tebal. Waktu itu
aku sedikit menyesal memilih menu yang keliru. Ih jadi geli mengingatnya.
Sekarang aku yakin sekali, aku tidak keliru pilih menu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
92
“Fathi, kau memilih menu kesukaanku,” komentar Maria, ia
lalu bilang pada pelayan, “aku sama dengan dia.” Tuan Boutros pilih Lamb Stew
sedangkan Madame Nahed pesan Chicken Kofta with Tomato Sauce dan Yousef suka
Kabab Lahmul Ghanam73. Begitu hidangan tersedia kami menyantap dengan tenang
sambil menikmati semilir angin sungai Nil dan sesekali melihat riang
gelombangnya yang keperakan diterpa sinar rembulan. Ketika kami sedang asyik
makan seorang lelaki berdasi menghampiri Tuan Boutros. Tuan Boutros berdiri dan
berjabat tangan.
“Fahri, this is Mr. Rudolf from German, and Mr. Rudolf, this
is Fahri from Indonesia!” Tuan Boutros memperkenalkan kenalannya dengan
pengucapan yang sangat berlogat Arab.
Mr. Rudolf menjabat tanganku erat.
“Pleased to meet you Mr. Rudolf.” Sapaku pada bule di
hadapanku dengan tersenyum. Lalu aku berbasa-basi padanya dengan bahasa Jerman,
“Sin Sie Tourist?”74
Mr. Rudolf agaknya terkejut mendengar pertanyaanku.
“Nein. Sprechen Sie Deutsch?”75 Mr. Rudolf balik bertanya
dengan nada heran apa aku bisa berbahasa Jerman.
“Ja.” Jawabku sambil tersenyum. Lalu kami berbincang sesaat
lamanya dengan bahasa Jerman. Ia menerangkan dirinya adalah staf ahli atase
perdagangan Jerman di Kairo. Dia bertanya apa aku seorang diplomat. Kujelaskan
statusku di Mesir. Tuan Boutros menawarkan pada Mr. Rudolf untuk duduk bersama
kami. Mr. Rudolf mengucapkan terima kasih, ia ditunggu isterinya di meja yang
lain, lalu beranjak pergi. Madame Nahed menanyakan di mana aku belajar bahasa
Jerman. Dan menyayangkan Tuan Boutros yang tidak bisa berbahasa Jerman padahal
banyak koleganya yang berasal dari Jerman. Maria mengusulkan agar ayahnya
belajar bahasa Jerman padaku saja. Tuan Boutros hanya tersenyum mendengar
celoteh isteri dan puterinya.
Usai makan kami tidak langsung pulang. Madame Nahed memesan
koktail dan mengajak kami semua ke bagian dalam, di sana ada hiburan musik
73 Sate kambing.
74 Apakah Anda turis?
75 Tidak, kau bisa bicara bahasa Jerman? AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
93
klasik. Aku sebenarnya ingin langsung pulang. Tapi Madame
Nahed dan Tuan Boutros memaksa, “Kita lihat sebentar saja.”
Di bagian dalam, di tengah ruangan ada panggung kecil
setinggi setengah meter. Bentuknya bundar. Di atas panggung bundar itu ada
seorang perempuan muda berambut pirang menggesekkan biola dengan penuh
penghayatan.
“Yang ia mainkan sekarang ini karya Bedhoven. Perempuan itu
pemain biola terkenal dari Rumania.” Seorang pelayan restoran berkata pada
seorang wanita setengah baya yang berada tak begitu jauh dariku.
Satu lagu selesai. Pengunjung bertepuk tangan. Pemain biola
perempuan itu kembali menggesek biolanya. Kali ini bernada riang. Beberapa
orang pengunjung berdiri dari kursinya menuju ke dekat panggung. Mereka
berdansa. Orang Mesir botak yang tadi kulihat juga berdansa dengan isterinya.
Tuan Boutros meraih tangan Madame Nahed. Madame Nahed
tersenyum dan menengok pada Maria, “Maria, ayo cobalah kau berdansa. Sekali ini
saja. Coba ajak Fahri atau siapa terserah!”
Aku terkejut mendengarnya. Tuan Boutros menimpal, “Ya Fahri,
Maria itu tidak pernah mau berdansa. Coba kau ajak dia! Mungkin kalau kau yang
mengajak dia mau.”
Aku diam. Kulirik teman-teman. Mereka senyam-senyum. Tuan
Boutros dan Madame Nahed sudah larut dalam irama musik dan berdansa mesra.
Maria mendekatiku.
“Fahri, mau coba berdansa denganku? Ini kali pertama aku
mencoba berdansa,” lirihnya malu. Aku harus berbuat apa. Apakah aku harus ikut
budaya Eropa. Aku teringat kisah awal-awal Syaikh Abdul Halim Mahmud muda saat
belajar di Perancis. Beliau juga mendapat godaan yang tidak jauh berbeda dengan
aku saat ini. Dan Syaikh Abdul Halim Mahmud muda mampu melewati ujian itu
dengan baik. Beliau yang dikenal sebagai ulama sufi modern yang arif billah itu
akhirnya dipilih sebagai Grand Syaikh Al Azhar. Jika ada ahli ibadah dan wali
di puncak gunung tanpa godaan itu bukan sesuatu yang mengagumkan. Tapi jika ada
ahli ibadah bisa berinteraksi dengan baik di tengah kota metropolitan dengan
segala hiruk pikuk budaya hedonisnya itu mengagumkan. Begitu Syaikh Ahmad
berkata padaku. Tawaran Maria bagi seorang pemuda adalah tawaran menarik.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
94
Siapa tidak suka bergandeng tangan dan berdansa dengan gadis
secantik dia. Di sinilah letak ujiannya.
“Maaf aku tidak bisa,” jawabku sambil tersenyum dan
menangkupkan dua tangan di depan dada.
“Sama, aku juga tidak bisa. Kita belajar bersama
pelan-pelan. Mari kita coba!” sahut Maria yang belum memahami sepenuhnya
penolakanku.
“Maafkan aku Maria. Maksudku aku tidak mungkin bisa
melakukannya. Ajaran Al-Qur’an dan Sunnah melarang aku bersentuhan dengan
perempuan kecuali dia isteri atau mahramku. Kuharap kau mengerti dan tidak
kecewa!” terangku tegas. Dalam masalah seperti ini aku tidak boleh membuka
ruang keraguan yang membuat setan masuk ke dalam aliran darah.
“Oh begitu. Maaf, aku tidak tahu. Kalau tahu, aku tak
mungkin menawarkan hal ini kepadamu. Aku salut atas ketegasanmu menjaga apa
yang kau yakini,” kata Maria. Tak ada gurat kecewa di wajahnya.
“Maria aku keluar dulu. Aku mau menikmati keindahan sungai
Nil. Jika ayahmu sudah selesai panggil saja aku di luar,” pesanku pada Maria
sebelum aku melangkah keluar. Yousef dan teman-teman membuntutiku. Lima belas
menit kemudian Maria memanggil kami untuk pulang. Pukul 22.45 kami sampai di
halaman apartemen. Teman-teman memuji menu yang kupilihkan. Aku yakin mereka
kenyang.
* * *
Sampai di flat teman-teman tidak langsung tidur, mereka
berbincang di ruang tamu. Sementara aku masuk kamar dan membaca surat Nurul
yang mengisahkan apa yang dialami oleh Noura yang malang.
Nurul menulis, bahwa Noura mengaku sampai berumur delapan
tahun sangat bahagia dan disayang ayah ibunya yaitu Si Muka Dingin Bahadur dan
Madame Syaima. Keduanya bahkan sangat menyayanginya melebihi dua kakaknya. Dia
memang berbeda dengan kedua kakaknya. Sejak kecil dikenal cerdas, berkulit
putih bersih, berambut pirang, lincah dan cantik. Tidak seperti dua kakaknya
yang hitam seperti orang Sudan. Petaka itu datang ketika kakak sulungnya Mona
pulang dari sekolah dan menangis sejadi-jadinya. Setelah dibujuk ayah dan
ibunya Mona mengaku dihina oleh teman satu bangkunya di
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
95
sekolah. Mona dihina sebagai anak syarmuthah. Hinaan itu
disebar ke seluruh kelas. Temannya itu mengatakan, ‘Tidak mungkin ibumu itu
tidak melacur. Buktinya adik bungsumu berkulit putih bersih dan berambut
pirang. Dari mana bisa begitu kalau tidak melacur dengan orang lain. Ayahmu
‘kan kulitnya hitam dan negro seperti kamu dan ibumu!” tak ayal itu adalah
penghinaan yang sangat menyakitkan. Pada hari yang sama ayahnya sedang dipecat
dari kerjanya di pabrik baja. Dan pecahlah prahara itu. Malam harinya ayahnya
memaki-maki ibunya dan mencelanya sebagai pelacur. Ayahnya sejak itu tidak lagi
menyayanginya. Apalagi sebelumnya memang seringkali orang heran dengan
ketidaksamaan Noura dengan kedua orang tua dan kakaknya. Sejak itu Noura jadi
bulan-bulanan kedua kakaknya dan ayahnya. Ibunya seringkali melindungi dirinya.
Namun ketika ayahnya membawa perempuan lain yang cantik dan tidak hitam ke
rumah, ibunya menjadi terganggu pikirannya. Ia jadi seperti orang tidak waras.
Kadang menangis, marah, ngomel sendiri dan lain sebagainya. Kadang menyayangi
Noura dan terkadang tidak jarang ikut menyakitinya. Ayahnya akhirnya dapat
pekerjaan sebagai tukang pukul di sebuah Nigh Club yang mengapung di atas
sungai Nil. Mona, kakak sulungnya ikut kerja di sana. Sedangkan Suzan katanya
kerja di sebuah losmen di Sayyeda Zaenab. Berangkat menjelang maghrib dan pulang
sekitar jam dua dini hari. Menurut bisik-bisik para gadis tetangga kedua kakak
Noura itu kerjanya tak lain adalah menjual diri. Beberapa kali Noura melihat
Mona membawa teman lelaki ke rumah dan diajak tidur di kamarnya. Ayahnya malah
senang, sedangkan ibunya sudah semakin buruk ingatannya meskipun sesekali
datang kesadarannya dan menatapi nasib dirinya dan nasib Noura. Di rumah itu
Noura diperlakukan layaknya pembantu rumah tangga. Memasak, mencuci, mengepel
semua tanggung jawab Noura. Untungnya Noura masih dibolehkan ayahnya sekolah di
Ma’had Al Azhar, itu pun karena sekolah di sana gratis dan kalau pulang agak
terlambat akan mendapatkan hukuman dari ayah dan kedua kakaknya. Beragam bentuk
siksaan ia terima dari orang yang ia anggap keluarganya. Puncak derita Noura
adalah enam bulan terakhir ini, ketika ayahnya memaksanya dia agar ikut bekerja
di Night Club seperti kakaknya. Bahkan ayahnya dapat tawaran dari manajernya
agar Noura mau jadi penari perut tetap di Night Clubnya. Bos ayahnya memang
pernah ke rumahnya sekali dan melihat AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
96
Noura. Ayahnya pada waktu itu cerita pada bosnya kalau Noura
saat TK dulu pernah menang lomba menari. Jelas Noura tidak bisa memenuhi
keinginan ayahnya itu. Sejak itu ia sangat menderita. Puncaknya adalah malam
itu. Sore sebelum berangkat kerja, ayahnya memaksanya untuk ikut Mona berangkat
setelah maghrib, ada turis asing yang memesan perawan Mesir. Noura dihargai
sepuluh ribu pound. Harga yang menurut ayah dan kedua kakaknya sangat tinggi.
Ia menolak. Ayahnya lalu mencambuk punggungnya berkali-kali. Ia tidak tahan,
akhirnya ia pura-pura mau. Ayahnya berangkat. Tapi begitu shalat maghrib ia
mengurung diri di kamar. Tidak mau keluar. Tidak mau membukakan pintu.
Bagaimana mungkin dia yang muslimah dan sekolah di Al Azhar akan melakukan
perbuatan dosa besar itu. Mona tidak bisa berbuat apa-apa. Tengah malam ayahnya
pulang dan terjadilah penyiksaan dan pengusiran itu. Ayah menyumpahinya sebagai
anak setan, anak haram, anak tidak tahu diuntung. Mona menampar mukanya dengan
sandal berkali-kali sambil berkata, “Kau ini siapa? Kau anak siapa hah? Kau
bukan adik kami dan bukan keluarga kami? Aku akan buktikan nanti lewat test DNA
kau bagian dari keluarga kami!”
Aku menitikkan air mata membaca kisah penderitaan yang
dialami Noura. Aku tidak melihat bekas-bekas cambukan di punggungnya, tapi aku
bisa merasakan sakitnya. Aku tidak melihat wajahnya saat itu tapi hatiku bisa
menangkap rintihan batinnya yang remuk redam. Aku seolah ikut merasakan
kecemasan, ketakukan dan kesendiriannya selama ini dalam neraka yang dicipta Si
Muka Dingin Bahadur. Aku tiba-tiba merasa Noura itu seperti adik kandungku
sendiri. Entah bagaimana aku bisa merasakan begitu, padahal aku tidak memiliki
adik. Aku anak tunggal. Tapi aku seperti merasakan apa yang dirasakan Noura.
Seandainya dia adikku tentu tidak akan aku biarkan ada orang jahat menyentuh
kulitnya. Akan aku korbankan nyawaku untuk melindunginya.
Aku kembali menitikkan air mata. Oh Noura, semoga Allah
menjagamu di dunia dan di akhirat. Gadis berwajah putih dan innocence itu
selalu berjalan menunduk. Jika berpapasan kami hanya bersapa dengan tatapan
mata sekilas. Tanpa kata-kata. Tapi kami merasa dekat dan saling kenal. Aku
tidak mungkin membiarkan Noura terus jadi bulan-bulanan para serigala berkepala
manusia. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Dan sampai sejauh mana
langkahku? Aku
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
97
adalah orang asing di sini. Aku menarik nafas panjang. Diam
memejamkan mata dengan pikiran terus mengembara mencari jalan keluar. Aku tidak
bisa, dan tidak akan mampu bertindak sendiri. Akan aku serahkan masalah ini
pada Syaikh Ahmad, dia adalah intelektual muda yang sangat peduli pada siapa
saja. Beliau pasti mau membantu Noura.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
98
8. Getaran Cinta
Setelah shalat shubuh aku tidak langsung pulang, tapi
menemui Syaikh Ahmad. Kukabarkan pada beliau kelulusanku dan rencanaku membuat
proposal tesis. Imam muda berhati lembut itu mengecup kepalaku berkali-kali.
Begitulah cara orang Arab memberikan tanda penghormatan yang tinggi.
Penghormatan orang yang dianggap sangat dekat. Dari bibirnya keluar ucapan
selamat dan doa tiada henti. Beliau bahkan menawarkan agar jika naskah proposal
selesai kususun diserahkan terlebih dahulu padanya untuk dilihat bahasanya.
Jika ada gaya bahasa yang mungkin kurang tepat beliau akan mentashihnya. Aku
sangat senang mendengarnya. Barulah aku jelaskan padanya kisah derita Noura
panjang lebar dan mendetail seperti yang aku lihat dan aku ketahui. Beliau
menitikkan air mata mendengarnya.
“Di Mesir ini, banyak sekali orang mengakui muslim tapi
akhlaknya tidak muslim. Mengaku Islam tapi sangat jauh dari cahaya Islam.
Bagaimana mungkin seorang ayah yang mengaku umat Muhammad bisa begitu kejam
pada anaknya, pada seorang gadis yang semestinya dia lindungi dan dia sayangi.
Fahri, menghantarkan kesejukan ruh Islam ke dalam hati semua pemeluknya memang
tidak semudah membalik kedua telapak tangan. Tapi kita tidak boleh berpangku
tangan, apalagi berputus asa. Sebisa kita, kita harus terus berusaha,” kata
Syaikh Ahmad sambil menarik nafas.
“Tidak hanya di Mesir saja Syaikh, di Indonesia juga ada.
Bahkan di Indonesia lebih parah. Ada lelaki yang meniduri anak gadisnya dengan
paksa. Lebih parah lagi ada yang tega menjual isteri dan anak gadisnya pada
lelaki hidung belang. Setan memang ada di mana-mana. Dengan segala tipu
dayanya, setan selalu berusaha membutakan hati manusia sehingga mereka
beranggapan tindakan yang keji menjadi terpuji.”
“Laa haula wa laa quwwata illa billah!” ucap Syaikh Ahmad
sambil memejamkan mata. Beliau lalu menepuk pundakku dan mengatakan dirinya
akan terjun langsung membantu Noura secepatnya. Sebelum musim masuk sekolah
tiba derita Noura harus diakhiri. Syaikh Ahmad berterima kasih atas segala yang
telah kami lakukan. Beliau meminta agar jam sembilan nanti aku mengantarkan
beliau
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
99
menemui Noura di Nasr City. Beliau hendak mengambil Noura
dan menempatkannya di tempat yang aman. Menurut beliau jika sampai nanti ayahnya
tahu Noura berada di tempat mahasiswi Indonesia akan membuat masalah. Kasihan
para mahasiswi jika terganggu belajarnya. Noura harus secepatnya dipindahkan ke
tempat yang tepat. Kami sepakat untuk bertemu di depan mahattah Hadayek Helwan.
Aku segera pulang dan menelpon Nurul, memberitahukan rencana
Syaikh Ahmad. Aku minta padanya untuk tidak pergi. Sekitar pukul sepuluh, kami
insya Allah, sampai. Tepat pukul sembilan aku sampai di tempat yang dijanjikan.
Syaikh Ahmad telah menunggu di dalam mobil Fiat tuanya. Seorang wanita
berjilbab panjang duduk di samping beliau. Syaikh Ahmad memang hidup sederhana
meskipun kata masyarakat beliau orang berada. Isteri beliau seorang dokter yang
membuka praktek di Helwan dan membantu orang tidak mampu dengan membuka praktek
di klinik masjid. Syaikh Ahmad mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Pukul sepuluh lebih sepuluh kami sampai di kediaman Nurul
dan kawan-kawannya yang berada di tingkat enam. Para mahasiswi itu dipeluk oleh
isteri Syaikh Ahmad dengan penuh kehangatan. Ketika memeluk Noura, isteri
Syaikh Ahmad menangis tersedu-sedu. Berkali-kali ia mencium pipi gadis innocent
itu. Syaikh Ahmad menjelaskan maksud kedatangan dia dan isterinya. Semuanya
mengerti termasuk Noura. Noura akan dibawa ikut serta ke kampung halaman Syaikh
Ahmad. Ke rumah orang tua Syaikh Ahmad di desa Tafahna El-Ashraf, Zaqaziq.
Noura menurut. Setelahlah Noura siap terjadilah perpisahan yang mengharukan.
Nurul dan teman-temannya terisak dan bergantian memeluk Noura. Noura juga
menangis sambil mengucapkan terima kasih tak terhingga. Nurul bilang pada
Noura, “Noura kau juga harus mengucapkan terima kasih tiada terhingga pada Akh
Fahri.”
Noura menatapku sekilas dengan mata berkaca lalu menunduk
dan dengan suara lirih dia menyampaikan rasa terima kasih dari hati yang
terdalam. Kalau dia adikku pasti sudah kupeluk dengan penuh rasa sayang. Aku
hanya mengangguk dan membesarkan hatinya bahwa Syaikh Ahmad dan isterinya akan
membukakan jalan yang baik baginya. Mereka berdua orang-orang yang baik dan
berhati
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
100
lembut. Agar tidak mencurigakan, Noura diminta Syaikh Ahmad
memakai cadar. Nurul dan teman-temannya diminta tidak turun ke bawah. Cukup
melihat dari jendela saja. Kami berempat turun. Syaikh Ahmad masuk mobil
diikuti isteri dan Noura. Aku mengucapkan salam dan selamat jalan. Kali ini
Noura memandang diriku agak lama. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya.
Aku terus berdoa semoga ia terbebas dari derita yang membelenggunya. Aku kembali
ke Hadayek Helwan dengan hati lega. Syaikh Ahmad akan mengurus segalanya.
* * *
Sampai di rumah aku langsung melihat jadwal. Aku harus
talaqqi ke Shubra. Aku mencela diriku sendiri kenapa setelah dari Rab’ah
El-Adawea tadi tidak langsung ke Shubra saja. Namanya juga lupa. Telpon
berdering. Nurul menelpon menanyakan bagaimana dengan uang yang telah aku
berikan padanya. Padahal Noura hanya beberapa hari tinggal di rumahnya dan uang
yang aku berikan padanya nyaris belum digunakan untuk apa-apa. Aku bilang tidak
usah dipikirkan dan dikembalikan, terserah mau diapakan yang penting untuk
kebaikan. Nurul dan teman-temannya orang yang jujur dan amanah. Keuangan negara
tidak akan bocor jika ditangani oleh orang-orang seperti mereka. Aku salut
padanya. Tiba-tiba aku teringat ledekan Si Rudi kemarin, ‘Jangan-jangan dia
orangnya!.... Congratulation Mas. She is the star, she is the true coise, she
will be a good wife!’.
Ah, tidak mungkin! Kutepis jauh-jauh pikiran yang hendak
masuk. Memiliki isteri shalihah adalah dambaan. Tapi..ah, aku ini punguk dan
dia adalah bulan. Aku ini gembel kotor dan dia adalah bidadari tanpa noda. Aku
melangkah mengambil air wudhu. Tadi pagi aku baru membaca seperempat juz, aku
harus menyelesaikan wiridku. Nanti habis zhuhur aku harus ke Shubra. Syaikh
Utsman kurang berkenan jika ada hafalan yang salah, meskipun satu huruf saja.
Aku membukal mushaf. Handphone-ku berdering. Ternyata Aisha.
Dia mengingatkan janji bertemu dengan Alicia di National Library. Aku
mengucapkan terima kasih telah diingatkan. Dan siang itu aku kembali menantang
panas sahara untuk mengaji Al-Qur’an di Shubra yang jauhnya kira-kira lima
puluh kilo dari apartemenku. Hadayek Helwan tempat aku tinggal ada di ujung
selatan kota Cairo sementara Shubra ada di ujung utara. Menjelang maghrib aku
baru pulang dengan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
101
ubun-ubun kepala seperti kering tanpa ada darah mengalir di
sana, telah menguap sepanjang siang. Aku benar-benar capek. Satu hari ini
melakukan perjalanan hampir sejauh seratur kilo meter. Pagi bolak-balik Hadayek
Helwan-Nasr City. Habis zhuhur bolak-balik Hadayek Helwan-Shubra.
Ba’da shalat maghrib aku merasa kepalaku tak bisa diangkat.
Terasa berat dan sakit. Aku panggil Saiful, aku minta padanya untuk mengompres
kepalaku. Saifu menempelkan telapak tangannya ke keningku, “Panas sekali Mas.”
Ia lantas bergegas memenuhi permintaanku. Saiful duduk
disampingku sambil memijat kedua kakiku. Dia tahu persis apa yang kulakukan
seharian ini. Hamdi ikut serta memijat-mijat. Teman-teman memang sangat baik
dan perhatian. Kami sudah seperti saudara kandung. Seandainya Mishbah dan Rudi
datang keduanya pasti juga ikut menunggui atau membelikan buah yang kusuka.
Mishbah kembali ke Wisma untuk urusan pelatihannya. Dan Rudi pergi ke
sekretariat Kelompok Studi Walisongo atau KSW dia mewakili Himpunan Mahasiswa
Medan atau HMM untuk membicarakan kerjasama mengadakan tour ke tempat-tempat
bersejarah di Mesir.
Bel berbunyi. Yousef mencari aku. Hamdi membawanya masuk ke
kamarku. Yousef menyentuh tanganku. Ia ragu mengatakan sesuatu. Ia tersenyum
dan mendoakan semoga tidak apa-apa dan segera pulih lalu kembali ke rumahnya.
Tak lama kemudian bel kembali berbunyi. Hamdi beranjak membukanya. Hamdi
melongok di pintu kamar dan bilang, “Tuan Boutros sekeluarga Mas. Bagaimana?
Apa mereka boleh masuk kemari?”
Kalau kepalaku tidak seberat ini aku pasti keluar menemui
mereka. Aku mengisyaratkan pada Hamdi agar mempersilakan mereka masuk. Pak
Boutros masuk membawa satu botol madu. Madame Nahed membawa peralatan
dokternya. Dan Maria membawa nampan entah apa isinya. Tuan Boutros menyentuh
pipiku.
“Panas. Nahed, coba kau periksa!” katanya pada isterinya.
Madame Nahed meminta izin padaku untuk memeriksanya. Sambil
memasang tekanan darah di lengan kananku, dia menanyakan apa yang kurasakan.
Kujelaskan semua dengan pelan. Saiful memberitahukan diriku melakukan
perjalanan panjang di tengah terik siang, dari pagi sampai sore.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
102
“Agaknya kau terlalu memforsir dirimu. Banyak-banyaklah
istirahat. Ada gejala heat stroke. Kau harus minum yang banyak dan makan
buah-buahan yang segar. Istirahatlah dulu, jangan bepergian menantang
matahari!” kata Madame Nahed lembut.
“Heat stroke itu apa, Madame?” tanya Saiful.
“Heat stroke adalah sengatan panas, yaitu penyakit yang
terjadi akibat penumpukan panas yang berlebihan di dalam badan yang ditimbulkan
oleh keadaan cuaca panas. Tapi tidak usah kuatir baru gejala,” jawab Madame
Nadia. Dia lalu menulis resep dan minta puteranya Yousef untuk keluar
membelinya. “Cepat ya. Sama ashir mangga!”
“Yousef, sebentar!” ujarku. Kepalaku semakin berat. “Tolong
Saif ambilkan uang di dompetku. Ada di lemari. Saiful mengambil uang seratus
pound dan menyerahkan pada Yousef. Tapi Tuan Boutros mencegahnya. Aku tidak
bisa berbuat apa-apa. Yousef keluar. Maria mendekat.
“Fathi, ini aku buatkan ruz billaban untukmu,” lirih Maria.
“Lha untuk kami mana? Masak untuk Akh Fahri saja,” sahut
Hamid.
“Maksudku juga untuk kalian,” ucap Maria agak tersipu. Maria
meletakkan nampan berisi ruz billaban di atas meja belajarku. Saat itu kulihat
dia memandang dua lembar kertas karton besar yang menempel di depan meja
belajar.
“Oi Farhi, apa ini? Rancangan hidupmu? Sepuluh tahun ke
depan. Dan planning tahun ini,” katanya setengah kaget.
“Maria, jangan kau baca! Aib!” Madame Nahed mengingatkan.
“Biarkan. Nggak apa-apa!” kataku.
Yang kutempel memang arah hidup sepuluh tahun ke depan.
Target-target yang harus kudapat dan apa yang harus kulakukan. Lalu peta hidup
satu tahun ini. Ku tempel di depan tempat belajar untuk penyemangat. Dan memang
kutulis dengan bahasa Arab.
“Wow. Targetmu dua tahun lagi selesai master. Empat tahun
berikutnya selesai doktor dan telah menerjemah lima puluh buku serta memiliki
karya minimal lima belas karya. Dan empat tahun berikutnya atau sepuluh tahun
dari sekarang targetmu adalah guru besar. Fantastik. Hai Fahri kapan rencanamu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
103
kawin. Kenapa tidak kau tulis dalam peta hidupmu?” celoteh
Maria. Madame Nahed geleng-geleng kepala.
“Baca yang teliti!” lirihku.
Maria membaca dengan teliti, tak lama kemudian ia berkata,
“Okey aku setuju. Ketika kau menulis tesis magister. Ya, untuk menemani
perjuanganmu yang melelahkan!”
“Berarti sudah dekat. Mungkin tahun ini mungkin tahun depan.
Karena dia sudah lulus ujian dan sudah diminta universitas membuat proposal
tesis.” sahut Saiful. Serta merta Tuan Boutros, Madame Nahed, dan Maria
mengucapkan selamat. Mereka senang mendengar aku mulai menulis tesis. Madame
Nahed menanyakan apa aku sudah ada calon. Kepalaku nyut-nyut. Kupaksakan untuk
tersenyum. Lalu aku bergurau, “Kebetulan tidak ada gadis yang mau dekat
denganku. Tak ada yang mau mengenalku dan baik denganku. Yang baik padaku malah
Maria. Bagaimana Madame, kalau calonnya Maria?”
Madame Nahed tersenyum, “Boleh saja. Tapi kusarankan tidak
sama dia, dia gadis yang kaku. Beda dengan dirimu yang kulihat bisa romantis,
bisa membuat kejutan-kejutan yang menyenangkan. Kemarin dalam perjalanan pulang
kami mendapat cerita yang banyak tentang dirimu dari Rudi. Dia bercerita tentang
kesan-kesannya padamu. Dia juga menjelaskan sesungguhnya yang merancang dan
membelikan hadiah ulang tahun untukku dan untuk Yousef itu kamu. Aku takut kau
kecewa dapat Maria. Dia gadis manja dan kaku. Saya tak tahu dia bisa romantis
apa tidak. Dia itu gadis yang tidak pernah jatuh cinta. Tak suka dikunjungi
teman lelaki. Tak suka diajak pergi kencan. Kau harus mendapatkan gadis yang
bisa mengimbangi kelembutan hatimu dan kekuatan visimu mengarungi hidup.
Kulihat kau pemuda yang sangat berkarakter dan kuat memegang prinsip namun
penuh toleransi. Kau jangan sembarangan memilih pasangan hidup, itu saran dari
Madame.”
“Terima kasih Madame atas sarannya, doakan saja.” jawabku.
Kulirik Maria. Sesaat mukanya merona tapi ia segera dapat menguasai dirinya.
“Fahri, kenapa sih kau buat peta hidup ke depan segala,
bukankah hidup ini enaknya mengalir bagaikan air?” tanya Maria.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
104
Kepalaku sebenarnya semakin nyut-nyut tapi aku selalu tidak
bisa membiarkan kecewa orang yang bertanya padaku.
“Maaf, setiap orang berbeda dalam memandang hidup ini dan
berbeda caranya dalam menempuh hidup ini. Peta masa depan itu saya buat terus
terang saja berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al-Qur’an yang saya
yakini. Dalam surat Ar Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah
tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah
nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan saya, mau jadi apa saya, sayalah yang
menentukan. Sukses dan gagalnya saya, sayalah yang menciptakan. Saya sendirilah
yang mengaristeki apa yang akan saya raih dalam hidup ini.”
Belum selesai aku bicara Maria menyela, “Kalau begitu di
mana takdir Tuhan?”
“Takdir Tuhan ada di ujung usaha manusia. Tuhan Mahaadil,
Dia akan memberikan sesuatu kepada umat-Nya sesuai dengan kadar usaha dan
ikhtiarnya. Dan agar saya tidak tersesat atau melangkah tidak tentu arah dalam
berikhtiar dan berusaha maka saya membuat peta masa depan saya. Saya suka
dengan kata-kata bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang jelas
akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa
tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus!’
Peta hidup ini saya buat untuk mempertegas arah tujuan hidupku sepuluh tahun ke
depan. Ini bagian dari usaha dan ikhtiar dan setelah itu semuanya saya serahkan
sepenuhnya kepada Tuhan.”
Maria mengangguk-anggukkan kepala.
“Apa kubilang, Fahri seorang visioner yang tegas. Tidak
seperti dirimu Maria, hidup manja tanpa visi. Kau ini sudah berada di jalan
yang mulus. Dikaruniai otak yang cerdas, hidup berkecukupan, disayang keluarga.
Tapi kau tidak akan membuat kemajuan tanpa visi yang jelas.” sahut Madame
Nahed.
Aku tidak enak mendengarnya. Aku tidak tahu seperti apa
wajah Maria, mungkin memerah karena malu mendapat teguran dari ibunya yang
ceplas-ceplos seperti itu. Aku memejamkan kepala merasakan rasa nyeri di dalam
tempurung kepalaku.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
105
Tuan Boutros menanyakan kemana Rudi dan Mishbah, keduanya
tidak kelihatan. Hamdi menjelaskan dengan rinci. Pembicaraan lalu beralih
kepada Hamdi dan Saiful. Aku mendengarkan dengan mata terpejam. Tangan Saiful
masih memijit kakiku. Tak lama kemudian Yousef datang membawa obat dan satu botol
ashir mangga. Madame Nahed memberikan petunjuk cara meminum obatnya. Berapa
hari sekali. Dia berpesan agar aku istirahat dulu sampai pulih kembali. Mereka
lalu pamitan. Saat mau pergi Maria berkata,
“Syukran Fahri, aku mendapatkan ilmu yang mahal sekali.
Benar kata pepatah dekat dengan penjual minyak akan mendapatkan wanginya.”
Setelah mereka kembali ke flatnya, aku makan ruz billaban
pemberian Maria. Enak. Lalu minum obat dan bersiap tidur. Aku telah meminta
Hamdi menyetel beker jam tiga. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang baik dan
tetangga yang baik. Saiful memijat-mijat diriku sampai aku terlelap. Dalam
tidur aku mendengar Maria menangis. Air matanya membasahi kakiku. Jam tiga aku
terbangun. Heran dengan mimpiku. Sebelum tidur aku sudah baca shalawat dan doa.
Aku tak tahu mimpi itu tafsirnya apa. Kalau Ibnu Sirin masih hidup tentu aku
tanyakan padanya. Aku beristighfar berkali-kali memohon ampunan kepada Allah
jika guyonanku pada Madame Nahed tadi tidak semestinya aku lakukan.
Jangan-jangan menyakiti hati Maria. Aku bangkit. Kepalaku terasa lebih ringan.
Aku tadi memang kepanasan dan kelelahan. Ya Allah, kulihat Saiful tidur di
karpet. Ia begitu setia menunggui aku. Ana uhibbuka fillah ya Akhi!76 Aku harus
shalat Isya. Malam terasa sunyi. Aku teringat ayah bunda di kampung sana, di
tanah air tercinta. Terbayang mata bening bunda.
selalu saja kurindu
abad-abad terus berlalu
berjuta kali berganti baju
nun jauh di sana mata bening menatapku haru
penuh rindu
mata bundaku
yang selalu kurindu
76 Aku mencintaimu karena Allah, Saudaraku! AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
106
Dalam sujud kumenangis kepada Tuhan, memohonkan rahmat
kesejahteraan tiada berpenghabisan untuk bunda, bunda, bunda dan ayahanda
tercinta. Usai shalat Isya dan Witir aku tidur lagi. Aku bermimpi lagi. Bertemu
ayah ibu, berpelukan dan menangis haru.
* * *
Pagi hari aku merasa segar kembali. Aku melihat jadwal. Ada
janji di National Library. Kalau tak ada janji sebenarnya aku ingin istirahat
saja. Kasihan tubuh ini, kepanasan setiap hari. Tapi janji harus ditepati.
Meskipun harus merangkak akan aku jalani. Janjinya jam sebelas. Aku harus
berangkat jam sepuluh masih ada tiga jam. Lumayan untuk mengejar terjemahan.
Pukul sepuluh aku berangkat. Matahari sudah mulai menyengat.
Sampai di halaman Maria memanggil namaku dari jendelanya. Ia mengingatkan agar
aku tidak pergi. Kukatakan padanya aku ada janji. Aku harus menepatinya
meskipun untuk itu aku harus mati. Untung aku dapat tempat duduk. Lebih baik
daripada berdiri. Di tengah perjalanan seorang pemuda Mesir memakai jubah lusuh
naik. Ia membawa karung. Entah apa isinya. Sampai di dalam metro membuka
karungnya. Mengeluarkan boneka panda. Ia menawarkan pada penumpang barang
dagangannya. Boneka dan mainan anak-anak. Ia menawarkan dari ujung ke ujung. Ia
bilang harga promosi jauh lebih murah dari yang di toko resmi. Tak ada yang
beli. Ia mendekatiku dan menawatkan boneka panda itu padaku. Kukatakan padanya
aku belum punya anak. Penjual mainan itu menjawab,
“Belilah, kudoakan kau mendapatkan isteri yang shalihah dan
cantik seperti bidadari dan memiliki anak yang shalih shalihah, juga kudoakan
umurmu berkah rizkimu melimpah sehingga kau dan anak cucumu tidak akan perlu
berjualan di jalan seperti diriku. Belilah untuk penyemangat hidupku!”
Siapa yang tidak terenyuh mendengar kata-kata penuh muatan
doa seperti itu. Hatiku luluh. Aku akhirnya membeli boneka panda dan pistol
air. Cuma sepuluh pound. Boneka enam pound dan pistol airnya empat pound.
Pemuda itu tampak berbinar matanya, ia mengucapkan terima kasih. Setelah aku
membeli ada seorang ibu setengah baya tertarik dan membeli.
Aku memandangi boneka panda warna coklat dan putih di
tanganku. Boneka yang cantik. Kepada siapa akan kuberikan? Aku tersenyum
sendiri. Biar
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
107
nanti kugantung di atas tempat tidur. Pemuda itu masih di
dalam metro ia belum turun. Mungkin turun di mahatah depan. Keringatnya
bercucuran. Aku teringat masa kecilku ketika aku masih SD. Kami keluarga susah.
Kakek hanya mewariskan sepetak sawah, kira-kira luasnya setengah bahu. Dibagi
dua dengan adil untuk ayah dan paman. Ayah tidak sekolah, dia hanya sampai
kelas tiga sekolah SR. Hanya bisa baca dan menulis saja. Demikian juga dengan
ibu. Lain dengan paman. Dia disekolahkan oleh kakek dengan bantuan ayah sampai
SPG. Dia jadi guru. Karena paman sudah disekolahkan maka rumah kakek diberikan
kepada ayah. Selama paman sekolah ayahlah yang menggarap sawah untuk membiayai
paman. Dan paman sangat pengertian, sebenarnya dia tidak minta apa-apa. Apa
yang dia punya sudah cukup. Dia kebetulan mendapatkan isteri teman sekolahnya,
anak penilik sekolah jadi lebih tercukupi. Tapi ayah tetap meminta kepada paman
agar sawah sepetak itu dibagi dua. Paman tidak boleh menolaknya. Akhirnya yang
kami punya adalah rumah peninggalan kakek yang sangat sederhana dan sawah
seperempat bahu. Apa yang bisa diharapkan dari sawah setengah bahu. Ayah tetap
menggarap sawah itu dengan menanam padi. Hasilnya di makan sendiri. Untuk keperluan
lain ibu jualan gorengan di pasar dan ayah jualan tape77 dengan berkeliling
dari kampung ke kampung. Jika hari minggu aku diajak ayah ikut serta. Berjalan
berkilo-kilo. Jika telah dekat dengan rumah penduduk ayah akan berteriak, ‘Pe
tape! Pe tape! Pe tape!’
Jika ayah lelah maka akulah yang bergantian berteriak
menawarkan tape. Jika ada yang beli hati senangnya bukan main. Rasa lelah
seperti hilang begitu saja. Apalagi jika ada yang memborong sampai belasan
bungkus, kami akan merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Mataku basah
mengingat itu semua.
Pukul sebelas kurang lima menit aku sampai di National
Library. Aku langsung menuju kafetaria. Alicia dan Aisha sudah ada di sana.
Alicia tersenyum padaku entah Aisha aku tidak tahu sebab ia bercadar. Mereka
telah memesan minuman. Aku pesan segelas karikade dingin. Alicia menyerahkan
dua lembar kertas berisi pertanyaannya. Kubaca sekilas. Pertanyaan yang sangat
serius. Aku menjanjikan akan menyerahkan jawabannya hari Sabtu, di tempat dan
waktu yang
77 Makanan dibuat dari singkong rebus yang telah di beri
ragi. Sangat mirip dengan payem Bandung.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
108
sama. Alicia setuju. Kami lalu berbincang-bincang. Alicia
banyak bertanya tentang studiku. Aisha bercerita tentang pamannya yang senang
sekali mendapatkan salam dariku, dan mengirim salam balik, juga dua
keponakannya yang masih ingat padaku. Katanya si Amena menyebutku “Ammu Fahri
Al Andonesy!”78 Aisha juga bertanya apakah aku telah berkeluarga? Setelah
selesai master apa yang akan aku kerjakan di Indonesia? Apakah aku akan
melanjutkan S3? Aku menjawab apa yang bisa kujawab. Sebelum berpisah aku
teringat boneka dan pistol air yang aku beli di dalam metro. Kutitipkan pada
Aisha untuk keponakannya, Si Amena dan Hasan yang lucu dan menggemaskan.
Melihat boneka panda yang cantik mata Aisha membesar dan berkata, “Wow cantik
sekali, Amena pasti senang menerimanya dan dia akan terus mengingat pamannya
dari Indonesia.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Sudah setengah tahun aku
tidak bertemu dua jundi kecil itu. Amena mungkin sudah hafal juz dua puluh
sembilan. Dan Si Hasan sudah bisa membaca tulisan. Aku tidak tahu sama sekali
bahwa boneka panda yang aku beli tanpa sengaja itu suatu saat nanti akan
membawaku ke kaki langit cinta yang tiada tara indahnya. Kaki langit cinta
orang-orang yang bercinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
78 Paman Fahri dari Indonesia.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
109
9. Merancang Peta Hidup
Dari National Library aku langsung pulang. Di dalam metro
aku memaksakan diri membaca dengan seksama pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
nona Alicia dari Amerika itu. Rasa penasaran mengalahkan perut lapar belum
sarapan dan badan yang terasa meriang. Lembar pertama berisi pertanyaan tentang
bagaimana Islam memperlakukan wanita. Tentang beberapa hadits yang dianggap
merendahkan wanita. Tentang poligami, warisan dan lain sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak asing namun terus menerus ditanyakan.
Pertanyaan yang seringkali memang dipakai oleh mereka yang tidak bertanggung
jawab untuk mendiskreditkan Islam. Di Barat masalah poligami dalam Islam
dipertanyakan. Mereka menganggap poligami merendahkan wanita. Mereka lebih
memilih anak puterinya berhubungan di luar nikah dan kumpul kebo dengan ratusan
lelaki bahkan yang telah beristeri sekalipun daripada hidup berkeluarga secara
resmi secara poligami. Menurut mereka pelacur yang memuaskan nafsu biologisnya
secara bebas dengan siapa saja yang ia suka lebih baik dan lebih terhormat
daripada perempuan yang hidup berkeluarga baik-baik dengan cara poligami.
Untuk semua pertanyaan tentang bagaimana Islam memperlakukan
perempuan aku sudah membayangkan semua jawaban yang aku akan tulis, lengkap
dengan sejarah perlakuan manusia terhadap perempuan. Sejak zaman Yunani kuno
sampai zaman postmo. Aku ingat bahwa para pendeta di Roma sebelum Islam datang,
pernah sepakat untuk menganggap perempuan adalah makhluk yang najis dan boneka
perangkap setan. Mereka bahkan mempertanyakan, perempuan sebetulnya manusia apa
bukan? Punya ruh apa tidak? Sementara Baginda Nabi sangat memuliakan makhluk
yang bernama perempuan, beliau pernah bersabda bahwa siapa memiliki anak
perempuan dan mendidiknya dengan baik maka dia masuk surga.
Aku tinggal meringkas jawaban yang telah banyak ditulis para
sejarawan, cendekiawan dan ulama Mesir. Pertanyaan yang berkaitan dengan
perempuan aku anggap selesai. Nanti malam akan aku jawab lengkap dengan data
dan dalil-dalil utama dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hadits yang ditanyakan Alicia
yang mengatakan katanya Nabi pernah bersabda perempuan adalah perangkap setan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
110
adalah bukan hadits. Itu adalah perkataan seorang Sufi
namanya Basyir Al Hafi. Sebagaimana dijelaskan dengan seksama dalam kitab
Kasyful Khafa. Itu adalah pendapat pribadi Basyir Al Hafi yang kemungkinan
besar terpengaruh oleh perkataan para pendeta Roma. Itu bukan hadits tapi
disiarkan oleh orang-orang yang tidak memahami hadits sebagai hadits. Bagaimana
mungkin Islam akan menghinakan perempuan sebagai perangkap setan padahal dalam
Al-Qur’an jelas sekali penegasan yang berulang-ulang bahwa penciptaan perempuan
sebagai pasangan hidup kaum lelaki adalah termasuk tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Dalam surat Ar Ruum ayat dua puluh satu Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berpikir.”
Jika perempuan adalah perangkap setan atau panah setan
bagaimana mungkin baginda nabi menyuruh memperlakukan perempuan dengan baik.
Bahkan beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Orang pilihan di antara
kalian adalah yang paling berbuat baik kepada perempuan (isteri)nya.”79 Baginda
nabi juga menyuruh umatnya untuk mengutamakan ibunya daripada ayahnya. Ibu
disebut nabi tiga kali. Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu!.
Pada lembaran kedua, Alicia bertanya bagaimana Islam
memperlakukan nonmuslim? Bagaimana Islam memandang Nasrani dan Yahudi? Apa
sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Koptik di Mesir, sebab media
massa Amerika memandang umat Islam berlaku tidak adil? Bagaimana pandangan
Islam terhadap perbudakan? Dan lain sebagainya.
Aku teringat sebuah buku yang menjawab semua pertanyaan
Alicia ini. Buku apa, dan siapa penulisnya? Aku terus mengingat-ingat. Otakku
terus berputar, dan akhirnya ketemu juga. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Abdul
Wadud Shalabi yang pernah menjadi sekretaris Grand Syaikh Al Azhar, Syaikh
Abdul Halim Mahmud. Aku merasa sebaiknya menerjemahkan buku berjudul Limadza
79 Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, beliau
berkata: Hadits hasan shahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Imam
Baihaqi dan Thabrani.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
111
yakhaafunal Islam80 itu ke dalam bahasa Inggris untuk
menjawab pertanyaan Alicia. Supaya Alicia dan orang-orang Barat tahu jawabannya
dengan jelas dan gamblang. Supaya mereka lebih tahu begaimana sebenarnya Islam
memuliakan manusia.
Untuk pertanyaan, apa sebetulnya yang terjadi antara umat
Islam dan umat Koptik di Mesir, yang paling tepat sebenarnya, biarlah umat
koptik Mesir sendiri yang menjawabnya. Dan Pope Shenouda pemimpin tertinggi
umat kristen koptik Mesir sudah membantah semua tuduhan yang bertujuan tidak
baik itu. Pope Shenouda tidak akan bisa melupakan masa kecilnya. Dia adalah
anak yatim di sebuah pelosok desa Mesir yang disusui oleh seorang wanita
muslimah. Dan wanita muslimah itu sama sekali tidak memaksa Shenouda untuk
mengikuti keyakinannya. Wanita muslimah itu mengalirkan air susunya ke tubuh si
kecil Snouda murni karena panggilan Ilahi untuk menolong bayi tetangganya yang
membutuhkan air susunya. Adakah toleransi melebihi apa yang dilakukan ibu susu
Pope Shenouda yang muslimah itu?
Dalam sejarah pemerintahan Mesir, pada tanggal 10 Mei 1911
ada laporan kolonial Inggris ke London yang menjelaskan hasil sensus di Mesir.
Dari sensus penduduk waktu itu jumlah umat Islam 92 persen, umat kristen koptik
hanya 2 persen, selebihnya Yahudi dan lain sebagainya. Pada waktu itu jumlah
pegawai yang bekerja di kementerian seluruhnya 17.569 orang. Dengan komposisi
9.514 orang dari kaum muslimin yang berarti 54,69 persen, dan selebihnya dari
kaum koptik, yaitu 8.055 orang dan berarti, 45,31 persen. Bagaimana mungkin
jumlah umat koptik yang cuma 2 persen itu mendapatkan jatah 45,31 persen di
departemen-departemen kementerian. Dan umat Islam mesir tidak pernah
mempesoalkan komposisi yang sangat menganakemaskan umat kristen koptik ini.
Apakah tidak wajar jika para pendeta koptik ebih dahulu bersuara lantang
menolak tuduhan Amerika sebelum Al Azhar bersuara?
Ulama-ulama besar dan terkemuka Mesir tidak pernah menyapa
umat kristen koptik sebagai orang lain. Mereka dianggap dan disapa sebagai
‘ikhwan’ sebagai saudara. Saudara setanah air, sekampung halaman, sepermainan
waktu kecil, bukan saudara dalam keyakinan dan keimanan. Syaikh Yusuf Qaradhawi
80 Kenapa mereka takut kepada Islam? AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
112
menyapa umat koptik dengan ‘ikhwanuna al Aqbath’,
saudara-saudara kita umat koptik. Sebuah sapaan yang telah diajarkan oleh
Al-Qur’an. Al-Qur’an mengakui adanya persaudaraan di luar keimanan dan
keyakinan. Dalam sejarah nabi-nabi, kaum nabi Nuh adalah kaum yang mendustakan
para rasul. Mereka tidak mau seiman dengan nabi Nuh. Meskipun demikian,
Al-Qur’an menyebut Nuh adalah saudara mereka. Tertera dalam surat Asy Syuara
ayat 105 dan 106: ‘Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka
(Nuh) berkata pada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’ Apakah ajaran yang
indah dan sangat humanis seperti ini masih juga dianggap tidak adil? Kalau
tidak adil juga maka seperti apakah keadilan itu? Apakah seperti ajaran Yahudi
yang menganggap orang yang bukan Yahudi adalah budak mereka. Atau ajaran yang
diyakini ratu Isabela yang memancung jutaan umat Islam di Spayol karena tidak
mau mengikuti keyakinannya?
Aku merasa isi buku Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi harus
dibaca masyarakat Amerika, Eropa, dan belahan dunia lainnya yang masih sering
tidak bisa memahami ruh ajaran Islam. Termasuk juga masyarakat Indonesia. Tapi
aku bimbang, apakah aku punya waktu yang cukup untuk menerjemahkan buku itu.
Kontrak terjemahan harus segera aku tuntaskan. Jakarta sedang menunggu naskah
yang aku kerjakan. Proposal tesis juga harus segera kuajukan ke universitas.
Dan kondisi kesehatan yang sedikit terganggu.
* * *
Metro yang kutumpangi sampai di Hadayek Helwan pukul dua.
Panas sengatan matahari semakin kurang ajar dan kurang ajar. Aku keluar
mahattah dengan memakai langkah cepat. Di perempatan jalan dekat rental dan
toko peralatan komputer Pyramid Com, aku mendengar seseorang memanggil namaku.
Suara yang tidak terlalu asing. Aku menengok ke kanan, ke arah Pyramid Com.
Seorang gadis Mesir sambil memegang payung berjalan cepat ke arahku. Aku terus
saja berjalan tak begitu mempedulikan dirinya. Sebab udara panas menyengat
muka.
“Hai Fahri, tunggu, baru pulang ya? Kepanasan? Ini pakai
saja payungku nanti kau sakit lagi?” AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
113
Gadis Mesir berpipi lesung kalau tersenyum itu telah
berhasil mengejar langkahku. Ia berjalan sejajar denganku dan menawarkan
payungnya padaku.
“Sudahlah Maria, kau jangan berlaku begitu!” sahutku sambil
mempercepat langkah. Maria terus berusaha mengimbangi kecepatan langkahku. Ia
berusaha memayungi diriku dari sengatan matahari. Beberapa orang Mesir yang
berpapasan dengan kami melihat kami dengan pandangan heran. Maria melakukan
sesuatu yang tidak biasanya dilakukan gadis Mesir. Juga tidak akan pernah ada
lelaki di Mesir memakai payung untuk melindungi dari sengatan matahari.
“Maria, please, hormatilah aku. Jangan bersikap seperti
itu!”
Maria menarik payungnya dan menggunakan untuk melindungi
dirinya. Aku heran sendiri dengan perlakuan puteri Tuan Boutros ini padaku.
Mamanya bilang Maria tidak suka didatangi teman-teman lelakinya. Juga tidak
suka pergi atau kencan dengan mereka. Tidak suka menerima telpon dari mereka.
Tidak bisa mesra katanya, tapi kenapa dia bersikap sedemikian perhatian padaku.
Aku merasa ia seolah-olah menunggu kepulanganku di jalan yang pasti kulewati.
“Janji sama siapa Fahri, kalau aku boleh tahu?” tanyanya.
Aku mempercepat langkah. Jarak apartemen dan mahattah metro sekitar seratus dua
puluh lima meter.
“Sama teman. Kau panas-panas begini ke Pyramid Com ada apa?
Kau ‘kan paling malas keluar di tengah panas yang menggila seperti ini?”
tanyaku tanpa memandang kepadanya. Itu tidak mungkin kulakukan kecuali terpaksa
misalnya ketika berjumpa begitu saja. Atau reflek menengok karena dia memanggil
namaku.
“Terpaksa. Tinta printku habis. Padahal aku harus ngeprint
banyak saat ini. Sialnya stok Pyramid Com juga habis. Aku mau ke Helwan malas
sekali?” jawabnya dengan nada kecewa.
“Kebetulan tintaku masih penuh. Baru beli. Pakai saja
milikku.”
“Terima kasih Fahri. Kebetulan sekali kalau begitu. Aku
perlu sekali. Kalau aku tahu itu aku tidak akan capek-capek begini.”
“Kelihatannya kau sangat sibuk minggu dan banyak tugas
minggu ini, Maria?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
114
“Iya, sejak empat hari kemarin aku sibuk mengedit kumpulan
tulisanku yang tersebar di beberapa media selama satu tahun ini. Hari ini juga
harus aku print. Sebab habis maghrib nanti akan diambil Wafa untuk dimintakan
kata pengantar pada Anis Mansour, lalu diterbitkan. Setelah itu sampai kuliah
aktif kembali aku kosong. Ada apa kau tanya seperti itu. Ada yang bisa aku
bantu?”
“Ya. Kalau kau berkenan. Aku perlu bantuanmu.”
“Apa itu? Kalau aku mampu, dengan senang hati.”
Aku lalu menjelaskan pertemuanku dengan Alicia dan segala
pertanyaannya. Aku menjelaskan keinginanku menyampaikan isi buku yang ditulis
Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi. Tapi kelihatannya aku tidak punya waktu yang
cukup. Buku itu setebal 143 halaman. Dan Maria bahasa Inggrisnya sangat bagus.
Selama di sekolah menengah ia kursus di British Council, dan pernah terpilih
pertukaran pelajar ke Skotlandia selama setengah tahun.
“Kapan dead linenya?”
“Jawaban harus aku sampaikan pada Alicia hari Sabtu depan.
Kalau bisa malam Jum’at sudah selesai diterjemahkan sehingga aku juga ada
kesempatan membacanya?”
“Baiklah. Nanti berikan buku itu padaku. Aku berjanji Kamis
pagi selesai.”
“Thank’s, Maria.”
“Forget it.”
Tak terasa kami telah sampai di halaman apartemen. Aku
mempercepat langkah. Aku tidak mau naik tangga di belakang Maria. Aku harus di
depan, aku teringat kisah nabi Musa dan dua gadis muda pencari air. Nabi Musa
tidak mau berjalan di belakang keduanya demi menjaga pandangan dan menjaga
kebersihan jiwa.
Sampai di dalam flat, Saiful menyambutku dengan segelas
ashir mangga. Aku langsung meminumnya. Rasa segar menjalar ke seluruh tubuh.
Aku langsung masuk kamar dan menyalakan kipas angin. Maria mengirim sms agar
tinta dan buku yang hendak diterjemah segera kusiapkan. Lima menit lagi ia akan
menurunkan keranjang. Aku langsung mencari buku itu di rak. Ketemu. Jendela
kubuka. Angin panas masuk serta merta. Maria telah menunggu dengan keranjang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
115
kecilnya. Tinta dan buku kumasukkan ke dalamnya. Dan ia
mengangkatnya. Aku langsung shalat dan istirahat sampai ashar tiba.
* * *
Mishbah pulang dari Nasr City jam enam sore. Ketika aku
sedang asyik membaca beberapa buku untuk menjawab pertanyaan Alicia. Ia membawa
pesan dari Nurul yang secara tidak sengaja bertemu di depan Wisma agar aku
menelpon dia sebelum maghrib tiba. Kembali Rudi menggodaku, “Tidak salah lagi.
Pasti ada sesuatu. She is the true coise!” Aku beristighfar dalam hati. Semoga
Allah melindungi dari godaan setan yang terkutuk yang menyesatkan manusia
dengan berbagai macam cara. Dalam hati aku menegaskan, aku tidak akan
menelponnya.
Setengah tujuh telpon berdering. Dari Nurul. Ia minta padaku
agar ke rumah Ustadz Jalal, katanya Ustadz Jalal ingin minta tolong dan
membicarakan sesuatu yang penting padaku. Kukatakan minggu ini aku tidak bisa.
Ia bilang tidak apa-apa, tapi minta diusahakan kalau ada kesempatan langsung ke
sana. Ustadz Jalal masih ada hubungan kerabat dengan Nurul, meskipun agak jauh.
Mereka bertemu di ayah kakek alias buyut. Sudah lama aku tidak bertemu Ustadz
Jalal. Beliau dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga yang mengambil S3
di Sudan, dan selama menulis disertasi doktoralnya beliau tinggal di Kairo
bersama isteri dan ketiga anaknya. Aku akrab dengan beliau dimulai sejak kami
umrah bersama dua tahun yang lalu. Kami mengarungi laut merah untuk mencapai
Jeddah dengan kapal Wadi Nile. Saat itu beliau baru setengah tahun di Cairo.
Anak beliau baru dua. Anaknya yang bungsu lahir di Cairo tujuh bulan yang lalu.
Apa yang beliau inginkan dariku? Apakah beliau akan meminta tolong untuk ikut
mentakhrij hadits lagi? Aku tak tahu pasti. Jawabnya adalah ketika aku bertemu
dengannya. Sebenarnya yang membuatku sedikit heran, kenapa Ustadz Jalal tidak
langsung menelponku, kenapa berputar lewat Nurul. Benar, rumahnya tidak ada
telponnya, tapi dia tentunya bisa menelpon lewat Minatel yang tersebar di
setiap sudut kota Cairo. Keadaan dan jalan berpikir seseorang terkadang memang
susah dimengerti.
Usai mengangkat telpon aku tidak meneruskan pekerjaanku
sebelumnya, yaitu membaca. Tapi aku merasa perlu meninjau kembali planning
bulan ini. Utamanya adalah minggu yang sedang aku jalani ini. Aku melihat
jadwal keluar
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
116
rumah. Ada lima kegiatan. Kurasa harus aku pangkas semua.
Aku harus istirahat dan mengejar terjemahan. Pengajian ibu-ibu KBRI hari
Selasa. Pembanding dalam diskusi yang diadakan FORDIAN, Forum Studi Ilmu
Al-Qur’an, di Buuts, hari Rabu pagi. Pergi ke warnet. Dan rapat Dewan Asaatidz
Pesantren Virtual, di mahattah Shurthah, Nasr City, Kamis malam Jum’at.
Semuanya harus aku batalkan. Yang perlu pengganti harus aku carikan ganti.
Bahkan untuk talaqqi pada Syaikh Utsman hari Rabu aku ingin izin, sekali ini.
Aku benar-benar ingin di rumah minggu ini, menghindari perjalanan panjang yang
membuat ubun-ubun terasa mendidih.
Sore itu juga aku telpon takmir masjid Indonesia yang
mengurusi pengajian ibu-ibu KBRI agar mengganti jadwalku dan memundurkan satu
bulan ke belakang. Pada koordinator FORDIAN aku minta diganti, kutawarkan
sebuah nama. Pada Gus Ochie El-Anwari sang penggagas rapat Dewan Asaatidz aku
minta izin, aku sampaikan beberapa ide dan pokok pikiran yang mengganjal di
kepala. Setelah semua beres aku merasa lega. Langsung kusambung dengan menulis
jawaban atas pertanyaan Alicia seputar Islam dan Perempuan. Aku hanya istirahat
untuk shalat, makan malam, dan minum air putih. Tekadku bulat harus tuntas
malam ini. Tak ada bedanya dengan membuat karya ilmiah. Jawaban dengan bahasa
Inggris itu selesai juga. Tepat pukul tiga malam. Dengan bahasa Inggris.
Setebal empat puluh satu halaman spasi satu Microsoft Word, Times New Roman,
Font 12. Seandainya tidak memakai bahasa Inggris kurasa pukul satu malam sudah
selesai. Beberapa kali aku harus membuka kamus Al Maurid untuk sebuah kosa kata
yang aku kurang yakin ketepatannya.
Sejak itu aku tidak keluar rumah kecuali untuk shalat
berjamaah. Waktuku habis di dalam kamar, di depan komputer. Aktifitasku adalah
menerjemah, menyelesaikan proposal, sesekali makan, ke kamar mandi dan tidur.
Hari Selasa sore Maria memberi tahu buku Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi telah
selesai ia terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Hanya saja ia tidak berani
menerjemahkan hadits dan ayat suci Al-Qur’an takut salah. Maria memberikan
disket berisi terjemahannya. Kekurangannya kutambal. Jawabanku dan hasil
terjemahan Maria langsung aku print dan ketika shalat shubuh aku berikan kepada
Syaikh Ahmad untuk diperiksa. Kebetulan bahasa Inggris beliau bagus tidak
seperti Imam masjid
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
117
lainnya. Beliau bahkan pernah diutus oleh Al Azhar ke
Australia untuk menjadi Imam di masjid Malik Faishal yang terletak di Common
Wealth Street, Surry Hills, Sidney selama satu tahun. Aku jelaskan pada beliau
pertemuanku dengan Miss. Alicia dari Amerika dan kapan jawaban itu harus aku
serahkan. Aku ingin beliau mengoreksi dengan seksama. Beliau sangat senang
dengan apa yang aku lakukan. Beliau menjanjikan malam Jum’at ba’da shalat Isya
bisa aku ambil sehingga bisa diedit lagi dan diprint ulang.
Kekejaman pada diri sendiri untuk bekerja keras menampakkan
hasilnya. Hari Jum’at terjemahan selesai. Tinggal menunggu diedit saja.
Proposal tesis juga selesai, siap untuk diajukan ke tim penilai. Jika layak
nanti pihak fakultas akan mencarikan promotor yang sesuai. Dan jawaban untuk
semua pertanyaan Alicia yang telah dikoreksi dan diberi tambahan Syaikh Ahmad
sudah aku print, aku fotocopy dan aku jilid jadi empat. Untuk Alicia, untuk
Aisha, untuk Maria, dan untuk arsip pribadiku. Aku menatap peta hidup bulan
ini. Aku tersenyum penuh rasa syukur. Kukatakan pada diriku sendiri, “Man jadda
wajad!”81
Aku merasa bersyukur kepada Allah yang mengilhamkan untuk
merubah strategi perangku minggu ini. Memang terkadang kita harus kejam pada
diri sendiri. Dan sedikit tegas pada orang lain. Aktifitas yang penting tetapi
tidak terlalu penting bisa dibuang atau di-pending.
* * *
Ketika aku mengambil naskah yang dikoreksi Syaikh Ahmad,
beliau bercerita sedikit tentang Noura. Gadis innocent itu senang di Tafahna.
Kebetulan satu hari sebelumnya, Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menjenguk ke
sana. Syaikh Ahmad sedang melacak sebenarnya siapa Si Muka Dingin Bahadur itu.
Apakah benar ayahnya atau bukan? Syaikh Ahmad mendapatkan informasi Noura
dilahirkan di klinik bersalin Heliopolis. Bagaimana sejarahnya Noura bisa terlahir
di klinik elite di kawasan elite itu? Syaikh Ahmad sedang menyelidikinya dengan
bantuan Ridha Shahata, sepupunya yang menjadi staf intelijen Dewan Keamanan
Negara atau yang disebut “Mabahits Amn Daulah”. Aku yakin tak lama lagi Noura
kembali hidupnya yang penuh ketenteraman. Sebelum aku pulang beliau
81 Pepatah Arab terkenal, artinya: “Siapa bersungguh-sungguh
dia mendapat!”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
118
menyerahkan sepucuk surat kepadaku, beliau bilang, “Surat
ini yang membawa Ummu Aiman, dari Noura, katanya ucapan terima kasih padamu!”
Inilah untuk pertama kalinya aku mendapatkan surat dari
orang Mesir. Asli. Dari gadis Mesir lagi. Meskipun cuma ucapan terima kasih.
Aku penasaran ingin tahu kata-kata apa yang ditulis oleh gadis innocent itu.
Seperti apa tulisannya. Ingin rasanya kubuka seketika itu, tapi pada Syaikh
Ahmad aku merasa malu. Kumasukkan surat itu begitu saja ke dalam saku.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
119
10. Sepucuk Surat Cinta
Ini malam Sabtu. Besok pagi aku harus pergi. Memasukkan
proposal tesis ke kampus. Menemui Alicia dan Aisha di National Library. Dan
mengirimkan naskah terjemahan ke redaksi sebuah penerbit di Jakarta melalui
email. Perjalanan yang agak melelahkan kelihatannya. Semua telah siap, kecuali
naskah terjemahan. Belum selesai di edit. Aku ingin besok pagi semuanya
berjalan seperti rencana. Sekali melakukan perjalanan banyak yang diselesaikan.
Malam ini mau tidak mau aku harus sedikit keras pada diriku sendiri. Aku harus
kerja lembut mengedit hasil terjemahanku sampai benar-benar matang.
Untuk persiapan lembur ini, aku telah menyiapkan dopping
andalan. Madu murni, susu kambing murni yang dibelikan oleh Hamdi dari para
penggembala kambing yang biasa lewat di Wadi Hof, dan telur ayam kampung. Agar
suasana segar aku membuka jendela dan pintu kamar terbuka lebar-lebar.
Pelan-pelan kusetel nasyid Athfal Filistin. Semangat bocah-bocah cilik
Palestina yang membara dengan celoteh mereka yang menggemaskan menyanyikan
lagu-lagu perjuangan dan intifadhah membuat diriku bersemangat dan tidak
mengantuk. Aku sudah minta izin teman-teman untuk membunyikan nasyid ini sampai
tengah malam. Aku minta mereka menutup pintu kamar masing-masing agar tidak
terganggu tidurnya.
Ternyata mereka malah asyik meminjam film Ashabul Kahfi dari
seorang teman di Nasr City. Dan menontonnya di kamar Rudi. Mereka memerlukan
waktu 16 jam untuk menonton film yang dibuat Iran dan Lebanon itu. Sebab film
Ashabul Kahfi adalah film yang diputar bersambung oleh stasiun TV Lebanon
selama bulan Ramadhan tahun kemarin. Hanya yang memiliki parabola yang bisa
menontonnya. Malam ini mereka menyediakan waktu khusus untuk menontonnya. Aku
belum pernah menontonnya, sebetulnya sangat ingin. Tapi apakah semua keinginan
harus dipenuhi? Komentar teman-teman yang sudah menontonnya, film Ashabul Kahfi
luar biasa indahnya, mampu menambah keimanan dan memperhalus jiwa. Lain kali
semoga ada kesempatan menontonnya. Malam ini adalah malam kerja.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
120
Malam ini, sementara teman-teman terbang ke zaman Ashabul
Kahfi, mereka berdialog dengan pemuda-pemuda pilihan itu, aku malah berlayar di
lautan kata-kata yang disusun Ibnu Qayyim. Aku harus membaca dengan teliti dan
mengedit tulisan sebanyak 357 halaman. Tengah malam aku kelelahan. Aku
istirahat dengan melakukan shalat. Ketika sujud kepala terasa enak. Darah
mengalir ke kepala. Syaraf-syarafnya menjadi lebih segar. Kudengar teman-teman
bertasbih atas apa yang mereka lihat di film itu. Aku melemaskan otot-otot
dengan menelentangkan badan di atas kasur. Menarik nafas dalam-dalam dan
mengeluarkannya pelan-pelan. Aku bangkit hendak meneruskan pekerjaan. Tak
sengaja aku melihat sepucuk surat permintaan mengisi pelatihan terjemah dari
sebuah kelompok studi. Aku jadi teringat dengan sepucuk surat dari Noura yang
masih berada di saku baju koko yang tergantung di dalam almari. Aku belum
membacanya. Segera kuambil surat itu dan kubaca.
Kepada
Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa
dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia
Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.
Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para
penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun
pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air
telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya.
Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam
segala musim dan peristiwa.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk
mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau
baca suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium
telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.
Wahai orang yang lembut hatinya,
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
121
Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa
sendirian tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang
yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau
telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak menitikkan air mata
untukku.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan
mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka
diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa
diriku, kau tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal
itu. Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah
dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera dalam
relung jiwa.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak
memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu
neraka dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan
derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria
menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril
menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian. Di
kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan keberaniannya. Aku ingin
mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya pada punggungku yang sakit
tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri?
Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur
ia menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak berniat
turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala keributan yang
ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah permintaanmu melalui sms
kepada Maria agar berkenan turun menyeka air mata dukaku. Maria tidak mau. Kau
terus memaksanya. Maria tetap tidak mau. Kau mengatakan pada Maria: ‘Kumohon tuturlah
dan usaplah air mata. Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak
tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air
matanya dan membawanya ke tempat yang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
122
jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Maria tetap
tidak mau.” Dia menjawab: “Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak
bisa.” Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau memaksa Maria, kau katakan,
“Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih.” Lalu Maria turun dan kau mengawasi
dari jendela. Aku tahu semua karena Maria membeberkan semua. Ia memperlihatkan
semua kata-katamu yang masih tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku
cium kakinya. Sebab menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan
kubasahi dengan air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu
aku tidak lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku
tidak sendirian di muka bumi ini.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu
dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi
abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang
shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi puteri
di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan
menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku
mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan
ini semua. Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar
di dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku sebenarnya
merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat oleh makhluk dhaif
seperti diriku.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin
halal bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku
padamu yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu.
Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya
dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari itu. Sangat tidak
pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku berharap menjadi isterimu.
Aku
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
123
merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru yang jauh
dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan kehinaan. Yang ada dalam
benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku sangat mencintai Mesir tanah
kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan
orang-orang yang sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan,
kehancuran dan kehinaan diriku. Meskipun saat ini aku berada di tempat yang
tenang dan aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku
yang kejam, tapi aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan
menemukan diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini
menderu di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa.
Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas
cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada seseorang
sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu dirimu dengan
kenistaan kata-kataku yang tertoreh dalam lembaran kertas ini. Jika ada yang
bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah siap seandainya aku harus
terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah membakar Laila dan Majnun. Biarlah
aku jadi Laila yang mati karena kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau
jadi Majnun. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.
Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.
Wassalamu’alaikum,
Yang dirundung nestapa,
Noura
Tak terasa mataku basah. Bukan karena inilah untuk pertama
kalinya aku menerima surat cinta yang menyala dari seorang gadis. Bukan karena
kata-kata Noura yang mengutarakan apa dirasakannya terhadapku. Aku menangis
karena betapa selama ini Noura menderita tekanan batin yang luar biasa. Ia
sangat ketakutan, merasa tidak memiliki tempat yang aman. Ia merasa berada
dalam kegelapan yang berkepanjangan. Tanpa cahaya cinta dan kasih dari
keluarganya. Ia merasa tidak ada yang peduli padanya. Ia telah kehilangan
kepercayaan dirinya sebagai manusia merdeka tanpa belenggu nestapa.
Sesungguhnya tekanan psikis
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
124
yang menderanya selama ini lebih berat dari siksaan fisik
yang ia terima. Maka ketika ada sedikit saja cahaya yang masuk ke dalam
hatinya, ada rasa simpati yang diberikan orang lain kepadanya, ia merasa cahaya
dan rasa simpati itu adalah segalanya baginya. Ia langsung memegangnya
erat-erat dan tidak mau kehilangan cahaya itu, tidak mau kehilangan simpati itu
dan ia sangat percaya dan menemukan hidupnya pada diri orang yang ia rasa telah
memberikan cahaya dan rasa simpati.
Aku menyeka air mata kulipat kertas surat itu dan kumasukkan
ke dalam amplopnya. Setelah shalat shubuh aku harus menyampaikan hal ini pada
Syaikh Ahmad. Gadis itu perlu terus diberi semangat hidup dan dikokohkan
ruhaninya. Gadis itu perlu diyakinkan bahwa dia akan mendapatkan rasa aman dan
kasih sayang selama berada di tengah-tengah orang yang beriman. Aku mengambil
air wudhu untuk menenangkan hati dan pikiran. Aku harus kembali menyelesaikan
pekerjaan. Ketika azan shubuh berkumandang seluruh terjemahan telah selesai aku
edit. Langsung kupecah menjadi empat file. Kumasukkan ke dalam disket. Mataku
terasa berat dan perih. Seperti ada kerikil mengganjal di sana. Aku belum
memicingkan mata sama sekali. Aku bangkit kuajak teman-teman untuk turun ke
masjid.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
125
11. Dijenguk Sahabat Nabi
Kepada Syaikh Ahmad aku berikan surat Noura untuk beliau
baca. Jamaah shalat shubuh sudah banyak yang pulang. Kecuali beberapa
kakek-kakek yang beri’tikaf dan membaca Al-Qur’an menunggu sampai waktu dhuha
tiba. Aku diajak Syaikh Ahmad masuk ke dalam kamar imam. Aku memohon kepada
beliau untuk memperlakukan gadis itu dengan lebih baik dan bijak. Aku memohon
kepada beliau agar gadis itu jangan dicela atas apa yang ditulis dan
dilakukannya. Gadis itu memang sedikit berbohong ketika mengatakan surat itu
ucapan terima kasih semata. Gadis itu perlu dikokohkan semangat hidupnya dan
diyakinkan dia tidak akan mendapatkan perlakuan buruk lagi. Dia akan aman di
Mesir. Syaikh Ahmad membaca surat itu dan menitikkan air mata. “Akan aku minta
kepada Ummu Aiman untuk mencurahkan perhatian yang lebih padanya. Dia memang
memerlukan rasa aman dan kasih sayang yang selama ini hilang. Dan dia
sepertinya belum merasa yakin dia akan mendapatkan rasa aman dan kasih sayang
di sini.” Syaikh Ahmad berjanji akan menyelesaikan masalah Noura sebaik-baiknya
dan meminta diriku agar tidak terganggu dan konsentrasi pada tesis. Dan surat
Noura itu aku berikan pada Syaikh. Aku tidak mau menyimpannya. Baru aku pulang.
Sampai di rumah aku baca Al-Qur’an satu halaman. Aku ingin
memejamkan mata setengah jam saja. Aku pesan pada Saiful agar membangunkan aku
sampai aku benar-benar bangun pada pukul setengah tujuh.
Pukul setengah tujuh aku dibangunkan. Kerikil di mata belum
sepenuhnya hilang. Aku mandi. Sarapan belum jadi. Aku mempersiapkan segalanya
untuk pergi. Jawaban untuk Alicia. Proposal tesis. Dan disket berisi naskah
terjemahan. Karena perjalanan panjang aku harus berangkat pagi. Di metro aku
tidak dapat tempat duduk. Metro penuh oleh orang-orang yang berangkat kerja.
Turun di Tahrir aku langsung mencari Eltramco menuju Hayyu Sabe. Tujuanku adalah
@lfenia. Warnet yang dikelola teman-teman mahasiswa dari Indonesia. Pukul
delapan aku sampai di sana. Bertemu Furqon, penjaga warnet yang sudah seperti
saudara sendiri. Furqon memelukku dan berkata, “Pucat sekali sampean Mas.
Begadang ya?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
126
Aku menganggukkan kepala. Furqon mempersilakan aku memilih
sendiri tempat yang kuinginkan. Hanya ada tiga orang yang sedang berlayar di
dunia maya. Aku memilih yang paling dekat dari tempatku berdiri. Membuka
Yahoomail. Mengirim naskah terjemahan dengan attachment. Membuka beberapa
message di mailist Mutarjim, Qahwaji, dan Indonesia Cinta Damai. Melihat Ahram,
Time, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka dan Islam-online. Satu jam aku
di @lfenia. Furqan menyuguhkan segelas teh Arousa. Teh paling merakyat di
Mesir. Jika dibuat kental dan minum masih dalam keadaan agak panas pelan-pelan.
Sruput demi sruput. Teh Arousa mampu meringankan kepala yang berat dan
menyegarkan pikiran. Dari @lfenia aku langsung naik bis 926 menuju kampus Al
Azhar di Maydan Husein. Kuserahkan proposal tesiskepada Syuun Thullab Dirasat
Ulya Fakultas Ushuluddin. Aku merasa aku akan terlambat sampai di National
Library. Aku kontak Aisha memberitahukan posisi keberadaanku dan meminta mereka
menunggu jika aku terlambat.
Benar aku terlambat sepuluh menit. Aku minta maaf.
Kukeluarkan jawaban atas pertanyaan Alicia yang telah kujilid.
“Semua pertanyaan tentang perempuan dalam Islam saya jawab
dalam empat puluh halaman. Pertanyaan lainnya saya jawab dengan menerjemahkan
buku yang ditulis oleh Prof.Dr. Abdul Wadud Shalabi.”
Alicia dan Aisha berdecak kaget dan gembira atas
keseriusanku. Aku jelaskan siapa sebenarnya yang menerjemahkan buku Prof.
Shalabi ke dalam bahasa Inggris. Sahamku dalam terjemahan itu hanyalah membaca
ulang dan mengoreksinya serta menerjemahkan hadits dan melengkapi terjemahan
Al-Qur’an yang ditinggalkan Maria. Korektor akhir atas semuanya adalah Syaikh
Ahmad Taqiyyuddin. Lalu kami berdiskusi selama dua jam setengah. Saat
berdiskusi aku merasa badanku terasa meriang sekali. Kepalaku berat tapi aku
tahan dan aku kuat-kuatkan. Alicia minta data diriku dan alamat lengkapku. Dua
hari lagi rencananya ia akan kembali ke Amerika. Aisha berkata suatu saat nanti
akan mengajak diriku untuk berdiskusi lagi. Kami berpisah. Di luar gedung terik
panas benar-benar menggila. Aku naik metro. Sampai di Maadi setengah tiga.Aku
belum shalat. Terpaksa aku turun untuk shalat di masjid yang ada di luar
mahattah.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
127
Aku meneruskan perjalanan. Ubun-ubun kepalaku terasa sangat
nyeri. Di Tura El-Esmen badai panas bergulung menebar debu ke dalam metro.
Sangat tidak nyaman. Turun di Hadayek Helwan aku merasa tidak kuat untuk
berjalan ke apartemen. Aku panggil taksi. Kepalaku nyeri sekali. Tubuh seperti
remuk. Aku lupa belum sarapan sejak pagi. Sampai di halaman apartemen aku
sempat melihat jam tangan. Pukul tiga seperempat. Kepalaku seperti ditusuk
tombak berkarat. Sangat sakit. Begitu membuka pintu rumah aku merasa tidak kuat
melangkahkan kaki. Kepala terasa seperti digencet palu godam. Lalu aku tidak
tahu apa yang terjadi. Mataku menangkap kilatan cahaya putih lalu gelap.
* * *
Dalam keremangan gelap aku melihat ada cahaya. Perlahan aku
membuka mata. Aku melihat langit-langit berwarna putih. Bukan langit-langit
kamarku. Langit-langit kamarku biru muda. Kepalaku masih berat.
“Alhamdulillah. Kau sudah tersadar Mas,” suara Saiful serak.
Aku memandang wajahnya.
“A..aku di...di mana?” lidahku terasa kelu sekali.
“Di rumah sakit Mas,” lirih Saiful.
“Kenapa?”
“Sudah lah Mas istirahat dulu. Jangan memikirkan apa-apa
dulu.”
Kepalaku terasa nyeri kembali. Aku berusaha berpikir,
mengingat-ingat apa yang terjadi padaku sehingga ada di rumah sakit ini.
Perjalanan melelahkan, kepanasan dengan perut kosong. Membuka pintu dengan
kepala sakit luar biasa seperti dihantam palu godam. Lalu gelap. Saiful
menatapku dengan mata berkaca.
“Jam be..berapa?” tanyaku padanya.
“Setengah tiga malam Mas.”
Aku teringat belum shalat Ashar, Maghrib dan Isya. Aku ingin
bangkit tapi seluruh tubuhku terasa lumpuh. Kepalaku tiba-tiba terasa sakit
sekali.
“Aduuh! Astaghfirullah!” aku menahan sakit tiada terkira.
“Kenapa Mas?”
Semuanya kembali terasa gelap. Aku berlayar dalam gelap dan
keheningan. Mengarungi dunia yang tiada aku tahu namanya. Aku mendengar suara
magic Syaikh Utsman Abdul Fattah. Fahri, baca surat Al Anbiya! Kubaca
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
128
surat Al Anbiya. Teruskan Surat Al Hajj, pakai qiraah Imam
Warasy.82 Aku membaca dengan qiraah Warasy sampai selesai. Semuanya gelap
kembali. Aku tidak mendengar apa tidak melihat apa-apa. Aku kembali mendengar
suara Syaikh Utsman, beliau membaca surat Al Furqan dengan qiraah Imam Hamzah
aku mendengar dengan seksama kefasihan tajwidnya. Sampai ayat enam puluh lima
beliau membaca dengan menangis tersedu-sedu. Aku ikut menangis. Beliau tiada
kuasa untuk melanjutkannya. Aku membacanya dan melanjutkannya dengan qiraah
yang sama. Selesai. Syaikh Utsman meminta aku meneruskan satu surat lagi. Aku
memenuhi titah beliau, kubaca surat Asy Syuara. Sampai pada ayat seratus
delapan puluh empat daun telingaku menangkap suara isak tangis sayup-sayup. Aku
merasa ada sentuhan halus di pipiku. Aku mengerjapkan mataku.
“Fahri, kau sudah sadar Fahri. Kau bangun Fahri. Ini aku,”
suara halus perempuan. Aku coba membuka mata lebih lebar. Semakin terang. Aku
melihat wajah putih bersih. Dia duduk di kursi dekat dengan dadaku
“Ma..Maria?!” aku memanggil namanya, tapi cuma bibirku yang
kurasa bergerak tanpa suara.
“Ya aku Maria,” ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
.“Astaghfirullah!” lirihku.
“Ada apa Fahri?”
“Ma..mana Saiful?”
“Sedang keluar, dia kusuruh sarapan.”
“Jam berapa?”
“Jam delapan pagi.”
Maria tiada berkedip memandangi diriku yang terbujur tiada
berdaya seperti bayi. Matanya berkaca-kaca, hidungnya memerah dan pipinya
basah.
“Kenapa kau kemari, Maria?”
“Aku ingin tahu keadaanmu. Aku mencemaskanmu.”
“Kau menangis Maria?”
82 Imam Warasy, seorang Imam Qiraah yang terkenal, mengambil
qiraahnya dari Imam Nafi bin Abdurrahman Al-Madani yang mengambil qiraah dari
Imam Abu Ja’far Al-Qari dan tujuh puluh tabiin. Dan mereka semua mengambil
qiraah dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah dari Ubay bin Kaab dari Rasulullah Saw.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
129
“Kau membuatku menangis Fahri. Kau mengigau terus dengan
bibir bergetar membaca ayat-ayat suci. Wajahmu pucat. Air matamu meleleh tiada
hento. Melihat keadaanmu itu apa aku tidak menangis,” serak Maria sambil tangan
kanannya bergerak hendak menyentuh pipiku yang kurasa basah.
“Jangan Maria tolong, ja..jangan sentuh!”
“Maaf, aku lupa. Keadaan haru sering membuat orang lupa.”
Aku melihat di samping kiriku ada tiang besi putih, ada
tabung infus tergantung di sana. Di bawah tabung ada selang kecil mengalirkan
air infus ke dalam nadi tangan kiriku. Air infus terus menetes seperti embun di
musim penghujan. Aku kembali merasakan nyeri dalam tempurung kepalaku. Seperti
ada ratusan paku menacam. Aku berusaha menahan dengan memejamkan mata dan otot
rahang menegang. Tak kuat juga aku mengaduh, meskipun lirih.
“Ada apa Fahri, apa yang kau rasakan?” suara Maria serak.
“Kepalaku nyeri sekali.”
“Biar kupanggilkan petugas,” telingaku menangkap suara
langkah kaki Maria. Tak lama kemudian ia datang dengan seorang dokter lelaki.
Dokter itu memasang menempelkan tangannya di keningku. Memeriksa tekanan
darahku. Memasang termometer sebesar pena di ketiakku. Dan dengan suara yang
lembut menanyai apa yang kurasakan serta membesarkan hatiku. Ia mengambil
termometer dan melihatnya. Lalu menuliskan sesuatu di dalam berkas yang di
bawanya. Kemudian menyuntikkan sesuatu lewat jarum selang infus yang menancap
di tangan kiriku.
“Suntikan untuk meredakan rasa sakit. Kau akan cepat
sembuh,” kata dokter itu. Maria mengamati dengan seksama apa yang dilakukan
dokter itu padaku. Ia berdiri di samping ranjang. Rambutnya yang hitam terkucir
rapi. Setelah mendapat suntikan itu rasa sakit di kepalaku terasa mulai
berkurang. Saiful datang tepat saat dokter setengah baya yang mengenalkan
dirinya bernama Ramzi Shakir itu hendak pergi. Saiful menyalami dokter Ramzi
dan berbincang sebentar dengannya. Maria duduk di kursi di samping ranjang.
Saiful mendekat. Ia mengucapkan salam dan tersenyum.
“Maria, boleh aku bicara empat mata dengan Saiful?” lirihku
pada Maria.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
130
Maria mengangguk dan melangkah keluar. Ia tidak membawa
serta tas kecilnya.
“Saif, kenapa kau tinggalkan aku sendirian dengan Maria?
Kenapa dia yang menunggui aku? Dia bukan mahramku.” Aku memaksakan diri untuk
bersuara agak keras. Saiful sepertinya tahu kalau aku marah dan tidak berkenan.
“Maafkan saya Mas. Keadaannya darurat. Aku belum tidur sama
sekali semalam dan perutku perih sekali. Kebetulan Maria datang,” jawabnya.
“Teman-teman yang lain mana?”
Saiful lalu menceritakan kejadian itu.
“Saat Mas pulang dan terjatuh tak sadarkan diri di pintu,
yang ada di rumah cuma saya seorang. Saya langsung mengontak Mishbah yang saat
itu ada di Wisma agar pulang. Sedangkan Hamdi dan Rudi, hari itu sedang dalam
perjalanan ikut rihlah83 ke Luxor yang diadakan Majlis A’la. Mereka tidak
mungkin dihubungi. Saya bingung, saya naik ke atas. Untung saat itu Yousef dan
Maria ada. Maria langsung menelpon mamanya, Madame Nahed, yang sedang kerja di
Rumah Sakit Maadi. Madame Nahed meminta pada Maria agar seketika itu juga
membawa Mas Fahri ke rumah sakit. Madame Nahed mengurusi semuanya dan
memilihkan kamar kelas satu. Dia juga yang memilihkan dokter. Madame Nahed
tidak bisa langsung menanganimu sebab dia dokter spesialis anak. Mas tak
sadarkan diri dalam waktu yang lama sekali. Mas baru sadar jam setengah tiga
malam. Setelah itu tak sadarkan diri lagi. Mishbah sampai di rumah sakit jam
lima sore ikut menunggui sampai jam satu malam. Saya dan Mishbah sepakat
membuat jadwal. Malam itu saya minta Mishbah istirahat di rumah, karena dia
terlihat sangat kelelahan. Dan saya minta dia datang pukul sembilan pagi untuk
gantian jaga. Pukul setengah delapan tadi Maria datang tepat ketika saya
merasakan perut ini sedemikian perih karena sejak sore kemarin belum kemasukan
apa-apa. Melihat wajah saya pucat Maria minta saya keluar keluar untuk makan
dan membersihkan badan. Jadilah Maria menjaga Mas sendirian.”
Mendengar cerita itu aku maklum adanya. Saiful berjanji akan
menjaga diriku sebaik-baiknya bergantian dengan Mishbah. Dan tidak akan
membiarkan diriku dijaga oleh orang lain.
83 rekreasi.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
131
Maria mengetuk pintu minta izin masuk. Aku minta Saiful
untuk mempersilakan dia masuk. Maria datang dengan menenteng kantong plastik
putih. Ia duduk dan mengeluarkan isinya; satu botol air mineral, satu kotak
susu Juhayna isi satu kilo, satu kotak ashir mangga, sebungkus roti tawar, satu
kaleng vitrac rasa strawberry, satu kaleng cokelat, sekotak keju president, dan
satu kotak tissue meja. Ia menatanya di atas meja yang masih kosong tidak ada
apa-apa. Maria menawariku makan atau minum. Aku sama sekali tidak berselera. Ia
mengambil selembar roti tawar, mengoleskan keju dan cokelat dan menutupnya
dengan selembar roti tawar di atasnya dan menyerahkan pada Saiful. Saiful tidak
bisa menolaknya. Maria kembali mengambil roti tawar. Kali ini untuk dirinya.
Lalu ia mengambil dua gelas dan bertanya pada Saiful mau minum apa. Saiful
menjawab, air putih saja. Maria menuangkan air mineral ke dalam gelas dan
menyerahkan pada Saiful. Ia sendiri menuangkan ashir mangga.
Kudengar mereka berdua berbincang sambil makan roti. Saiful
mengucapkan rasa terima kasih atas kebaikan Maria. Dengan sangat hati-hati ia
menjelaskan masalah mahram kepada Maria. Dengan bahasa halus ia meminta agar
jika bisa Maria datang bersama ayah atau adiknya. Jadi seandainya berbincang
atau berada dalam satu ruangan seperti itu ada mahram yang menemaninya. Bukan
karena tidak percaya pada Maria tapi demi kedamaian jiwa. Aku diam saja. Sebab
perlahan aku kembali merasakan kepalaku mulai bersenut-senut. Aku masih bisa
mendengar Saiful menyitir beberapa sabda Rasul yang memberikan tuntunan cara
berinteraksi pria dengan wanita. Batasan boleh dan tidaknya.
Aku juga mendengar pertanyaan Maria tentang boleh tidaknya
perempuan menjenguk pria yang dikenalnya yang sakit. Aku mendengar Saiful
menjawab boleh, mendasarkan jawabannya bahwa Imam Bukhari dalam kitab shahihnya
secara khusus menulis “Bab Perempuan Membesuk Lelaki”. Beliau mengatakan, “Ummu
Darda’ menjenguk seorang lelaki ahli masjid dari kalangan Anshar.” Dalam sebuah
riwayat juga disebutkan bahwa ketika Ka’ab bin Malik Al Anshari sakit keras dan
dekat dengan kematiannya, Ummu Mubasyir binti Al Barra bin Ma’rur Al
Anshariyyah menjenguknya. Maka tidak ada masalah seorang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
132
perempuan menjenguk saudaranya yang lelaki selama masih
menjaga adab kesopanan yang diajarkan Rasulullah.
Setelah itu aku tidak mendengar lagi apa yang mereka
bicarakan. Aku kembali merasakan nyeri yang luar biasa dalam tempurung
kepalaku. Aku mengaduh. Lalu semuanya terasa gelap.
* * *
Ketika aku sadar, aku tidak menemukan Saiful dan Maria. Yang
ada di sisiku adalah Mishbah dan beberapa teman dari Nasr City yang kukenal
baik. Ada Mas Khalid, Kang Kaji, Mas Junaedi, Sofwan, Iswan, Khalil, Bimo dan
Chakim. Mereka semua tersenyum padaku meskipun aku menangkap guratan sedih
dalam wajah mereka. Mereka mendekat satu persatu dan memelukku pelan sambil
berbisik, “Syafakallah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba’dahu saqaman.”84
Kutanyakan pada Mishbah jam berapa sekarang. Mishbah
menjawab jam satu siang. Apakah ini hari Ahad? Mishbah menjawab iya. Aku minta
pada Mishbah untuk menghubungi Syaikh Utsman. Rabu lalu aku sudah tidak datang.
Aku minta Mishbah menjelaskan kondisiku pada beliau dan memohon agar beliau
memberikan doanya. Mishbah keluar. Aku mencoba mengangkat tanganku. Tidak bisa
juga. Rasanya seperti lumpuh. Aku meneteskan air mata. Aku belum berani bertanya
sakit apa aku sebenarnya.
Aku minta pada Mishbah dan teman-teman agar tidak
mengabarkan sakitku ini ke Indonesia. Aku merasa ingin buang air kecil. Aku
katakan itu pada Mas Khalid. Mas Khalid mengambilkan pispot. Teman-teman yang
lain keluar. Mas Khalid memasukkan pispot ke balik selimutku. Tangannya meraba
tanpa membuka auratku dan berusaha aku bisa buang air kecil di dalam pispot.
Aku tidak bisa membayangkan kalau dalam keadaan seperti ini yang ada di
sampingku hanyalah Maria seperti tadi pagi. Apakah aku harus buang air kecil
begitu saja di atas kasur seperti waktu aku masih bayi dulu, ataukah aku akan
meminta tolong padanya untuk memasangkan pispot. Selesai buang air kecil, aku
minta pada Mas Khalid mentayamumi aku.85 Tanganku sama sekali tidak bisa digerakkan.
Lalu
84 Semoga Allah menyembuhkanmu secepatnya, dengan kesembuhan
yang tiada sakit setelahnya.
85 Tayamum adalah bersuci dengan menggunakan debu sebagai
ganti wudhu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
133
aku shalat dengan menggunakan isyarat mata dan tubuh
terlentang tiada berdaya seperti seorang balita.
Teman-teman menemani sampai jam besuk habis. Tinggal Mishbah
seorang yang tetap menunggui diriku. Mishbah memberi tahu habis maghrib, insya
Allah, Syaikh Utsman Abdul Fattah akan datang. Aku meneteskan air mata, diriku
telah menyusahkan banyak orang. Mishbah mengusap air mata yang meleleh dipipiku
dengan tissue yang dibeli Maria, baunya wangi. Sambil menghiburku bahwa
semuanya akan kembali seperti sedia kala, aku akan sembuh dan sehat kembali
serta bisa main bola lagi. Saiful datang membawa bantal. Ia bilang sejak
sekarang ia dan Mishbah akan menjagaku berdua. Tidur dan istirahat bergantian
di dalam kamar kelas satu ini. Memang di kamar yang tidak terlalu luas ini
hanya aku seorang pasiennya. Aku tidak tahu bagaimana nanti membayar ongkosnya.
Kepalaku terasa berat lalu nyeri dan semuanya kembali terasa gelap.
Dalam gelap aku tidak tahu berada di alam apa. Tiba-tiba aku
berjumpa dengan orang yang kurus dan bercahaya wajahnya, orang yang belum
pernah aku berjumpa dengannya. Dia mengenalkan dirinya sebagai Abdullah bin
Mas’ud. Aku tersentak kaget. Abdullah bin Mas’ud adalah satu-satunya sahabat,
yang Baginda Nabi ingin mendengar bacaan Al-Qur’an darinya. Abdullah bin Mas’ud
adalah Guru Besar Tafsir dan Qiraah di kota Kufah. Imam-imam besar dari
kalangan tabiin banyak yang belajar membaca Al-Qur’an darinya. Abdullah bin
Mas’ud tersenyum padaku serta merta aku mencium tangannya, ia menyambutku dan
memeluk diriku. Aku bisa berdiri, aku tidak lumpuh. Ibnu Mas’ud membisikkan
syafakallah ke telingaku. Aku mencium bau harum dari jubah dan tubuhnya.
Beliau melepaskan pelukannya dan memintaku membaca Al
Baqarah. Aku membacanya dengan hati bahagia. Beberapa kali dia membetulkan
bacaanku. Aku membaca sampai akhir Al Baqarah. Abdullah bin Mas’ud memintaku
berhenti. Abdullah bin Mas’ud mencium keningku dan hendak pergi. Aku
menahannya. Aku katakan aku ingin menanyakan sesuatu padanya. Beliau tersenyum
dan menyilakan aku bertanya.
Aku tanyakan padanya, “Apakah benar riwayat yang mengatakan
Anda tidak mengakui mushaf Utsmani?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
134
Abdullah bin Mas’ud tersenyum padaku dan berkata dengan
suara yang sangat berwibawa,
“Yang tidak mengakui mushaf Utsmani dan tidak suka dengannya
adalah orang-orang munafik dan orang-orang yang memusuhi agama Allah. Mereka
mencatut namaku untuk membela tujuan-tujuan mereka yang jahat. Apa yang ada di
dalam mushaf Utsmani dari Al Fatihah sampai An Naas adalah wahyu yang
diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Baginda Nabi. Tertulis utuh dan
sempurna. Tidak berkurang dan tidak bertambah meskipun cuma satu huruf. Dan apa
yang ada dalam mushaf Utsmani itulah yang aku ajarkan pada para tabiin dan
mereka mengajarkan pada murid-muridnya. Begitu seterusnya hingga sampai
kepadamu dan kepada jutaan umat Muhammad di seluruh penjuru dunia. Al-Qur’an
terjaga keasliannya. Memang akan selalu ada orang-orang jahat yang berusaha
meragukan kebenaran dan merusak kesucian Al-Qur’an. Namun ketahuilah usaha
mereka akan sia-sia. Sebab Allah sendiri yang akan menjaga keutuhan dan
kesuciannya sampai hari akhir. Dan orang-orang pilihan Allah di dunia ini
adalah mereka yang disebut Ahlul Quran. Orang-orang yang hatinya selalu
terpatri pada Al-Qur’an, mengimani Al-Qur’an, dan berusaha mengajarkan dan
mengamalkan isi Al-Qur’an dengan penuh keikhlasan.”
Sahabat nabi, Abdullah bin Mas’ud tersenyum. Aku pun
tersenyum. Aku ingin ikut dengannya, tapi beliau tidak memperbolehkannya. Aku
lalu titip padanya salam sejahtera, rasa cinta dan rasa rindu tiada terkira
untuk Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat nabi itu lalu
meninggalkan diriku. Semakin lama semakin jauh. Mengecil. Menjadi titik. Dan
hilang. Aku merasa kehilangan dan sedih. Mataku basah.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
135
12. Siapa Malaikat Itu?
Wajah itu Nurul. Ya Nurul. Ketika aku terbangun dari
ketidaksadaran, aku melihatnya, tak jauh dari kakiku bersama teman-temannya.
Kulihat sekilas wajahnya sendu. Ada juga ketua dan pengurus PPMI, Persatuan
Pelajar dan Mahasiswa Indonesia. Saiful duduk di dekat kepalaku. Ia paling
dekat denganku. Tangannya mengusap pipiku yang basah.
“Alhamdulillah, Mas Fahri sadar.” Aku mendengar mereka
memuji Allah.
“Sabar Mas Ya? Insya Allah segera sembuh,” lirih Saiful
dengan mata berkaca-kaca.
“Aku sakit apa katanya Saif?”
“Dokter belum menjelaskannya Mas.”
Zaimul Abrar, Ketua PPMI, mendekat, mendoakan, dan atas nama
seluruh mahasiswa ikut merasa sedih atas sakit yang menimpaku. Lalu gantian
Nurul mewakili teman-temannya, ketika dekat dengan diriku ia menatapku dengan
penuh iba dan sorot mata yang aku tidak tahu maknanya. Kedua matanya
berkaca-kaca dan sendu. “Cepat sembuh Kak. Cepat selesaikan masternya dan cepat
mengabdi di tanah air tercinta,” katanya terbata-bata. Aku mendengarnya dengan
sesekali memejamkan mata.
“Mas kami pamit. Kami sudah lama di sini. Syafakallah!” ucap
Zaim.
“Kami juga minta diri Kak,” ikut Nurul.
Mereka pun pulang. Aku merasa wujudku benar-benar ada dan
berarti. Aku merasa diperhatikan, disayang, dan dicintai semua orang.
Dua menit setelah mereka keluar, Syaikh Ahmad datang bersama
Ummu Aiman. Syaikh Ahmad berusaha tersenyum padaku. Beliau memelukku pelan
sambil mendoakan kesembuhanku. Ia tahu aku sakit dari Mishbah yang ketika
shalat shubuh mengabarkan padanya. Syaikh Ahmad memberikan sedikit tadzkirah
yang membesarkan hatiku dan menguatkan jiwaku.
“Pintu-pintu surga terbuka lebar untuk orang yang sabar
menerima ujian dari Allah!”
Syaikh Ahmad tidak lama berada di sisiku. Tak lebih dari
seperempat jam. Setelah itu pamitan. Beliau membawa dua kilo anggur yang sangat
segar.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
136
* * *
Menjelang maghrib Dokter Ramzi Shakir memberi tahu setelah
melihat hasil foto rontgen kepalaku, aku harus dioperasi. Ada gumpalan darah
beku yang harus dikeluarkan. Rencananya operasi besok pagi pukul delapan. Aku
diminta untuk puasa malam ini. Aku mungkin akan tinggal di rumah sakit sekitar
satu bulan lamanya. Aku menitikkan air mata. Saiful dan Mishbah menghibur,
meskipun kulihat mereka berdua juga menitikkan air mata.
Menjelang Isya, Syaikh Utsman Abdul Fattah benar-benar
datang bersama beberapa teman Mesir yang mengaji qiraah sab’ah pada beliau.
Syaikh Utsman mengusap kepalaku, persis seperti ayahku mengusap kepalaku.
Beliau tersenyum padaku. Beliau meminta kepada semuanya untuk keluar sebentar.
Beliau ingin berbicara hanya berdua denganku. Saiful, Mishbah dan teman-teman
Mesir keluar meninggalkan kami. Syaikh Utsman duduk di kursi dekat dadaku.
Sambil mengelus rambut kepalaku beliau berkata,
“Anakku, ceritakan padaku apa yang dilakukan sahabat nabi
yang mulia, Abdullah bin Mas’ud padamu?”
Aku kaget bukan main. Bagaimana Syaikh Utsman tahu kalau aku
bertemu sahabat nabi Abdullah bin Mas’ud dalam pingsanku.
“Tadi malam jam tiga saat aku tidur setelah tahajjud aku
didatangi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Aku hanya sempat bersalaman
saja. Beliau bilang akan menjengukmu sebelum aku menjengukmu.” Syaikh Utsman
seperti mengerti keherananku, beliau menjelaskan bagaimana beliau tahu aku
kedatangan Abdullah bin Mas’ud.
“Bagaimana Syaikh bisa yakin aku benar-benar di datangi
Abdullah bin Mas’ud?” tanyaku dengan suara serak untuk lebih meyakinkan diriku.
“Seperti keyakinan Rasulullah ketika bermimpi akan berhaji
dan membuka kota Makkah.”
Jawaban singkat Syaikh Utsman menyadarkan diriku akan
kekuatan mimpi orang-orang shaleh yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala.
Untung aku sudah membaca dan menelaah Kitab Ar Ruuh yang ditulis oleh Imam Ibnu
Qayyim Al Jauzi. Murid utama Imam Ahmad bin Hambal dan ulama terkemuka pada
zamannya itu membahas masalah ruh dengan tuntas disertai dalil-dalil yang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
137
tidak bisa diragukan. Bahwa ruh orang yang telah wafat bisa
bertemu dengan ruh orang yang masih hidup. Semuanya atas izin dan kekuasaan
Allah Swt. Kisah para sahabat dan ulama salafush shalih menjadi bukti dan
kenyataan yang terang tiada keraguan seperti terangnya cahaya matahari di waktu
siang.
Di antaranya, Imam Ibnu Qayyim menuliskan kisah nyata,
dengan sanad yang shahih, dari Imam Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Shahr
bin Hausyab:
Bahwa dua orang sahabat nabi yaitu Sha’b bin Jitsamah dan
Auf bin Malik adalah bersaudara. Sha’b berkata kepada Auf,
‘Saudaraku, jika salah satu di antara kita mati dahulu maka
harus berusaha datang menemui dalam mimpi.’
Auf berkata, ‘Apakah itu mungkin?’
Sha’ab menjawab, ‘Ya.’
Kemudian meninggallah Sha’b. Dan Auf melihatnya di dalam
mimpi seolah Sha’b mengunjunginya. Auf menyapa, ‘Wahai Saudaraku!’
‘Ya.’ Jawab Sha’b.
‘Apa yang terjadi denganmu?’ tanya Auf.
‘Beberapa dosaku telah diampuni.’ Jawab Sha’b.
Auf melihat ada noda hitam di lehar Sha’b. Ia langsung
bertanya, ‘Saudaraku, ini apa?’
Sha’b menjawab, ‘Ini adalah sepuluh dinar yang aku pinjam
dari lelaki Yahudi (dan belum aku kembalikan). Sepuluh dinar itu ada di dalam
tanduk milikku, berikanlah padanya. Ketahuilah Saudaraku, semua kejadian yang
menimpa keluargaku setelah kematianku telah kuketahui kabarnya, termasuk kucing
yang meninggal beberapa hari yang lalu. Dan ketahuilah, puteriku akan meninggal
enam hari lagi, maka berwasiatlah yang baik untuknya.’
Ketika bangun Auf berkata, ‘Dalam mimpi ini ada
pemberitahuan.’
Auf lalu mendatangi keluarga Sha’b. Mereka menyambutnya
dengan hangat dan berkata, ‘Selamat datang Auf, apakah seperti ini perlakuanmu
pada keluarga yang ditinggal saudaramu? Kau tidak mendatangi kami sejak dia
meninggal.’ Auf memberikan alasan seperti orang-orang memberi alasan. Lalu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
138
melihat tanduk dan menurunkan dari tempatnya. Dan menemukan
kantung berisi dinar di dalamnya. Lalu membawanya ke tempat orang Yahudi.
Auf bertanya pada orang Yahudi, ‘Apakah Sha’b punya hutang
padamu?’
Orang Yahudi menjawab, ‘Semoga Allah merahmati Sha’b. Dia
termasuk sahabat nabi yang utama. Hutangku kuikhlaskan untuknya.’
Auf mendesak, ‘Katakanlah padaku berapa dia berhutang
padamu?’
Orang Yahudi menjawab, ‘Sepuluh dinar.’
Auf lalu menyerahkan kantong berisi sepuluh dinar itu pada
orang Yahudi. Auf berkata, ‘Ini yang pertama!’
Kemudian Auf kembali menemui keluarga Sha’b dan bertanya,
‘Apakah ada suatu kejadian di rumah kalian setelah kematian Sha’b?’
Mereka menjawab, ‘Ya, kucing kami mati beberapa hari yang
lalu!’
Auf berkata, ‘Ini yang kedua!’
Lantas Auf bertanya, ‘Mana anak perempuan Saudaraku?’
“Dia sedang bermain.’ Jawab mereka.
Auf lalu mendatanginya dan mengusap-usapnya, anak puteri itu
ternyata sedang demam. Auf berkata pada mereka, ‘Berwasiat baiklah untuknya.’
Dan anak perempuan itu meninggal enam hari kemudian.
Kisah serupa sangat banyak terjadi di zaman sahabat nabi dan
zaman tabiin. Imam Ibnu Abdul Bar yang mengarang kitab ‘Al Tamhid’ penjelas
kitab Muwatta’ Imam Malik menuturkan kisah tsabit bin Qaish bin Syamas yang
mati syahid dan mendatangi Abu Bakar dalam mimpinya karena punya hutang. Abu
Bakar pun menjalankan wasiat Tsabit.
Syaikh Utsman masih menunggu jawabanku.
“Anakku, apa yang kau dapat dari Abdullah bin Mas’ud yang
mendatangimu. Ceritakanlah pelan-pelan, aku ingin tahu?’ Syaikh Utsman kembali
mengulangi pertanyaannya. Aku lalu menceritakan semuanya. Syaikh Utsman
menitikkan air mata dan berkata, ‘Allah yubarik fik ya bunayya!’86 Lalu beliau
berpesan agar aku tidak menceritakan mimpi ini kepada siapa-siapa, kecuali
orang-orang yang bisa dipercaya. Mimpi seperti ini tidak semua orang suka
mendengarnya, dan tidak semua orang mempercayainya.
86 Allah memberkahimu, Anakku.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
139
Syaikh Utsman lalu mengeluarkan botol kecil dari saku
jubahnya.
‘Ini aku bawakan air zamzam. Tidak banyak, namun semoga
bermanfaat. Minumlah dengan terlebih dahulu membaca shalawat nabi dan berdoa
minta kesembuhan dan ilmu yang manfaat.’ Ucap beliau.
Aku belum bisa menggerakkan tanganku. Syaikh Utsman agaknya
tahu. Beliau sendiri yang meminumkan air zamzam itu ke mulutku. Setelah itu
beliau berpesan agar aku memperbanyak istighfar dan shalawat. Agar aku
mengikuti semua petunjuk dokter dan minum obat yang teratur. Aku beberkan semua
kecemasanku pada beliau, terutama tentang kepalaku yang mau dioperasi. Beliau
menenangkan diriku. Beliau minta kepadaku agar besok pagi minta kepada dokter
untuk memfoto rontgen sekali lagi. Jika tidak ada perubahan dan memang harus
dioperasi ya harus dijalani. Beliau akan berdoa semoga Allah memberikan jalan
kesembuhan yang lebih mudah. Beliau mencium keningku seperti seorang kakek
mencium cucunya. Setelah itu memanggil kembali teman-teman untuk masuk.
Teman-teman Mesir berusaha menghibur. Si Mahmoud bercerita tentang Juha yang
lucu, aku tersenyum mendengarnya. Pukul setengah sepuluh Syaikh Utsman dan teman-teman
Mesir pamitan.
Menjelang tidur Himam datang. Ia bersama Hamim dan Mahmudi.
Himam pernah satu bulan satu rumah denganku di Hayyul Asyir sebelum aku pindah
ke Hadayek Helwan. Ia punya buku pijat refleksi dan suka mencoba-coba pada
teman-teman satu rumah yang kelelahan. Itu pula yang dilakukan Himam
terhadapku. Ia menyibak selimut di kakiku dan mencoba-coba mencari syaraf yang
ia rasa ganjil di telapak kaki. Himam memijat dan aku menahan sakit. Begitu
berulang-ulang. Lalu Himam memijit dengan santai ke seluruh kakiku, sampai aku
tertidur.
* * *
Pagi hari aku merasa badanku lebih enak. Kepalaku lebih
ringan. Jam enam pagi, aku minta Mishbah memberi tahukan pada dokter atau
petugas bahwa aku minta dirontgen ulang. Aku tidak akan menandatangani surat
kesediaan operasi sebelum dirontgen ulang dan hasilnya dilihat kembali dengan
teliti.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
140
Dengan senang hati, Dokter Ramzi memenuhi permintaanku. Aku
digeledek ke ruang rontgen. Dua orang perawat mengangkatku ke meja yang menyatu
dengan alat foto berukuran besar itu. Seorang petugas mengepaskan titik fokus
di kepalaku. Aku di foto dalam tiga posisi. Lalu dibawa kembali ke kamar.
Sampai di kamar sudah ada Maria dan keluarganya. Maria
menatapku dengan wajah sedih, juga Yousef, Tuan Boutros dan Madame Nahed.
Mereka tahu kalau pagi ini aku akan dioperasi maka mereka datang untuk
melihatku sebelum masuk ke ruang operasi. Maria menitikkan air mata ia takut
terjadi apa-apa padaku. Aku bilang pada mereka semua, insya Allah, tidak akan
terjadi apa-apa dan aku akan sembuh seperti sedia kala.
Pukul setengah sembilan Dokter Ramzi datang dengan wajah
cerah. Beliau menyerahkan hasil rontgen dan membawa kabar gembira, “Entah ini
mukjizat atau apa, gumpalan darah beku di bawah tempurung kepalanya itu telah
tiada.” Dokter Ramzi minta aku mencoba menggerakkan tanganku, meskipun sangat
pelan aku bisa. “Tak perlu operasi, kau akan sembuh seperti sedia kala. Tinggal
perawatan medis secara intensif untuk penyembuhan.”
Aku mengucapkan syukur berkali-kali kepada Allah atas
anugerah ini. Kudengar Tuan Boutros memuji tuhannya; Bapa, Yesus dan Roh Kudus.
Kuminta kepada Saiful dan Mishbah untuk sujud syukur. Madame Nahed masih
melihat foto rontgen. Dia membandingkan foto pertama dan foto kedua. Bibirnya
berdesis, “Mahabesar kekuasaan Tuhan, ini mukjizat!”
Dokter Ramzi bilang aku telah melewati masa kritis, dia
mengucapkan selamat kepadaku. Sejak itu keadaanku semakin membaik. Teman-teman
mahasiswa Indonesia banyak yang berdatangan menjenguk. Beberapa staf KBRI yang
kenal baik juga menjenguk. Teman-teman dari Malaysia, Patani dan Singapura
juga.
Hari kelima aku sudah bisa bangkit dari tempat tidur. Aku
sudah bisa makan sendiri dengan kedua tanganku. Dari hari ke hari perkembangan
kesehatanku terus membaik. Hari ke sembilan aku sudah bisa ke toilet sendiri.
Hari ke sebelas aku sudah bisa jalan-jalan keluar kamar, ke taman dan
duduk-duduk di sana ditemani Saiful dan Mishbah. Hari itu juga Rudi, dan Hamdi
pulang dari Luxor. Mereka sangat terkejut dan menyesal tidak berada di sisiku
melewati
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
141
masa kritis. Aku minta kepada Saiful untuk bertanya kapan
aku boleh pulang dan kira-kira biaya semuanya berapa? Saiful memberi tahu dua
hari lagi bisa pulang dan biaya semuanya sekitar seribu dua ratus dollar. Aku mengerutkan
kening. Dalam tabunganku hanya ada lima ratus dollar. Aku bertanya mereka
berempat ada uang berapa. Hamdi kosong, tinggal dua puluh lima pound saja. Rudi
ada cadangan seratus dollar. Saiful lima puluh dollar. Dan Mahmoud juga lima
puluh dollar. Berarti semua baru ada enam ratus dollar. Masih kurang enam ratus
dollar. Dan bisa jadi totalannya nanti lebih dari itu. Mau tidak mau harus
mencari pinjaman. Aku minta pada Rudi untuk menemui Pak Jayid Hadiwijaya, Atase
Pendidikan yang baik hatinya, agar meminjam uang secukupnya dari beliau untuk
biaya perawatan rumah sakit. Siang Rudi berangkat, sore kembali dengan membawa
uang seribu dollar.
Pagi hari H aku boleh pulang ke rumah sakit Saiful mengurusi
semua administrasi. Ia kembali ke kamar dengan wajah heran.
“Mas, biayanya semua sudah dilunasi seseorang,” lapornya
dengan wajah ceria bercampur bingung.
“Siapa yang melunasinya?” tanyaku heran.
“Pihak rumah sakit tidak mau menyebutkan namanya,” jawabnya.
Rudi yang bertugas mencari mobil kembali bersama Tuan
Boutros dan keluarganya. “Tak usah repot cari mobil, kami datang untuk
menjemputmu pulang,” demikian Tuan Boutros. Aku tak menjawab apa-apa. Mereka
sangat baik, seperti keluarga sendiri, seperti bukan orang lain. Aku teringat
biaya yang sudah dilunasi, jangan-jangan mereka.
“Sebelum pulang aku mohon kejujuran kalian. Apakah kalian
yang telah melunasi seluruh biaya perawatan saya?” tanyaku sambil memandang
Tuan Boutros dan Madame Nahed bergantian.
“Tidak. Bukan kami,” jawab Madame Nahed.
“Kumohon demi kasih Isa Al Masih, kalian harus berterus
terang, aku tidak akan tenang,” desakku.
“Kami benar-benar tidak melunasinya. Kami memang berniat
melunasinya tapi sudah terlambat. Sudah ada yang mendahului kami. Kukira kalian
sendiri yang telah melunasinya. Kami berkata yang sebenarnya,” terang Madame
Nahed.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
142
“Semoga Allah membalas dia dengan pahala yang tiada
hentinya,” lirihku mendoakan orang yang telah membayar seluruh biaya
perawatanku.
* * *
Hari itu kami pulang ke Hadayek Helwan. Selama perjalanan
Madame Nahed memberi tahu sakit apa aku sebenarnya.
“Dokter Ramzi mengatakan kau terkena Heat Stroke dan
Meningitis sekaligus. Tapi sekarang sudah sembuh.”
Aku sudah tahu heat stroke itu apa. Madame Nahed pernah
menerangkannya. Tapi meningitis, aku belum tahu jenis penyakit apa itu. “Apa
itu meningitis, Madame?”
“Meningitis, adalah penyakit radang selaput otak yang
menular disebabkan oleh kuman meningokoccal. Kuman penyakit ini cepat menular
pada suhu tinggi atau rendah. Cara penularan penyakit Meningitis Meningokoccal
adalah melalui kontak langsung, terkena percikan air ludah, dahak, ingus,
cairan bersin dan cairan dari tenggorokan penderita penyakit Meningitis
Meningokoccal. Tanda-tanda orang yang terkena meningitis adalah panas mendadak,
sakit kepala luar biasa, kemerahan di kulit dan kaku kuduk. Tapi kau tidak usah
kuatir. Kau sudah sembuh dan terbebas dari kuman meningokoccal. Dokter Ramzi
mengatakan begitu. Kau sudah diterapi dengan pengobatan propilaksis memakai
cyproflovacin terbaik. Yang sekarang harus kau lakukan adalah menjaga
kesehatanmu. Jangan keluar rumah dulu. Jaga kondisi tubuh supaya tetap segar.
Istirahat yang cukup 6-8 jam sehari semalam. Jangan menantang panas. Minum yang
cukup. Jangan sekali-kali minum dari kran air minum umum di pinggir jalan
seperti orang-orang, sebab kebersihannya kurang. Gelasnya cuma satu untuk minum
bergantian. Sangat riskan terjadi penularan kuman. Banyak makan buah-buahan
segar seperti anggur, jeruk, apel, mangga, semangka, dan lain sebagainya.”
Madame Nahed memberi penjelasan yang cukup dan sangat berguna bagi diriku.
* * *
Sejak pulang dari rumah sakit, aku merubah peta hidup yang
telah kurancang satu bulan ke depan. Aku lebih banyak di rumah. Kegiatan
menerjemah sementara aku tinggal dulu. Waktuku kuhabiskan untuk buku-buku
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
143
yang berkaitan dengan materi penulisan tesis. Syaikh Utsman
memberiku izin tidak ikut mengaji sampai musim panas benar-benar reda.
Aku masih penasaran siapa yang melunasi biaya rumah sakit
itu. Aku dan teman-teman meraba-raba beberapa kemungkinan.
Saiful menduga yang membayar Syaikh Utsman, bisa murni dari
saku beliau bisa juga beliau menyalurkan zakat mal para dermawan. Beliau adalah
tokoh yang memiliki banyak koneksi dan akses.
Sedangkan Hamdi berpendapat yang melunasi mungkin Syaikh
Ahmad. Karena beliau dan isterinya dikenal kaya, dermawan, dan suka menolong
orang. Rudi lain lagi, dia menduga yang melunasi adalah pihak KBRI. Mungkin
diam-diam Pak Atase Pendidikan mengucurkan dana dari anggaran kemasyarakatan.
Mishbah tidak berpendapat apa-apa, tapi dia berkomentar yang
paling tidak mungkin adalah pendapat Rudi. Bagaimana mungkin Atase Pendidikan
mengeluarkan dana untuk biaya seorang mahasiswa yang sakit sedangkan diminta
dana untuk pelatihan ekonomi Islam saja seretnya bukan main. Itu alasan Mishbah
yang sedikit kecewa dengan KBRI.
Entahlah siapa sebenarnya dia yang berhati putih itu. Mata
hatiku berkata, yang membayar bukan yang disebut teman-teman itu. Tapi orang
lain. Dan orang lain itu adalah orang yang berhati ikhlas, mengenalku, sangat
perhatian padaku, dan aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak bisa menduga sebuah
nama. Aku hanya berdoa, agar suatu saat nanti Allah membuka rahasia siapa
malaikat itu sebenarnya. Aku berharap bisa membalas kebaikannya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
144
13. Ketika Hati Berdesir-desir
Tak terasa sudah memasuki pertengahan September. Suhu musim
panas mulai turun. Paling tinggi 32 derajat celcius. Bulan Oktober nanti adalah
bulan peralihan dari musim panas ke musim dingin. Si Musthafa Fathullah Said,
teman Mesir satu kelas di pascasarjana yang juga sedang mengajukan proposal
tesis memberitahukan, bahwa dua hari lagi aku harus ke kampus untuk ujian
proposal tesis yang kuajukan. Aku terfokus pada ujian yang sangat menentukan
itu. Jika proposalku ditolak maka aku harus menunggu setengah tahun lagi untuk
mengajukan proposal baru.
As you sow, so will you reap! Demikian pepatah Inggris
mengatakan. Seperti apa yang anda tanam, sebegitu itulah yang akan anda petik.
Rasanya tidak sia-sia apa yang telah kukerjakan selama ini. Membuat jadwal
ketat, bolak-balik ke National Library, ke perpustakaan IIIT di Zamalek, dan
mengumpulkan bahan. Membaca literatur-literatur klasik berkaitan Ilmu Quran,
berdiskusi dengan teman-teman pascasarjana. Kerja yang melelahkan. Mengantuk.
Pusing. Mual. Kurang tidur. Semuanya terasa bagaikan simponi hidup yang indah
setelah tim penilai yang terdiri para guru besar menerima proposal tesis yang
aku ajukan. Aku jadi menulis tentang ‘Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman
Said An-Nursi’. Aku memang pengagum ulama terbesar Turki abad 20 itu. Dia
termasuk tokoh dunia Islam yang menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi layak disebut
mujaddid umat Islam abad 20 disamping Hasan Al Banna. Pembimbingku juga telah
ditentukan yaitu Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far. Aku seperti mendapat
durian runtuh sebab beliau memang profesor idolaku. Terkenal paling mudah
ditemui dan paling senang dengan mahasiswa dari Asia Tenggara. Aku belum
dikenal oleh beliau, tapi aku akan berusaha menjadi muridnya yang baik sehingga
beliau akan mengenalku dengan baik sebagaimana Syaikh Utsman mengenalku.
Dan sebagai rasa syukur aku harus kembali memeras otak dan
bekerja keras untuk menyelesaikan tesis ini. Pekerjaan yang tidak ringan, sebab
aku juga harus menerjemah. Tanpa menerjemah dari mana sumber penghidupan akan
aku dapatkan. Aku kembali menata peta hidup dua tahun ke depan. Aku teliti dan
aku kalkulasi dengan seksama. Target-target dan cara pencapaiannya. Ada satu
target
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
145
yang masih mengganjal. Yaitu menikah. Aku mentargetkan saat
menulis tesis aku harus menikah. Umurku sudah 26 tahun menginjak 27.
Aku mengkalkulasi kemampuan mencari dana setiap bulan.
Sebelum menulis tesis aku sanggup merampungkan buku setebal 200-300 halaman
setiap bulan. Itu berarti aku akan mendapat masukan sekitar 250 dollar
perbulan. Dan aku hanya bisa menyisakan 100 dollar dan terkadang malah cuma 50
dollar. Setiap kali masuk toko buku aku tidak bisa menahan diri untuk membeli
buku atau kitab. Ketika konsentrasiku terpusat pada menulis tesis maka
kemampuanku menerjemah akan berkurang. Mungkin aku hanya akan mampu menerjemah
150-200 halaman saja perbulan. Uang yang aku terima dari bayaran menerjemah
hanya cukup untuk memenuhi biaya sehari-hari. Bagaimana? Apakah akan tetap
nekad menikah?
Tunggu dulu! Bang Aziz yang mengais nafkah dengan membuat
tempe dan mendistribusikannya ke rumah-rumah mahasiswa itu berani menikah. Bang
Aziz bercerita dengan pemasukan 150 dollar perbulan sudah berani menikah. Hidup
sederhana dan menyewa rumah sederhana di kawasan Hayyu Thamin, atau jauh di
Zahra sana. Apalagi jika mencari isteri mahasiswi yang kebetulan dapat
beasiswa. Meskipun beasiswa tak seberapa tapi sangat membantu karena datangnya
tetap.
Akhirnya kupikir dengan matang, bahwa umur tidak bisa
dihargai dengan materi. Jika menemukan perempuan shalihah dan mau menerima
diriku seutuhnya dan siap hidup berjuang bersama, dalam suka dan duka, maka aku
tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyempurnakan separo agama.
Kutetapkan tahun ini bisa menikah, tapi tidak mencari. Lho bagaimana? Siapa
tahu ada yang menawari. Kalau sampai selesai magister tidak ada yang menawari
ya berarti memang nasibku tidak menikah di Cairo dengan mahasiswi Al Azhar.
Mungkin nasibku adalah menikah di Indonesia, dengan seorang akhwat berjilbab
yang ghirah keislamannya bagus, yang ada di UI, atau di UGM, atau di UNDIP,
atau di UNS. Atau malah gadis dari pesantren yang masih sangat virgin. Atau,
tak tahunya anak tetangga sendiri, teman gebyuran di sungai waktu kecil. Jadi
tidak asing lagi, sejak kecil sudah sama-sama tahu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
146
Aku jadi teringat puisiku sendiri, yang kutulis jelek sekali
di buku harian suatu malam di musim semi setahun yang lalu:
Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku
Seorang perempuan shalihah yang akan jadi bidadariku, yang
akan aku cintai sepenuh hati dalam hidup dan mati, yang akan aku harapkan jadi
teman perjuangan merenda masa depan, dan menapaki jalan Ilahi, itu siapa? Aku
tak tahu. Ia masih berada dalam alam ghaib yang belum dibukakan oleh Tuhan untukku.
Jika waktunya tiba semuanya akan terang. Hadiah agung dari Tuhan itu akan
datang.
* * *
Di layar TV Channel 2 ada pengumuman nama-nama orang hilang,
lengkap dengan data singkat, ciri-ciri dan fotonya. Nama yang terakhir di
tampilkan adalah Noura binti Bahadur Gonzouri, lengkap dengan fotonya. Saat itu
pukul setengah sepuluh malam. Kami satu rumah kaget.
Si Muka Dingin Bahadur rupanya masih mencari Noura untuk ia
jual kepada serigala-serigala berwajah manusia. Kami satu rumah cemas jika
urusannya akan sampai kepada polisi dan menyeret Syaikh Ahmad. Jika Si Muka
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
147
Dingin Bahadur punya hubungan dengan seorang pembesar di
bagian intelijen keamanan negara urusannya benar-benar bisa merepotkan. Saat itu
juga aku menelpon Syaikh Ahmad. Beliau minta aku tenang saja dan tidak usah
kuatir. Noura sedang berada di pintu gerbang kemerdekaan dan kebahagiaannya.
Besok pagi setelah shalat shubuh beliau akan menjelaskan semuanya.
Usai shalat shubuh, Syaikh Ahmad menjelaskan kepadaku bahwa
masalah Noura sedang ditangani diam-diam oleh Ridha Shahata, saudara sepupunya
yang bertugas di bagian intelijen keamanan negara. Ridha Shahata menemukan
informasi berharga bahwa Noura dilahirkan di sebuah rumah sakit elite di kawasan
elite Heliopolis. Pada minggu yang sama Noura dilahirkan hanya ada lima bayi.
Dan pada hari yang sama Noura lahir cuma ada dua bayi di sana. Yaitu dia dan
bayi satunya bernama Nadia. Setelah dilacak. Nadia kini tinggal di Heliopolis,
ayah dan ibunya dosen di Universitas Ains Syams. Yang sedikit aneh Nadia
berkulit hitam sementara ayah dan ibunya berkulit putih. Kolonel Ridha Shahata
sedang menyiapkan surat pemanggilan untuk tes DNA pada Si Muka Dingin Bahadur
dan isterinya. Juga pada Nadia dan kedua orang tuanya. Sebab memang sangat
mencurigakan dua bayi itu tertukar. Jika benar tertukar nanti akan dicari siapa
saja perawat yang bertugas waktu itu. Tertukarnya sengaja atau tidak. Tes DNA
itulah yang akan jadi bukti kuat kejelasan kasus Noura. Namun seandainya tidak
terbukti ada pertukaran bayi, Noura akan tetap dilindungi. Kolonel Ridha
Shahata juga telah menyiapkan bukti untuk menyeret Si Muka Dingin Bahadur ke
penjara. Kolonel Ridha Shahata adalah intelijen yang sangat profesional, dia
pernah menangkap seorang turis Spanyol yang ternyata adalah mata-mata Mossad.
Syaikh Ahmad meminta saya tenang. Wa man yattaqillaha yaj’al
lahu makhraja. Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan
untuknya jalan keluar. Aku lega.
Begitu sampai dirumah, aku mendapat telpon dari Nurul. Ia
rupanya juga melihat tayangan nama orang hilang tadi malam. Ia cemas kalau
Noura tertangkap dan urusannya melebar. Aku lalu menjelaskan apa yang
dijelaskan Syaikh Ahmad kepadaku. Nurul merasa lega. Sebelum mengakhiri pembicaraannya
dia bertanya apakah aku sudah ke tempatnya Ustadz Jalal. Kubilang sejak sakit
aku belum ke
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
148
mana-mana. Aku minta pada Nurul agar menyampaikan pada
Ustadz Jalal permohonan maafku belum bisa ke sana. Dan aku titip pesan
seandainya beliau ada waktu supaya menghubungi aku langsung. Biar aku tahu
sebenarnya beliau mau minta tolong apa. Aku juga menjelaskan pada Nurul saat
ini sudah konsentrasi menulis tesis. Alhamdulillah judul tesisnya sudah
diterima. Nurul menyatakan rasa gembira dan senangnya.
* * *
Aku teringat ini hari Ahad. Sudah lama aku tidak tidak
mengaji pada Syaikh Utsman. Aku benar-benar rindu pada beliau. Ramalan cuaca
siang ini Cairo tidak terlalu panas. Hanya 30 derajat celcius. Aku berangkat
setengah sebelas. Aku ingin shalat zhuhur di Shubra. Baru keluar sampai di
halaman apartemen, aku dicegah oleh Maria dari atas, dari jendelanya. Dia minta
agar aku tidak pergi dulu, di rumah dulu. Aku heran apa haknya melarang aku.
Aku jelaskan padanya aku harus belajar qiraah sab’ah. Akhirnya dia menyuruh
adiknya, Si Yousef untuk mengantar aku ke tempat aku ngaji. Aku merasa heran
dengan diri sendiri, keluarga Tuan Boutros begitu baik dan besar perhatiannya
kepada kami. Hari itu Yousef mengantar aku sampai di depan masjid Abu Bakar
Shiddiq, Shubra. Ia juga berjanji akan menjemputku pukul setengah lima sore.
Aku mengucapkan terima kasih padanya.
Syaikh Utsman dan teman-teman menyambutku dengan penuh
kehangatan. Kami mempraktekkan qiraah Imam Warasy dengan membaca surat Al
Mujaadilah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, Ash Shaf dan Al Jumu’ah. Selesai mengaji
Syaikh Utsman mengajakku masuk ke kamar beliau yang khusus disedikan oleh
takmir masjid. Beliau ingin berbicara masalah khusus.
“Anakku, kau sudah sehat betul?” tanya beliau lembut.
“Alhamdulillah, Syaikh,” jawabku dengan menundukkan kepala,
aku tidak berani memandang beliau. Segan.
“Alhamdulillah. Terus bagaimana dengan kuliahmu?”
“Alhamdulillah. Judul tesis magister sudah diterima Syaikh.
Sekarang sedang mengumpulkan bahan lebih lengkap untuk menulis.”
“Alhamdulillah. Kau menulis tentang apa?”
“Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
149
“Bagus sekali. Said An-Nursi memang ulama luar biasa yang
harus dikaji kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Lantas siapa
pembimbingmu?”
“Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far.”
“Yang tinggal di dekat masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City
itu?”
“Benar Syaikh.”
“Alhamdulillah. Kau insya Allah akan mendapat bimbingan dan
kemudahan dari beliau. Beliau adalah salah seorang muridku angkatan pertama.
Beliau mengambil sanad dan ijazah qiraah sab’ah dariku. Nanti akan aku telpon
beliau agar memberikan bimbingan terbaik kepadamu. Dan agar kamu benar-benar
menjadi pembela dan penyebar agama Allah di tanah airmu kelak.” Suara Syaikh
Utsman bernada optimis dan bahagia. Diam-diam aku sangat kagum pada beliau yang
sangat memperhatikan semua muridnya. Beliau memang tidak mau mengambil murid
terlalu banyak. Tapi yang sedikit itu benar-benar beliau curahi perhatian yang
luar biasa.
“Anakku. Aku mau bertanya masalah penting padamu. Apakah kau
mau menikah?”
Pertanyaan Syaikh Utsman itu bagaikan guntur yang menyambar
gendang telingaku. Aku kaget. Hatiku bergetar hebat. Jika yang bertanya orang
semacam Rudi, Hamdi, dan Saiful aku akan menjawabnya dengan santai, bahkan aku
bisa menjawabnya dengan guyon. Tapi ini yang bertanya adalah ulama terkemuka,
gurunya para guru besar di Mesir.
“Maksud Syaikh bagaimana?”
“Apakah kau mau menikah dalam waktu dekat ini. Kalau mau,
kebetulan ada orang shalih datang kepadaku. Ia memiliki keponakan yang shalihah
yang baik agamanya dan minta dicarikan pasangan yang tepat untuk keponakannnya
itu. Aku melihat kau adalah pasangan yang tepat untuknya.”
Keringat dinginku keluar.
“Tapi aku mahasiswa miskin Syaikh, tidak punya biaya.”
“Baginda nabi dulu menikah dalam keadaan miskin. Sayyidina
Ali bin Abi Thalib juga menikah dalam keadaan miskin. Aku sendiri menikah dalam
keadaan miskin. Begini Anakku, kau pikirkanlah dengan matang. Lakukanlah shalat
istikharah. Gadis shalihah ini benar-benar shalihah, dia mencari pemuda yang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
150
shalih bukan pemuda yang kaya. Sekarang pulanglah, pikirlah
dengan matang. Jika kau mantap dengan jawabanmu siap menikah atau tidak
secepatnya datanglah kau menemuiku. Jika kau mantap, maka akan aku pertemukan
kau dengan walinya dahulu, jika tidak, maka aku akan mencarikan yang lain.”
Kata-kata Syaikh Utsman yang berwibawa itu merasuk dan mendesir hebat dalam
jiwaku.
Sampai di rumah hatiku masih terasa bergetar atas pertanyaan
sakral yang diajukan Syaikh Utsman. Jiwaku masih terasa berdesir. Apa yang
beliau tawarkan bukan sembarang tawaran. Yang beliau tawarkan adalah
sebaik-baik rizki bagi seorang pemuda. Adakah rizki lebih agung dari seorang
gadis shalihah yang jika dipandang menyejukkan jiwa bagi seorang pemuda? Aku
belum bisa mempercayai apa yang aku alami hari ini. Baru saja target dan peta
hidup dibuat, tawaran untuk menikah datang sedemikian cepat. Siap. Atau tidak.
Aku harus minta penerang dari Allah Swt.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
151
14. Badai Kegelisahan
Tiga hari berturut-turut aku shalat istikharah. Yang
terbayang adalah wajah ibu yang semakin menua. Sudah tujuh tahun lebih aku
tidak berjumpa dengannya. Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin
datang malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu,
durhakalah aku, jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu.87
Maka kuputuskan untuk minta persetujuan ibu. Ibu adalah
segalanya bagiku. Jika beliau meridhai maka aku akan melangkah maju. Jika tidak
maka aku pun tidak.
Aku telpon ke Indonesia. Ayah dan ibu tinggal jauh di desa.
Tak ada telpon di sana. Aku menelpon ke rumah Pak Zainuri, mertua paman yang
penilik sekolah dan tinggal di kota kecamatan. Rumah paman tak jauh dari
beliau. Selama ini, jika aku ingin menghubungi ayah dan ibu caranya memang
lewat Pak Zainuri dulu. Pak Zainuri akan menghubungi paman dan paman akan
menghubungi ayah ibu. Kalau aku mengirim surat pun aku lebih suka
mengalamatkannya ke rumah Pak Zainuri lebih cepat sampainya. Sebab jika
dialamatkan ke desa, suratku bisa bertapa dulu di balai desa, atau di rumah Pak
RW dalam waktu tak tentu. Masalah transportasi dan komunikasi global memang
agak susah jika hidup di desa.
Kepada paman aku jelaskan semuanya. Siapa Syaikh Utsman dan
apa yang beliau tawarkan kepada diriku. Paman adalah orang yang wawasannya
luas, ia guru SMP teladan se kabupaten. Paman banyak bertanya tentang
seandainya benar-benar menikah dengan muslimah yang bukan dari Indonesia. Aku
jelaskan, jika dia gadis yang shalihah semuanya akan mudah. Aku jelaskan pada
paman, tidak semua orang mendapatkan tawaran sedemikian terhormatnya dari
Syaikh Utsman. Di Indonesia, kalau mendapatkan tawaran untuk menikah dengan
anak seorang kiai mushalla saja dianggap suatu keberuntungan yang luar biasa.
Juga kujelaskan hasil istikharahku. Aku minta pada paman agar mengajak
musyawarah ayah dan ibu. Disamping itu aku juga minta ayah ibu juga melakukan
shalat istikharah. Apa pun hasilnya itulah keputusan yang akan aku ambil. Dua
hari lagi
87 Dari penggambungan dua petikan sajak Fatin Hamama
berjudul ‘Aku ingin ibu’ dan ‘Ibu (3)’ yang terdapat dalam kumpulan puisinya
“Papyrus”.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
152
pada jam yang sama aku akan menelpon menanyakan hasilnya.
Dan aku ingin langsung mendengar dari lisan ibu.
Dua hari kemudian. Pada waktu yang dijanjikan aku menelpon
ke tanah air. Aku mendengar suara ibu,
“Jika isterimu nanti mau diajak hidup di Indonesia, tidak
terlalu jauh dari ibu, maka menikahlah dan ibu merestui, ibu yakin akan penuh
berkah. Tapi jika tidak bisa dibawa ke Indonesia tidak usah, cari saja gadis
shalihah yang dari Indonesia!”
Air mataku meleleh mendengar keputusan ibu. Sebuah keputusan
yang sangat bijaksana. Aku memang tidak mungkin hidup dan berjuang selain di
tanah air tercinta. Hari itu juga aku menemui Syaikh Utsman dan memberitahukan
keputusanku. Beliau berpesan agar hari berikutnya datang ke tempat beliau lagi,
untuk mengetahui kabar selanjutnya. Hari berikutnya aku datang. Syaikh Utsman
menyambutku dengan senyum dan pelukan penuh kehangatan. Aku seperti seorang
cucu yang beliau sayangi.
“Semoga gadis shalihah ini menjadi rizkimu di dunia dan di
akhirat. Dia siap kau bawa berjuang di mana saja dan walinya menyetujuinya. Ini
ada dua album foto dia, kau bawalah pulang! Kau lihat-lihat. Kau istikharah
lagi. Jika kau mantap kau akan aku pertemukan dengan gadis shalihah ini dan
walinya.”
Aku pulang dengan membawa dua album foto yang kumasukkan
dalam tas cangklongku. Aku merasa seperti memikul beban satu ton. Tas cangklong
itu terasa berat sekali.
Sampai di kamar aku memegang album itu dengan tangan
gemetar, dan hati bergetar. Aku akan melihat wajah calon bidadari yang menemani
hidupku selamanya. Aku akan melihat wajah calon belahan jiwa. Tapi entah kenapa
aku tidak berani membukanya sama sekali. Dua album itu cuma aku pegang dan
tanpa kubuka sedikitpun. Aku tersentak, aku belum tahu namanya. Kenapa tidak
aku tanyakan namanya pada Syaikh Utsman? Aku ingin membukanya, siapa tahu di
dalam Album itu ada namanya. Tapi urung. Aku tidak berani. Entah kenapa. Aku
shalat istikharah, yang datang adalah ibunda tercinta. Beliau berkata singkat,
“Menikahlah ibu merestui.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
153
Hari berikutnya aku kembali menemui Syaikh Utsman dan kukatakan
kemantapanku untuk menikahi gadis itu. Syaikh Utsman berkata,
“Aku sudah menduga dan aku sangat yakin kau akan mengatakan
itu. Aku memang belum melihat gadis itu, tapi isteriku, Ummu Fathi, yang
melihat foto-foto dalam album itu memuji-muji kecantikannya. Ummu Fathi malah
bilang jika kau sampai tidak mau, maka ia memintaku agar menjodohkan dengan
cucuku yang sedang kuliah di Perancis. Aku geli sekali mendengar perkataan Ummu
Fathi. Dan kau nanti akan kaget karena tadi malam walinya bilang gadis itu
sangat mengenalmu, dan kau mungkin telah mengenalnya. Kau sudah melihatnya, kau
mengenalnya bukan?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sama sekali belum
melihat album itu dan aku sama sekali tidak tahu namanya. Aku diam saja. Gadis
itu jadi rasa penasaran dalam hati yang luar biasa. Aku telah menyatakan
kemantapanku tapi aku belum tahu siapa dia. Aku menjadi orang yang paling
penasaran di dunia. Syaikh Utsman minta kepadaku agar besok datang tepat
setelah shalat Ashar, kalau bisa shalat Ashar di Shubra. Jadwal mengaji qiraah
sab’ah diundur hari berikutnya. Besok aku akan dipertemukan dengan gadis itu
bersama walinya. Untuk saling melihat dan saling mengenal sebelum kata sepakat
untuk akad nikah diputuskan.
Malam itu, malam sepulang dari rumah Syaikh Utsman adalah
malam paling menyiksa dalam hidupku. Namun ada kesejukan yang sedemikian lembut
mengaliri relung-relung hatiku. Kesejukan itu apa aku tidak tahu namanya.
Saiful rupanya sangat memperhatikan kesibukkanku selama ini. Dia bertanya ini
itu tapi masalah diriku sedang proses ke gerbang pernikahan sama sekali tidak
aku beritahukan padanya, juga pada siapa saja. Malam itu aku tidak bisa tidur,
aku menutup kamar, dan berada di kamar seperti orang linglung. Siapa gadis itu?
Dia mengenalku dan aku mengenalnya, siapa dia? Jangan-jangan gadis itu bukan
gadis Mesir. Aku membodoh-bodohkan diriku kenapa tidak melihat dua album yang
telah berada di tanganku. Jangan-jangan dia gadis Indonesia. Walinya tahu aku
mengaji pada Syaikh Utsman dan minta agar menjodohkan keponakannya denganku.
Tapi, siapa gadis Indonesia yang kecantikannya layak dipuji oleh isteri Syaikh
Utsman dan dia memiliki wali di sini?
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
154
Seingatku mahasiswi Indonesia yang disertai kerabatnya hanya
ada tiga orang. Raihana disertai kakak kandungnya. Fauzia disertai adiknya. Dan
Nurul, ia disertai pamannya, tapi paman jauh. Tiba-tiba hatiku berdesir,
jantungku mau copot. Yang paling cantik memang Nurul. Tapi aku merasa itu tidak
akan terjadi. Tidak mungkin. Dia adalah puteri seorang kiai besar, pengasuh
pesantren besar di Jawa Timur. Dan seorang kiai biasanya telah memilih besan
sejak anaknya masih belum bisa berjalan. Tapi kenapa Ustadz Jalal memintaku
datang? Aku semakin didera badai kegelisahan yang dahsyat. Aku mengumpat diriku
sendiri. Seandainya aku melihat foto dalam album aku tidak akan dirajam
penasaran yang menggila ini. Aku berusaha mengurangi rasa gelisah dan penasaran
dengan bersujud dan menangis kepada Tuhan. Dalam sujud aku berdoa sebagaimana
doa nabi hamba pilihan Allah dalam Al-Qur’an,
“Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata
a’yun wal’alna lil muttaqiina imaama! Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada
kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa!”88
88 Surat Al-Furqaan: 74 AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
155
15. Pertemuan
Aku sampai di masjid Abu Bakar Shiddiq tepat saat azan Ashar
berkumandang. Seluruh tubuhku bergetar tidak seperti biasanya. Keringat
dinginku keluar. Aku tidak tahu shalatku kali ini khusyuk apa tidak. Yang jelas
mataku basah. Dalam sujud aku menangis memohon kepada Allah agar diberi umur
yang penuh berkah, pertemuan dengan calon belahan jiwa yang penuh berkah, akad
nikah yang penuh berkah, malam zafaf yang penuh berkah, dan masa depan yang
penuh berkah. Selesai shalat aku masih duduk menitikkan air mata. Aku
meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Sebentar lagi aku akan
bertemu dengan dia. Dia yang aku belum tahu namanya dan belum tahu wajahnya
seperti apa. Dia yang telah lama kurindu. Aku minta kekuatan kepada Allah.
Syaikh Utsman menyentuh pundakku beliau tersenyum. Beliau
mengajakku ikut serta dalam mobil beliau. Dari masjid Abu Bakar sampai ke rumah
beliau memang agak jauh. Syaikh Utsman memiliki seorang sopir bernama Faruq.
Selama dalam perjalanan Syaikh Utsman bercerita masa mudanya dulu. Beliau dan
Ummu Fathi asalnya juga tidak saling kenal. Bertemu dalam majlis khitbah. Dan
cinta itu hadir begitu saja setelah akad nikah, begitu kuatnya.
“Anakku, kau pasti panas dingin sekarang. Iya ‘kan? Aku dulu
juga merasakan hal yang sama. Dalam perjalanan bersama keluarga ke rumah Ummu
Fathi, untuk bertemu pertama kalinya sekaligus khitbah hatiku berdesir,
jantungku berdegup, keringat dingin keluar. Tapi itulah saat-saat yang tak
terlupakan. Dan ketika kami bertemu. Ummu Fathi keluar mengeluarkan minuman
dengan tangan bergetar. Mata kami sekilas bertemu dan hati diliputi rasa malu
yang luar biasa. Itu adalah kenikmatan luar biasa. Kenikmatan istimewa yang
jarang dirasakan anak muda sekarang, kecuali yang benar-benar menjaga diri dan
menjaga hubungan lelaki perempuan dalam adab-adab syar’i. Kulihat mukamu pias,
kau pasti sedang panas dingin. Anakku, tunggulah nanti sebentar lagi ketika kau
sudah duduk di ruang tamu dan gadis itu masuk bersama walinya kau akan
merasakan panas dingin yang luar biasa. Panas dingin yang belum pernah kau
rasakan. Apalagi kala kau dan dia nanti sesekali mencuri pandang. Suasana
hatimu tidak akan bisa kau lupakan seumur hidupmu. Inilah keindahan Islam.
Dalam Islam
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
156
hubungan lelaki perempuan disucikan sesuci-sucinya namun
tanpa mengurangi keindahan romantisnya.” Kata-kata Syaikh Utsman menambah
tubuhku semakin dingin. Syaikh Utsman seperti masih muda. Beliau juga
menasihatiku agar majelis pertemuan nanti benar-benar dimanfaatkan
sebaik-baiknya untuk mengenalkan diri dan mengenal gadis itu. Syaikh Utsman dan
wali gadis itu hanya akan menjadi pembawa acara.
* * *
Memasuki ruang tamu Syaikh Utsman kakiku seperti lumpuh. Aku
hampir tidak bisa mengangkat kakiku. Tubuhku gemetar. Ruang tamu yang penuh
dengan kitab-kitab klasik ini akan menjadi saksi penting dalam sejarah hidupku.
Syaikh Utsman mempersilakan aku duduk di sofa busa yang menghadap ke barat. Di
sebelah selatan ada sofa panjang menghadap utara untuk dua orang. Di sebelah
barat ada sofa menghadap ke timur untuk satu orang. Di sebelah utara ada dua
sofa menghadap ke selatan. Pintu ada dekat tempat aku duduk.
Ummu Fathi keluar membawa nampan berisi dua gelas air putih.
Untuk kami berdua. “Anakku, ayo diminum dulu. Kau tampaknya kehausan,” ucap
Syaikh Fathi. Aku meneguk sedikit. “Lima menit lagi, mereka insya Allah
datang!” sambung beliau. Jantungku berdegup kencang. Panas dingin tubuhku
semakin kuat terasa. Aku banyak beristighfar di dalam hati untuk menenangkan
diri.
Bel berbunyi.
“Itu mereka datang. Kau tetaplah duduk di tempatmu!” kata
Syaikh Fathi. Aku tidak bisa lagi menangkap nuansa yang menyergap hatiku.
Berbagaimacam perasaan bercampur menjadi satu; penasaran, rindu, malu, gugup,
takut, cemas, tidak percaya diri, optimis, senang, dan bahagia. Ummu Fathi
mengambil dua gelas berisi air putih itu. Sementara Syaikh Fathi beranjang
membukakan pintu.
Suara pintu di buka. Aku sama sekali tidak berani memandang
ke arah pintu yang hanya dua meter di sampingku.
“Assalamu’aikum!” Hatiku berdesir keras. Suara lelaki. Bukan
suara orang Indonesia, tapi suara itu memang sangat khas dan aku sangat
mengenalnya. Aku masih menunduk.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
157
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah. Ahlan wa sahlan. Ayo
masuk! Fahri, berdirilah sambutlah calon pamanmu!” Suara Syaikh Utsman
membuatku tergagap. Aku berdiri. Dan….
Subhanallah!
Lelaki yang berdiri di hadapanku adalah Eqbal Hakan Erbakan.
Dia tersenyum padaku. Hatiku terasa dingin sekali. Aku berusaha tersenyum. Aku
tak tahu seperti apa raut mukaku. Aku sungguh-sungguh terkejut. Kami
berangkulan erat sekali. “Kaif halak ya ‘aris!” Eqbal membisikkan kata sapaan
padaku, yang dalam kata sapaan ada kata-kata yang menggoda. Dia sudah
memanggilku ‘ya ‘aris’, wahai pengantin pria.
“Alhamdulillah,” lirihku.
Di belakang Eqbal ada dua perempuan bercadar dan dua anak
kecil yang lucu. Aku kenal dengan dua anak kecil itu. Amena dan Hasan. Amena
membawa boneka panda. Aku jadi teringat itu boneka yang kutitipkan lewat Aisha.
Dan Hasan membawa pistol air mainan. Dua perempuan bercadar itu menatapku
sekilas, lalu beranjak menyalami Ummu Fathi. Mereka berpelukan bergantian.
Eqbal menarik tangan Amena dan Hasan agar bersalaman denganku. Aku berjongkok.
Melihat Amena dan Hasan yang lucu rasa grogiku sedikit berkurang. Aku cium
kening Amena yang baru berumur lima tahun itu juga kening Hasan yang baru tiga
tahun. Eqbal minta pada Amena untuk berterima kasih padaku atas hadiahnya.
“Syuklon alal hadieh el jamileh, Am…amu Andonesy.”89 Lirih
Amena terbata-bata dengan suara agak cedal. Kontan Syaikh Utsman tertawa. Aku
tersenyum saja.
Ummu Fathi, isteri Syaikh Utsman mempersilakan yang bernama
Aisha agar duduk di sofa yang menghadap ke timur. Dan mempersilakan isteri
Eqbal duduk di dekat Aisha, sofa yang menghadap ke selatan. Beliau sendiri
duduk tepat di depannya. Syaikh Utsman duduk di sampingnya, dekat denganku. Dan
Eqbal duduk berhadapan dengan Syaikh Utsman, juga berdekatan denganku. Si kecil
Amena duduk di pangkuan ibunya. Dan si kecil Hasan berdiri di depan ayahnya.
89 Terima kasih atas hadiahnya yang cantik, Paman dari
Indonesia.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
158
Pembicaraan di mulai. Jantungku mulai berdegup kencang.
Tubuhku panas dingin. Kini aku tahu gadis itu adalah Aisha. Keponakan Eqbal
Hakan Erbakan. Syaikh Utsman benar, Aisha telah mengenalku dan aku telah
mengenalnya. Perkenalan yang begitu singkat. Aisha mungkin tahu banyak tentang
diriku. Ia mungkin telah mendapat banyak info dari Eqbal. Sebab selama
bersahabat dengan Eqbal dan selama i’tikaf di masjid Helmeya Zaitun kami sudah
seperti keluarga sendiri. Eqbal banyak cerita tentang dirinya dan keluarganya.
Masa kecilnya. Bagaimana bisa ke Mesir. Bagaimana bisa menikah dengan Sarah
yang kini jadi isterinya. Sarah yang dari keluarga konglomerat Turki namun
sangat kuat penghayatannya atas Islam. Aku pun telah cerita banyak pada Eqbal.
Tentang keluargaku yang miskin. Tentang bagaimana diriku datang ke Mesir dengan
menjual sawah warisan kakek. Harta satu-satunya yang dimiliki keluarga. Tentang
awal-awal di Mesir yang penuh derita. Tak ada beasiswa. Tak ada pemasukan.
Kerja membantu Bang Aziz mendistribusikan tempe ke rumah-rumah mahasiswa dari
Indonesia dan Malaysia. Jualan beras dengan cara mengambil beras dari pelosok
Mesir seperti Zaqaziq dan menjual ke teman-teman mahasiswa. Dan lain
sebagainya. Aisha mungkin telah tahu banyak tentang diriku, tapi aku apa yang
aku ketahui tentang dirinya. Melihat mukanya saja belum.
Sarah, isteri Eqbal berbicara dengan Ummu Fathi. Sesekali
Syaikh Fathi dan Eqbal menimpali. Sarah menceritakan siapa Aisha ini.
Aku memandang ke arah Aisha, pada saat yang sama dua matanya
yang bening di balik cadarnya juga sedang memandang ke arahku. Pandangan kami
bertemu. Dan ces! Ada setetes embun dingin menetes di hatiku. Kurasakan tubuhku
bergetar. Aku cepat-cepat menundukkan kepala. Dia kelihatannya melakukan hal
yang sama. Kukira Aisha tidak setegang diriku, sebab dia merasa lebih santai.
Wajahnya tersembunyi di balik cadarnya. Sementara diriku, aku tidak tahu
seperti apa bentuk mukaku. Aku harus mencari cara untuk menghilangkan
ketegangan ini. Si kecil Hasan memandangi aku. Aku tersenyum padanya. Kutarik
dia ke pangkuanku. Dia menurut.
Dengan adanya Hasan di pangkuanku aku jadi merasa lebih
nyaman. Aku bisa membelai-belai rambutnya. Hasan anak yang penurut.
Kelihatannya ia benar-benar masih ingat padaku. Sesekali ia berceloteh dan aku
menanggapi lirih sambil AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
159
mencium kepalanya gemas. Dan di balik cadar, mata bening
Aisha memperhatikan apa yang aku lakukan.
“Ini adalah majelis ta’aruf90 untuk dua orang yang sedang
berniat untuk melangsungkan pernikahan. Menurut ajaran nabi, seorang pemuda
boleh melihat wajah perempuan yang hendak dinikahinya. Untuk melihat daya tarik
dan untuk menyejukkan hati. Maka lebih baiknya Anakku Aisha membuka cadarnya.
Meskipun Fahri sudah melihat wajahmu lewat album foto. Tetapi dia harus melihat
yang asli sebelum melangsungkan akad nikah. Bukankah begitu Ummu Amena?”
Kata-kata Ummu Fathi ini membuat jantungku berdesir. Sebentar lagi Aisha akan
menanggalkan cadarnya, dan aku..masya Allah..aku akan melihat wajah calon
isteriku.
Aku memandang Aisha. Dia memandangku lalu menunduk.
Kelihatannya dia sangat malu dan salah tingkah.
“Aisha, bukalah cadarmu! Calon suamimu berhak melihat wajah
aslimu,” desak Sarah, bibinya.
Sambil mendekap Hasan aku menyaksikan tangan kanan Aisha
perlahan-lahan membuka cadarnya. Ada hawa sejuk mengalir dari atas. Masuk ke
ubun-ubun kepalaku dan menyebar ke seluruh syaraf tubuhku. Wajah Aisha perlahan
terbuka. Dan wajah putih bersih menunduk tepat di depanku. Subhanallah. Yang
ada di depanku ini seorang bidadari ataukah manusia biasa. Mahasuci Allah, Yang
menciptakan wajah seindah itu. Jika seluruh pemahat paling hebat diseluruh
dunia bersatu untuk mengukir wajah seindah itu tak akan mampu. Pelukis paling
hebat pun tak akan bisa menciptakan lukisan dari imajinasinya seindah wajah
Aisha. Keindahan wajah Aisha adalah karya seni mahaagung dari Dia Yang Maha
Kuasa. Aku benar-benar merasakan saat-saat yang istimewa. Saat-saat untuk
pertama kali melihat wajah Aisha.
“Bagaimana apakah kalian sudah benar-benar siap membangun
rumah tangga berdua?” Pertanyaan Syaikh Fathi membuat diriku mendongakkan
kepala. Aisha juga melakukan hal yang sama. Pandangan kami bertemu. Dan ces!
Hatiku seperti ditetesi embun dingin dari langit. Entah hati Aisha. Lalu kami kembali
menundukkan kepala. Aku diam tidak menjawab.
90 Perkenalan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
160
“Akh Fahri, bagaimana, kau siap menerima Aisha sebagai
isterimu?” tanya Eqbal dengan suara tegas. Aku malah meneteskan air mata.
“Akh Eqbal, semestinya bukan aku yang kau tanya. Tanyalah
Aisha, apakah dia siap memiliki seorang suami seperti aku? Kau tentu sudah tahu
siapa aku. Aku ini mahasiswa yang miskin. Anak seorang petani miskin di kampung
pelosok Indonesia,” jawabku terbata-bata sambil terisak. “Apakah aku kufu
dengannya? Aku merasa tidak pantas bersanding dengan keponakanmu itu. Aku tidak
ingin dia kecewa di belakang hari,” lanjutku.
“Baiklah, biar Aisha sendiri yang menjawabnya. Bicaralah
Aisha, jangan malu,” ujar Eqbal.
Aku mencuri pandang melihat Aisha. Ia menundukkan kepalanya.
Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak.
“Baiklah, aku akan bicara dari hatiku yang terdalam. Fahri,
dengan disaksikan semua yang hadir di sini, kukatakan aku siap menjadi
pendamping hidupmu. Aku sudah mengetahui banyak hal tentang dirimu. Dari Paman
Eqbal, dari Nurul dan orang-orang satu rumahnya. Dari Ustadzah Maemuna isteri
Ustadz Jalal. Dari Ruqoyya, isteri Aziz. Aku tidak akan sangat berbahagia
menjadi isterimu. Dan memang akulah yang meminta Paman Eqbal untuk mengatur
bagaimana aku bisa menikah denganmu. Akulah yang minta.” Aisha menjawab dengan
bahasa Arab fusha yang terkadang masih ada sususan tata bahasa yang keliru
namun tidak mengurangi pemahaman orang yang mendengarnya. Suaranya terasa lembut
dan indah, lebih lembut dari suaranya saat berkenalan di Metro dan beberapa
kali bertemu, di Tahrir dan di National Library. Aku tidak tahu kenapa. Apakah
karena aku kini telah jatuh cinta padanya? Jatuh cinta untuk yang pertama
kalinya. Dan semoga juga yang terakhir kalinya.
“Bagaimana Fahri, Kau sudah mendengar sendiri dari Aisha,
sekarang kau bagaimana?” ujar Eqbal sambil memandang ke arahku. Semua mata
tertuju ke arahku, kecuali mata si kecil Amena dan Hasan. Aku memberanikan diri
untuk menatap wajah Aisha, agak sedikit lama. Aisha memandangku, ia menanti
jawabanku. Aku merasa tak mampu menahan air mata yang meleleh.
“Jika Aisha sedemikian mantapnya dan percaya padaku, maka,
bismillah, aku pun mantap menerima Aisha untuk jadi isteriku, pendamping hidupku
dan ibu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
161
dari anak-anakku, aku akan sepenuh hati percaya padanya,”
kataku dengan suara parau bergetar, dengan mata tetap menatap Aisha. Aku
melihat mata Aisha berkaca-kaca. Suasana hening dan haru menyelimuti ruangan
itu.
“Aku jadi teringat lima puluh tahun yang lalu, saat
mengkhitbah Ummu Fathi, suasananya tak jauh berbeda. Penuh dengan perasaan
cinta dan nuansa indah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.” Suara Syaikh
Utsman memecahkan keheningan dan keharuan. Syaikh Utsman lalu bercerita tentang
hari-hari pertamanya membangun rumah tangga. Banyak hal lucu penuh hikmah yang
beliau kisahkan. Terkadang Ummu Fathi yang juga sudah tua menyela. Suasana jadi
lebih hidup.
Pembicaraan terus berlanjut ke masalah kami berdua, masalah
diriku dan masalah Aisha. Syaikh Utsman mampu menggiring kami untuk membuka
diri. Aku berterus terang tentang sakitku sebulan yang lalu. Aisha membuka
dirinya pernah sakit Asma. Aku ungkapkan kembali persyaratan ibuku, bahwa
isteriku mau tidak mau harus hidup dan berjuang di Indonesia.
“Diriku sudah aku wakafkan di jalan Allah. Aku siap hidup
dan berjuang di mana saja mendampingi perjuangan suamiku tercinta.” Tegas Aisha
tanpa ragu sedikitpun.
Kami lalu berbicara tentang harapan masing-masing. Cita-cita
dan idealisme masing-masing. Aku merasa apa yang diharapkan dan dicita-citakan
Aisha tidak ada yang berseberangan jauh dengan apa yang aku harapkan dan aku
cita-citakan. Dia ingin suami yang sepenuh hati mencintainya, menjadikan
dirinya satu-satunya isterinya, setia dalam suka dan duka, perhatian pada
keluarga, dan tidak melalaikan tugas berjuang di jalan Allah. Itu adalah juga
yang aku inginkan dari isteriku. Aku ingin isteri yang shalihah, setia dan
tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.
Setelah pembicaraan berlangsung lama, rasa canggung tidak
lagi penghalang untuk mengungkapkan segala yang ingin diungkapkan. Aku bahkan
tanpa perlu malu, dan dengan penuh keterus-terangan membuka kemampuanku mencari
nafkah saat ini. Andalanku adalah terjemahan. Dan karena sedang konsentrasi
penulisan tesis, aku tidak bisa menerjemah sebanyak yang kemarin.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
162
Aku jelaskan nominal yang kira-kira masuk tiap bulan. Itu
pun terkadang terlambat pembayarannya. Juga uang yang aku punya saat ini.
Aisha menjawab dengan tenang,
“Alhamdulillah aku sudah mempelajari sifat perempuan Jawa.
Aku sangat kagum pada mereka. Mereka adalah perempuan yang sangat setia, dan
peduli pada keluarga. Di Jawa seorang isteri terlibat sepenuhnya dalam masalah
keluarga. Isteri ikut memikirkan bagaimana dapur mengepul. Perempuan Jawa bisa
hidup sederhana. Seperti Fatimah Zahra puteri Rasulullah bisa hidup sangat
sederhana, yang mengambil air dan membuat roti sendiri. Padahal dia puteri
seorang nabi agung. Aku siap untuk hidup seperti Fatimah Zahra. Aku sudah
meneliti mahasiswa Indonesia, khususnya dari Jawa yang berkeluarga di Cairo.
Mereka hidup sangat sederhana. Mengatur uang yang ada sebaik-baiknya. Saling
melengkapi. Aku siap hidup seperti mereka. Menurut Ruqoyya isteri seorang
mahasiswa bernama Aziz yang berjualan tempe. Dengan uang 150 dollar ia sudah
bisa hidup normal meskipun sangat sederhana dengan menyewa rumah yang
sederhana. Aku bahkan siap untuk hidup lebih buruk dari itu. Aku siap dalam
suka maupun duka.”
Aku mantap dengan apa dengar dari Aisha. Semoga apa yang ia
katakan adalah apa yang keluar dari hatinya. Kata-kata adalah cermin jiwa.
Lalu aku mengutarakan masalah cadar yang dipakai Aisha.
Bukan aku tidak setuju atau menentangnya. Tapi untuk fiqh dakwah di Indonesia
lebih hikmah tidak pakai cadar. Aku jelaskan kondisi masyarakat di desaku dan
sekitarnya. Perempuan bercadar akan dianggap sangat aneh dan mencurigakan.
“Jangan kuatir. Aisha dan Sarah isteriku adalah
muslimah-muslimah moderat. Itu tidak akan menjadi masalah. Sarah sendiri kalau
pulang ke Turki tidak memakai cadar. Menurut mayoritas Ulama, menutup wajah
bagi perempuan tidak wajib. Yang wajib adalah menutup seluruh aurat kecuali
telapak tangan dan wajah,” jelas Eqbal.
“Ya. Paman Eqbal benar,” sahut Aisha.
Setelah segala yang bersifat pribadi dirasa cukup, dan kami
merasa benar-benar akan bisa menjadi pasangan hidup yang serasi, bisa saling
mengisi dan melengkapi, pembicaraan berlanjut ke masalah akad nikah dan pesta
walimatul AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
163
‘ursy. Aisha ingin akad dan pesta dilaksanakan secepatnya.
Setelah dikalkulasi dan timbang paling cepat akad dilaksanakan satu minggu lagi
dan pestanya dua hari setelahnya. Akhirnya ditetapkan akad nikah akan
dilaksanakan Jum’at depan, tanggal 27 Sepetember, di masjid Abu Bakar Shiddiq
setelah shalat Ashar. Karena nantinya Aisha akan tinggal di Indonesia, maka aku
harus mengurusi segalanya yang berkaitan dengan dokumen pernikahan yang diakui
di Indonesia. Aku jelaskan itu mudah. Eqbal akan melengkapi semua dokumen Aisha
yang diperlukan untuk Kedutaan Besar Republik Indonesia. Aisha bilang ia juga
akan mencatatkan pernikahannya ke kedutaan Jerman.
Aisha meminta agar uang yang aku miliki saat ini disiapkan
untuk mahar dan pengurusan surat nikah KBRI. Adapun biaya yang lainnya biar
paman Eqbal yang mengurusi. Tempat pesta walimatul ursy juga ditetapkan saat
itu juga. Yaitu di Darul Munasabat91 masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Itu
adalah tempat yang paling cocok. Letaknya strategis. Dekat dengan tempat
tinggal umumnya mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Turki. Jumlah orang indonesia
yang akan diundang sekalian di tentukan. Tentunya undangan terbatas. Karena di
pihak Aisha juga mengundang orang Turki. Undangan disesuaikan dengan kapasitas
tempat duduk. Jenis hidangan yang disajikan juga ditetapkan. Tidak terlalu
mewah tapi juga tidak terlalu sederhana. Yang dicari adalah barakahnya.
Malam zafaf juga ditentukan. Tidak setelah akad, tapi
setelah walimah. Tempatnya di mana, Aisha dan Sarah yang akan merancangnya. Aku
diminta tinggal menerima jadi saja. Sebab suasana kamar pengantin akan dibuat
suasana Turki. Sarah adalah seorang da’iyah di kalangan mahasiswi Turki,
karenanya aku yakin meskipun di tata ala Turki tapi tidak akan menyimpang dari
sunnah nabi.
Saat itu juga Eqbal mengukur tubuhku untuk mencari pakaian
pengantin yang akan dipakai saat walimah nanti. Sesuai keinginan Aisha,
rencananya kami berdua akan memakai busana pengantin muslim Turki. Hal-hal
seperti itu bagiku tidak ada masalah. Semua panitia akan ditangani oleh
teman-teman dari Turki. Eqbal hanya minta bantuan beberapa orang untuk
penyambut tamu dan penyaji hidangan.
91 Auditorium, balai pertemuan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
164
Perbincangan selesai tepat saat azan maghrib berkumandang.
Sore itu sejarah baru hidupku telah dirancang dengan matang. Aisha sempat
tersenyum padaku sebelum ia dan keluarganya meninggalkan ruang tamu Syaikh
Utsman. Aku tidak bisa mengungkapkan rasa cintaku yang membuncah memenuhi
segenap ruang hatiku. Aku melangkahkan kaki dengan perasaan bahagia tiada
terkira, meskipun aku tidak mengingkari ada sedikit rasa cemas. Cemas yang terlahir
dari kekurangpercayaan pada apa yang aku alami. Yang aku alami tadi sungguhkah
kejadian nyata ataukah sekadar mimpi belaka? Terkadang orang yang terlalu
bahagia melihat apa yang dialaminya seperti mimpi. Terkadang waktu berjalan
sedemikian cepatnya tanpa memberi kita kesempatan untuk berpikir sebenarnya apa
yang sedang terjadi pada diri kita sendiri.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
165
16. Cobaan
Teladan orang-orang yang bercinta adalah Baginda Nabi. Cinta
sejati adalah cintanya sepasang pengantin yang telah diridhai Tuhan dan
didoakan seratus ribu malaikat penghuni langit. Tak ada perpaduan kasih lebih
indah dari pernikahan, demikian sabda baginda Nabi.
Setelah melihat Aisha yang tiada lain adalah calon
bidadariku, belahan jiwa yang akan mendampingi hidupku, tak bisa kupungkiri aku
didera rasa cinta yang membuncah-buncah. Inilah cintaku yang pertama, dan Aisha
adalah gadis pertama yang menyentuh hatiku dan menjajahnya.
Waktu di Aliyah dulu, aku pernah naksir pada seorang gadis
tapi tak pernah sampai menyentuh hati. Tak pernah sampai merindu dendam. Aku
bahkan tak punya keberanian untuk sekadar menyapanya atau mengingat namanya.
Diriku yang saat itu hanya berstatus sebagai khadim romo kiai, batur para
santri, tak berani sekadar mendongakkan kepala kepada seorang santriwati.
Juga selama di Kairo, sampai Aisha membuka cadarnya di rumah
Syaikh Utsman. Kuakui ada satu nama yang membuatku selalu bergetar bila
mendengarnya, namun tak lebih dari itu. Aku merasa sebagai seekor punguk dan
seluruh mahasiswi Indonesia di Kairo adalah bulan. Aku tidak pernah berusaha
merindukannya. Dan tak akan pernah kuizinkan diriku merindukannya. Karena aku
merasa itu sia-sia. Aku tak mau melakukan hal yang sia-sia dan membuang tenaga.
Aku lebih memilih mencurah seluruh rindu dendam, haru biru
rindu dan deru cintaku untuk belajar dan menggandrungi Al-Qur’an. Telah
kusumpahkan dalam diriku, aku tak akan mengulurkan tangan kepada seorang gadis
kecuali gadis itu yang menarik tanganku. Aku juga tak akan membukakan hatiku
untuk mencintai seorang gadis kecuali gadis itu yang membukanya. Bukan suatu
keangkuhan tapi karena rasa rendah diriku yang selalu menggelayut di kepala.
Aku selalu ingat aku ini siapa? Anak petani kere. Anak penjual tape. Aku ini
siapa?
aku adalah lumpur hitam
yang mendebu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
166
menempel di sepatu dan sandal
hinggap di atas aspal
terguyur hujan
terpelanting
masuk comberan
siapa sudi memandang
atau mengulurkan tangan?
tanpa uluran tangan Tuhan
aku adalah lumpur hitam
yang malang
Tuhan telah mengucapkan kun! Lumpur hitam pun dijelma
menjadi makhluk yang dianugerahi kenikmatan cinta yang membuncah-buncah dan
rindu yang berdebam-debam. Seorang bidadari bermata bening telah disiapkan
untuknya. Fa bi ayyi alaai Rabbikuma tukadziban! Maka nikmat Tuhan kamu yang
manakah yang kamu dustakan.
Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari
yang baik-baik lagi cantik-cantik.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.
Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam
rumah.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.92
Belum juga masuk surga, Tuhan telah begitu pemurah
memperlihatkan seorang bidadari yang baik dan cantik, bidadari yang putih
bersih bernama Aisha. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakan yang kamu dustakan?
Maka tiada henti menangis kepada Tuhan, merasa terlalu agung
anugerah yang dilimpahkan oleh-Nya kepadaku yang lumpur hitam. Mengiba-iba
kepadaNya kiranya anugerah ini bukan bentuk istidraj, bukan bentuk nikmat yang
sejatinya azab. Dalam sujud tangis di keheningan malam kuisakkan seribu doa
dari ratapan jiwa. Doa Adam, doa Ibrahim, doa Ayyub, doa Ya’qub, doa Daud, doa
Sulaiman, doa Zakariya, doa Muhammad, doa seribu nabi, doa seribu wali,
92 Surat Ar-Rahman: 70-73. AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
167
dan doa seribu sufi yang telah mereguk cinta hakiki dan
melahirkan sejuta generasi rabbani.
* * *
Dua hari menjelang hari H, barulah teman-teman satu rumah
aku beritahu. Semua urusan di KBRI sudah selesai. Mahar telah aku beli; seuntai
kalung, sebuah cincin dan mushaf mahar. Aku juga telah membeli satu stel jas
yang pantas. Aku meminta kepada teman-teman untuk mengundang teman-teman
terdekat. Tak lebih dari empat puluh orang. Mohon kesediaan datang di acara
akad nikah Jum’at depan, di masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Shubra El-Khaima.
Seperti biasa Rudi nyeletuk, “Nurul dkk. diundang nggak
Mas?”
“Untuk akadnya tidak usah. Tapi walimahnya ya,” jawabku
dengan tegas. Sebagai kabar gembira kuberitahukan pada teman-teman bahwa Bapak
Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) secara khusus telah kuminta untuk
menjadi saksi, dan beliau telah menyatakan kesediaannya. Aku juga minta pada
teman-teman untuk mengundang dua ratus orang. Seratus lima puluh putera dan
lima puluh puteri untuk datang di acara walimatul ‘ursy. Teman-teman satu rumah
sepertinya masih tidak percaya pada apa yang aku kabarkan. Namun mereka mau tidak
mau harus percaya sebab aku tidak pernah main-main untuk urusan serius.
Aku datangi rumah Tuan Boutros. Kosong.
Saiful bilang, saat aku dua hari tidak di rumah, Tuan
Boutros sekeluarga pergi rekreasi ke Pantai Hurgada. Dua hari yang lalu aku
memang sibuk di Nasr City membantu teman-teman Turki mempersiapkan segalanya.
Aku merasa tidak lengkap jika sampai pesta walimatul ursy nanti keluarga Tuan
Boutros tidak menyaksikan. Mereka adalah orang terdekat selama tiga tahun ini.
Aku mencoba menghubungi nomor handphone Maria. Jawabannya, nomor yang anda
hubungi sedang berada di luar area! Sedih! Aku minta pada Rudi agar terus
mencoba menghubungi Maria, memberitahukan acara paling bersejarah dalam hidupku
ini pada keluarganya. Mohon mereka bisa datang pada saat pesta walimah.
Yang aku belum bisa mengerti adalah di manakah nanti aku
setelah menikah? Aku telah berusaha menyewa rumah di Hayyu Tsamin tapi Eqbal
tidak mengizinkannya. Katanya rumahnya telah disiapkan oleh Aisha. Aku ingin
tahu rumahnya di mana dan sewanya perbulan berapa, tapi dia juga tidak mau
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
168
memberitahukannya, katanya biar surprise sesuai permintaan
Aisha. Yang jelas, kata dia, rumah itu memang sangat layak untuk tinggal memadu
kasih bersama Aisha. Aku pasrah saja, aku tidak meragukan ketulusan mereka.
Satu hari menjelang akad nikah Eqbal dan dua orang Turki
datang dengan membawa mobil pick up. Dia bilang akan mengangkut barang-barangku
untuk di tata di rumah baru. Aisha yang memintanya. Komputer, beberapa stel
pakaian, dan puluhan jilid buku dan kitab penting diangkut. Aku tidak boleh
ikut.
“Insya Allah, semuanya akan beres dan aman. Saat ini kau
adalah raja yang tidak boleh susah. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk
kalian berdua. Dan jangan lupa selesai shalat Jum’at kau langsung ke rumahku di
Maadi. Kita akan berangkat ke Shubra bersama,” kata Eqbal yang sebentar lagi
harus kupanggil paman.
Ketika melihat kamarku yang berubah dan kehilangan banyak
isinya aku menitikkan air mata. Waktu terus berjalan. Manusia tidak bisa
menentang perubahan. Tak lama lagi aku akan meninggalkan kamar tercinta ini.
Aku akan meninggalkan teman-teman dan membuka lembaran hidup baru bersama
seorang isteri bernama Aisha.
berjalan di titian kodrat
(apa yang harus kita katakan)
jika berharap Dia menentukan93
* * *
Ketika fajar Jum’at merekah di ufuk timur, aku berkata dalam
hati, “Inilah hariku.” Tiada sabar rasanya menunggu ashar tiba. Matahari
seperti diganduli malaikat. Hari terasa berat. Waktu sepertinya berjalan begitu
lambat.
Usai shalat shubuh teman-teman telah bersiap. Mereka kubagi
tugas. Rudi shalat Jum’at di Masjid Indonesia menjadi petunjuk jalan bagi Pak
Atdikbud. Mishbah ke Wisma Nusantara menjadi petunjuk jalan bagi bus yang
disediakan untuk teman-teman undangan. Jarak Nasr City-Shubra tidak dekat.
Sedangkan Hamdi dan Saiful nanti begitu selesai shalat Jum’at langsung ke
Shubra. Aku sendiri usai shalat Jum’at langsung ke rumah Eqbal Hakan Erbakan.
93 Dipetik dari sajak berjudul ‘Tuhan dan Titahnya’ karya
Fatin Hamama.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
169
Pukul delapan tepat telpon berdering, kukira dari Eqbal.
Ternyata tidak. Dari Ustadz Jalal. Katanya beliau dan isterinya telah sampai di
mahattah metro Hadayek Helwan. Beliau datang untuk membicarakan masalah yang
dulu pernah beliau pesankan melalui Nurul. Kuminta Saiful untuk menjemput
Ustadz Jalal. Aku jadi merasa tidak enak tidak mengundang beliau secara
langsung untuk menghadiri akad nikah. Kutanyakan pada teman-teman apakah
undangan walimah untuk beliau sudah sampai. Tidak tahu, mungkin belum, sebab
undangan itu dititipkan pada Mas Khalid. Dan rencananya Mas Khalid akan
menyampaikannya usai shalat Jum’at nanti. Meskipun terkesan sangat mepet dan
mendadak terpaksa nanti Ustadz Jalal akan kumohon untuk datang ke acara akad
nikah.
Ustadz Jalal dan ustadzah Maemuna, isterinya, sampai dengan
wajah cerah. Mereka datang cuma berdua, tidak membawa ketiga anak mereka.
“Mana keponakan-keponakanku Ustadz? Kenapa tidak dibawa
serta?” tanyaku basa-basi.
Hamdi datang dengan nampan berisi tiga gelas teh Arousa
panas dan satu piring roti bolu. Entah dapat bolu dari mana anak itu.
“Sekali-kali kami ingin bepergian berdua tanpa diganggu
anak-anak. Biar bisa sedikit mesra. Pagi ini kami benar-benar menikmati
perjalanan dengan metro. Dari Ramsis sampai Hadayek Helwan sepi, hawanya juga
sejuk,” jawab Ustadz Jalal.
“Mereka ditinggal sendirian di rumah?” heranku.
“Tidak. Kebetulan Nurul dan teman-temannya usai shalat
shubuh tadi datang ke rumah. Jadi mereka yang menjaga,” sahut Ustadzah Maemuna.
“O begitu, syukurlah. Ngomong-ngomong Ustadz dan Ustadzah
menyempatkan untuk berkunjung kemari ada yang bisa saya bantu?” ucapku.
Ustadz Jalal memberi tahu ada masalah sangat penting dan
rahasia yang ingin beliau bicarakan denganku. Beliau minta tempat yang aman.
Kubawa beliau dan Ustadzah Maemuna ke dalam kamarku yang berantakan. Pintu
kututup rapat.
“Kok berantakan begini. Komputermu dan kitab-kitabmu tidak
ada. Mau pindahan nih, atau malah sedang pindahan?” komentar Ustadz Jalal.
“Nanti setelah masalah Ustadz selesai akan aku ceritakan,
insya Allah. Silakan Ustadz bicara,” jawabku.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
170
“Kami berdua datang kemari memohon bantuanmu menyelesaikan
suatu masalah serius. Tidak masalah kami sebenarnya, tapi masalah seseorang
yang dekat dengan kami. Dan yang paling tepat untuk kami minta pertolongan
adalah engkau, Fahri. Kami sangat berharap engkau bisa membantu,” kata Ustadz
Jalal.
“Kau saya diberi kemampuan untuk itu. Insya Allah. Masalah
apa itu Ustadz?”
“Ini masalah serius yang mengancam jiwa Nurul?”
Mendengar hal itu pikiranku langsung tertuju pada buntut
peristiwa Noura bersembunyi di rumah Nurul. Jangan-jangan Si Muka Dingin
Bahadur tahu itu dan memperkarakannya, tapi kalau itu masalahnya kenapa diriku
tidak ikut diperkarakan?.
“Bagaimana jiwa Nurul bisa terancam Ustadz? Apa yang terjadi
padanya, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya?”
“Kau tahu Nurul adalah puteri tunggal Bapak KH. Ja’far Abdur
Razaq, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Selain cantik dia juga cerdas
dan halus budi. Sejak masih kelas satu aliyah sudah banyak kiai besar yang
melamar Nurul untuk puteranya. Nurul tidak mau. Ketika akhirnya Nurul belajar
di Al Azhar pinangan itu justru semakin banyak. Kiai Ja’far ayah Nurul
berkali-kali menelpon Nurul agar segera menentukan pilihan pendamping hidupnya.
Beliau merasa sangat tidak enak menolak pinangan terus menerus. Apalagi jika
pinangan itu datangnya jadi kiai yang lebih senior dari beliau atau dari guru
beliau. Jika Nurul sudah tunangan atau menikah dengan seseorang yang dipilihnya
tentu kedua orang tua Nurul akan lebih tenang. Dan jika berjumpa dengan para
kiai-kiai di Jawa Timur tidak akan terbebani oleh sindiran-sindiran halus dari
para kiai yang meminang puterinya. Dua bulan yang lalu ayahnya menelpon ada
pinangan dari Kiai Rahmad untuk puteranya Gus Anwar. Kiai Rahmad ini adalah
gurunya ayah Nurul waktu mondok di Bandar Kidul Kediri. Ayah Nurul tidak bisa
menolaknya kecuali Nurul sudah memiliki seorang calon di Mesir. Jika tidak,
maka Nurul terpaksa harus menerima pinangan itu. Inilah masalahnya.”
“Nurul sendiri bagaimana? Saya mendengar ada beberapa
mahasiswa yang suka dengannya.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
171
“Memang ada beberapa mahasiswa yang mendekati dia secara
baik-baik. Ada yang secara langsung. Ada juga yang lewat kami atau teman satu
rumahnya. Tapi tak ada yang cocok di hatinya. Ternyata sejak dua tahun yang
lalu diam-diam Nurul telah kagum dan jatuh hati pada seseorang. Tapi sayangnya
Nurul tidak berani mengungkapkannya karena rasa malunya yang tinggi. Ia
berharap orang yang dicintainya terbuka hatinya dengan dan meminangnya tapi
sepertinya orang yang dicintainya tidak tahu kalau Nurul mencintainya. Rasa
cinta Nurul padanya membuncah dan tak bisa dia sembunyikan sejak dua bulan yang
lalu. Sejak ayahnya menelponnya untuk menerima Gus Anwar atau mencari calon
sendiri di Mesir yang shalih. Saat itu dia menangis pada isteriku. Ia
mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia minta kepada isteriku untuk membantunya.
Isteriku memberi saran untuk berterus terang saja pada orang yang dicintainya
itu. Tapi Nurul tidak mau, ia sangat malu. Nurul minta pada isteriku agar aku
yang bicara dengan orang itu. Aku sangat sibuk sekali dan aku merasa tidak
tepat untuk bicara pada orang yang dicintai Nurul itu. Akhirnya aku merasa aku
perlu minta bantuanmu. Kau sangat dekat dengan orang itu. Sudah berkali-kali
Nurul bertanya padaku bagaimana hasilnya. Aku tidak bisa menjawabnya. Sebab aku
belum bertemu denganmu. Kau sibuk aku pun sibuk. Baru kali ini aku bisa bertemu
denganmu. Aku sangat berharap kau bisa membantu.”
“Asal saya mampu, insya Allah Ustadz. Dia mahasiswi yang
baik. Saya salut dan kagum padanya. Meskipun telah menjabat sebagai Ketua
Wihdah tapi dia masih mau meluangkan waktu mengajar anak-anak baca Al-Qur’an di
Masjid Indonsia. Dia juga orang yang mudah diminta tolong. Sangat kasihan memang
kalau orang sebaik dia tidak mendapatkan apa yang dicintainya. Namanya orang
kalau sudah cinta itu susah untuk tidak dipertemukan. Abu Bakar saja ketika ada
seorang budak perempuan merana karena mencintai Muhammad bin Qasim bin Ja’far
bin Abi Thalib hati beliau luluh. Beliau langsung menemui tuan pemilik budak
itu dan membelinya, lalu mengirimnya ke Muhammad bin Qasim bin Ja’far bin Abi
Thalib. Hal serupa juga dilakukan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
Cinta memang tidak mudah. Orang Inggris bilang, Love is a sweet torment. Cinta
adalah siksaan yang mengasyikkan. Tapi jika orang terus tersiksa
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
172
karena cinta, ia bisa binasa seperti Laila dan Majnun.
Kebinasaan paling tragis adalah yang disebabkan oleh cinta,” jawabku.
Ustadzah Maemuna menyahut,
“Dan kami tak ingin melihat Nurul binasa karena cintanya
pada pujaan hatinya.”
“Memangnya rasa cinta Nurul sampai seperti itu?” heranku.
“Sejak dua bulan yang lalu. Sejak ia menangis di pangkuanku,
Nurul sering menangis sendiri. Berkali-kali dia cerita padaku akan hal itu. Ia
ingin sekali orang itu tahu bahwa dia sangat mencintainya, lalu orang itu
membalas cintanya dan langsung melaksanakan sunnah Rasulillah. Nurul anti
pacaran. Tapi rasa cinta di dalam hati siapa bisa mencegahnya. Aku tahu benar
Nurul siap berkorban apa saja untuk kebaikan orang yang dicintainya itu.
Bantulah kami membuka hati orang itu?” kata Ustadzah Maemuna.
“Insya Allah. Saya paling tak tahan melihat seseorang
tersiksa batinnya. Jadi siapakah orang yang sangat beruntung itu, orang yang
dipuja dan dicintai gadis shalihah seperti Nurul?” tukasku tenang. Dalam hati
aku merasa bersyukur bahwa aku mendapatkan seorang biadadari yang kucintai
tanpa harus melalaui siksaan batin serumit Nurul. Tenyata menjadi seorang gadis
tidak semudah menjadi seorang pemuda.
“Kau sangat mengenalnya kuharap kau tidak kaget mendengar
namanya kusebut,” kata Ustadz Jalal.
“Santai saja Ustadz, insya Allah saya akan biasa saja,”
jawabku santai.
“Orang yang dicintai Nurul, yang namanya selalu dia sebut
dalam doa-doanya, yang membuat dirinya satu minggu ini tidak bisa tidur entah
kenapa, adalah FAHRI BIN ABDULLAH SHIDDIQ!”
Mendengar namaku yang disebut aku bagaikan mendengar gelegar
petir menyambar telingaku. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku
dengar dari lisan ustadz Jalal.
“Siapa Ustadz, mungkin ustadz salah ucap?” tanyaku
meyakinkan apa yang aku dengar.
“Aku tidak salah ucap Fahri. Kaulah orangnya. Nurul sangat
mencintaimu. Berkali-kali dia bicara denganmu langsung atau lewat telpon tapi
dia tidak berani
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
173
mengatakan itu. Dan sudah berkali-kali dia minta kami
menemuimu mengungkapkan isi hatinya padamu, tapi baru kali ini aku sempat.
Bagaimana Fahri kau bisa membantu Nurul bukan?”
Aku meneteskan air mata. Tetesan itu makin lama makin deras.
Akupun tergugu. Kenapa jalan takdirnya seperti ini? Kenapa berita yang
sebenarnya sangat membahagiakan hatiku ini datang terlambat. Satu-satu nama
seorang gadis yang bila kudengar hatiku bergetar adalah Nurul. Nurul Azkiya.
Berita yang seharusnya membuat hatiku berbunga-bunga itu kini justru membuat
hatiku terasa pilu. Dalam hati aku menyumpahi kebiasaan buruk orang Jawa.
Alon-alon waton kelakon! Jadinya selalu terlambat. Jika dua bulan yang lalu
Nurul mengucapkan tiga kata saja: maukah kamu menikahi aku? Tak akan ada
kepedihan ini. Sejak bertemu muka dengan Aisha hatiku sepenuhnya dipenuhi rasa
cinta kepadanya. Dan beberapa jam lagi ikatan suci yang menyatukan cinta kami
akan terjadi, insya Allah.
Dengan terisak-isak kukatakan pada Ustadz Jalal dan Ustadzah
Maemunah, “Oh, andaikan waktu bisa diputar kembali. It is no use crying over
spilt milk . Tak ada gunanya menangisi susu yang telah tumpah!”
Lalu kucoba menenangkan diri dan kujelaskan semuanya yang
telah terjadi atas diriku. Aku tak bisa menyembunyikan tangisku saat
menceritakan semuanya. Pertemuan dengan Aisha di Metro, diskusi dengan Alicia, tawaran
Syaikh Utsman, pertemuan dengan Aisha dan keluarganya, sampai rencana akad
nikah dan walimah yang tinggal menunggu jam D nya.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk Nurul Ustadz, apa.
Seandainya Ustadz jadi diriku apa yang bisa Ustadz lakukan?” kataku sambil
tergugu, hatiku merasa pilu. Seandainya Nurul dan Aisha datang bersamaan, aku
tak perlu istikharah untuk memilih Nurul. Aku lebih mengenal Nurul daripada
Aisha. Tapi siapa bisa menarik mundur waktu yang telah berjalan.
Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna menangis terisak-isak.
Ustadz Jalal merasa sangat menyesal dan sangat bersalah pada Nurul. Sudah
berkali-kali Nurul mendesaknya untuk menemui aku dan menjelaskan masalah itu
tapi Ustadz Jalal selalu mengulur waktu karena konsentrasi memperbaiki disertasi
doktoralnya. Yang ia sesalkan adalah kenapa beliau tidak menyempatkan sepuluh
menit saja
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
174
untuk menilpunku memberikan sekadar isyarat ada seorang yang
mencintaiku. Ustadzah Maemuna menangis tersedu-sedu, ia tak bisa membayangkan
pilunya hati Nurul. Hanya karena sebuah keterlambatan sesuatu yang paling
berharga bagi jiwanya tidak ia dapatkan.
Dalam tangisku aku merasa masalah Nurul ini adalah cobaan
besar bagi komitmenku atas semua kata-kataku di rumah Syaikh Utsman. Cobaan
atas cinta dan kesetiaanku pada Aisha. Bisa saja aku nekad membatalkan
kesepakatan dan semua rencana yang telah ditetapkan seperti dalam film India.
Akad Nikah toh belum terjadi. Mahar belum aku bayarkan. Aku juga sama sekali belum
pernah menyentuh Aisha. Melihat wajahnya juga baru satu kali. Tapi jika aku
melakukan hal itu, namaku akan ditulis dengan lumpur hitam berbau busuk oleh
sejarah. Aku akan menjadi orang munafik paling menyakitkan hati orang-orang
yang kucintai dan kuhormati seperti Syaikh Utsman, Ummu Fathi, Eqbal Hakan
Erbakan dan isterinya, dan tentunya paling sakit dan terzalimi adalah Aisha.
Kemudian seluruh mahasiswa Turki di Mesir akan melaknat perbuatanku. Dan kelak
ketika aku berjumpa dengan Baginda Nabi beliau akan murka padaku karena aku
telah menyakiti perasaan sekian banyak umatnya. Aku tak mau itu terjadi. Lebih
dari itu aku tidak tahu seberapa panjang umurku ini. Jika aku membatalkan
pernikahan yang telah dirancang matang, aku tidak tahu apakah Allah masih akan
memberikan kesempatan padaku untuk mengikuti sunnah Rasul. Ataukah aku justru
tidak akan punya kesempatan menyempurnakan separo agama sama sekali. Tidak
selamanya perasaan harus dituruti. Akal sehat adalah juga wahyu Ilahi.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
175
17. Ikatan Suci
Apa yang terjadi antara diriku dan Nurul adalah tragedi yang
sangat memilukan. Aku tak memungkiri, di dalam taksi selama perjalanan menuju
rumah Eqbal Hakan Erbakan, hatiku menangis. Aku ini siapa? Nurul sungguh
terlalu. Apakah dia bukan orang Jawa? Aku ini orang Jawa. Di Jawa, seorang
khadim kiai dan batur santri, anak petani kere, mana mungkin berani
mendongakkan kepala apalagi mengutarakan cinta pada seorang puteri kiai. Dia
sungguh terlalu menunggu hal itu terjadi padaku. Semestinya dialah yang harus mengulurkan
tangannya. Dia sungguh terlalu berulang kali ketemu tidak sekalipun
mengungkapkan perasaannya yang mungkin hanya membutuhkan waktu satu menit. Atau
kalau malu hanya dengan beberapa baris tulisan tangannya tragedi ini tidak akan
terjadi. Menyatakan cinta untuk menikah di jalan Allah bukanlah suatu perbuatan
tercela. Dia sungguh terlalu. Tapi dia tidak keliru. Dia telah menempuh jalan
yang benar. Dia benar-benar gadis shalihah yang pemalu. Yang terlalu
sesungguhnya adalah Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna. Mereka berdua sungguh
terlalu. Atau justru aku yang terlalu dan begitu dungu.
rinai tangis dalam hatiku
bagai rintik hujan di kota
apa gerangan makna lesu
yang menyusup masuk kalbuku?94
Sampai di halaman rumah Eqbal aku melihat tiga mobil mewah
berjajar. Rumahnya ada di lantai tiga sebuah villa mewah tak jauh dari KFC
Maadi. Sebelum masuk kuhapus air mata, kutata hati dan jiwa. Aku berusaha
tersenyum. Aku disambut hangat oleh Eqbal dan tiga lelaki Turki. Rumahnya tidak
terlalu ramai. Eqbal memperkenalkan tiga lelaki Turki yang berpakaian rapi itu.
“Ini Ismael Akhtar, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Turki di
Mesir, ini sekjennya Ali Naar, sedangkan ini yang baru tiba dari Turki tadi
pagi adalah calon pamanmu Akbar Ali Faroughi, adik kandung ibunya Aisha.”
94 Dari penggalan puisi “Lagu Hujan” karya penyair Perancis
Paul Verlaine (1844-1896) terdapat dalam Puisi Dunia, Balai Pustaka, 1952, hal.
88.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
176
Akbar Ali yang gagah itu memelukku erat dan berbisik,
“Senang memiliki keponakan seperti dirimu. Aisha sudah banyak bercerita
tentangmu padaku. Selamat datang di keluarga besar Ali Faroughi.”
Di ruang tamu itu kami berbincang-bincang sambil menunggu
Aisha yang sedang berdandan. Akbar Ali menceritakan silsilah keluarga besarnya
agar aku tahu jelasnya. Ali Faroughi ayahnya dan juga kakek Aisha adalah asli
Turki. Beliau lahir di kota Izmir dari keluarga pedagang kain. Lulus sekolah
menengah langsung diminta ayahnya merantau ke Istambul dan membuka toko kain di
sana. Beliau menuruti anjuran ayahnya. Bakat bisnisnya luar biasa besar.
Tokonya maju pesat sampai akhirnya bisa membuat pabrik tekstil kecil-kecilan.
Akhir tahun 1948 beliau menikah di Yordan dengan seorang gadis pengungsi
Palestina sebatang kara yang seluruh keluarganya telah tewas dibantai Israel
dan harta kekayaannya juga dirampas. Gadis Palestina itu beliau bawa ke
Istanbul. Enam tahun kemudian, yaitu tahun 1954, lahirlah anak mereka yang
pertama diberi nama Alia Ali Faroughi. Alia itulah ibu kandung Aisha. Empat
tahun kemudian lahirlah Akbar Ali Faroughi dan jauh setelah itu, lima bekas
tahun kemudian baru lahir Sarah Ali Faroughi yang sekarang menikah dengan Eqbal
Hakan Erbakan. Ali Faroughi adalah pengikut setia Al-Imam Asy-Syaikh Al-Mujaddid
Badiuz Zaman Sa’id An-Nursi. Ali Faroughi wafat pada tahun 1993 pada usia 73
tahun, meninggalkan tiga buah perusahaan besar. Di antara ketiga anaknya itu
yang paling cerdas dan ulet adalah Alia. Dia selalu terbaik di sekolah
menengah. Dia dokter terbaik lulusan Istanbul University tahun 1976 dan
langsung mendapat beasiswa ke Jerman tahun itu juga. Di Jerman Alia mengambil
spesialis jantung. Setelah tiga tahun di Jerman ia menikah dengan seorang
muallaf Jerman namanya Rudolf Greimas, seorang pemilik swalayan. Tahun 1981
Aisha lahir. Dan tahun 1982 Alia memperoleh gelar doktornya dengan predikat
summa cumlaude dan mengambil keputusan untuk tinggal dan bekerja di Jerman.
Yang menyedihkan tujuh tahun yang lalu, Alia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu
lintas di sebuah jalur cepat yang berada pinggir kota Munchen, meninggalkan
Aisha yang masih belia. Aku baru tahu sebenarnya Aisha telah lama kehilangan
seorang ibu.
Kira-kira setengah jam sebelum azan ashar berkumandang,
Sarah Ali Faroughi, memberi tahu semuanya telah siap. Aku minta tolong pada
Eqbal agar
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
177
bisa melihat wajah Aisha sebelum berangkat. Aku ingin
mengisi kembali energi cintaku. Aku ingin menghilangkan segala galau dan
melenyapkan segala pilu yang masih terasa menyelimuti hatiku. Aku tak mau
tragedi Nurul menorehkan noda dalam hatiku. Aku harus melihat wajah Aisha yang
sinarnya akan menerangi semua kisi dan relung hatiku. Kesejukannya akan
menyiram jiwaku.
Eqbal tersenyum padaku dan menarik lenganku. Dia membawaku
masuk ke sebuah kamar di sana hanya ada tiga perempuan Turki semuanya telah
memaki cadar. Eqbal minta agar Aisha membuka cadarnya. Seorang perempuan yang
memakai abaya paling indah perlahan membuka cadar kuning keemasannya. Perlahan wajah
yang bercahaya itu tampak dan tersenyum padaku. Aku memandangnya lekat-lekat.
Aku tersihir oleh pesonanya. Tanpa sadar hatiku bertasbih dan berpuisi:
alangkah manis gadis ini
bukan main elok dan ayu
calon isteriku
matanya berbinar-binar
alangkah indahnya
Setelah kurasa cukup, aku meminta Aisha memakai kembali
cadarnya. Kami pun berangkat dengan menggunakan tiga sedan Mercy. Aku bersama
Eqbal dan isterinya. Aisha bersama pamannya Akbar dan isterinya. Ketua
Persatuan Mahasiswa Turki bersama sekjennya. Selama dalam perjalanan aku lebih
banyak mengucapkan istighfar. Aku berharap saat ini keluarga di Indonesia
mengirimkan selaksa doa untukku. Mereka sudah aku beri tahu detik-detik ini aku
akan membuka lembaran hidup baru. Dalam perjalanan sempat aku keluarkan
pertanyaan yang mengganjal pada Eqbal, “Ayah Aisha, Tuan Rudolf Greimas,
bukankah masih hidup. Apakah beliau akan datang?”
“Beliau memang masih hidup tapi tidak akan datang dan Aisha
juga tidak terlalu menginginkan dia datang. Yang jelas dia sudah tahu puterinya
akan menikah dengan mahasiswa Indonesia. Tentang Rudolf Greimas nanti
tanyakanlah sendiri pada Aisha, kenapa sampai dia tidak mengharapkan
kedatangannya,” jawab Eqbal Hakan.
* * *
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
178
Tepat saat adzan ashar berkumandang kami sampai di masjid
tempat akad nikah akan dilangsungkan. Sudah banyak teman-teman mahasiswa
Indonesia dan mahasiswa Turki yang sampai di sana. Aisha dan dua bibinya
langsung menuju lantai dua tempat jamaah wanita. Aku menyalami teman-teman.
Mereka semua tersenyum dan mengucapkan selamat padaku. Usai shalat ashar acara
akad nikah dimulai.
Acara dilangsungkan di depan mihrab masjid. Syaikh Ustman,
Syaikh Prof.Dr. Abdul Ghafur Ja’far, Bapak Atdikbud, Eqbal Hakan Erbakan, Akbar
Ali dan beberapa syaikh Mesir yang diundang Syaikh Ustman duduk dengan khidmat
tepat di depan mihrab menghadap ke arah jamaah dan hadirin yang memenuhi
masjid. Rupanya saat shalat Jum’at tadi telah diumumkan akan ada acara akad
nikah antara mahasiswa Indonesia dan muslimah Turki, sehingga orang Mesir yang
ada di sekitar masjid penasaran dan masjidpun penuh. Aku duduk di sebelah kanan
Akbar Ali. Di barisan depan hadirin tampak ketua PPMI dan pengurusnya,
teman-teman satu rumah, Syaikh Ahmad Taqiyyuddin, teman-teman Mesir di program
pasca dan Bapak M. Saeful Anam dari bagian Konsuler KBRI yang akan mencatat
kejadian penting ini untuk mengeluarkan surat nikah resmi. Rudi yang paling
suka pegang tustel sibuk membidikkan kameranya. Dua orang mahasiswa Turki juga
sibuk mengabdikan peristiwa bersejarah ini dengan handycam dan kamera.
Yang menjadi pembawa acara adalah Ismael Akhtar, Ketua Umum
Persatuan Mahasiswa Turki di Mesir. Bahasa Arab fushanya indah. Acara dibuka
dengan basmalah dan pembacaan kalam Ilahi. Lalu sambutan singkat dari keluarga
mempelai perempuan yang disampaikan Eqbal. Sambutan singkat dari keluarga
mempelai pria oleh Syaikh Utsman. Barulah akad nikah. Pihak wali perempuan
mewakilkan Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far untuk menikahkan Aisha.
Syaikh Abdul Ghafur Ja’far, yang tak lain adalah
pembimbingku menulis tesis itu maju dan duduk di tengah lingkaran. Akbar Ali
dan Eqbal Hakan menuntunku maju dan duduk di hadapan Syaikh. Mereka berdua
mendampingku. Pak Atdikbud juga maju, duduk di samping Syaikh sebagai saksi.
Ismael Akhtar juga maju sebagai saksi. Saiful ikut maju membawakan mahar. Aku
sempat AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
179
melirik ke lantai dua. Aisha dan kedua bibinya serta ratusan
muslimah di sana memandang ke bawah. Ke arah prosesi sakral ini dilangsungkan.
Sebelum memulai mengakad Syaikh Abdul Ghafur meminta kepada
semua hadirin untuk beristighfar, mensucikan hati dan jiwa. Lalu meminta kepada
semuanya untuk bersama-sama membaca dua kalimat syahadat. Aku meneteskan air
mata, hatiku basah. Aku belum pernah merasakan suasana sedemikian sakralnya.
Syaikh Abdul Ghafur menjabat tanganku erat, lalu mewakili wali menikahkan
diriku dengan Aisha. Dan dengan suara terbata-bata namun jelas aku menjawab
dengan penuh kemantapan hati:
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bi mahril madzkur, ala
manhaji kitabillah wa sunnati Rasulillah! Aku terima nikah dan kawin dia (Aisha
binti Rudolf Kremas) dengan mahar yang telah disebut, di atas manhaj kitab
Allah dan sunnah Rasulullah!”
Spontan dari lantai dua terdengar wanita-wanita Mesir
melantunkan zaghrudah95 yang melengking indah. Dan Syaikh Abdul Ghafur
membimbing seluruh hadirin untuk mengucapkan doa yeng telah diajarkan oleh
Rasulullah Saw.:
“Baralallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi
khair!”96
Masjid pun berdengung-dengung oleh doa seluruh hadirin.
Hatiku terasa sejuk sekali. Air mataku terus melelah tiada henti. Aku tiada
henti mengucapkan hamdalah dalam hati. Setelah itu disambung khutbah nikah yang
dibawakan Syaikh Ahmad. Khutbah yang singkat, padat, namun membuat hatiku
bergetar hebat. Diakhiri dengan doa yang dipimpin Syaikh Utsman, doa yang
membuat diriku lebur dalam keagungan tanda-tanda kekuasaan Tuhan.
Selesai doa, Syaikh Utsman membimbing hadirin untuk melantunkan
thalaal badru, lagu kebahagiaan yang dinyanyikan kaum Anshar saat menyambut
kedatangan Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar Ash-Shiddiq di madinah setelah
menempuh perjalanan hijrah yang panjang dan melelahkan. Para hadirin berdiri,
menyalami dan merangkulku satu persatu sambil membisikkan doa
95 Siulan khas wanita Arab sebagai ungkapan kegembiraan.
96 Semoga berkah Allah tetap untukmu, dan semoga berkah
Allah tetap ke atasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam
kebaikan. (Hadits diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad)
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
180
barakah diiringi lantunan thalaal badru. Gerimis di hatiku
tidak mau berhenti. Air mata terus saja meleleh. Aku kini telah memiliki
seorang isteri. Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah, Allahu
akbar!
* * *
Seperti kesepakatan setelah akad nikah kami tidak langsung
zafaf. Malam zafaf adalah setelah walimah. Dua hari lagi. Sampai rumah
teman-teman menggodaku habis-habisan. Aku tanyakan pada mereka apa sudah bisa
menghubungi keluarga Tuan Boutros. Belum bisa. Tidak enak rasanya jika mereka
tidak menghadiri walimah nanti. Meskipun berbeda agama mereka sudah seperti
keluarga sendiri.
Pukul dua belas malam teman-teman sudah tidur. Tapi aku sama
sekali tidak bisa memejamkan mata. Aku ingat banyak hal. Aku menelusuri kembali
perjalanan hidupku. Sejak masih SD, jualan tape. Lalu masuk pesantren menjadi
khadim Romo Kiai sambil melanjutkan sekolah di Tsanawiyah dan Aliyah milik
pesantren. Dan akhirnya dengan susah payah bisa sampai Mesir. Aku menangis
sendiri ditemani sepi.
Tiba-tiba handphone-ku berdering. Kulihat ada yang
memanggil. Aisha! Hatiku berdegup kencang. Aku menyeka air mata dan menata
perasaan. Kuangkat:
“Fahri?”
“Ya.”
“Kasihku, aku yakin kau belum tidur. Kau tidak bisa tidur.
Kau pasti sedang memikirkan aku. Ya ‘kan?” Dan klik. Diputus. Aku belum sempat
menjawab.
Aku gemes sekali padanya. Pada Aisha. Ia menggodaku. Kukirim
sms padanya. Sebab jika kutelpon takut tidak dia angkat. Percuma.
“Aisha, aku sangat merindukanmu.” Tulisku.
“Aku sudah tahu. Bersabarlah. Allah mencintai orang-orang
yang bersabar.” Jawab Aisha. Aku menghela nafas panjang. Aku ingin shalat
malam.
* * *
Pagi hari, usai shalat shubuh, di masjid Al Fath Al Islami,
seluruh jamaah yang mengenalku mengucapkan selamat. Rupanya Syaikh Ahmad telah
memberi
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
181
tahu mereka. Dan Syaikh Ahmad mengajakku ke kamarnya di
belakang mihrab. Beliau memberikan kabar bahagia mengenai Noura.
Alhamdulillah kebenaran itu terkuat juga. Dari tes DNA, gen
Noura tidak sama dengan gen Si Muka Dingin Bahadur dan isterinya yaitu Madame
Syaima. Gen Noura justru sama dengan milik suami isteri bernama Tuan Adel dan
Madame Yasmin yang kini jadi dosen di Ains Syam University yang saat itu
melahirkan bayinya bersamaan harinya dengan Madame Syaima. Dan Nadia gadis yang
selama ini mereka besarkan dengan penuh kasih sayang sama gennya dengan Si Muka
Dingin Bahadur dan Madame Syaima. Dua bayi itu tertukar. Noura memang mirip
sekali dengan Madame Yasmin dan Si Nadia mirip dengan Madame Syaima. Mereka
telah menemukan orang tua masih-masing. Noura bahagia dan Nadia nelangsa.
Untungnya Tuan Adel dan Madame Yasmin tetap meminta Nadia tinggal bersama
mereka. Sebab Nadia telah dianggap sebagai anaknya sendiri. Si Muka Dingin
Bahadur sedang diproses atas segala kejahatannya. Mendengar kabar bahagia itu
aku merasa sangat bahagia. Gadis innocent yang lembut itu akhirnya benar-benar
menemukan taman kebahagiaan yang selama ini hilang.
Usai dari masjid aku mengajak musyawarah teman-teman satu
rumah. Tak lama lagi aku akan meninggalkan mereka. Iuran sewa rumah bulan depan
aku bayar sekalian. Jadi mereka tidak bertambah beban meskipun aku tidak lagi
satu rumah dengan mereka. Namun aku minta tolong kepada mereka agar bulan
berikutnya sudah ada yang menggantikan aku. Teman-teman rela melepaskan aku dan
mendoakan semoga hidup bahagia. Mereka minta agar aku tidak segan dan masih
sering main ke Hadayek Helwan. Mereka bertanya aku akan tinggal di mana. Aku
menjawab, “Belum tahu. Semua yang mengurus isteri tercinta!” Kontan mereka
menyahut bareng, “Enaknya punya isteri gadis Turki yang shalehah seperti
Aisha!” Aku tersenyum mendengarnya.
Pukul sembilan Paman Eqbal—setelah akad nikah aku harus
memanggilnya paman—dan tiga mahasiswa Turki datang kembali dengan pick up.
Hendak mengangkut semua barangku yang tersisa. Dia belum juga mau mengatakan
rumah yang akan kami tempati itu di mana. “Nanti kau akan tahu juga!” jawabnya
enteng.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
182
Hari berikutnya adalah pesta walimatul ursy di Darul
Munasabat Masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Sejak ashar aku telah berada di rumah
mahasiswa Turki yang telah berkeluarga di Hadidar Toni Street. Namanya Subhan
Tibi. Isterinya bernama Laila Belardi. Mereka teman baik Paman Eqbal dan Bibi
Sarah. Di rumah mereka yang letaknya kira-kira satu kilometer dari lokasi
walimah, aku dan Aisha dirias ala pengantin Turki. Aisha benar-benar seperti
bidadari. Tapi elok wajahnya tersembunyi di balik cadar tipis keemasan. Dan
inilah untuk pertama kali kami duduk bersanding di dalam mobil mewah. Selama
dalam perjalanan menuju tempat walimah aku tak berani menyentuhnya.
Kelihatannya Aisha gemes melihat ketidakberanianku. Ia meletakkan tangannya di
atas telapak tanganku. Dengan ragu-ragu aku memegang tangannya. Dan hatiku
berdesir hebat. Itulah untuk pertama kalinya aku memegang tangan halus seorang
gadis.
Pesta walimah sangat meriah. Di mulai tepat setelah ashar.
Ada panggung di depan. Tempat lelaki dan wanita di pisah dengan satir.
Pengantin lelaki berbaur dengan undangan lelaki dan pengantin wanita berbaur
bersama pengantin wanita. Panggung yang indah itu rupanya untuk hiburan. Tim
Shalawat Turki menunjukkan kebolehannya. Juga tim nasyid Indonesia. Ada juga
pantomim, sumbangan dari teman-teman KSW. Tadzkirah di sampaikan oleh Dr. Akram
Ridha, pakar psikologi yang juga seorang dai terkemuka di Kairo. Semua berjalan
dengan sangat mengesan bagi siapa saja yang hadir malam itu.
Setelah acara berakhir, dan tamu undangan telah banyak yang
pulang, Paman Eqbal membawaku ke tempat pengantin wanita. Di sana ternyata ada
pelaminan yang telah dihias indah. Aisha sudah duduk manis duduk di sana. Aku
diminta untuk duduk di sampingnya untuk diabadikan dalam foto dan video.
Aisha minta dipangku dan disuapi kue. Lalu minta dibopong
dan digendong. Ia juga minta difoto dalam gaya-gaya dansa. Ada-ada saja. Ia
sangat mesra dan manja. Tapi ia sangat tahu menjaga diri, ia tidak minta dicium
saat itu. Kemesraan kami yang tak lama itu tidak ada yang melihat kecuali
beberapa muslimah, Paman Eqbal dan Paman Akbar Ali. Saat adzan maghrib
berkumandang dari menara masjid. Aku dan Aisha telah berada di dalam Limousin
meluncur menuju tempat untuk malam zafaf. Menjadi sopir kami adalah Paman Eqbal
Hakan Erbakan, isterinya Sarah duduk disampingnya dengan si
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
183
kecil Hasan di pangkuannya. Di belakang kami mobil Paman
Akbar Ali membuntuti. Ia bersama isterinya dan si kecil Amena. Selama dalam
perjalanan kami diam tanpa bicara apa-apa namun tangan kami erat berpegangan.
Mobil kami terus melaju. Lampu-lampu telah menyala seperti
bintang-bintang. Langit merah bersemburat indah. Mobil melaju diatas jalan
layang yang membelah Ramsis. Terus ke Barat. Apakah Paman Eqbal akan membawa
kami ke hotel? Aku tidak tahu. Semua mahasiswa Indonesia yang menikah di Cairo
tidak ada yang menghabiskan malam pertama di hotel. Semuanya menghabiskan malam
pertama di rumah kontrakan yang sederhana. Di depan sudah tampak sungai Nile.
Kami melewati Ramses Hilton. Mobil terus melaju. Aisha menyandarkan kepalanya
di pundakku. Aku merasakan suasana yang sangat indah. Kami berada di atas
Jembatan 6th Oktober yang menyeberangi sungai Nil. Restauran dan nigh club
terapung telah menyalakan lampunya. Di depan sana agak ke selatan di tengah
daratan seperti pulau di tengah sungai Nil tampak Cairo Tower menjulang tinggi.
Daratan yang dikelilingi sungai Nile itu disebut daerah El-Zamalik. Kawasan
yang sangat elite dan indah. Eqbal membelokkan mobil dan turun dari jembatan ke
El-Gezira Street. Kami berada di daerah El-Zamalik. Mobil terus berjalan ke
utara menyusuri pinggir sungai Nil. Melewati Cairo Marriot Hotel. Melewati
Kedutaan Swedia. Akhirnya sampai di Muhamad Mazhar Steet. Di sebuah gedung
bertingkat dua belas yang berada tepat di pinggir sungai Nile kami berhenti.
Paman Eqbal membawa kami masuk. Di dalam gedung dekat tangga
naik dan lift ada dua penjaga berdasi dan membawa senapan otomatis. Paman Eqbal
berbincang dengan mereka sebentar lalu menarik lenganku.
“Ini saudara saya, Fahri Abdullah dari Indonesia, dia nanti
yang akan menempati flat nomor 21 bersama isterinya. Mereka berdua akan
menggantikan Mr. Edward Minnich yang telah pindah bulan yang lalu.”Kata Paman
Eqbal memperkenalkan diriku. Dua penjaga itu tersenyum dan menjabat tanganku
sambil berkata, “Selamat datang di apartemen ini pengantin baru!” Penampilanku
dan Aisha memang mudah sekali ditebak.
Kami lalu masuk lift dan naik ke lantai tujuh. Tiap lantai
ada tiga flat. Flat nomor, 19, 20 dan 21 berada dalam satu lantai. Paman Eqbal
membuka pintu flat
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
184
nomor 21. Kami masuk. Paman Eqbal menyalakan lampu. Dan
tampaklah sebuah ruangan tamu yang mewah. Lebih mewah dari rumah Bapak Atase
Pendidikan di Dokki. Kami duduk di sofa yang empuk. Tak lama kemudian Paman
Akbar Ali dan isterinya masuk. Mereka langsung duduk.
“Gimana pengantin baru, kalian sudah siap?” tanya Paman
Eqbal sambil tersenyum.
Aku diam tidak menjawab kecuali dengan senyum.
“Baiklah Fahri, kau berbahagialah malam ini bersama
isterimu. Kami tidak akan lama-lama di sini. Ini kuncinya peganglah. Dua
penjaga itu yang hitam namanya Hosam dan yang kuning namanya Magdi. Kau sudah
lama di Mesir jadi kau tidak akan asing berada di sini. Jika ada apa-apa telpon
aku. Kami pamit dulu. Semoga umur kalian penuh berkah.” Pamit Paman Eqbal
sambil berdiri dari duduknya.
“Aisha dan kau Fahri, kami juga pamit. Malam ini juga kami
akan terbang ke Istanbul. Sudah tiga hari kami di sini. Nanti kalau ada waktu
kami akan mengunjungi kalian,” kata Akbar Ali Faraughi, paman Aisha. Aisha
memeluk pamannya dengan mata berkaca-kaca. Lalu gantian aku memeluknya, dan dia
berbisik, “Jaga dia baik-baik Fahri, aku percaya padamu!”
“Insya Allah, paman. Doanya. Salam buat seluruh keluarga di
Turki.” jawabku. Kulihat Aisha lalu berpelukan dengan Elena Hashim, isteri
Akbar Ali. Setekah itu ia memeluk bibinya, Sarah Ali Faraughi dengan tangis
pecah.
“Aisha kau sudah hidup di dunia baru. Kuatkanlah dirimu
dengan takwa. Minta tolonglah kepada Allah dengan shalat dan kesabaran. Dan
layanilah suamimu dengan sebaik-baiknya. Ridha suamimu adalah surgamu,” suara
Bibi Sarah terdengar parau.
Mereka lalu beranjak keluar. Satu persatu meninggalkan
pintu. Kami mengantar sampai di pintu. Terakhir Paman Eqbal memeluk diriku
sambil berkata, “Fahri, kau tentu ingat pelajaran hadits di kuliah, Rasulullah
bersabda, ‘Orang pilihan di antara kalian adalah yang paling berbuat baik
kepada perempuan (isteri)nya.’ Kumohon, muliakanlah isterimu. Bawalah dia hidup
di jalan yang diridhai Allah!’
“Insya Allah, doakanlah kami,” jawabku.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
185
Tak lama kemudian mereka hilang di telah pintu lift. Kami
masuk kembali ke dalam flat dan menutup pintu.
* * *
Mereka telah pergi meninggalkan kami berdua. Kami salah
tingkah. Wajah Aisha merona. Tubuhku panas dingin. Kami merasa sama-sama
canggung mau berbuat apa. Tapi kami merasa itulah indahnya.
“Kita belum shalat maghrib,” lirih Aisha. Ia masih berdiri
tak jauh di depanku dengan wajah menunduk. Aku tersadar, waktu sudah mepet, aku
harus segera memberanikan diri melakukan sesuatu. Ada sunnah Rasulullah yang
harus aku amalkan ketika untuk pertama kalinya berada dalam satu kamar atau
satu rumah dengan pengantinku. Aku bergerak mendekati Aisha dan menggamit
tangannya.
“Kamar kita di mana, Sayang?” tanyaku pelanku.
“Sini,” jawab Aisha sambil melangkah ke sebuah kamar.
Pintu kubuka. Gelap. Lampu kunyalakan, tampaklah kamar
pengantin yang berhias indah, wangi dan sangat romantis. Kuajak Aisha duduk di
ranjang. Aku membaca basmalah dengan segenap penghayatan akan ke-MahaRahman-an
dan ke-Maharahim-an Allah. Lalu kupegang ubun-ubun kepala Aisha dengan penuh
kasih sayang sambil berdoa seperti yang diajarkan baginda Nabi,
“Allaahumma, inni asaluka min khairiha wa khairi ma
jabaltaha, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha! Ya Allah,
sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku
mohon perlindungan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya. Amin.”97
Kulihat Aisha memejamkan kedua matanya dan dari mulutnya
terdengar amin..amin..amin, berkali-kali. Ia sudah mengerti bagaimana memasuki
malam zafaf agar pernikahan penuh berkah. Setelah itu kulanjutkan dengan doa
yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkaar,
“Baarakallaahu likulli waahidin minna fi shaahibihi. Semoga
Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya.”
97 Sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Imam
Bukhari, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Sinni.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
186
Lalu kukecup ubun-ubunnya sambil menangis dan mengulang doa
itu berkali-kali. Aisha terus mengucapkan amin..amin..amin, dengan air mata
meleleh di pipinya.
Barulah kuajak Aisha untuk mengambil air wudhu dan shalat
maghrib berjamaah. Setelah shalat maghrib membaca dzikir, shalat sunnah
ba’diyah, membaca wirid dan doa rabithah. Menjelang Isya kuajak Aisha untuk
shalat sunnah bersama sebagaimana dilakukan salafush shalih, agar pernikahan
kami ini penuh barakah. Selesai shalat aku membaca doa sebagaimana diajarkan
baginda nabi dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud,
“Allaahumma baarik li fi ahli, wa baarik lahum fiyya.
Allaahumma ijma’ bainana ma jama’ta bikhair, wa farriq bainana idza farraqta
ila khair. Ya Allah, barakahilah bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah
mereka kepadaku. Ya Allah, kumpulkan antara kami apa yang engkau kumpulkan
dengan kebaikan, dan pisahkan antara kami jika engkau memisahkan menuju
kebaikan. Amin.”
Di belakangku Aisha khusyu mengucapkan amin..amin..amin,
kabulkan ya Allah, kabulkan ya Allah, kabulkan ya Allah, dengan rahmat dan
kasih-Mu.
Usai shalat dan berdoa aku berbalik menghadap Aisha, aku
hendak mengelus kepalanya. Aisha malah mencium tanganku sambil terisak-isak.
Adzan Isya berkumandang. Kupegang kepala Aisha dengan kedua tanganku.
Kupandangi lekat-lekat wajahnya yang jelita. Kuseka air mata yang melelah di
pipinya.
“Fahri, aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dengan penuh
kesungguhan.
“Aku juga mencintaimu, Aisha,” jawabku sambil mengecup
keningnya penuh cinta.
“Kecupan pertama yang tak akan pernah kulupa,” lirih Aisha.
“Aisha, cinta Tuhan memanggil-manggil kita. Saatnya shalat
Isya. Aku ke masjid dulu untuk shalat berjamaah. Kau shalat di rumah saja ya.
Dalam suasana seperti apapun shalat fardhu adalah utama.”
Dia mengangguk.
“Tapi selesai shalat langsung pulang. Jangan lama-lama di masjid.
Shalat sunnahnya di rumah saja.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
187
18. Saat-saat Indah di Tepi Sungai Nil
Di masjid aku bertemu Magdi penjaga apartemen. Aku sangat
senang ada polisi yang rajin berjamaah seperti dia. Aku berbincang dengannya
sebentar. Dia ternyata sekolah menengahnya dulu di Ma’had Al Azhar, Damanhur.
Dan dia bukan satpam biasa, tapi polisi khusus yang ditugaskan untuk menjaga
keamanan beberapa diplomat yang tinggal di apartemen itu. Ketika kukenalkan diriku
dia sangat senang sekali. Lalu aku dikenalkan pada imam masjid yang bernama
Syaikh Abdurrahim Hasuna. Beliau senang sekali berkenalan denganku. Beliau
bahkan mempersilakan diriku untuk melihat perpustakaan pribadinya jika aku
memerlukannya. Aku senang dengan tawarannya.
Selesai shalat berjamaah dan berdzikir secukupnya aku
langsung pulang. Shalat sunnah di rumah saja. Aku tak ingin Aisha menunggu
lama. Usai shalat sunnah Aisha telah siap dengan penampilan yang membuat
seorang suami senang. Penuh pesona. Parfumnya segar. Ia benar-benar mengerti
hukum memakai parfum. Selama memakai gaun pengantin di acara walimah, ia sama
sekali tidak memakai parfum. Justru ketika di rumah berduaan denganku ia
memakainya.
Aisha mengajakku ke balkon. Ia telah mempersiapkan segalanya.
Isteri yang baik. Lampu balkon ia matikan. Kaca riben menutup balkon rapat.
“Ini kaca khusus, aman dari pandangan luar tapi tidak
mengurangi jernihnya kita memandang keluar, bahkan menambah kejernihan
pandangan di malam hari. Kalau mau kita juga bisa membuka kaca ini.” Kata Aisha
sambil seluruh menyibak sebagian gorden yang masih menutupi balkon. Dan
tampaklah panorama sungai Nil malam hari.
Posisi balkon rumah kami sangat strategis. Tepat menghadap
ke sungai Nil Dari ketinggian lantai tujuh kami bisa melihat kerlap-kerlip
lampu gedung-gedung nun jauh di sana. Kami bisa melihat indahnya riak sungai
Nil tertimpa cahaya lampu kota. Gemerlap lampu-lampu hias dari perahu-perahu
kecil yang bergerak pelan. Mobil-mobil yang seperti semut di sepanjang kornes
Nil sana. Pesona Cairo Plaza Tower yang menjulang megah. Juga Imbaba Brige,
salah satu jembatan terpenting yang melintas di atas sungai Nil.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
188
Apartemen di mana kami berada memang terletak di ujung utara
pulau di tengah sungai Nil. Inilah salah satu keindahan kota Cairo. Kota Cairo
dibelah oleh sungai Nil yang mengalir dari selatan ke utara. Dan di tengah kota
Cairo sungai Nil ini terbelah menjadi dua, di mulai dari selatan di dekat
Tahrir dan kembali menyatu di dekat Imbaba. Daratan mirip pulau Samosir
berbentuk pisang yang berada ditengah belahan sungai Nil ini terbagi dua
kawasan, yang selatan disebut El-Gezira dan yang utara di sebut El-Zamalik. Di
daratan—yang aku lebih suka menyebut pulau di tengah sungai Nil—ini berdiri
bangunan-bangunan penting. Di ujung selatan berdiri hotel mewah Gezira Sheraton
dan El-Burg. Juga Cairo Opera House, Cairo Tower, Egyptian Civilization Musium,
National Sporting Club dan Nile Aquarium and Grotto ada di pulau ini. Sekali
lagi aku lebih senang menyebutnya pulau. Di dekat 26 July Bridge yang melintas
di atas pulau ini berdiri Cairo Marriott Hotel yang mewah. Beberapa kedutaan
negara asing seperti Jerman, Belanda, Swedia, Albania, Argentina, Pakistan dan
lain sebagainya ada di pulau ini. Di ujung utara, tak terlalu jauh dari
aparteman kami berdiri President Hotel. Memang sangat nyaman menghabiskan malam
di tempat yang nyaman dan romantis seperti ini.
Di balkon, ada kursi malas khas Mesir yang sangat nyaman
untuk bermesraan berdua. Orang-orang menyebutnya kursi Cleopatra. Ada dua
bantal di atasnya. Di sampingnya ada meja kayu kecil di mana Aisha meletakkan
dua gelas susu. Mula-mula kami berdua duduk biasa. Kami masih canggung. Kami
salah tingkah. Kami tak tahu dari mana kami mulai. Tak sepatah kata pun keluar
menjadi perantara. Tak terasa keringat dingin malah mulai keluar. Ada rasa
gelisah yang entah menyusup dari mana. Mungkin Aisha mengalami hal yang sama.
Tak mungkin dia yang memulai.
Aku mencoba menghilangkan kegelisahan dan kecanggunganku
dengan mengambil minuman yang dibuat Aisha. Kucicipi sedikit.
“Kenapa susunya rasanya asin seperti diberi garam ya?”
Pelanku pada Aisha.
“Be..benarkah?” Aisha sedikit kaget.
“Iya. Coba kau rasakan!”
Aisha mengambil gelas dari tanganku dan merasakannya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
189
“Ah, manis. Tidak asin,” katanya.
Gelas itu kembali kuminta dan kurasakan.
“Sayang, asin begini kok dibilang manis. Mungkin bukan gula
yang kau masukkan tapi garam. Coba kau rasakan lagi!” Aisha kembali mencicipi.
Dia memandangku dengan sedikit heran.
“Ini manis Fahri, tidak asin!”
“Aishaku sayang ini asin! Cobalah julurkan lidahmu dan
masukkan ke dalam minuman itu. Lalu rasakanlah dengan seksama. Pasti kau akan
merasakan asinnya. Kau terlalu sedikit mencicipinya. Lidahmu mungkin kurang
peka.”
Aisha menuruti kata-kataku. Ia menjulurkan lidahnya ke dalam
gelas. Sesaat lidahnya seperti mengaduk-aduk air susu di dalam gelas itu.
“Tidak Fahri, tidak asin! Lidahmu yang mati rasa, bukan
lidahku!” Suaranya terdengar lebih tegas.
“Benarkah? Coba!”
“Nih.”
Aku lalu meminumnya sampai tiga teguk.
“Hmm..setelah lidahmu menyentuhnya dan mengaduk-aduknya,
minuman ini jadi manis sekali. Belum pernah aku meminum minuman semanis ini.
Memang benar sabda nabi jika seorang bidadari di surga meludah ke samudera maka
airnya akan jadi tawar rasanya. Dan lidahmu mampu merubah susu yang asin ini
jadi manis, Bidadariku.”
“Sialan kau Fahri, kau mengerjaiku ya!” seru Aisha sambil
mencubit pahaku manja.
Suasana jadi cair dan romantis. Rasa canggung pun hilang.
Aisha menyandarkan kepalanya ke dadaku. Aku beringsut
merubah posisi duduk. Kupasang bantal di kepala dan kurebahkan tubuhku ke
sandaran kursi yang dilapisi busa empuk . Kutarik tubuh Aisya rebahan di
dadaku. Aku bebas membelai-belai rambutnya atau memeluknya. Di langit sana
bintang-bintang kedap-kedip seperti mata para bidadari yang mengerling cemburu
kepada kami. Hati terasa sejuk dan bahagia. Inilah yang membedakan yang halal
dan yang haram. Bermesraan dengan perempuan yang halal, istri yang sah, adalah
ibadah
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
190
yang dipuji Tuhan. Sedangkan bermesraan dengan perempuan
yang tidak halal adalah dosa yang dilaknat Tuhan.
Tuhan telah membukakan pintu-pintu kenikmatan yang
mendatangkan pahala, maka alangkah bodohnya manusia yang menyia-nyiakannya.
Lebih bodoh lagi yang memilih pintu dosa dan neraka.
Sambil memandang keindahan panorama sungai Nil malam hari,
tanpa kuminta Aisha mulai bercerita tentang dirinya, ibunya dan ayahnya,
“Kurasa ibuku adalah wanita paling mulia di dunia. Ia
muslimah sejati yang menempatkan ibadah dan dakwah di atas segalanya. Dan aku
sangat beruntung terlahir dari rahimnya. Ketika berumur 22 tahun ibuku menjadi
lulusan terbaik fakultas kedokteran Universitas Istanbul. Saat itu beliau
dilamar anak pejabat yang menjanjikannya akan membuatkan rumah sakit terbesar
di Turki. Tapi beliau tolak, sebab anak pejabat itu sangat sekuler dan sama
sekali tidak menghargai ajaran agama. Dalam padangan beliau, seandainya menikah
dengannya sangat sedikit sekali peluang untuk menariknya ke jalan yang lurus
hanya akan membuang tenaga. Beliau memilih mengambil beasiswa ke Jerman. Dalam
keyakinan ibu, menekuni bidang ilmu dengan serius adalah dakwah. Dalam waktu
dua tahun beliau mampu meraih gelar master untuk spesialis jantung. Padahal
master di Jerman rata-rata empat tahun. Saat itu juga beliau diterima bekerja
di sebuah rumah sakit di Munchen sambil meneruskan program doktor. Di Turki,
pinangan untuk ibu silih berganti berdatangan dari kolega dan kenalan bisnis
kakek. Tapi ibu ingin pernikahannya ada nilai dakwahnya. Ibu ingin mendapatkan
kehormatan yang lebih baik dari terbitnya matahari, yaitu menjadi sebab
datangnya hidayah bagi seseorang.
Ibu pernah berkunjung ke Swiss dan berkenalan dengan Wafa Al
Banna, puteri Hasan Al Banna yang saat itu tinggal di sana bersama suaminya Dr.
Said Ramadhan. Sebuah perkenalan yang berarti bagi ibu untuk semakin mantap
menapak di jalan dakwah. Berislam, menurut ibu tidak berarti harus memusuhi
Barat. Tetapi justru memperjuangkan Islam lewat Barat. Ibu seringkali bertanya
pada orang-orang muslim di Eropa, di Jerman khususnya, ‘Apa kontribusi yang
telah diberikan seorang muslim di Barat untuk dunia?’
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
191
Akhirnya pada tahun 1979 ada seorang konglomerat pemilik
swalayan di beberapa kota besar di Jerman mendatangi Islamic Centre dan
menyatakan ketertarikannya kepada Islam. Ia tertarik kepada Islam karena hukum
keluarga dalam syariat Islam yang indah. Yang mengatur sedemikian detil hak dan
kewajiban suami isteri. Dalam syariat Islam peselingkuhan adalah dosa besar. Dan
syariat telah memberikan pagar yang kuat yang jika pagar itu tidak dilanggar
maka tidak akan ada perselingkuhan yang merusak tatanan keluarga dan
masyarakat. Konglomerat itu sangat tertarik dengan itu semua. Dia secara materi
memang cukup tapi batinnya kering. Dia telah menikah dengan tiga orang wanita
Eropa tapi semuanya berselingkuh dan perkawinannya dengan mereka selalu gagal.
Dia ingin seorang isteri yang setia. Dia ingin membuktikan apakah benar wanita
muslimah adalah wanita yang setia. Dia siap masuk Islam jika ada seorang
muslimah yang bersedia jadi isterinya yang setia. Mendengar hal itu ibu
langsung menyatakan kesediaannya menikah dengan lelaki setengah baya itu. Umur
ibu saat itu 25 tahun dan umur lelaki itu 45 tahun. Terpaut 20 tahun. Jadi konglomerat
itu lebih pantas menjadi ayah ibu. Banyak orang menyayangkan keputusan ibu. Aku
sendiri, seandainya jadi ibu tidak akan sekuat itu. Keluarga di Turki hampir
semua tidak setuju kecuali nenek. Wanita asli Palestina itu satu-satunya yang
justeru setuju. Demi dakwah, nyawa pun dipertaruhkan, kata nenek saat itu.
Akhirnya kakek merestui juga. Jadilah ibu menikah dengan konlomerat itu. Fahri,
apakah kau tahu siapa konglomerat itu?”
Aku membelai rambut Aisha. Sesekali mengecup kepalanya. Bau
rambutnya yang hitam sangat khas dan wangi. Aku belum pernah mencium bau
seperti rambut Aisha.
“Fahri, kenapa kau diam saja? Kau mendengarkan ceritaku apa
tidak?” Aisha merajuk manja.
“Mendengarkan dengan seksama.Konglomerat ibu, kukira adalah
ayahmu, Tuan Rudolf Greimas?”
“Benar.”
“Nama ayahmu mengingatkan aku pada seorang tokoh?”
“Siapa dia?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
192
“AJ. Greimas, filsuf strukturalis Perancis. Ada hubungan
darah dengannya?”
“Tidak. Ayah bahkan aslinya berdarah Tunis. Kakek ayah lahir
di Tunisia. Namanya Omar. Jadi nama ayah lengkapnya Rudolf Greimas Omar.”
“Jadi semestinya sebutan untuk ayahmu adalah Rudolf Omar.
Omar dijadikan nama keluarga. Bukan Greimas.”
“Semestinya begitu, tapi entahlah ayah tidak mau. Ibu pernah
menggugat masalah itu. Tapi ayah tak menanggapinya.”
“Terus bagaimana kisah ibumu dengan ayahmu setelah menikah.
Apakah tujuan ibumu untuk berdakwah berhasil?”
“Dalam penilaianku ibu berhasil. Setelah menikah dengan
ayah, beliau memberikan semua yang dimilikinya pada ayah. Dalam diri ibu, ayah
mendapatkan segala yang diinginkan seorang suami pada isterinya, seorang
kekasih pada pacarnya, seorang lelaki pada wanita, dan seorang yang haus pada
penawar dahaganya. Ayah mengakui ibu adalah wanita terbaik, isteri terbaik dan
teman terbaik yang beliau miliki. Akhirnya ayah tekun beribadah dan tidak malu
menampakkan identitas kemuslimanannya. Banyak pekerja swalayannya yang tertarik
kepada Islam dan masuk Islam. Dengan itu semua ibu mampu menyalurkan dana untuk
lembaga dakwah di Jerman. Tahun 1981, dua tahun setelah menikah, ibu melahirkan
aku. Ayah sangat gembira sekali. Tiga isterinya terdahulu tidak memberinya
apa-apa selain pengkhianatan. Sebagai hadiah ayah membuatkan klinik kesehatan
di sebuah kawasan elite kota Munchen untuk ibu. Ibu tentu saja senang. Dan
beliau meminta agar kepemilikan klinik bersalin itu atas namaku. Ayah setuju.
Tahun berikutnya ibu meraih gelar doktor untuk spesialis jantung dengan
predikat tertinggi. Beliau langsung diminta mengajar di Universitas Munchen.
Sejak itu, menurut cerita ayah, sejak itu ibu sangat sibuk.
Tapi ibu mampu mengatur waktu dengan baik. Mengasuh aku, mengurus suami,
mengurus klinik, menjadi wakil direktur rumah sakit, dan mengajar di
universitas. Tidak hanya itu ibu masih bisa menyempatkan waktu untuk mengadakan
penelitian di laboratorium. Hasilnya adalah, beliau menemukan tiga jenis obat
yang sangat
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
193
berguna bagi dunia kedokteran. Tiga jenis obat itu telah
dipatenkan atas nama ibu dan kini digunakan di seluruh dunia.
Dalam keadaan sesibuk itu, ibu masih sangat perhatian pada
ayah. Bagi ibu ayah adalah segalanya. Ayah adalah cintanya yang pertama dan
terakhir. Ini tentu membuat ayah merasa tersanjung bukan main. Jika suatu
ketika ayah mengadakan pertemuan dengan koleganya, banyak koleganya yang iri
pada ayah yang memiliki seorang isteri yang cantik, masih muda, berpendidikan
tinggi, dan sangat setia. Ayah sendiri yang menuturkan hal ini padaku. Ibu
tidak pernah menuntut atau meminta sesuatu pada ayah. Dan semua keinginan ayah
jika ibu mampu, dan selama tidak melanggar syariat ibu pasti akan memenuhinya.
Bagi ibu memuliakan suami adalah dakwah paling utama bagi seorang isteri.
Hasilnya, ayah seringkali menjadi pembela kepentingan kaum
muslim di Jerman. Ayah juga memberikan beasiswa untuk mahasiswa muslim yang
belajar di Jerman. Banyak mahasiswa muslim yang meraih doktornya di Jerman
dengan tunjangan beasiswa dari ayah. Dan mereka saat ini memiliki peran-peran
signifikan di negaranya. Kalau boleh aku mengatakan, secara tidak langsung itu
semua adalah atas keikhlasan hati ibu mewakafkan dirinya di jalan dakwah. Kalau
seandainya ibu mau menikah dengan ayah karena materi, maka ibu sendiri tidak
kekurangan materi. Ketika ibu menikah dengan ayah, perusahaan kakek di Turki
telah maju pesat. Perusahaan garmennya telah mengisi pasar di seluruh penjuru
Timur Tengah dan Asia Selatan. Dan ibu mampu untuk mencari suami yang lebih muda
dan lebih kaya dari ayah di Turki. Tapi pertimbangan ibu pada waktu itu adalah
konstribusinya di jalan dakwah. Itu yang aku kagumi dari ibu dan aku tidak akan
mampu menirunya. Aku tidak mungkin mau menikah dengan seorang lelaki yang telah
tiga kali kawin cerai dan umurnya 20 tahun lebih tua dariku. Ayah sangat
beruntung sekali memperistri ibu.”
“Bagaimana kau tahu begitu banyak tentang ibumu, tentang
pikirannya dan lain sebagainya padahal kau masih belia saat ibumu meninggal?”
“Sebagian aku tahu dari apa yang kulihat dan kudengar dari
ibu. Sebagian dari paman Akbar, dari nenek, dari bibi Sarah, dari ayah, dan
dari beberapa muslimah di Jerman yang menjadi teman baik ibu serta dari belasan
diary ibu. Ibu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
194
orang yang paling suka mencurahkan isi hatinya, dan
hari-hari yang dialaminya ke dalam diarynya.”
“Aku jadi sangat kagum pada ibumu.”
“Seandainya dia masih hidup kau akan sangat bahagia bertemu
dengannya. Dia tumbuh di Turki, memperoleh pendidikan tinggi dan berkiprah di
Jerman, tapi dia tetap titisan perempuan Palestina. Jiwanya jiwa pejuang
sejati.”
“Kalau ayahmu, masih ada?”
“Masih.”
“Kenapa dia tidak datang?”
“Inilah yang ingin aku ceritakan. Ayahku sekarang tidak
seperti ayah waktu ibu masih hidup.”
“Maksudmu?”
“Aku sedih setiap kali mengingatnya. Ayah telah rusak
kembali seperti sebelum menikah dengan ibu. Ia telah meninggalkan Islam dan
suka bergonta-ganti pasangan hidup.”
“Bagaimana hal ini bisa terjadi?”
“Mulanya adalah kecelakaan yang menewaskan ibu pada tahun
1995. Saat itu hujan lebat, ibu pulang dari mengisi seminar keislaman di
pinggir kota Munchen. Dia mengendarai mobil sendiri. Ada mobil melaju kencang
di belakang ibu. Mobil itu selip dan menambrak mobil ibu. Mobil ibu terbalik
dan terlempar lima meter dari ruas jalan. Ibu meninggal seketika. Saat itu
umurku baru empat belas tahun. Mendengar kabar itu ayah sangat terpukul. Ayah
merasa kehilangan cahaya hidupnya dan kehilangan segalanya. Berbulan-bulan
lamanya ayah linglung. Untung paman Akbar Ali mengetahui kondisi yang tidak
baik bagiku ini. Beliau akhirnya mengambilku dan menitipkan pada sahabat karib
ibu waktu di Istanbul yang tinggal di Zurich, Swiss. Juga seorang dokter.
Namanya Khaleda. Aku memanggilnya Madame Khaleda. Kebetulan beliau tidak
memiliki anak. Beliau mencurahkan segala kasih sayangnya padaku. Munchen-Zurich
tidak jauh. Ayah sering menengok aku. Dan Madame Khaleda juga sering mengajakku
menengok ayah. Aku melanjutkan pendidikan di Zurich. Sementara ayah masih belum
bisa menerima kenyataan yang dialaminya sampai dua tahun setelah itu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
195
Lalu ada sebuah peristiwa kecil yang menggoncang iman ayah.
Pada tahun 1997 ayah mengunjungi keluarga di Turki. Saat itu bibi Sarah
kebetulan sedang pulang berlibur dari Mesir. Bibi Sarah memang sangat mirip
dengan ibu. Ayah melihat bibi Sarah seperti melihat ibu. Saat itu umur bibi
Sarah tepat 24 tahun. Dan saat ibu menikah dengan ayah tahun 1979 umurnya 25
tahun. Jadi ayah seolah melihat ibu ketika baru menjadi isterinya dulu.
Seketika itu juga ayah melamar bibi Sarah untuk dijadikan isteri menggantikan
ibu. Sebelumnya ayah memang tidak pernah melihat bibi Sarah. Waktu ayah sering
berkunjung berkunjung ke Turki awal-awal delapan puluhan bibi Sarah masih
ingusan. Dan ketika berjumpa dengan bibi tahun 1997, bibi telah menjelma
menjadi gadis dewasa yang matang dan telah menyelesaikan Licencenya di Al
Azhar. Wajahnya, suaranya dan lemah lembutnya sangat mirip dengan ibu. Ayah
benar-benar tergila-gila pada bibi Sarah. Ayah menganggap bibi Sarah adalah
reinkarnasi ibu. Saat itu ayah sudah 63 tahun, sama dengan umur baginda Nabi
saat meninggal dunia.
Dengan tegas bibi menjawab tidak bisa menerima lamaran ayah.
Dan itu sangat masuk akal. Bagaimana mungkin bibi mau menikah dengan seorang
kakek-kakek. Jawaban bibi ternyata tidak bisa dimaklumi ayah. Ayah merasa
direndahkan dan tidak dihargai. Ayah merasa orang yang terhormat di Jerman.
Belum pernah ditolak wanita. Menurut ayah seharusnya bibi Sarah yang telah
belajar di Al Azhar seperti ibu. Bersedia menjadi isteri ayah dan mencari suami
tidak memandang umur. Tapi memandang prospek dakwah dan pengabdian seperti ibu.
Bibi membantah anggapan ayah itu, pintu dakwah terbuka lebar-lebar di mana
saja. Prospek dakwah tidak hanya dengan menikah dengan ayah yang telah renta.
Ayah sangat terpukul dengan jawaban bibi.
Sebagai pelariannya, tanpa pikir panjang, ayah menikah
dengan siapa saja yang mau menikah dengannya. Keislaman ayah ternyata belum
kuat meskipun telah hidup 16 tahun bersama ibu. Lama-lama karena hidup sering
berganti pasangan hidup keislamanannya luntur. Dan tahun 1999 beliau menikah
dengan seorang gadis di sebuah gereja di Yunani. Itu terjadi tepatnya dua bulan
setelah aku kembali ke Jerman. Madame Khalida kembali ke Turki saat aku selesai
sekolah menengahku. Beliau menyarankan agar aku melanjutkan kuliah di Jerman
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
196
sambil menjaga ayah yang sudah tua. Aku sangat sedih
mendapati ayah yang sangat lain dengan yang kukenal dulu. Beliau tidak lagi
menyayangiku seperti dulu. Beliau lebih bersikap acuh tak acuh. Aku berusaha
mengembalikan ayahku yang hilang. Tapi usaha kerasku kelihatannya tidak akan
membuahkan hasil. Pernikahan itu tidak berumur panjang.
Akhirnya ayah menikahi seorang janda setengah baya berambut
pirang bernama Jeany. Janda ini pandai sekali mengambil hati ayah. Sekuat
tenaga dia mempertahankan perkawinannya dengan ayah. Ia menginginkan harta
ayah. Di luar sepengetahuan ayah Jeany memiliki teman kumpul kebo di Stuttgart.
Setiap kali aku mengingatkan baik-baik hal ini ayah marah besar. Ia menuduhku
hendak merusak hubungannya dengan Jeany. Ayah sudah melupakan ibu sama sekali
sejak ditolak oleh bibi Sarah. Semua permintaan Jeany dituruti oleh ayah. Ayah
bahkan sudah membuat wasiat di notaris jika ia mati semua aset kekayaan yang
tertulis atas namanya akan menjadi hak Jeany. Ayah memang tergila-gila pada
Jeany. Untungnya klinik, empat swalayan di Munchen dan Hamburg, pabrik farmasi,
dan rumah mewah yang saat ini ditempati ayah telah diatasnamakan diriku oleh
mendiang ibu. Jeany terus berusaha agar semua harta yang telah teratasnamakan
diriku bisa jadi miliknya. Dia menggunakan cara yang tidak sehat dan sangat
memusuhiku. Dalam kondisi yang sedemikian tidak nyamannya aku tetap berusaha
bertahan, demi bakti seorang anak pada ayahnya. Meskipun ayah tidak lagi satu
iman denganku. Aku ingin menjadi anak ibu yang shalihah yang berbakti pada
ayahnya.
Dari perkawinannya dengan suami pertama, Jeany memiliki
seorang anak lelaki bernama Robin. Dia mengajak Robin tinggal di rumah mewah
itu. Dan ayah menyetujuinya meskipun aku tidak setuju. Sejak Robin tinggal satu
rumah denganku aku merasa seperti di neraka. Diam-diam Jeany merancang agar aku
menikah dengan Robin, yang dituju adalah segala aset kekayaan yang kini atas
nama diriku. Aku jelas tidak mau. Tapi Robin terus mengejarku. Terkadang dia
agak keterlaluan. Misalnya tiba-tiba masuk kamarku saat aku sedang belajar.
Tentu saja aku tidak sedang memakai jilbab. Aku sangat marah padanya.
Kelakuannya kuadukan pada ayah. Tapi ayah sama sekali tidak membelaku. Ayah
bukan ayah yang kukenal dulu. Aku tetap bertahan. Di hari tua ayah, aku ingin
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
197
tetap berada di samping ayah.. Sejak itu aku selalu mengunci
kamarku untuk berhati-hati.
Tapi Robin sungguh keterlaluan. Entah bagaimana caranya dia
bisa memasang kamera di kamar mandiku. Suatu malam dia menghadiahkan kaset itu
padaku. Langsung aku putar kaset itu. Betapa terperanjatnya aku melihat apa
yang dilayar kaca. Yang kulihat adalah diriku sedang gosok gigi dan mandi. Aku
sangat marah pada Robin, aku merasa harga diriku diinjak-injak.
Untungnya, Allah Swt masih menyelamatkan kehormatanku. Dalam
rekaman itu, aurat paling aurat yang kumiliki sama sekali tidak terbuka.
Tertutup rapat. Untuk itu aku sangat berterima kasih kepada ibu dan nenek.
Sejak kecil ibu mengajariku agar memiliki rasa malu kepada Allah melebihi rasa
malu pada manusia. Ibu menanamkan sejak kecil untuk tidak telanjang bulat di
manapun juga. Meskipun sedang sendirian di kamar tidur atau kamar mandi. Jika
mandi ibu mengajarkan untuk tetap memakai basahan. Orang-orang pilihan, kata
ibu, jika mandi tetap memakai basahan, tidak telanjang bulat. Ibu berkata,
‘Jika kita malu aurat kita dilihat orang, maka pada Allah kita harus lebih
merasa malu.’
Menurut cerita ibu, dan ibu dari dari nenek, di zaman nabi
dulu, ketika nabi tahu ada orang mandi tidak memakai sarung, beliau langsung
naik mimbar dan menyuruh umatnya untuk menutup aurat ketika mandi.
Alhamdulillah sejak sebelum akil baligh aku telah terbiasa
untuk mandi dengan tetap memakai basahan yang menutup aurat atas dan aurat
bawah. Dan memang inilah tradisi perempuan di keluarga kami, keluarga
Palestina. Nenek mendapatkan ajaran seperti itu dari ibunya. Lalu nenek
mengajarkan pada anaknya. Dan anaknya mengajarkan pada anaknya. Nenek, ibu,
bibi Sarah dan aku, tidak akan bisa mandi tanpa basahan. Malu rasanya.
Yang terekam oleh kamera Robin adalah aku menggosok gigi dan
mulai mandi. Durasinya hanya sepuluh menit setelah itu putus. Mungkin kaset
perekamnya habis. Aku bersyukur kepada Allah atas perlindungannya. Sebab satu
jam setelah mandi itu aku buang air kecil. Jika kegiatan sangat pribadi seperti
itu terekam, aku akan merasa menjadi wanita paling malang di dunia. Kejahatan
Robin aku laporkan ke polisi. Polisi langsung mengusut dan menahannya. Tindakannya
termasuk kriminal serius. Dia dijebloskan ke dalam penjara. Namun
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
198
satu minggu kemudian dia keluar. Ternyata justru ayah yang
membebaskannya dengan tebusan dan jaminan atas permintaan Jeany.
Sejak itu aku sangat marah pada ayah. Jika ayah mencintai
mendiang ibu, semestinya dia melindungi anak gadisnya. Bukan malah membebaskan
seorang bajingan yang mencoba membuka aurat anak gadisnya. Aku merasa sudah
tidak perlu lagi tinggal bersama mereka. Diriku bisa binasa. Aku hengkang dari
rumah dan menyewa flat di dekat kampus dan sejak itu tidak pernah lagi
menginjak rumah itu. Tapi rumah itu tidak mungkin kubiarkan jatuh ke tangan
Jeany. Sebetulnya aku bisa saja mengusir mereka semua. Tapi itu sama saja aku
mengusir ayah. Aku tidak mau itu. Nanti, jika tiba saatnya rumah itu akan
kembali jadi rumah yang enak disinggahi. Aku menghabiskan masa kecil bersama
ibu di sana. Sekarang aku hanya bisa berdoa semoga Allah kembali memberikan
hidayah-Nya kepada ayah.”
Aku mengelus pipi Aisha yang basah.
“Maafkan aku Fahri, suasananya jadi sedih.”
“Sekarang aku ini adalah dirimu Aisha, bukan orang lain.
Tapi aku merasa sangat cemburu sekali.”
“Kenapa?”
“Robin itu. Ingin sekali aku menghajarnya.”
“Terima kasih Fahri, love is never without jealousy. Cinta
selalu disertai rasa cemburu. Tanpa rasa cemburu cinta itu tiada. Kau memang
suami yang kuidamkan!”
* * *
Malam merambat begitu cepat.
“Jam berapa sekarang, Sayang?” tanyaku pada Aisha.
“Mungkin jam setengah sebelas,” jawabnya sambil menggeliat
dan bangkit.
“Sudah malam sudah waktunya kita masuk ke dalam, yuk!”
sambungnya sambil menarik tanganku. Aku bangkit menuruti ajakan Aisha. Sekilas
kulayangkan pandangan keluar. Kornes Nil masih ramai. Mobil-mobil masih banyak
yang lalu lalang dengan sorot lampu seperti cahaya meteor.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
199
Aisha mengajakku masuk kamar pengantin yang semerbak wangi.
Kami di tepi ranjang. Aku puas-puaskan menikmati keelokan wajahnya. Kedua matanya
sangat indah. Kami berpandangan saling menyelami. Terngiang dalam diri sabda
Nabi,
Sebaik-baik isteri adalah jika kamu memandangnya membuat
hatimu senang, jika kamu perintah dia mentaatimu, dan jika kamu tinggal maka
dia akan menjaga untukmu harta dan dirinya.98I
“Aisha, kau cantik sekali, memandang wajahmu sangat
menyenangkan!” lirihku.
Aisha tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya di
leherku.
“Fahri, kau pria terbaik yang pernah kutemui, kaulah cinta
pertama dan terakhirku. Aku punya sebuah puisi untukmu. Maukah kau
mendengarnya?”
Aku menganggukkan kepala. Kuperhatikan dengan seksama gerak
bibirnya. Apa yang akan diucapkannya. Dia malah diam lama sekali lalu
tersenyum. Aku gemes dibuatnya.
“Dengarlah baik-baik Kekasihku, jangan sampai ada satu huruf
yang terlewatkan. Puisi ini lebih berharga dari dunia ini seisinya. Kehilangan
satu huruf saja kau akan sangat menyesalinya:
agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu,
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpikupun berada dalam
benderang dan abadi99
Aisha luar biasa romantisnya. Kupandangi lekat-lekat
wajahnya sambil terus memuji keagungan Tuhan. Hasrat yang terlukis diwajahnya
dapat kubaca dengan jelas. Dengan suara pelan kubalas puisinya:
alangkah manis bidadariku ini
bukan main elok pesonanya
98 Hadits riwayat Ibnu Jarir.
99 Dipetik dari puisi berjudul “Kekasih” karya Paul Eluard,
Penyair Perancis abad ke-19 paling terkemuka dari golongan surealis.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
200
matanya berbinar-binar
alangkah indahnya
bibirnya,
mawar merekah di taman surga
Kami lalu memainkan melodi cinta paling indah dalam sejarah
percintaan umat manusia, dengan mengharap pahala jihad fi sabilillah, dan
mengharap lahirnya generasi pilihan yang bertasbih dan mengagungkan asma Allah
Azza wa Jalla di mana saja kelak mereka berada.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Seakan-akan bidadari itu seperti permata Yajut dan marjan.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.100
100 Ar-Rahmaan: 57-60.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
201
19. Rencana-rencana
“Aisha, berapa hari kita akan tinggal di flat mewah ini, dan
setelah itu kita akan tinggal di mana?” tanyaku pada Aisha setelah shalat
Dhuha. Dia belum memberi tahu rumah yang disewa untuk hidup berdua.
“Menurutmu, flat di pinggir Nil seperti ini nyaman apa
tidak?” Aisha malah balik bertanya.
“Nyaman.”
“Aman tidak?
“Aman.”
“Kondusif tidak untuk belajar, menulis atau menerjemah?”
“Sangat kondusif.”
“Kalau begitu aku ingin tinggal di flat ini selama ada di
Cairo, Sayang.”
Mendengar jawaban Aisha itu aku bagaikan disambar geledek.
Kaget bukan main. Dari mana aku akan mendapatkan biaya untuk menyewa flat yang
sangat mewah ini. Meskipun aku baru melihat ruang tamu, kamar utama, balkon
dapur dan kamar mandi dan belum melihat kamar-kamar yang lain tapi flat ini
sangat mewah. Kamar utamanya saja yang kini jadi kamar pengantin tak kalah
mewahnya dengan kamar Sheraton Hotel yang pernah kulihat saat menemui seorang
anggota DPR yang sedang melakukan lawatan di Cairo. Ruang tamunya lebih mewah
dari ruang tamu rumah Bapak Atdikbud. Berapa sewanya perbulan? Rumah Pak
Atdikbud saja yang letaknya di Dokki harga sewanya katanta tak kurang dari enam
ribu pound perbulan. Dan flat mewah ini yang terletak di pinggir sungai Nil
bisa tiga kali lipat mahalnya. Delapan belas ribu pound atau sekitar lima ribu
dollar perbulan. Bahkan bisa lebih. Itu adalah honor menerjemah mati-matian
selama dua tahun full. Tiba-tiba aku merasa sangat malang. Aku tidak mungkin
bisa memenuhi permintaan Aisha. Aku sangat sedih. Air mataku meleleh.
“Kenapa kau menangis Sayang?”
Aku menjelaskan semuanya pada Aisha yang bergolak dalam
hatiku. Aku sangat mencintainya. Tapi aku tidak akan mampu menuruti
keinginannya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
202
Kujelaskan kembali siapa diriku dan sebatas mana
kemampuanku. Aisha malah menangis.
“Suamiku, alangkah celakanya aku kalau sampai aku membuatmu
sedih. Kalau sampai aku meminta sesuatu yang di luar kemampuanmu. Alangkah
celakanya diriku. Suamiku, kita akan tinggal di sini tanpa mengeluarkan biaya
sepeser pun kecuali biaya listrik, gas, air, keamanan, dan kebersihan. Hanya
itu yang akan kita keluarkan perbulan. Tidak lebih?”
“Maksudmu kita tinggal di sini gratis?”
Aisha menganggguk.
“Aku tak bisa kita tinggal atas belas kasih orang lain
Aisha.”
“Apakah bagimu aku orang lain suamiku?”
“Jadi kau yang membayar sewanya Aisha. Tidak bisa Aisha, itu
akan sangat menyiksa diriku?”
“Bukan aku yang membayarnya suamiku.”
“Lantas siapa?”
“Tak ada yang membayarnya.”
“Itu namanya gratis, dan aku tidak mau kita tinggal di rumah
orang lain gratis.”
“Meskipun rumah itu rumah milik isterimu, dan isterimu
adalah milikmu?”
“Apa maksudmu Aisha, aku jadi bingung.”
Aisha bangkit dari sajadah dan menarik lenganku. Dia
membawaku memasuki kamar di samping kamar utama. Lihatlah isi kamar ini. Ini
adalah perpustakaan dan ruang kerjamu. Aku melihat kamar dengan kitab-kitab dan
buku-buku yang tersusun rapi. Kitab-kitab itu aku mengenalnya. Itu
kitab-kitabku. Juga ada komputer di dekat jendela. Itu komputer bututku. Aku
mendekati jendela, menyibak gordennya dan melongok. Panorama sungai Nil di
waktu dhuha sangat indahnya.
“Di sinilah insya Allah kau akan menulis tesismu, menerjemah
dan menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi umat. Dan aku akan
menjadi pendampingmu siang malam. Suamiku, flat ini dibeli oleh ibuku dua tahun
sebelum beliau meninggal. Ketika beliau diminta mengajar di Fakultas
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
203
Kedokteran Cairo University selama tiga semester. Waktu itu
aku baru berumur sebelas tahun. Selama enam bulan kami tinggal di rumah ini.
Dan kamar yang kita jadikan perpustakaan ini adalah kamar tidurku waktu itu.
Setelah kami kembali ke Jerman, rumah ini disewakan kepada home staff Kedutaan
Jerman. Yang terakhir menyewa adalah Mr. Edward Minnich, Atase Perdagangan.
Apartemen ini memang dihuni oleh orang-orang penting. Tepat di bawah kita adalah
pejabat kedutaan Argentina. Di atas kita sutradara terkemuka Mesir. Di samping
kita, flat nomor 20, pemilik Wadi Nile Travel.”
Aku baru mengerti. Dan aku tidak tahu apa yang kurasakan
dalam hati. Bagaimana gegernya teman-teman mahasiswa nanti mengetahui di mana
aku tinggal.
“Berapa harga sewa flat ini, Sayang?”
“Mr. Minnich menyewa dengan harga sembilan ribu dollar
perbulan.”
“Ha? Sembilan ribu dollar perbulan?” Aku kaget mendengar
angka nominal itu.
“Ya. Sembilan ribu dollar perbulan. Dan itu termasuk murah.
Sebab pasaran harganya semestinya sepuluh ribu dollar ke atas. Ini karena kami
sama-sama dari Jerman jadi sedikit di bawah standar.”
“Aisha, isteriku yang kucintai, harga sewa flat ini begitu
tinggi. Apa tidak sebaiknya kita sewakan saja. Lalu kita menyewa flat di Nasr
City yang lebih murah. Dengan seribu dollar saja, kita sudah bisa menyewa flat
yang tak kalah mewahnya di kawasan Abbas El-Akkad. Hanya saja di sana kita
tidak bisa melihat panorama sungai Nil. Tapi kenyamanan dan ketenangannya tak
jauh berbeda. Sisanya bisa kita gunakan untuk bermacam amal di jalan Allah,”
ucapku sambil memandang ke arah sungai Nil. Kurasakan Aisha memelukku dari
belakang. Dagunya ia letakkan di pundakku. Tingginya memang hampir sama
denganku. Aku hanya lebih tinggi tiga senti darinya.
“Sudah kuduga. Kau akan mengatakan demikian. Suamiku,
seandainya bukan ibuku yang membeli flat ini dan seandainya tidak ada kenangan
yang indah dalam flat ini, tentu sebelum kau sarankan aku sudah melakukannya.
Aku sangat mencintai ibu dan setelah rumah di Jerman itu, flat ini adalah
tempat kedua yang paling indah dalam kenanganku bersama ibu. Aku ingin kita
berdua tinggal di sini
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
204
selama di Cairo. Dan flat ini milik kita, kita lebih tenang
daripada menyewa. Kau tahu sifat orang Mesir ‘kan? Tidak semuanya baik. Tidak
semua tuan rumah baik. Aku tidak mau membuang energi dan ketenangan karena
masalah sepele dengan tuan rumah yang tidak baik. Kau tahu teman paman Eqbal
ada yang diusir tuan rumahnya tengah malam musim dingin, tanpa sebab yang
jelas. Aku tak mau itu terjadi pada kita. Kalau kita menemukan tuan rumah yang
baik alhamdulillah, kalau kebetulan menemukan tuan rumah yang suka rewel, tentu
sangat tidak enak. Tapi kau adalah imamku, suamiku. Jika kau tetap memutuskan
tidak tinggal di flat ini aku akan menurutimu. Kaulah yang harus memutuskan apa
yang menurutmu terbaik untuk hidup kita berdua, dan untuk anak-anak kita seandainya
kita punya anak. Sebagai isteri aku telah memberikan masukan. Aku yakin kau
akan memutuskan yang terbaik.” Aisha lalu memelukku erat-erat.
“Nanti kita istikharah,” jawabku lirih.
Aisha lalu membawaku melihat-lihat seluruh sisi rumah.
Sebuah rumah yang mewah dan sangat nyaman untuk tempat tinggal. Ruang tamu yang
luas dengan shofa khusus didatangkan dari Perancis. Dua balkon. Ruang santai.
Satu kamar utama dengan kamar mandi di dalamnya. Dua kamar mandi, di dekat
ruang tamu dan dekat dapur. Dan tiga kamar ukuran sedang. Yang satu telah
disulap Aisha menjadi ruang kerja dan perpustakaan. Kamar paling dekat dengan
ruang tamu telah dipersiapkan oleh Aisha seandainya ada keluarga, atau teman
yang ingin menginap. Aisha lalu kembali mengajakku ke perpustakaan dan
mengajakku duduk di lantai yang dialasi karpet tebal. Ia duduk bersila di
hadapanku.
“Suamiku, kita ini satu jiwa. Kau adalah aku. Dan aku adalah
kau. Kita akan mengarungi kehidupan ini bersama. Dukamu dukaku. Dukaku dukamu.
Sukamu sukaku. Sukaku sukamu. Cita-citamu cita-citaku. Cita-citaku cita-citamu.
Senangmu senangku. Senangku senangmu. Bencimu benciku. Benciku bencimu.
Kurangmu kurangku. Kurangku kurangmu. Kelebihanmu kelebihanku. Kelebihanku
kelebihanmu. Milikmu milikku. Milikku milikmu. Hidupmu hidupku. Hidupku
hidupmu.”
Hatiku sangat tersentuh dan terharu mendengar perkataannya
itu.
“Suamiku, padaku ada dua ATM. Mohon Kau pilihlah satu!”
Aisha meletakkan dua kartu ATM di depanku. Aku ragu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
205
“Suamiku, kalau kau mencintaiku, benar-benar mencintaiku dan
memandang diriku adalah milikmu maka ambillah jangan ragu!”
Aku tak bisa tahan menatap sorot matanya yang teduh. Dengan
mengucapkan basmalah dalam hati aku mengambil yang paling dekat.
“Terima kasih Suamiku, kau tidak menganggap diriku orang
lain. Aku akan menjelas semua hal berkaitan dengan ATM itu dan apa yang aku
miliki saat ini. Aku ingin kau yang mengaturnya sepenuhnya. Sebab kau adalah
imamku dan aku sangat percaya padamu. Suamiku, ATM yang kau pilih sekarang
berisi dana 3 juta empat ratus tiga puluh ribu dollar!”
Aku tersentak mendengarnya.
“Itu adalah rizki yang diberikan Allah kepada kita melalui
perusahaan keluarga di Turki. Ceritanya begini. Kakekku, Ali Faroughi, atas
kemurahan Allah adalah bisnisman berhasil yang memiliki tiga perusahaan. Yaitu
perusahaan tekstil, travel, dan susu. Sebelum meninggal beliau memanggil tiga
anaknya yaitu ibuku, paman Akbar, dan bibi Sarah. Beliau membagi dan menyuruh
masing-masing memilih perusahaan mana yang disukai. Beliau menyuruh yang paling
muda yaitu bibi Sarah untuk memilih lebih dulu. Bibi Sarah memilih perusahaan
susu karena dia paling suka minum susu. Lalu paman Akbar memilih travel karena
dia orang yang hobinya melancong. Dan ibu dengan sendirinya mendapat jatah
perusahaan tekstil.
Kakek orang yang bijaksana dan berpandangan jauh ke depan.
Beliau tidak memberikan masing-masing perusahaan itu secara individual penuh.
Beliau ingin ketiga anaknya dan keturunannya masih erat rasa persaudaraan dan saling
memilikinya. Maka beliau memberikan dengan sistem kepemilikan saham. Pabrik
Susu beliau berikan kepada bibi Sarah dengan kepemilikan saham sebesar 60
persen. Selebihnya paman Akbar diberi jatah kepemilikan saham 20 persen, juga
ibu. Begitu juga travel, 60 persen milik paman Akbar, yang 40 persen milik ibu
dan bibi. Juga perusahaan tekstil 60 persen milik ibu yang 40 persen milik
paman dan bibi. Tujuan kakek mengatur seperti itu adalah agar semuanya tetap
masih merasa saling memiliki. Juga biar rasa solidaritasnya tetap ada. Kakek
berharap semua anaknya akan tetap hidup layak. Seandainya ada salah satu
perusahaan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
206
yang bangkrut atau gulung tikar maka pemiliknya masih
memiliki masukan dari dua perusahaan lain.
Sekarang semua perusahaan dibawah kontrol paman Akbar.
Beliau sosok yang berbakat dan profesional seperti kakek. Setiap bulan laba
bersih perusahaan diaudit. Maksudnya bersih memang benar-benar bersih setelah
dipotong zakat dan pajak. Sepuluh persennya diberikan kepada para pemilik
saham. Dan sembilan puluh persennya dikembalikan ke perusahaan untuk diputar
lagi. Sepuluh persen dari laba perusahaan itu dibagikan pada pemilik saham
sesuai dengan besarnya saham yang dia miliki. Bulan lalu dari pabrik tekstil
masuk nominal sebesar 60.000 dollar. Berarti laba bersih perusahaan bulan itu 1
juta dollar. Sepuluh persennya 100.000 dollar dibagi tiga. 60 persen untuk
diriku sebagai pengganti ibu, 20 persen paman Akbar dan 20 persen bibi Sarah.
Dari perusahaan travel bulan lalu masuk dana 57 ribu dollar, padahal jatah kita
hanya dua puluh persen dari sepuluh persen laba perusahaan atau dua persen saja
dari laba perusahaan. Dan dari perusahaan susu masuk 78 ribu dollar. Perusahaan
travel dan susu memang sudah sangat maju. Perusahaan travel malah sudah
merambah perhotelah dan perusahaan susu sudah merambah produksi bahan makanan.
Rencananya tahun ini perusahaan tekstik akan mencoba melebarkan sayap dengan
mendirikan anak perusahaan di Malaysia. Jadi bulan lalu masuk dana 195 ribu
dollar dari Turki ke ATM itu. Dan kira-kira tiap bulan akan masuk dana sebesar
itu. Bisa lebih bisa kurang. Bagi orang dunia ketiga, itu jumlah yang sangat
besar. Tapi bagi pemilik perusahaan raksasa di negara-negara maju itu jumlah
yang sangat kecil sekali.
Suamiku, terserah mau kau atur bagaimana ATM yang ada
ditanganmu itu. ATM yang aku pegang ini berisi dana dari aset bisnis di Jerman.
Sekarang telah terisi dana 7 juta dollar. Sistemnya aku buat seperti yang di
Turki. Tiap bulan Cuma sepuluh persen dari laba bersih perusahaan yang masuk ke
pemilik perusahaan. Dan yang ini tidak akan kita otak-atik dulu sampai nanti
ketika kita tinggal di Indonesia. Kita akan menggunakannya sebaik mungkin
bersama-sama. Jadi aku tidak akan mengutik-utik ATM yang ada di tanganku. Lapar
kenyangku adalah atas kebijakanmu. Kaulah yang menjatah dana untuk diriku.
Kaulah yang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
207
menentukan besarnya dana belanja tiap bulan. Kalau aku minta
sesuatu maka aku akan minta padamu. Kaulah imamku.”
Mendengar apa yang dituturkan Aisha aku jadi sedih, pucat
merinding dan bergetar. Aku memegang ATM senilai $ 3.430.000,- atau kira-kira
sebesar 30 milyar rupiah. Aku merasa gunung Merapi hendak menimpaku.
“Kenapa mukamu jadi berubah warna suamiku? Apakah aku
melakukan sesuatu yang menyinggungmu?” tanya Aisha.
“Tidak Aisha. Aku tiba-tiba memikul beban amanah sedemikian
beratnya, yang tidak pernah aku bayangkan. Dirimu adalah amanah bagiku. Dan apa
yang kau miliki yang kau letakkan di tanganku adalah amanah yang sangat berat
bagiku. Aku tak tahu apakah bisa memikul amanah seberat ini?”
“Aku percaya padamu Suamiku.”
Bahwa aku suatu saat akan menjadi imam bagi isteriku dan
kelak anak-anakku adalah hal yang sudah aku bayangkan. Aku akan jadi suami
seorang muslimah Turki juga telah aku bayangkan setelah bertemu Aisha di rumah
Syaikh Utsman dan aku sudah membayangkan bagaimana suasana rumah tangga nanti.
Sederhana seperti teman-teman Indonesia. Namun aku akan menjadi imam dan
penentu jalan hidup seorang jet set shalihah pemilik perusahaan di Turki dan
Jerman yang mewakafkan diri dan hartanya di jalan Allah tidak pernah
terbayangkan sama sekali.
Aku merasa ilmu, iman dan pengalamanku belum cukup untuk
hidup mendampingi seorang Aisha yang kini aku tahu sebenarnya siapa dia. Aku
harus meminta saran, nasihat dan pertimbangan pada orang-orang yang lebih kuat
jiwanya dan lebih luas cakrawala pandang dan pengalamannya. Aku mengajak Aisha
untuk shalat hajat agar Allah memberikan rahmat, taufik dan belas kasihnya
sehingga semua amanat dapat ditunaikan dengan baik.
Hari itu juga aku menelpon Syaikh Ahmad Taqiyuddin. Aku
minta waktu bertemu beliau aku ingin konsultasi pada beliau secepatnya. Beliau
melarang diriku pergi ke Hadayek Helwan. Beliau dan isterinya yang justru akan
mendatangi kami.
Sore itu selepas ashar beliau datang. Aisha dan Ummu Aiman,
isteri beliau, berbincang di ruang tamu. Sementara beliau kuajak ke
perpustakaan, aku
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
208
ceritakan semua masalahku pada beliau terutama masalah
amanat yang dibebankan Aisha.
“Syaikh, aku sangat takut dengan sindiran Allah dalam
Al-Qur’an, Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah
mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang
dikehendaki-Nya dengan ukuran.101 Aku takut kalau sampai melampaui batas
Syaikh,” ucapku pada Syaikh Utsman.
“Akhi, yang melampaui batas adalah mereka yang tidak
memiliki rasa takwa dan tidak merasa diawasi oleh Allah. Selama seseorang masih
memiliki rasa takut dan diawasi Allah maka, insya Allah, dia tidak akan sampai
melampaui batas. Masalah menginfakkan harta yang dalam tuntunan Al-Qur’an kau
pasti sudah tahu,” jawab beliau.
Kemudian beliau banyak memberikan nasihat dan saran, terutama
yang berkaitan dengan perjalanan hidup dengan seorang isteri. Bahwa dalam
bersuami-isteri ada selalu ada dua kemauan, watak, sifat yang terkadang
berbeda. Seni mengolah perbedaan menjadi sebuah keharmonisan ibadah itulah yang
harus diperhatikan.
Menurut beliau aku tidak perlu pindah dari flat yang telah
aku tempati. Karena tidak menyewa dan milik Aisha. Ini sekaligus untuk
menyenangkan hati Aisha yang memiliki kenangan indah di flat ini bersama
ibunya. Apalagi flat ini terletak di tempat yang sangat tenang dan kondusif
untuk menulis tesis. Tak jauh dari flat ini ada perpustakaan IIIT. Hanya dengan
berjalan kaki sepuluh menit sudah sampai ke sana. Juga dekat dengan salah satu
kampus Universitas Helwan. Masjid juga dekat. Tinggal bersyukur kepada Allah. Beliau
juga meminta kepadaku untuk terus menggali semua pengalaman hidup yang telah
dijalani Aisha. Agar aku bisa bersikap arif pada Aisha. Beliau meminta kepadaku
untuk mengetahui gaya hidupnya sejak kecil. Beliau meminta agar aku bijaksana
tidak memaksakan Aisha mengikuti gaya dan standar hidupku yang memang sangat
sejak kecil sederhana. Beliau meminta untuk hidup sewajarnya. Zuhud tidak
berarti tidak mau menyentuh sama sekali nikmat yang telah diberikan oleh Allah
Swt, tapi zuhud adalah mempergunakan nikmat itu untuk ibadah. Tidak
101 Asy Syura: 27.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
209
selamanya orang yang makan dengan hanya roti kering dan
seteguk air lebih baik dari orang yang makan roti cokelat dan segelas susu.
Jika dengan makan roti cokelat badan menjadi sehat dan segar, ibadah khusyu dan
tenang, bisa bekerja dengan lebih baik dan bersemangat serta merasakan
keagungan Allah yang telah memberikan nikmat tentu lebih baik dengan yang makan
roti kering tapi lemas dan berkeluh kesah saja kerjanya. Tidak selamanya yang
berjalan kaki lebih baik dari yang naik mobil. Jika dengan naik mobil lebih
bisa mengefisienkan waktu, ibadah lebih tenang karena tidak capek dan lebih
bisa banyak melakukan kegiatan yang bermanfaat tentu sangat baik.
“Jangan terlalu pelit dan jangan terlalu boros. Dua kelakuan
itu berakibat penyesalan dan sangat dicela Allah Swt, firman-Nya dalam
Al-Qur’an, ‘Dan jangan kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan
jangan kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan
menyesal.’102
Beliau lalu memberi tahu hal-hal yang sangat disukai oleh
seorang isteri. Beliau menyuruh agar tidak segan-segan mengungkapkan perasaan
cinta. Seorang isteri paling suka dipuja dan dicinta. Juga tidak segan mengajak
isteri ke toko pakaian dan toko perhiasan. Sering-sering minta pendapat, suatu
kehormatan bagi seorang isteri merasa dirinya sangat penting bagi pengambilan
keputusan sang suami. Dari kunjungan Syaikh Ahmad aku banyak mendapatkan banyak
sekali pelajaran kehidupan yang berarti. Aku merasa lebih siap dengan hidup
yang sedang aku jalani. Ada kata-kata beliau yang sangat menyentuh diriku,
“Aku pernah mengalami hal yang sama dengan dirimu. Ummu
Aiman adalah puteri tunggal konglomerat di Maadi. Ia menyerahkan kekayaannya
sepenuhnya di tanganku. Aku dulu juga bingung, aku pergi ke tempat seorang
ulama dan beliau memberikan nasihat seperti apa yang aku nasihatkan padamu. Ada
satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Banyak lelaki yang menjadi kerdil
setelah memiliki isteri yang cantik dan kaya raya. Semangat juang dan kerja
kerasnya luntur. Tapi kita mempunyai teladan yang mulia yaitu Rasulullah Saw.
Isteri beliau, Sayyeda Khadijah, adalah konglomerat Makkah pada zamannya, dan
itu tidak membuat beliau kerdil tapi justeru sebaliknya dengan
102 Al-Israa: 29
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
210
kekayaan isterinya itu beliau menegakkan agama Allah. Maka
kau tidak boleh kerdil. Kau harus terus bekerja, menerjemah dan berkarya lebih
keras!”
Malamnya aku ajak Aisha berbincang-bincang di perpustakaan
sambil mendengarkan dendangan nasyid Rasailul Asywaq103 yang indah dibawakan
anak-anak Mesir. Kami duduk di lantai beralas karpet. Aku bentangkan dua kertas
karton berisi rancangan peta hidup yang telah aku buat beberapa bulan yang lalu
sebelum menikah. Peta hidup sepuluh tahun ke depan. Dan rancangan satu tahun.
Tentunya peta hidup itu harus dirubah. Melihat apa yang aku gelar mata Aisha
terbelalak.
“Subhanallah! Bagaimana mungkin kita memiliki kebiasaan yang
sama. Ibuku sejak kecil telah mengajarkan hal seperti ini padaku. Dan aku juga
memiliki peta dan rancangan seperti ini. Rancangan peta hidup sepuluh tahun ke
depan. Rancangan kegiatan tahunan, bulanan, mingguan, dan harian. Tunggu
sebentar ya Sayang!” Aisha beranjak menuju kamar utama. Lalu kembali dengan
membawa agenda biru.
“Ini telah peta hidupku sepuluh tahun ke depan. Memang kita
harus membuat peta hidup bersama,” kata Aisha gembira.
Kami pun lalu merancang bersama. Dalam rancangan Aisha, awal
April kembali ke Munchen untuk menyelesaikan S1. Lalu S2 di Sorbonne University
dan S3 di Bonn University. Sementara aku masih harus menulis tesis, kalau
lancar baru dua tahun lagi selesai dan langsung S3 di Al Azhar. Harus ada
kompromi-kompromi. Jika Aisha transfer S1 ke Mesir, bukan tidak mungkin tapi
sangat susah. Proses administrasi universitas-universitas Mesir sangat
melelahkan. Jika aku ikut ke Jerman juga bukan tidak mungkin, tapi susah,
target selesai master dua tahun lagi bisa molor. Di Jerman tidak ada bahan yang
cukup untuk menulis tesis disiplin ilmu tafsir. Harus ada jalan keluar.
Akhirnya kami sepakat melakukan kompromi. Jalan tengahnya
adalah Turki. Di Turki semua target bisa dikejar. Rencananya bulan April tahun
depan berangkat ke sana. Aisha bisa transfer S1 ke Istanbul University.
Prosesnya mudah. Aisha bahkan tidak perlu repot mengurus sendiri. Ia bisa minta
tolong seorang temannya di Munchen untuk mengurus berkasnya yang mengirimnya ke
103 Risalah Kerinduan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
211
alamat pamannya di Istanbul. Jadi Aisha bisa tetap selesai
S1 tahun depan dan selama di Turki aku bisa mendapatkan bahan tentang Syaikh
Said An-Nursi. Selama di Turki juga akan menambah eratnya persaudaraan dengan
keluarga besar di Turki. Setelah selesai S1 Aisha mengalah untuk kembali ke
Mesir menemani aku sampai selesai S2. Sebenarnya aku mempersilakan kalau dia
mau langsung ke Sorbonne, tapi dia tidak mau berpisah denganku sama sekali.
Tapi setelah master aku yang harus mengalah. Aku harus mengikuti Aisha ke
Sorbonne. Setelah kupikir tidak masalah S3 di Sorbonne sementara Aisha S2. Toh,
Almarhum Syaikh Abdullah Darraz, Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar
mengambil S3 nya juga di Sorbonne. Setelah selesai S3 barulah pulang dan
merencanakan hidup di Indonesia, Aisha mengalah untuk tidak langsung S3. Bahkan
seandainya terpaksa S3 di Indonesia tidak apa-apa. Tapi dia membuat cadangan S3
di Australia yang dekat dengan Indonesia.
Kami lalu merancang agenda setengah tahun ini. Awal bulan
depan Aisha minta ke Alexandria, satu minggu saja, masih dalam rangkaian bulan
madu. Dia juga minta umrah dan selama bulan puasa sampai hari raya ada di
tengah keluarga di Indonesia. Akhirnya sepakat awal Ramadhan pergi umrah,
sepuluh hari di tanah suci dan langsung terbang ke Indonesia.
Lalu kami membuat rencana satu bulan ke depan. Lebih banyak
di rumah. Aisha membuat jadwal kami bermain cinta. Naik perahu berdua di sungai
Nil. Menyaksikan pagelaran musik rakyat Palestina di Opera House. Melihat
pertunjukan drama komedi di Ballon Teater. Pergi ke El-Mo’men Restaurant. Ke
Masjid Musthofa Mahmud mendengarkan ceramah Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al
Buthi yang rencananya lima hari lagi akan datang dari Syiria. Aku menambah
jadwal talaqqi qiraah sab’ah pada Syaikh Utsman dan berkunjung ke rumah Syaikh
Abdul Ghafur Ja’far. Aisha menekankan: Dan ke Alexandria!
Kami lalu membuat jadwal harian. Kapan baca Al-Qur’an dan
tadabbur bersama. Shalat dhuha. Shalat malam. Waktu menerjemah dan waktu yang
tepat untuk bercinta. Begitu selesai membuat rancangan peta hidup Aisha
berkata,
“Sayang, aku punya puisi indah untukmu dengarkan:
agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
212
Aku langsung menyahut dengan suara lantang seperti Antonius
merayu Cleopatra:
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpikupun berada dalam
benderang dan abadi
Di tepi sungai Nil, hari-hari yang indah kami lalui bersama.
Semua serba indah. Dunia terasa milik kami berdua. Kenikmatan demi kenikmatan,
kebahagiaan demi kebahagiaan kami reguk bersama. Seperti di surga. Muncul
kebiasaan baru Aisha, ia tidak bisa tidur kecuali aku membelai-belai rambutnya
dan mengelus-elus ubun kepalanya, seperti seorang ibu menidurkan bayinya. Aku
juga semakin banyak tahu watak dan karakter Aisha, tingkahnya kalau merajuk,
tidak suka, marah, caranya memuji, hal-hal yang ia sukai dan ia benci, juga
pengalaman hidupnya sejak kecil. Suatu kali sebelum tidur Aisha bercerita, “Ibu
sering mengajariku agar berdoa dalam sujud saat shalat malam: Ya Allah,
letakkanlah dunia di tanganku, jangan di hatiku.” AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
213
20. Surat dari Nurul
Dua hari menjelang keberangkatan ke Alexandria kami belanja
ke Attaba. Pasar rakyat paling besar di Mesir. Tak ada trasnportasi langsung
dari ke sana. Kami naik bis mini dari mahattah Abul Fida yang tak begitu jauh
dari apartemen kami menuju Tahrir. Sampai di Tahrir kami naik metro bawah tanah
ke Attaba. Aisha iseng minta diajak melihat toko-toko buku loakan. Dua jam kami
di sana. Aku menemukan beberapa buku yang bisa dijadikan referensi. Aisha hanya
melihat-lihat dan membolak-balik buku. Akhirnya ia membeli empat bundel komik
Donald Bebek.
“Kau aneh sekali, untuk apa Sayang?” heranku. Bagaimana
tidak heran, orang secerdas dan sedewasa dia kok beli komik Donald Bebek.
“Untuk belajar bahasa Arab. Ini ‘kan komik bahasa Arab. Aku
ingin tahu kalimat-kalimat yang lucu. Nanti kalau kita punya anak ini juga ada
gunanya. Aku suka anakku nanti tertawa-tawa renyah. Karena tertawa adalah
musiknya jiwa. Dan rumah kita nanti tidak sepi,” jawab Aisha santai. Cara
berpikir Aisha yang mahasiswi psikologi terkadang menarik dan mengejutkan.
Sampai di rumah kulihat Aisha sangat kelelahan. Perjalanan
dari Attaba sampai rumah memang sangat melelahkan. Padahal sebenarnya tidak
terlalu jauh. Transportasinya yang memang melelahkan. Metro bawah tanah penuh
sesak orang yang pulang kerja. Juga bis mininya. Kami berdua berdesakan. Aku
sangat hati-hati menjaga Aisha. Aku tak ingin ada tangan jahil menyentuhnya.
Setelah membuka cadar dan jilbabnya, Aisha langsung menyalakan AC dan
membanting tubuhnya di sofa. Ia mengatur nafasnya. Mukanya yang putih memerah
dan pucat. Kuambilkan air mineral dingin untuknya. Ia menerima dengan
tersenyum.
“Danke, mein Mann,” 104 lirihnya.
“Bitte.”105
Selama ini kami memang berkomunikasi dengan tiga bahasa;
Jerman, Arab, dan Inggris. Lebih banyak pakai bahasa Arab. Aisha yang
memintanya
104 Terima kasih, suamiku.
105 Terima kasih kembali.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
214
untuk terus memperbaiki bahasa Arabnya. Jika dia kehabisan
kosa kata ia akan mengatakannya dalam bahasa Inggris atau Jerman.
“Sayang, capek ya berdiri dan berdesakan,” tanyaku sambil
menuangkan air mineral ke dalam gelas.
“Ya.”
“Di Jerman kalau berangkat kuliah gimana? Sering berdesakan
seperti tadi nggak?”
“Transportasi di Jerman sangat baik tidak seperti di Mesir.
Dan kebetulan aku jarang naik angkutan umum.”
“Terus? Jalan kaki? Apa kontrakanmu dekat dengan kampus?”
“Tidak juga. Aku menyewa rumah lima kilo dari kampus. Dan
alhamdulillah aku punya mobil sendiri.”
Aku langsung tahu apa yang harus aku lakukan. Sangatlah
zhalim diriku kalau aku membiarkan isteriku sedemikian tersiksa dan berdesakan
sementara di tanganku ada tiga juta dollar lebih. Aku jadi teringat nasihat
Syaikh Ahmad, “Jangan kau paksakan isterimu mengikuti standar hidupmu yang
sangat sederhana. Jangan pelit dan jangan boros!”
“Mobilmu apa, Sayang?”
“Land Cruiser. Aku suka model Jeep.”
Aku menawarkan, bagaimana kalau membeli mobil. Ternyata
sebenarnya itu juga ingin dia bicarakan padaku sejak tiga hari yang lalu. Cuma
dia maju mundur akhirnya tidak berani bicara. Takut kalau aku tidak setuju. Aku
tekankan padanya untuk tidak menyembunyikan keinginan apa pun dariku.
“Meskipun kusembunyikan toh kelihatannya kau bisa membaca
keinginanku. Kau memang suami yang baik,” pujinya.
Aku harus mencari orang yang tahu seluk beluk mobil di
Mesir. Biar tidak kena tipu. Biar urusan dengan kepolisian mudah dan lain
sebagainya. Aku teringat Yousef, adiknya Maria. Bagaimana kabar mereka? Sudah
pulang dari Hurgada apa belum ya? Sudah tahu aku menikah apa belum? Aku perlu
menghubungi Yousef. Ia kelihatannya tahu seluk beluk mobil. Selama jadi
tetangganya kulihat sudah tiga kali ganti mobil.
“Hallo. Yousef?” AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
215
“Ya. Ini siapa?”
“Fahri. Kapan pulang?”
“Baru tadi pagi. Selamat ya atas pernikahannya. Aku sudah
diberi tahu sama Rudi. Sayang sekali. Kami menyesal. Seharusnya kami menelpon
kalian begitu tiba di sana dan memberikan nomor telpon hotel kami menginap.”
“O tidak apa-apa. Mama dan papa juga sudah pulang juga?”
“Belum. Mereka masih akan di sana satu minggu lagi. Tapi
Maria sudah pulang. Mau bicara sama dia?”
“Tidak. Lain kali saja. Salam buat dia. Oh ya, aku mau minta
tolong padamu. Bagaimana kita secepatnya bisa bertemu?”
“Kau sekarang ada di mana?”
“Di Zamalik. Muhammad Mazhar Street.”
“Kedutaan Swedia?”
“Lurus ke utara ada Apartemen tertinggi di ujung pulau. Flat
nomor 21.”
“Malam ini juga aku ke sana. Aku sudah rindu ingin ketemu
padamu sekalian aku bawakan kado istimewa.”
“Terima kasih, kutunggu.”
* * *
Pukul delapan malam Yousef datang bersama Maria. Yousef
masih seperti biasa, cerah dan ceria melihatku. Maria agak lain, dia sama
sekali tidak cerah. Dingin. Tersenyum pun tidak. Mungkin belum hilang lelahnya
dari Hurgada.
“Ini kado sederhana dari aku dan Maria. Maaf tidak bisa
memberi yang mewah-mewah maklum kami belum punya penghasilan,” kata Yousef
menyerahkan kado kecil yang dibungkus manis.
Maria lebih banyak menunduk. Sepertinya ia lesu sekali. Kami
berbincang sambil menikmati karikade hangat. Aku jelaskan pada Yousef rencanaku
membeli mobil. Dia sangat senang mendengarnya. Dia bertanya kriterianya.
Kujawab model jeep, tangan kedua, masih bagus dan normal semua. Dia berjanji
paling lambat besok sore dia akan menghubungi.
Hanya setengah jam mereka berada di rumah kami. Aku minta
tolong pada Yousef menjelaskan pada Rudi dan teman-temannya route rumah kami.
Sebab
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
216
sejak acara walimah itu aku belum berkomunikasi dengan mereka
lagi. Dan itu atas permintaan mereka. “Sebelum satu minggu tidak boleh
menghubungi Hadayek Helwan. Pengantin baru satu minggu penuh harus tenang,”
kata mereka. Akhirnya malah kebablasan, dan mereka terlupakan.
Begitu Yousef dan Maria pulang aku langsung membuka kadonya.
“Kurang ajar, Yousef dan Maria itu!” umpatku.
“Apa sih isinya? Kenapa sampai mengumpat segala?” heran
Aisha mendengar aku mengumpata. Ia melihat isi kado. Botol berisi serbuk.
“Serbuk apa ini, Fahri?” tanya Aisha. Aku ragu untuk
menjelaskannya. Tapi Aisha terus mendesak.
“Serbuk Dhab Mashri,” jawabku.
“Apa itu Dhab Mashri?” kejarnya. Aduh bagaimana ini.
Terpaksa aku jelaskan juga. Dhab Masri adalah kadal Mesir,
dan khasiatnya untuk obat kuat yang—kata orang-orang yang pernah
mencobanya—lebih dahsyat dari Viagra, telah digunakan oleh para raja dan
pangeran Mesir kuno. Mendengar penjelasanku Aisha salah tingkah, pipi merona
merah, lalu tersenyum indah sekali.
* * *
Atas bantuan Yousef, kami berhasil membeli Nissan Terrano
hitam metalik yang masih baru dengan harga sangat miring. Baru dipakai
pemiliknya setengah tahun. Aisha senang sekali. Hari itu juga kami berdua
berjalan-jalan mengelilingi kota Cairo. Tentu saja aku tidak bisa menyetir.
Yang menyetir Aisha. Ia juga punya SIM Internasional. Aku jadi guidenya. Tujuh
tahun di Kairo aku sudah hafal seluk beluk kota Cairo. Acara jalan-jalan pun
lancar dan mengasyikkan.
Malam sebelum keberangkatan ke Alexandria, Mishbah datang
bersama Mas Khalid. Mereka memberitahukan dua hari lagi Pelatihan Ekonomi Islam
akan dilaksanakan selama satu minggu di Wisma Nusantara. Aku kira pelatihan itu
sudah selesai ternyata diundur. Aku diminta menjadi salah satu moderator
sekaligus pendamping dosen-dosen yang semuanya dari Mesir. Aku tidak bisa
memutuskan sendiri. Aku harus bermusyawarah dengan Aisha. “Tidak apa-apa, AYAT
AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
217
penuhi saja permintaan mereka. Kita tunda berangkatnya
setelah pelatihan saja. Aku juga ingin tahu konsep ekonomi Islam itu seperti
apa.” Jawab Aisha.
Selama satu minggu setiap hari kami ikut pelatihan. Dan
sudah tentu, seperti yang aku prediksi, mahasiswa Indonesia geger melihat aku
datang dan pergi dengan membawa mobil, disopiri oleh seorang isteri bercadar.
Mana ada mahasiswa Indonesia memakai mobil? Kecuali beberapa gelintir dan bisa
dihitung dengan jari.
Terobosan, bulletin mahasiswa Indonesia di Cairo paling
vokal, kembali usil. Tanpa sepengetahuanku mereka berusaha mewawancarai Aisha
mengenai proses pernikahan kami. Mereka sungguh kreatif. Untung saja Aisha
isteri yang baik, ia tidak mau berkomentar sama sekali, dan menyuruh kru
Terobosan langsung mewawancaraiku. Kepada mereka aku kisahkan prosesnya yang
sungguh sangat sederhana.
Dua hari setelah itu Terobosan terbit. Segala keterangan
yang aku berikan tertulis jelas. Yang membuatku geli adalah tanggapan-tanggapan
dari beberapa kalangan aktifis yang pro dan kontra. Yang memandang positif dan
negatif penikahan kami. Yang paling menggelitik hatiku dan justru paling
kusukai adalah komentar seorang mahasiswi aktifis gender:
“Aku yakin si Aisha, isteri Fahri dari Turki itu pasti
jelek. Kalau cantik mana mungkin dia mau. Apalagi katanya dia itu kaya, punya
flat mewah di pinggir Nil segala. Yakin deh pasti wajahnya jelek. Dan kenapa
Fahri tetap mau dengan gadis jelak? Karena Fahri mengejar kekayaannya. Jadi
meskipun isterinya jelek dia mau saja, yang penting kaya. Dan untuk menutupi
jeleknya makanya Fahri menyuruhnya memakai cadar dengan dalil agama.”
Aku suka sekali membaca komentar itu. Kalau mereka tahu
kecantikan Aisha semakin geger suasananya. Biarlah aku seorang yang tahu
kecantikan Aisha. Tapi ada komentar singkat yang membuat hatiku merasa tidak
enak. Komentar dari Nurul sebagai Ketua Wihdah:
“Pernikahan Fahri (Indonesia) dengan Aisha (Turki berdarah
Palestina) menunjukkan universalitas Islam. Aku tahu siapa Aisha. Sebelum dia
menikah dengan Fahri dia pernah banyak bertanya padaku tentang budaya
Indonesia,
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
218
khususnya masyarakat Jawa. Selamat buat Fahri yang berhasil
menyunting muslimah Turki yang shalehah dan jelita.”
Nurul ternyata juga ikut pelatihan.
Dalam satu kesempatan, saat pulang, aku dan Aisha bertemu
dengannya di gerbang Wisma. Aku tidak menyapanya dan dia juga tidak menyapaku.
Namun Nurul bisa berbincang-bincang santai dengan Aisha seolah tidak pernah
terjadi apa-apa. Hatiku lega. Semoga dia telah menemukan jalan keluar atas
masalahnya. Sebelum berpisah Nurul memberikan selembar surat pada Aisha. Di
mobil Aisha menyerahkan sepucuk surat itu padaku sambil bergumam, “Katanya ini
pesan dari seseorang untukmu dan minta di baca jika sudah sampai di rumah.”
Sampai di rumah langsung aku baca surat itu.
Untuk Kak Fahri
Yang sedang berbahagia
Bersama isterinya
Assalamu’alaikum wr. wb.
Kutulis surat ini dengan lelehan air mataku yang tiada
berhenti dari detik ke detik. Kutulis surat ini kala hati tiada lagi menahan
nestapa yang mendera-dera perihnya luar biasa. Kak Fahri, aku ini perempuan
paling bodoh dan paling malang di dunia. Bahwa mengandalkan orang lain sungguh
tindakan paling bodoh. Dan aku harus menelan kepahitan dan kegetiran tiada tara
atas kebodohanku itu. Kini aku didera penyesalan tiada habisnya. Semestinya aku
katakan sendiri perasaanku padamu. Dan apakah yang kini bisa kulakukan kecuali
menangisi kebodohanku sendiri. Aku berusaha membuang rasa cintaku padamu
jauh-jauh. Tapi sudah terlambat. Semestinya sejak semula aku bersikap tegas,
mencintaimu dan berterus terang lalu menikah atau tidak sama sekali. Aku
mencintaimu diam-diam selama berbulan-bulan, memeramnya dalam diri hingga cinta
itu mendarahdaging tanpa aku berani berterus terang. Dan ketika kau tahu apa
yang kurasa semuanya telah terlambat.
Kak Fahri,
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
219
Kini perempuan bodoh ini sedang berada dalam jurang
penderitaannya paling dalam. Dan jika ia tidak berterus terang maka ia akan
menderita lebih berat lagi. Perempuan bodoh ini ternyata tiada bisa membuang
rasa cinta itu. Membuangnya sama saja menarik seluruh jaringan sel dalam
tubuhnya. Ia akan binasa. Saat ini, Kak Fahri mungkin sedang dalam saat-saat
paling bahagia, namun perempuan bodoh ini berada dalam saat-saat paling
menderita.
Kak Fahri,
Apakah tidak ada jalan bagi perempuan bodoh ini untuk
mendapatkan cintanya? Untuk keluar dari keperihan dan kepiluan hatinya.
Bukankah ajaran agama kita adalah ajaran penuh rahmah dan kasih sayang. Kak
Fahri adalah orang shalih dan isteri Kak Fahri yaitu Aisha adalah juga orang
yang shalihah. Bagi orang shalih semua yang tidak melanggar syariah adalah
mudah.
Kak Fahri,
Sungguh maaf aku sampai hati menulis surat ini. Namun jika
tidak maka aku akan semakin menyesal dan menyesal. Bagi seorang perempuan jika
ia telah mencintai seorang pria. Maka pria itu adalah segalanya. Susah
melupakan cinta pertama apalagi yang telah menyumsum dalam tulangnya. Dan
cintaku padamu seperti itu adanya telah mendarah daging dan menyumsum dalam
diriku. Jika masih ada kesempatan mohon bukakanlah untukku untuk sedikit
menghirup manisnya hidup bersamamu. Aku tidak ingin yang melanggar syariat aku
ingin yang seiring dengan syariat. Kalian berdua orang shalih dan paham agama
tentu memahami masalah poligami. Apakah keadaan yang menimpaku tidak bisa
dimasukkan dalam keadaan darurat yang membolehkan poligami? Memang tidak semua
wanita bisa menerima poligami. Dan tenyata jika Aisha termasuk yang tidak
menerima poligami maka aku tidak akan menyalahkannya. Dan biarlah aku mengikuti
jejak puteri Zein dalam novel yang ditulis Syaikh Muhammad Ramadhan Al Buthi
yang membawa cintanya ke jalan sunyi, jalan orang-orang sufi, setia pada yang
dicintai sampai mati.
Wassalam,
Nurul Azkiya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
220
Air mataku mengalir deras membaca surat Nurul. Aku tak tahu
harus berbuat apa. Hatiku ikut pilu.
“Sayang, apa isinya sampai kau menangis?” tanya Aisha sambil
mengusap air mata dipipiku dengan ujung jilbabnya. Kutatap wajah isteriku.
Haruskah aku berterus terang padanya? Aku tak ingin membuat dirinya kacau dan
cemburu. Aku harus melindungi ketenangan jiwanya. Yang jelas aku sama sekali
tidak mau mengkhianatinya. Bisa jadi jika aku berterus terang, dia bisa
menerima usulan Nurul, tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku
tidak akan memadu isteriku. Aisha adalah perempuanku yang pertama dan terakhir.
“Kenapa diam Sayang? Apa isinya?” tanya Aisha kembali.
“Bacalah sendiri!”
Aisha melihat surat itu. Ia mengerutkan keningnya.
“Kau bercanda. Ini bahasa Indonesia ‘kan? Mana aku tahu
maksudnya. Apa yang ditulisnya sampai kau menangis?”
“Ah tidak apa-apa. Isinya nasihat. Agar aku menjagamu dengan
baik. Berusaha memahamimu dan memaklumi perbedaan-perbedaan di antara kita yang
memang berbeda latar belakang budaya dan pendidikan. Dia juga menasihati agar
aku aku mengajarimu bahasa dan adat istiadat masyarakat Indonesia agar kelak
jika pulang ke Indonesia kau bisa beradaptasi dan diterima dengan baik.
Terakhir dia menasihatiku agar menyempatkan waktu untuk menengok kedua orang
tua di Indonesia, jangan terlalu asyik di Mesir. Aku teringat ibuku.” Terpaksa
aku berbohong, aku tak ingin ketenangan hatinya terusik. Aku harus melindungi
keluargaku dari segala gangguan.
Aisha mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasanku.
“Nasihat yang baik sekali. Dia memang muslimah yang baik. Sekali-kali
kita harus undang dia dan teman-temannya kemari. Dia memuliakan diriku saat aku
berkunjung ke rumahnya,” ujar Aisha.
* * *
Seketika itu juga aku menulis surat balasan untuk Nurul.
Kepada
Nurul Azkiya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
221
Cahaya orang-orang yang bersih hatinya
Di bumi perjuangan mulia
Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Saat menulis surat ini hatiku gerimis. Tiada henti kuberdoa
semoga Allah menyejukkan hatimu, menerangkan pikiranmu, membersihkan jiwamu,
dan mengangkat dirimu dari segala jenis penderitaan dan kepiluan.
Nurul,
Terima kasih atas suratnya. Aku sudah membacanya dengan
seksama dan aku memahami semua kata-kata yang kau tulis. Kalau kau merasa harus
setia pada cintamu. Maka aku merasa harus setia pada isteriku, pada belahan
jiwaku. Kalau kau memiliki anggapan poligami bisa menjadi jalan keluar dalam
masalah ini, bisa jadi ada benarnya. Poligami memang diperbolehkan oleh
syariat, tapi aku tidak mungkin menempuhnya. Aku perlu menjelaskan, di antara
syarat yang telah kami sepakati sebelum akad nikah adalah aku tidak akan memadu
Aisha. Aku sudah menyepakati syarat itu. Kau tentu tahu hukumnya, aku harus
menepatinya. Hukumnya wajib.
Nurul,
Dalam hidup ini, cinta bukan segalanya. Masih ada yang lebih
penting dari cinta. Sebenarnya jikalau kita bercinta maka seharusnya itu
menjadi salah satu pintu menjalankan ibadah. Janganlah terlalu kau turutkan
perasaanmu. Gunakanlah akal sehatmu, karena akal sehat adalah termasuk bagian
dari wahyu. Kau masih memiliki masa depan yang luar biasa cerahnya. Kau
ditunggu oleh ribuan generasi di tanah air. Jadilah kau seorang Nurul seperti sebelum
mengenalku. Nurul yang bersih dan bercahaya, seperti namanya Nurul Azkiya ,
Cahaya bagi orang-orang yang bersih hatinya.
Nurul,
Apakah kau sadar dengan apa yang kau lakukan saat ini?
Dengan tetap menuruti perasaanmu untuk menyesal dan membodoh-bodohkan diri kau
telah merusak dirimu sendiri. Ajaran agama kita yang hanif melarang manusia
membinasakan dirinya sendiri dengan cara dan alasan apa pun. Memasung diri
sampai menderita dengan alasan setia pada cinta adalah perbuatan yang tidak
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
222
seirama dengan sunnah nabi. Kau jangan salah tafsir pada
novel yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi. Dengan novel
itu beliau ingin menghibur dan menyejukkan orang-orang yang mereguk pahitnya
cinta karena kelaliman orang-orang yang tidak mengerti cinta. Beliau membela
orang yang semestinya dibela, dan mencela orang-orang lalim yang semestinya
dicela. Adapun Puteri Zein yang membawa cintanya sampai ke liang lahat itu
bukan atas kehendaknya. Berbeda dengan dirimu. Jika kau membawa cintamu sampai
mati maka itu atas kehendakmu, dan itu sama saja dengan bunuh diri.
Nurul,
Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang
terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kita pada pasangan hidup kita yang
sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan
diagung-agungkan. Nurul, dunia tidak selebar daun anggur. Masih ada jutaan
orang shalih di dunia ini yang belum menikah. Pilihlah salah satu, menikahlah
dengan dia dan kau akan mendapatkan cinta yang lebih indah dari yang pernah kau
rasakan.
Terkadang, tanpa sengaja kita telah menyengsarakan orang
lain. Itulah yang mungkin kulakukan padamu. Maafkanlah aku. Semoga Allah masih
terus berkenan memberikan hidayah dan rahmatnya, juga maghfirahnya kepada kita
semua.
Wassalam,
Fahri Abdullah.
Surat itu kumasukkan dalam amplop dan kuberikan kepada Aisha
untuk diberikan kepada Nurul besok paginya saat pelatihan.
Aisha bertanya, “Isinya apa?”
Kujawab, “Ucapan terima kasih. Aku gantian menasihatinya
untuk segera menikah.”
“Benar. Dia sudah saatnya menikah, sebentar lagi selesai
kuliah. Semoga dia dapat suami yang baik dan shalih,” ujar Aisha polos sambil
tersenyum.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
223
21. Di San Stefano, Alexandria
Selesai pelatihan kami mempersiap segala sesuatu untuk pergi
ke Alexandria. Dengan cermat Aisha mendata semua keperluan yang harus dibawa.
Termasuk laktopnya. Selama satu minggu di sana ia berencana menulis biografi
ibunya. Ia pernah ke Alexandria bersama ibunya. Jadwal di Alexandria telah
tersusun baik. Di antaranya adalah pergi ke perpustakaan Universitas Alexandria
untuk mencari tambahan referensi dan menemui Syaikh Zakaria Orabi, seorang imam
masjid yang menurut keterangan Syaikh Utsman pernah berjumpa dengan Syaikh
Badiuz Zaman Said An-Nursi.
Dengan Nissan Terrano kami sampai di kota Alexandria. Kota
kebanggaan rakyat Mesir. Aku tidak hafal betul route kota budaya ini. Setelah
bertanya beberapa kali akhirnya kami sampai di San Stefano Hotel. Sebenarnya
aku ingin naik bis saja. Tapi Aisha memaksa menggunakan mobil pribadi. Ketika
aku sedikit ragu akan keputusannya. Ia meyakinkan diriku dengan berkata:
“Di Jerman aku sering keluar kota dengan mobil pribadi. Aku
bahkan pernah menempuh jarak Munchen-Hamburg dengan mobil sendiri. Kau jangan
kuatir, insya Allah selamat. Apalagi Cairo-Alexandria cuma 177 km, jalannya pun
lebar dan lurus, dengan kecepatan santai tiga-empat jam sampai!”
Karena dia merasa yakin sekali semuanya akan baik-baik saja.
Dia juga ingin sekali berkeliling Alexandria dengan mobil sendiri maka aku pun
menyetujuinya. Untuk menginap sebenarnya sudah aku tawarkan padanya menginap di
rumah khusus tamu milik mahasiswi Malaysia, tapi Aisha tidak mau. Aisha Aisha
ingin menginap di hotel San Stefano dan di kamar yang ia dan ibunya dulu pernah
menginap. Sudah jauh-jauh hari ia pesan kamar itu. Ia ingin bernostalgia sambil
menulis biografi ibunya. Itulah untuk pertama kalinya aku menginap di hotel
berbintang. Sudah empat kali aku ke Alexandria dan tidak pernah menginap di
hotel. Dua kali ikut mukhayyam 106 musim panas yang diadakan oleh Universitas
Al Azhar. Dan yang dua kali bersama teman-teman Malaysia dan menginap di rumah
khusus tamu milik organisasi mahasiswi Malaysia di Alexandria.
106 Perkemahan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
224
Hotel San Stefano terletak tepat di garis pantai laut
Mediterania. Balkon kami kami menghadap ke laut. Malam pertama di San Stefano
Aisha berbisik,
“Sayang, Dhab Mashrinya dicoba yuk!”
Aku tersenyum. Aisha selalu berterus terang. Apakah karena
dia bukan perempuan Jawa? Tapi keterusterangannya membuat aku senang. Aku
teringat perkataan Sayyidina Muhammad Al Baqir, “Wanita yang terbaik di antara
kamu adalah yang membuang perisai malu ketika ia membuka baju untuk suaminya,
dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi!” Dan Aisha adalah wanita
seperti itu.
“Dhab Mashrinya tidak kubawa?”
“Kenapa?”
“Aku takut menjelma jadi kadal.”
Aisha tertawa geli.
Di Alexandria kami melewati hari-hari indah. Tidak terlalu
kalah indahnya dengan hari-hari di tepi sungai Nil. Tapi tepi sungai Nil
tetaplah lebih terkesan, karena kami menghabiskan malam paling indah sepanjang
hayat di sana. Satu minggu telah berlalu, tapi Aisha ingin menambah satu minggu
lagi untuk menuntaskan biografi ibunya. Ternyata dengan memandang laut yang
indah Aisha merasa pikirannya lebih jernih. Banyak kenangan yang bersama ibunya
yang terus berkelabat di kepalanya. Ia sudah menulis tiga ratus halaman dan
biografi itu belum juga selesai. Aku merasa tidak ada masalah menambah hari
lagi. Sementara dia sibuk dengan biografi ibunya, aku sibuk talaqqi kitab
hadits Shahih Bukhari di Masjid Imam Abdul Halim Mahmud yang diajar oleh Syaikh
Zainuddin El-Maula.
Suatu malam ada sms masuk ke handphone-ku. Dari Yousef .
Kubuka:
“Maria sakit, mama minta agar memberi tahu kamu.”
Aku tersenyum. Madame Nahed masih menganggap aku bagian dari
keluarganya. Puterinya sakit langsung memberi kabar. Aku tidak membalas
apa-apa. Aku hanya berdoa dalam hati semoga Maria segera sembuh. Dan nanti jika
sudah kembali ke Cairo, aku akan mengajak Aisha mengunjungi mereka, sekalian
mengunjungi teman-teman seperjuangan di Hadayek Helwan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
225
Setelah dua minggu di Alexandria, waktu pulang pun tiba.
Dari mengaji pada Syaikh Zainuddin aku mendapatkan pengetahuan tentang fiqhul
hadits yang sangat berharga. Dari Syaikh Zakaria Orabi aku mendapatkan kisah
perjalanan hidup Said An-Nursi, juga beberapa lembar teks khutbah Jum’atnya
yang ditulis tangan oleh Syaikh Zakaria. Dan Aisha berhasil menyelesaikan
biografi ibunya. Tertulis dalam bahasa Jerman sebanyak 545 halaman satu spaso,
Microsoft Word, Times New Roman, font 12. Sehari menjelang pulang ke Cairo kami
jalan-jalan ke kawasan El-Manshiya yang merupakan pusat kota Alexandria dan
disebut juga Alexandria lama. Di El-Manshiya itulah tepatnya kota Alexandria
kuno berada. Puing-puing peninggalan Romawi masih ada di sana. Misalnya dapat
di lihat bekasnya di Graeco-Roman Museum dan Achaeological and Roman
Amphitheatre. Kami juga belanja di sana, tak lupa kami membeli dua jaket untuk
Hosam dan Magdi, dua penjaga keamanan apartemen kami. Sekadar sebagai hadiah
dan pengikat jiwa.
Terakhir kami berziarah ke makam Luqman Al Hakim yang
namanya disebut dalam Al-Qur’an dan dijadikan nama surat ketiga puluh satu.
Makam Luqman berdampingan dengan makam Nabi Daniyal. Berada di goa bawah tanah
masjid Nabi Daniyal, tak jauh dari terminal utama Alexandria. Selama menatap
makam Luqman air mataku meleleh teringat nasihat Luqman pada anaknya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar".
"Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan)
seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi,
niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha
Halus lagi Maha Mengetahui.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).107I
Luqman seperti masih hidup dan menasihati diriku dengan
suaranya yang penuh wibawa dan mengetarkan jiwa. Jika aku punya anak kelak, aku
ingin
107 Surat Luqman: 13,16, dan 17. AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
226
mendidiknya seperti Luqman mendidik anaknya. Aku ingin
menasihatinya seperti Luqman menasihati anaknya. Aku ingin bersikap bijaksana
padanya seperti Luqman bersikap bijaksana pada anaknya. Ya Tuhan, kabulkan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
227
22. Penangkapan
Dalam perjalanan pulang entah kenapa aku merasakan kecemasan
yang menyusup begitu saja dalam jiwa. Selama melewati jalan lurus yang membelah
lautan padang pasir aku terus berdoa agar diberi keselamatan sampai tujuan.
Kupandang lekat-lekat wajah Aisha yang sedang konsentrasi mengemudikan
kendaraan. Dalam hati aku berkata:
Aku cemas bila kehilangan kau
Aku cemas pada kecemasanku108
Aisha terus mengebut dengan tenang. 90 km/jam. Semua
kendaraan berjalan cepat. Tak ada yang lambat. Bus West Delta menyalib dengan
kecepatan gila. Memasuki Giza, awal masuk kota Kairo dari arah Alexandria, kami
mampir di sebuah restoran untuk makan malam dan sedikit membeli oleh-oleh buat
Si Hosam dan Magdi. Dua penjaga apartemen yang dalam waktu singkat sudah sangat
akrab dengan kami. Tepat pukul sembilan malam kami tiba di gerbang apartemen.
Dua malam sebelum Ramadhan tiba. Rencana berangkat umrah awal Ramadhan terpaksa
diundur satu minggu. Baru masuk rumah sms dari Yousef datang, mengabarkan
kondisi Maria semakin memburuk dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit Maadi.
Kondisi kami sangat lelah. Tidak mungkin langsung meluncur ke Maadi. Aku
membalas dengan mengabarkan baru tiba dari Alexandria dan insya Allah besok
pagi akan datang menjenguk.
Selesai membersihkan badan dengan air hangat kami shalat
berjamaah. Selesai shalat aku turun ke bawah membawa oleh-oleh untuk Hosam dan
Magdi. Dua bungkus ayam panggang dan dua jaket baru. Mereka senang sekali
menerimanya. Aku kembali naik dan mengajak Aisha istirahat. Ketika mata baru
saja akan terlelap, Aisha terbangun dan berlari ke kamar mandi. Ia
muntah-muntah. Kubuntuti dia. Kupijit-pijit tengkuknya. Mukanya pucat. Dalam
pikiranku dia masuk angin dan kelelahan. Ia telah bekerja keras, memforsir
tenaga dan pikirannya untuk menulis biografi ibunya selama di Alexandria. Ia
juga harus konsentrasi selama tiga jam mengendarai mobil. Aku merasa sangat
kasihan pada
108 Petikah puisi berjudul “Sajak” karya Penyair Amerika,
John Cornford, diterjemahkan oleh Chairil Anwar.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
228
isteriku. Aku berniat aku harus bisa menyetir agar isteriku
tidak kelelahan. Kugosok punggungnya dengan minyak kayu putih. Telapak tangan,
kaki, perut dan lehernya kuolesi minyak kayu putih. Kubuatkan ramuan obat
andalanku jika lelah dan meriang. Segelas madu hangat diberi habbah barakah.
Rasulullah pernah memberi tahu bahwa habbah barakah bisa menjadi obat segala
penyakit. Setelah meminum ramuan itu Aisya kuajak tidur.
Pagi hari ia tampak segar. Pukul sembilan saat aku bersiap
mengajaknya ke rumah sakit Maadi. Tiba-tiba dia kembali muntah-muntah. Aku
bingung. Aku takut ia terkena penyakit yang orang Jawa bilang masuk angin
kasep, yaitu masuk angin yang bertumpuk-tumpuk dan parah. Aku urung ke Maadi,
dengan taksi kubawa Aisha ke klinik terdekat. Seorang dokter berjilbab
memeriksanya. Hampir setengah jam lamanya Aisha berada dalam kamar periksa
dengan dokter berjilbab. Ketika keduanya keluar, dokter berjilbab itu
tersenyum, “Selamat! Setelah kami periksa air seninya dan kami lanjutkan dengan
USG, isteri anda positif hamil!”
Wajah Aisha cerah. Kepadaku ia mengerlingkan mata kanannya.
Aku merasakan kebahagiaan luar biasa. Begitu sampai di flat Aisha berkata
dengan wajah cerah,
“Melodi cinta yang kau mainkan sungguh ampuh suamiku. Dan
memang saat malam pertama dan malam-malam indah setelah itu adalah saat aku
sedang berada dalam masa subur. Allah telah mengatur sedemikian indahnya.
Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan anugerahNya yang agung ini pada kita
berdua.”
Aku tersenyum dan langsung mencium pipinya yang bersih.
Aisha menggeliat manja. Ia lalu mengangkat telpon memberi tahu bibinya, Sarah.
Ia juga memberi tahu Akbar Ali, pamannya di Turki. Aku melihat kalender. Tak
terasa kami telah hidup bersama sejak malam pertama itu selama satu bulan
lebih. Hari-hari indah selalu berlalu begitu saja tanpa terasa. Rasanya aku
baru sehari bersama Aisha.
Untuk menghayati keagungan nikmat yang telah Tuhan berikan,
kuajak Aisha sujud syukur dan shalat dhuha. Kepadanya aku berpesan untuk tidak
banyak beraktifitas keluar rumah. Menjelang zhuhur aku bersiap untuk menjenguk
Maria yang sakit. Aisha kuminta di rumah. Dia pesan dibelikan buah pir dan
korma. Tiba-tiba ada orang membunyikan bel dengan kasar sekali. Aku bergegas
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
229
membuka pintu dibuntuti Aisha yang penasaran siapa yang
membunyikan bel seperti orang gila itu. Begitu pintu kubuka. Tiga orang polisi
berbadan kekar menerobos masuk tanpa permisi dan menghardik,
“Kau yang bernama Fahri Abdullah?!”
“Ya benar, ada apa?”
“Kami mendapatkan perintah untuk menangkapmu dan menyeretmu
ke penjara, ya Mugrim!”109 bentak polisi yang berkumis tebal.
“Kalian bawa surat penangkapan dan apa kesalahanku?”
“Ini suratnya, dan kesalahanmu lihat saja nanti di
pengadilan!”
Aku membaca selembar kertas itu. Aku ditangkap atas tuduhan
memperkosa. Bagaimana ini bisa terjadi.
“Ini tidak mungkin! Ini pasti ada kesalahan. Saya tidak mau
ditangkap!” bantahku.
“Jangan macam-macam, atau kami gunakan kekerasan!” bentak
polisi Mesir. Aku sangat geram pada sikapnya yang sangat jauh dari sopan dan
kelihatan sangat angkut. Aisha cemas dan memegangi tanganku. Polisi Mesir itu
berkata-kata dengan suara keras seperti anjing menyalak.
“Ayo ikut kami!” tegas polisi kurus hitam sambil memegang
erat-erat tangan kananku. Aku menarik tanganku tapi polisi hitam
mencengkeramnya kuat-kuat dan memasang borgol. Tangan kiriku dipegang Aisha,
dia menangis.
“Ada apa ini Fahri, ada apa!?” tanya Aisha dengan muka
pucat.
Polisi berkumis menarik tangan kiriku dari pegangan Aisha
dan memaksa memborgolku.
“Sebentar Kapten biarkan aku sedikit bicara pada isteriku!?”
ucapku dengan suara tegas.
“Boleh. Dua menit saja!” kata Si Kumis.
Aku lalu menjelaskan pada Aisha, hal seperti ini sering
terjadi di Mesir. Polisi Mesir tidak memakai azas praduga tak bersalah. Tapi
praduga bersalah. Jika dicurigai langsung ditangkap akan dibebaskan kalau
terbukti tidak bersalah. Aku berpesan pada Aisha untuk bersabar dan langsung
menghubungi Paman Eqbal, teman-teman PPMI, dan Kedutaan Besar Republik
Indonesia. Surat
109 Wahai penjahat.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
230
penangkapannya kuminta untuk aku berikan kepada Aisha.
Tujuanku agar nanti mudah dilacak keberadaanku. Tapi polisi itu tidak
memperbolehkannya. Aku pun pasrah digelandang tiga polisi itu. Kulihat Aisha
terisak-isak. Aku dibawa turun melalui lift. Di halaman mobil kerangkeng besi
menungguku. Sebelum masuk mobil kerangkeng aku sempat mendongakkan kepala ke
arah jendela flat lantai 7. Di sana kulihat wajah Aisha yang basah air mata.
Aku tidak tahu akan dibawa ke mana. Dalam beberapa jam saja kegembiraan yang
aku rasakan berubah menjadi kesedihan dan kecemasan. Kota Cairo yang indah
tiba-tiba terasa seperti sarang monster yang menakutkan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
231
23. Dalam Penjara Bawah Tanah
Aku dibawa ke markas polisi Abbasea. Diseret seperti anjing
kurap. Lalu diinterogasi habis-habisan, dibentak-bentak, dimaki-maki dan
disumpahserapahi dengan kata-kata kotor. Dianggap tak ubahnya makhluk najis
yang menjijikkan. Tuduhan yang dialamatkan kepadaku sangat menyakitkan:
memperkosa seorang gadis Mesir hingga hamil hampir tiga bulan.
“Orang Indonesia kau sungguh anak haram. Saat mengandung
dirimu, ibumu makan apa heh? Makan bangkai anjing ya? Kau pura-pura menolong
gadis malang itu ternyata kau menerkamnya. Kau berani menginjak-injak
kehormatan perempuan kami. Kau ini mahasiswa Al Azhar, katanya belajar agama,
ternyata manusia bejat berwatak serigala!” Seorang polisi hitam besar
membentakku lalu menampar mukaku dengan seluruh kekuatan tangannya. Kurasakan
darah mengalir dari hidungku.
“Akui saja, kau yang memperkosa gadis bernama Noura yang
jadi tetanggamu di Hadayek Helwan pada jam setengah empat dini hari Kamis 8
Agustus yang lalu? Akui saja, atau kami paksa kau untuk mengaku! Jika kau
mengakuinya maka urusannya akan cepat.”
Kata-kata polisi itu membuatku kaget bukan main. Noura hamil
dan aku yang dituduh memperkosanya. Sungguh celaka!
Dengan tetap berusaha berkepala dingin aku mencoba
menjelaskan kepada mereka itu adalah sebuah tuduhan keji. Lalu kujelaskan semua
kronologis kejadian malam itu. Sejak mendengar jeritan Noura disiksa ayah dan
kakaknya sampai paginya dititipkan ke rumah Nurul. Tapi penjelasanku dianggap
seolah suara keledai. Mereka malah tertawa. Dan menjadikan aku bulan-bulanan
oleh hinaan, makian dan tamparan yang membuat bibirku pecah.
“Kami memiliki bukti kuat kaulah pemerkosa gadis malang itu.
Dia sangat menyesal mengikuti bujuk rayumu. Dia telah menceritakan semuanya.
Dan dia juga punya saksi kau melakukan perbuatan terkutuk yang merusak masa
depannya itu. Kau sudah tahu bahwa hukuman pemerkosa di negara ini adalah
hukuman gantung. Sekarang kau hanya memiliki dua pilihan. Mengakui perbuatanmu
itu, dan kau mungkin akan mendapat keringanan atas kerja samamu. Sehingga kau
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
232
mungkin tidak akan dihukum gantung. Atau kau tetap bersikeras
mengingkarinya dan terpaksa nanti pengadilan akan menggantungmu. Pilih mana?”
Polisi hitam besar kembali menggertak. Hatiku sempat ciut. Aku teringat
ulama-ulama yang mengalami nasib tragis di tangan para algojo negara ini. Apa
pun jalannya, kematian itu satu yaitu mati. Allah sudah menentukan ajal
seseorang. Tak akan dimajukan dan dimundurkan. Maka tak ada gunanya bersikap
lemah dan takut menghadapi kematian. Dan aku tidak mau mati dalam keadaan
mengakui perbuatan biadab yang memang tidak pernah aku lakukan.
“Kapten, aku memilih membuktikan di pengadilan bahwa aku
tidak bersalah. Aku yakin negara ini punya undang-undang dan hukum. Aku minta
disediakan pengacara!”
“Tindakan bodoh! Di pengadilan kau akan kalah! Kau akan
dihukum gantung! Lebih dari itu kau akan masuk surat kabar! Kau akan diteriaki
orang-orang sebagai pemerkosa! Kenapa kau tidak memilih mengakuinya dan kita
tutup kasus ini diam-diam. Kita buat kesepakatan-kesepakatan dengan keluarga
Noura sekarang. Kalau mereka memaafkan kau mungkin akan bernasib lebih
baik.Kami masih sedikit berbelas kasihan padamu karena kau orang asing. Kalau
kau orang Mesir sudah kami binasakan!” bentak polisi hitam dengan mata melotot.
“Aku bukan pelaku pemerkosaan itu Kapten! Aku akan buktikan
bahwa aku tidak bersalah!” tegasku.
“Baiklah aku akan memberimu waktu berpikir dua hari. Jika
kau tetap bersikeras tidak mau mengaku dan mengambil jalan kompromi maka
terpaksa kau kami seret ke meja hijau dan jangan salahkan kami jika nasibmu
berakhir di tiang gantungan dan namamu dilaknat semua orang!”
“Yang berhak melaknat hanya Allah. Dan hanya Allahlah yang
tahu segalanya. Aku tidak akan takut dengan caci maki manusia selama aku merasa
berada di jalan yang benar!”
“Hahaha…kau ini sok pintar! Jalan benar apa? Apa memperkosa
itu jalan yang benar? Kau ini sudah selesai S.1. di Al Azhar. Gadis-gadis
Indonesia saja banyak kenapa ketika itu kau tidak memilih menikah dengan salah
satu dari mereka. Kenapa kau malah memilih memperkosa gadis malang itu dengan
pura-pura mau menolong? Dan itu kau anggap jalan yang benar? Dasar anak anjing!
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
233
Dasar anak pelacur!” Polisi hitam itu mengumpat-umpat kasar.
Entah kenapa mendengar kalimat umpatan terakhir darahku mendidih.
“Kau yang anak anjing! Wajahmu hitam penuh dosa! Kau yang
anak pelacur! Yakhrab baitak!” balasku mengumpat dengan sama kasarnya. Wajah
polisi itu semakin gosong. Giginya gemerutuk seperti monster mau menelanku. Ia
pun melayangkan tangan kanannya ke mukaku.
“Bawa dia ke penjara dan cambuk sepuluh kali atas
penghinaannya padaku!” Perintahnya pada tiga anak buahnya yang tadi
menangkapku. Tiga polisi itu lalu menggelandangku ke penjara. Inilah untuk
pertama kalinya aku masuk penjara. Kami melewati sel-sel yang berisi tahanan
yang semuanya orang Mesir. Mereka semua terheran-heran melihat kehadiranku.
Tiga polisi itu terus menggelandangku hingga sampai disebuah ruangan kosong.
Ada sebuah kursi kayu kusam dan didindingnya tergantung beberapa alat penyiksa.
Cambuk. Pentungan dari karet. Ganco. Tali. Dan lain sebagainya.
Polisi gendut melepas pakaianku. Lalu menyuruhku berdiri
menghadap tembok. Setelah itu aku merasakan sabetan cambuk yang perih di
punggungku. Tidak sepuluh kali tapi lima belas kali. Aku merasakan sakit luar
biasa. Mereka lalu melepas borgolku dan menyeretku ke sebuah ruangan, melucuti
semua pakaianku kecuali pakaian dalam. Juga sepatuku. Dalam keadaan hanya
memakai celana dalam mereka menggunduliku. Lalu melempar seragam tahanan ke
arahku. Cepat-cepat aku menutup aurat. Si Kumis menyuruh aku berdiri tegap
dengan tangan diletakkan dibelakang punggung. Si Hitam memegang kedua tanganku
yang kulipat dibelakang punggung kuat-kuat. Sementara Si Gendut mengikat kedua
kakiku. Lalu dengan sangat kurang ajar Si Kumis mempermainkan kemaluanku. Aku
menjerit-jerit dan meronta-ronta. Meludahi Si Kumis. Tapi mereka terus saja
terbahak-bahak seperti setan. “Ini yang digunakan untuk memperkosa itu
oh..oh..oh! Burung kakak tua..hehehe..kecil sekali tak ada apa-apanya dengan
milikku…hehehe..tapi berani kurang ajar ya hehehe..hahaha!”
Sungguh perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Aku merasakan
penghinaan yang luar biasa. Aku belum pernah merasakan diriku dihina dan
kehormatanku dinistakan senista itu. Aku lebih suka dirajam daripada dihina
seperti itu. Jika aku sampai terlihat mengucurkan air mata, maka ketiga setan
itu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
234
akan semakin gila tertawanya. Aku merintih dalam hati.
Batinku menangis sejadi-jadinya memohon keadilan kepada Allah. Agar mereka
diganjar atas kekurangajaran mereka. Aku terus menjadi bulan-bulanan mereka
sampai aku tidak sadarkan diri.
* * *
Ketika sadar, aku berada di sebuah kamar gelap dan pengap.
“Alhamdulillah, kau sudah sadar.” Suara orang yang kurasa
sangat tua. Di keremangan cahaya buram lampu di luar kamar yang masuk melalui
jeruji pintu sel aku bisa menangkap wajah orang tua berjenggot putih duduk di
dekatku.lalu empat orang lainnya. Dua setengah baya dan dua lainnya muda.
Mereka semua memakai pakaian tahanan yang lusuh.
“Kelihatannya kau bukan orang Mesir?” tanya kakek tua ramah.
Aku sedikit tenang mendengar suaranya yang lembut. Tapi aku kuatir dengan yang
empat, kalau mereka orang-orang yang jahat aku bisa jadi bulan-bulanan di
penjara ini. Aku pernah mendengar adanya hukum rimba di dalam penjara. Apalagi
aku asing sendiri di sini.
“Dari Indonesia.”
“Siapa namamu?”
“Fahri Abdullah Shiddiq.”
“Nama yang bagus. Namaku Abdur Rauf.”
“Apa yang kau lakukan di Mesir?”
“Hanya belajar.”
“Di mana?”
“Di Al Azhar.”
“Masya Allah. Lantas bagaimana ceritanya kau bisa masuk
penjara ini?”
“Musibah ini datang begitu saja. Aku dituduh memperkosa
gadis Mesir, padahal aku tidak pernah melakukan perbuatan keji itu. Bagaimana
mungkin aku akan melakukannya padahal aku memiliki seorang ibu, bibi, isteri
dan nanti mungkin seorang anak perempuan. Aku terkadang tidak bisa memahami
sistem yang berlaku di negara ini?”
“Di mana kau ditangkap?”
“Di rumah.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
235
“Nasibmu masih lebih bagus dariku Anak muda. Aku ditangkap
disaat sedang menguji tesis magister di universitas. Di depan sekian banyak
orang aku diperlakukan seperti tikus.”
“Jadi Anda seorang guru besar?”
Pemuda berwajah putih yang sejak tadi mematung di pojok
ruangan menyahut sambil mendekat, “Beliau adalah Prof. Dr. Abdur Rauf Manshour,
guru besar ekonomi pembangunan di Universitas El-Menya. Beliau kemungkinan
ditangkap karena kritik-kritik tajamnya di koran! Oh ya perkenalkan namaku
Ismail, mahasiswa kedokteran tahun ketiga Universitas Ains Syam, ditangkap
karena memimpin demonstrasi di dalam kampus mengutuk tindakan Ariel Sharon
menginjak-injak Masjidil Aqsha dan perlakuan kejam tentara Israel pada
anak-anak Palestina terutama penembakan Muhammad Al Dorrah dua tahun lalu.”
“Jadi kau sudah dua tahun mendekam di sini?”
“Ya.”
“Dan hanya karena memimpin demonstrasi di dalam kampus?”
“Ya.”
“Aku lebih tragis lagi!” Pemuda yang satunya menyahut, “aku
tidak melakukan apa-apa juga ditangkap. Kau tentu tahu demonstrasi di masjid Al
Azhar usai shalat Jum’at satu tahun yang lalu yang menentang agresi Amerika ke
Afganistan. Demonstrasi itu tidak besar. Bisa dikatakan bukan demonstrasi
malah. Lebih tepat dikatakan protes. Ketika orang-orang bertakbir aku ikut
bertakbir. Hanya itu. Keluar masjid aku ditangkap dan mendekam di sini sampai
sekarang. Kenalkan namaku Ahmad biasa dipanggil Hamada. Aku tidak kuliah, lulus
SLTA langsung bekerja di penerbit Muassasa Resala.”
“Muassasa Resala di dekat Abidin Attaba itu?” tanyaku.
“Benar.”
Kami lalu berbincang banyak dan saling mengenal satu sama
lain. Dua lelaki setengah baya bernama Haj Rashed, dia kepala sekolah SD dan
imam sebuah masjid kecil di Mathariyah. Ditangkap dua bulan lalu karena khutbah
Jum’atnya yang pedas. Yang satunya bernama Marwan, mantan pegawai jawatan
kereta api, dipenjara sejak setengah tahun lalu karena membunuh tetangganya
yang menggoda isterinya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
236
“Aku ini orang paling besar cemburunya di dunia. Sebenarnya
aku sudah bersabar dan beberapa memberi peringatan pada pria kurang ajar itu.
Tapi dia sungguh keterlaluan. Rumah kami dua tingkat di atasnya. Suatu ketika
isteriku belanja, ketika pulang satu lift dengannya. Di dalam lift itulah dia
menggerayangi isteriku. Isteriku lapor padaku. Seketika itu juga kudatangi dia
dan kupancung dia. Dia keliru kalau menganggap diriku tidak bisa berbuat
sesuatu. Seandainya dengan perbuatanku ini aku akan dihukum mati aku akan
menerimanya dengan senang hati. Aku merasa puas karena aku telah membela
kehormatan isteriku.”
Cerita Marwan langsung mengingatkan diriku pada Aisha. Oh
Aisha, dia tentu sangat sedih sekarang. Dia sendirian di flat memikirkan
nasibku dengan penuh kecemasan. Aku menitikkan air mata dan berdoa kepada Allah
agar memberikan ketabahan pada Aisha dan agar melindunginya dari segala mara
bahaya.
“Orang Indonesia, siapkanlah mentalmu! Kau akan menghadapi
hari-hari yang mencekam. Hari-hari yang tidak kau ketahui apakah kau masih
hidup atau telah mati. Kamar kita ini hanya berukuran tiga kali tiga. Kau lihat
aku berdiri di atas genangan Air. Padahal sekarang sudah mulai masuk musim
dingin. Setengah ruangan ini tergenang air. Kau kini duduk dibagian yang
kering. Selama ini kita tidur bergantian. Terkadang tidur sambil berdiri. Kita
diberi kesempatan ke WC dan kamar mandi sehari sekali menjelang shubuh. Itupun
dalam antrean yang panjang dan terkadang kita sama sekali tidak punya
kesempatan ke WC karena waktu yang diberikan telah habis. Siapkanlah mentalmu!”
kata Professor Abdul Rauf.
“Gelap dan pengap. Apakah kita berada di bawah tanah?”
tanyaku.
“Benar! Oh ya, tadi kau pingsan cukup lama. Kelihatannya kau
belum shalat ashar,” jawab Professor Abdul Rauf.
“Astaghfirullah. Pukul berapa sekarang?” tanyaku.
“Pastinya tidak tahu, tapi sebentar lagi maghrib datang.”
“Tayammum?”
“Ya.”
Aku lalu tayammum dan shalat. Selesai shalat Professor Abdul
Rauf memimpin kami membaca doa dan dzikir sore hari. Ditutup doa rabithah yang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
237
dibaca oleh Haj Rashed. Tak lama setelah itu azan maghrib
berkumandang. Adil bergumam lirih,
“Ya Allah, inilah saat malam-Mu datang menjelang, dan
siang-Mu telah berlalu, dan inilah suara dari para penyeru-Mu maka ampunilah
kami.”
Karena tempat yang sempit kami tidak bisa berjamaah
sekaligus. Terpaksa dibagi dua jamaah bergantian. Aku diminta menjadi imam
jamaah kedua, dengan alasan aku satu-satunya yang dari Al Azhar. Aku membaca
surat Yusuf, ayat-ayat yang menceritakan nabi mulia itu dipenjara di Mesir
karena tuduhan Zulaikha. Sungguh nasibku tak jauh berbeda dengan Yusuf. Noura
mengaku aku telah memperkosanya. Aku menangis dalam shalat.
“Bacaan Al-Qur’anmu indah dan tartil, di mana kau talaqqi?”
tanya Haj Rashed
“Di Shubra. Pada Syaikh Ustman Abdul Fattah.”
“Yang di masjid Abu Bakar itu?”
“Benar.”
“Pantas. Besok malam sudah mulai tarawih. Kau saja imamnya
ya?”
Pertanyaannya kembali mengigatkan aku pada Aisha. Dia akan
menjalani Ramadhan sendirian dengan hati sedih. Rencana umrah ke tanah suci dan
berhari raya di Indonesia tidak jadi. Oh begitu cepat perubahan terjadi.
Kemarin malam aku masih tidur nyaman di hotel berbintang di Alexandria bercinta
dengan Aisha begitu mesranya. Malam ini aku meringkuk kedinginan di penjara
bawah tanah. Aku nyaris tidak bisa memejamkan mata. Seluruh tulang terasa
ngilu, kulit kedinginan, punggung perih bukan main, dan kemaluan sakit luar
biasa. Bayang-bayang kematian mengintai di semua sudut ruangan, tapi aku
bersikeras untuk bertahan.
Keesokan harinya terdengar langkah sepatu bot. Lalu suara
orang membentak sambil menggedor pintu sel, “Tahanan nomor 879!”
Tak ada yang menjawab. Semua diam. Ismail dan Haj Rashed
berpandangan.
“Hai tahanan 879! Anjing! Dungu ya?” Sipir penjara itu marah
sekali.
Ismail menepuk pundakku. “Coba lihat nomormu!” Pelannya. Ia
lalu mendekatkan matanya ke dadaku. Dalam keremangan gelap tertulis di sana
nomor
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
238
879. Berarti aku yang dimaksud. Aku lalu beranjak menuju
pintu yang telah dibuka. Sipir itu langsung menarikku dengan kasar dan
menendangku, “Dungu kau!”
Aku kembali dibawa ke ruang interogasi. Polisi hitam besar
yang kemarin mengintrogasiku telah menunggu dengan segelas teh kental di tangan
kanannya. Begitu aku masuk ia tersenyum sinis. Dua orang polisi yang kemarin
menangkapku juga ada di situ. Si Hitam dan Si Gendut. Aku tidak melihat Si
Kumis yang kurang ajar itu.
“Bagaimana orang Indonesia? Kau mau mengakui perbuatanmu?
Aku berjanji akan mengusahakan keringanan hukumannya?” tanyanya.
“Aku tidak berubah pikiran. Aku tidak melakukan perbuatan
dosa itu. Bagaimana mungkin aku akan mengakuinya. Aku akan buktikan bahwa aku
tidak bersalah!” jawabku tegas.
“Semua penjahat selalu berkata begitu. Kau sungguh bodoh!
Jika kau sampai ke meja hijau kau akan kalah. Bukti kau bersalah sangat kuat!
Kau akan digantung! Kau masih punya kesempatan satu hari untuk berpikir. Sipir
beri dia sedikit sarapan pagi biar pikirannya cerah!”
Dua anak buahnya itu lalu membawaku ke ruangan penyiksaan.
Aku disuruh berdiri tegak. Si hitam mengangkat kursi kayu, dua kaki belakang
kursi itu diletakkan diatas telapak kakiku. Dan Si Polisi Gendut lalu menduduki
kursi itu. Terang saja aku menjerit kesakitan. Telapak kakiku terasa remuk
tulang-tulangnya. Dan ketika aku menjerit Si Hitam menjejalkan roti keras ke
mulutku hingga menyodok tenggorokanku. Aku mau muntah tapi raoti kering itu
tetap dijejalkan ke mulutku. Ketika aku sudah tidak tahan dan nyaris pingsan ia
menarik roti itu dan si gendut bangkit dari kursi itu. Aku dibiarkan istirahat
sebentar, lalu disuruh menghadap ke dinding dan dicambuk lima kali. Belum juga
puas, mereka lalu menyodok perutku yang masih kosong dengan popor bedil tiga
kali sampai aku muntah. Rupanya itu yang dimaksud dengan sedikit sarapan pagi.
Dengan tubuh lemas aku diseret dan dilempar kembali di sel bawah tanah. Dan aku
jatuh tertelungkup di dalam sel tak sadarkan diri.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
239
24. Tangis Aisha
Yang kulihat pertama kali adalah wajah Ismail ketika aku
bangun. Kepalaku ada di atas pahanya. Ia tersenyum padaku. Aku merasa haus
sekali. Sejak kemarin tenggorokanku belum terkena setetes air sama sekali.
“Aku haus sekali,” lirihku sambil menahan rasa sakit
disekujur tubuhku.
“Hamada, ambilkan susu itu!” Kata Professor Abdul Rauf.
Hamada mengambil botol berisi susu dan meminumkan padaku.
Aku menenggak tiga teguk. “Sudah,” kataku.
“Minumlah lagi, biar tubuhmu segar!” paksa Ismail.
Aku menenggak tiga teguk lagi. “Sudah!” kataku.
“Apa yang mereka perlakukan terhadapmu?”
Dengan suara terbata aku menceritakan semua bentuk
penyiksaan yang aku terima sejak kemarin sampai tadi pagi. Juga perlakuan
mereka yang keji atas kemaluanku.
“Mereka sungguh biadab!” geram Ismail mendengar ceritaku.
“Mereka memang sangat biadab. Lebih biadab dari Iblis! Dan
apa kau terima masih belum seberapa dibandingkan para ulama yang disiksa
habis-habisan tahun enam puluhan. Bahkan ada dua orang ulama yang ditelanjangi
dan dipaksa melakukan perbuatan kaum nabi Luth. Tentu saja mereka tidak mau
melakukan perbuatan terkutuk itu. Akhirnya mereka berdua mati syahid jadi
santapan anjing ganas yang lapar.” Kisah Professor Abdul Rauf dengan suara bergetar.
Aku bergidik mendengarnya. Perlakuan mereka yang keji padaku
terbayang kembali. Membuat hatiku perih dan sakit sekali. Aku tak bisa
membayangkan sakitnya seorang perempuan diperkosa. Kehormatannya dinodai.
Betapa sakitnya mereka. Gilanya aku dituduh melakukan perbuatan bejat yang
menyakitkan perempuan itu. Perbuatan yang sangat kubenci dan kukutuk, tidak
mungkin aku lakukan. Rasa gilu dan sakit bergumul dalam hati bercampur marah,
bertumpuk-tumpuk, mendera-dera, menyesak-nyesak dalam dada.
“Sudahlah kita makan dulu. Alhamdulillah, ada sedikit rizki
dari Allah Swt.!” kata Professor Abdul Rauf.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
240
Haj Rashed mengambil bungkusan dari pojok ruangan. Tiga roti
isy yang empuk dan lebar, satu ayam panggang digelar dan satu plastik apel. Aku
bangkit duduk perlahan.
“Apakah semewah ini jatah dari penjara?” tanyaku.
“Tak lama lagi kau akan tahu seperti apa jatah penjara,”
sahut Hamada.
“Lebih kayak untuk santapan binatang!” tukas Marwan.
Haj Rashed berkata:
“Yang kita makan ini adalah kiriman dari isteri Professor
Abdul Rauf. Untuk bisa memasukkan makanan ini ke penjara dia harus membayar
seratus pound kepada petugas. Kirimannya juga dirampas setengahnya. Aslinya
adalah dua botol susu, enam lembar roti Isy, dua buah ayam bakar dan dua kilo
apel. Tapi para sipir itu minta separo bagian. Tidak setiap saat keluarga kami
boleh mengirim makanan. Satu bulan hanya diizinkan dua kali saja. Makanan ini
sudah datang sejak tadi pagi. Beberapa menit setelah kamu dibawa keluar. Kami
tidak mungkin makan tanpa menunggumu. Kami yakin kau pasti sudah lapar. Wajahmu
sedemikian pucatnya. Rasulullah tidak mengizinkan perut kita kenyang sementara
orang terdekat kita kelaparan.”
Penjelasan Haj Rashed membuat diriku terharu. Bahwa diriku
berada di tengah-tengah orang baik. Mereka begitu perhatian padaku. Kami pun
makan bersama penuh nikmat dengan diselimuti rasa persaudaraan yang kuat.
Setelah makan dan minum beberapa teguk susu tubuhku terasa memiliki kekuatan
kembali.
Tak lama setelah itu seorang sipir menggedor pintu dan dari
jeruji atas ia melemparkan enam roti isy kering. Ia melempar roti itu seperti
melempar makanan pada anjing. Isy itu melayang bertebaran. Ada yang mengenai
muka Professor. Ada yang jatuh di kaki Ismail dan ada yang masuk air yang
menggenang di sebagian lantai.
“Ini jubnahnya!”110 teriak sipir itu melempar bungkusan
hitam.
Ismail memunguti isy itu dan mengumpulkannya. Yang jatuh ke
genangan air ia pisahkan. Ia mengambil selembar Isya yang sudah kering itu serta
bungkusan hitam dan menyerahkannya padaku.
110 Jubnah: keju putih seperti tahu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
241
“Inilah jatahnya. Sehari sekali. Coba kau lihat!” ujarnya
padaku.
Aku pegang isy itu. Kering dan kaku. Kubuka plastik hitam,
baunya sudah tidak karuan.
“Tapi kita tetap harus menerimanya dengan sabar. Yang jatuh
ke dalam genangan air kotor itu pun suatu ketika ada gunanya. Dahulu baginda
nabi dan para sahabat pernah sampai makan rerumputan dan akar pepohonan,”
lanjut Ismail.
Kembali aku teringat hari-hari indah bersama Aisha. Makan
tidak pernah kurang. Selama di Alexandria selalu di restoran hotel. Semua enak
dan penuh gizi. Dan tiba-tiba kini aku harus siap dengan makanan yang layaknya
untuk tikus dan kecoa. Aku masih merasakan Allah Maha Pemurah, makan pertama di
penjara adalah ayam panggang lengkap dengan sebutir apel merah yang segar.
Malam harinya kami tarawih. Kami mengatur sedemikian rupa
agar kami tetap bisa shalat tarawih berjamaah bersama. Haj Rashed minta satu
juz dalam delapan rakaat. Inilah untuk pertama kalinya aku jadi imam tarawih di
Mesir. Dan di dalam penjara. Setengah tiga kami bangun, tahajjud sebentar lalu
sahur. Apalagi yang kami makan kalau bukan jatah tadi siang. Aku hampir muntah
tapi kutahan-tahan. Kulihat Professor dan teman-teman lainnya makan dengan
santai. Di pojok ruangan ada ember plastik. Kami bergantian minum dari air yang
ada di ember itu.
“Kita beruntung minum dari ember. Di kamar paling pojok sana
tempat airnya adalah kaleng bekas yang sudah karatan,” kata Hamada.
Aku teringat Aisha, bagaimanakah dia sekarang. Apakah juga
sedang sahur, ataukah sedang menangis sendirian. Aku sangat merindukannya.
* * *
Sampai hari ketiga ditahan, belum juga ada yang menjengukku.
Meskipun diinterogasi dan dipaksa seperti apapun aku tetap bersikukuh tidak mau
mengakui dakwaan itu. Aku tetap memilih membuktikan tidak bersalah di
pengadilan. Pengadilan pertama akan digelar tiga hari lagi. Aku cemas. Aku
perlu pengacara dan saksi yang membelaku bahwa aku tidak bersalah. Teman-teman
satu rumah di Hadayek Helwan. Kelurga Tuan Boutros. Nurul dan teman-temannya.
Dan Syaikh Ahmad. Mereka bisa menjadi saksi. Tapi bagaimana aku bisa
menghubungi
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
242
mereka. Isteriku, Aisha yang sangat kurindukan belum juga
datang menjenguk. KBRI atau PPMI belum juga tampak batang hidungnya. Aku sangat
gelisah dan sedih. Aku kuatir mereka tidak mau mengerti karena termakan oleh
fitnah keji itu. Aku takut Aisha tidak percaya padaku dan membenciku. Aku tak
kuat memendam semua kegekisahan dan kekuatiran ini. Akhirnya kuutarakan
semuanya pada Profesor Abdul Rauf dan teman-teman.
“Fahri, kau jangan kuatir. Aku yakin mereka semua sudah tahu
dan sudah bergerak. Cuma memang pihak kepolisian yang sengaja mengulur waktu
agar kau tidak segera bisa bertemu dengan mereka. Dulu, waktu aku ditangkap,
satu bulan keluargaku mencariku ingin bertemu tapi tidak bisa. Baru bulan kedua
mereka menemukanku. Isterimu mungkin sekarang sedang pontang-panting
dipermainkan para polisi tidak bertanggung jawab itu. Mungkin sudah sampai di
kantor penjara ini. Tapi pihak keamanan akan bilang sudah dipindah ke Tahrir.
Nanti yang Tahrir akan bilang dipindah ke Nasr City. Dan seterusnya. Begini
saja nanti ibuku mau menjengukku. Berikanlah nomor handphone isterimu, biar
ibuku memberitahu dia bahwa kau ada dipenjara ini,” kata Ismail memberi saran.
Untung aku ingat nomor handphone Aisha. Aku beritahu nomor itu pada Ismail sampai
dia hafal betul. Dan nanti ibunya akan menghafal nomor itu. Jika satu angka
saja salah maka nasibku akan semakin buruk.
* * *
Hari keempat.
Setelah menerima sarapan pagi dari sipir penjara berupa
cambukan, pukulan dan tamparan aku mendapat panggilan. Seorang sipir
menggelandangku dengan tergesa-gesa ke balai pengobatan penjara. Seorang dokter
militer dan dua perawat membersihkan muka dan beberapa bagian tubuhku yang
luka. Penampilanku mereka perbaiki sedemikian rupa. Lalu aku diajak ke sebuah
ruangan. Di sana ada tiga sosok menungguku, Paman Eqbal, Magdi penjaga
apartemen kami dan seorang perempuan bercadar yang aku yakin dia adalah Aisha.
Begitu melihat sosokku perempuan bercadar itu berhambur ke arahku. Ia memelukku
erat-erat sambil menangis. Aku pun menangis. Ia menatapku dalam-dalam dan
meraba wajahku dengan kedua tangannya yang halus.
“Bagaimana keadaanmu, Fahri, Suamiku?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
243
“Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?”
Aisha menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. “Apa dosa kita
berdua Fahri sampai kita harus menanggung cobaan seberat ini. Aku nyaris
kehilangan sesuatu yang paling berharga yang aku miliki kalau seandainya tidak
diselamatkan oleh Magdi. Kau harus berterima kasih padanya. Dia telah menyelamatkan
kesucian isterimu ini Fahri.” Aisha berkata sambil terisak-isak.
“Apa sebenarnya yang terjadi setelah hari itu?” tanyaku
penasaran.
“Aku tak sanggup menceritakannya. Tanyakanlah pada Magdi?”
jawab Aisha dengan tetap memeluk erat diriku.
Kami lalu duduk. Kutanyakan apa yang terjadi pada Aisha pada
Magdi. Dengan tenang Magdi, polisi yang sering kujumpai shalat berjamaah di
masjid dekat apartemen itu bercerita:
“Sebelumnya maafkan diriku, aku tidak bisa membantumu saat
kau ditangkap. Karena mereka membawa surat penangkapan lengkap. Meskipun aku
secara pribadi tidak yakin akan kebenaran tuduhan yang digunakan sebagai alasan
penangkapanmu. Dan anggapanku ini agaknya benar. Satu hari setelah kau
ditangkap, sekitar jam sepuluh pagi polisi berkumis yang ikut menangkapmu itu
kembali datang. Ia minta izin mau bertanya sedikit pada Madame Aisha, isterimu.
Aku menanyakan surat izinnya. Dia bilang tidak bawa tapi ini tugas penting yang
harus dikerjakannya. Dia hanya akan bertanya beberapa hal pada Aisha, membutuhkan
waktu tak lebih dari sepuluh menit saja. Akhirnya kuizinkan dia naik. Namun aku
dan Hosam punya firasat tidak baik dan curiga dengan tindak-tanduknya.
Diam-diam kami naik juga ke atas membuntutinya memakai lift satunya. Sampai di
lantai 7 kami kaget oleh teriakan Madame Aisha. Kami berdua langsung mendobrak
pintu sekuat tenaga. Dan kami melihat Si Kumis sedang mengejar Madame Aisha di
ruang tamu hendak memperkosanya. Seketika itu juga dia kami bekuk!”
Darahku mendidih, aku nyaris tidak bisa menguasai amarahku
mendengar cerita Magdi.
“Kurang ajar! Akan kucari dan kubunuh keparat itu!” teriakku
dengan mengepalkan tangan kuat-kuat. Bagiku kehormatan isteriku adalah
segala-galanya, jauh diatas kehormatan diriku sendiri. Kesucian isteriku sama
dengan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
244
kesucian kitab suci, tidak boleh ada seorang pun yang
menodainya apalagi menginjak-injaknya. Kesucian isteriku adalah nyawaku. Ketika
ada orang yang berusaha menjamah kesuciannya maka nyawaku akan kupertaruhkan
untuk membelanya. Seandainya aku punya seribu nyawa akan aku korbankan semuanya
untuk menjaga kesucian isteriku tercinta. Mati seribu kali lebih ringan bagiku
daripada ada orang yang menjamah kesuciannya. Malaikat maut pun akan aku hajar
jika dia mencoba-coba menodainya. Aku rela dijuluki apa saja untuk membela
kesucian isteriku tercinta.
“Insya Allah, kau tidak akan lagi bertemu dengannya!” kata
Magdi sambil tersenyum.
“Maksudmu?” tanyaku.
“Dia sedang diproses ke tiang gantungan. Dia terlalu bodoh.
Dia salah perhitungan. Dia mengira isterimu adalah orang Indonesia. Dan kau
tentu tahu banyak perempuan Indonesia diperkosa di mana-mana, di Saudi, di
Singapura, di Malaysia, di Hongkong, di Taiwan, juga beberapa kali di Mesir dan
para pemerkosanya tidak tersentuh hukum sama sekali. Diplomasi Indonesia sangat
lemah. Si Kumis itu beranggapan begitu. Dia merasa perbuatannya akan aman-aman
saja sebab yang akan ia perkosa adalah perempuan Indonesia. Dia menganggap kami
berdua seperti penjaga apartemen biasa yang tidak akan berani mengusiknya. Tapi
dia keliru. Kami tidak akan membiarkan siapa pun berbuat jahat di apartemen
yang kami jaga. Dia langsung kami bekuk begitu tertangkap basah hendak
melakukan perbuatan jahat itu. Madame Aisha langsung mengontak Mr. Minnich,
Atase Politik Kedutaan Jerman. Kedutaan Jerman langsung mengontak kementerian
luar negeri meminta agar penjahat yang mencoba menyakiti warganya ditindak
tegas sesuai hukum yang berlaku di Mesir yaitu hukuman gantung. Si Kumis itu
dalam tahanan kami masih bisa tertawa karena ia yakin akan ada yang membebaskannya.
Benar, lima jam setelah itu ada perintah untuk membebaskannya. Namun belum
sempat kami bebaskan sudah ada perintah lagi untuk memprosesnya secara hukum.
Yang kami tahu Jerman mengancam akan mengopinikan di negaranya dan di Eropa
bahwa Mesir tidak aman jika polisi brengsek itu tidak ditindak tegas. Jerman
juga mengancam akan membatalkan beberapa kerjasama perdagangan dan
perindustrian dengan Mesir. Menurut Mr.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
245
Minnich keselamatan seorang warganya sama dengan keselamatan
presidennya. Tak ada pilihan bagi pemerintah Mesir kecuali menindak tegas
seorang oknum tidak bertanggung jawab itu. Tapi setelah kami selidiki agaknya
memang ada skenario jahat yang ingin menghancurkan dirimu dan keluargamu,
Fahri!” jawab Magdi.
“Maksudmu?”
“Aku sudah bertemu Syaikh Ahmad. Beliau meyakinkan padaku
bahwa kau tidak mungkin melakukan hal itu. Selama tiga hari kemarin di samping
menangani kasus Si Kumis, aku dan Eqbal berusaha mencari di mana kau berada. Si
Kumis bilang di serahkan ke penjara Tahrir. Pihak Tahrir bilang sudah dibawa ke
Nasr City. Nasr City bilang sudah diambil Abbasea. Pihak Abbasea bilang sudah
dibawa lagi ke Tahrir. Ada orang yang cukup punya kuasa yang mendalangi semua
ini, kemungkinan dia seorang oknum dari Keamanan Negara, sampai aku nyaris
tidak berdaya dan para polisi itu juga takut memberikan keterangan jelas
mengenai keberadaanmu. Pihak Kedutaan Indonesia juga alot di Tahrir. Untung
tadi pagi Aisha mendapat telpon dari seorang perempuan yang mengatakan anaknya
satu sel denganmu. Dan kami langsung meluncur kemari. Kasus Aisha sudah beres,
kau tinggal menunggu kabar penjahat itu digantung. Sekarang tinggal masalahmu.
Masalah yang tidak mudah. Coba ceritakanlah padaku bagaimana sebenarnya yang
terjadi sampai kau dituduh memperkosa gadis bernama Noura itu?”
Aku lalu menjelaskan semua yang terjadi malam itu, dimulai
dari kabar kelulusanku, makan ayam panggang di Sutuh bersama teman-teman,
jeritan Noura, minta tolong Maria, sampai menitipkan Noura pada Nurul di
Masakin Utsman. Juga aku ceritakan sepucuk surat cinta dan ucapan terima kasih
dari Noura.
“Di mana surat itu sekarang?”
“Aku berikan pada Syaikh Ahmad.”
Seorang polisi memberi tahu waktu berkunjung telah habis.
Aisha memberikan bungkusan berisi makanan. Dia mengajakku ke pojok ruangan. Di
sana dia membuka cadarnya sehingga aku bisa menatap wajahnya. Dia menangis dan
tampak sedih. Aku mencium pipinya. “Jaga diri baik-baik, jaga kesehatanmu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
246
dan kandunganmu, teruslah berdoa dan mendekatkan diri pada
Allah agar semua masalah ini dapat teratasi. Aku sangat mencintaimu, isteriku.”
Aisha terisak, “Aku juga sangat mencintaimu. Kau besarkanlah
jiwamu suamiku, aku berada disampingmu. Aku tidak akan termakan tuduhan jahat
itu. Aku yakin akan kesucianmu. Kalau seandainya kau mengizinkan aku ingin
dipenjara bersamamu agar aku bisa menyediakan sahur dan buka untukmu.”
“Kau jangan berpikir seperti itu. Kau tenangkanlah
pikiranmu. Yakinlah semuanya akan selesai dengan baik. Banyak orang baik yang
akan membantu kita. Sekarang yang harus kau prioritaskan adalah perhatianmu
pada kandunganmu. Sekarang kau tinggal di mana? Apa sendirian di Zamalek?”
“Tidak. Sejak kejadian itu aku tinggal bersama bibi Sarah
dan paman Eqbal.”
“Bagus. Kau akan lebih tenang di sana.”
Aisha kembali memasang cadarnya. Paman Eqbal dan Magdi
mendekati kami. Mereka pamitan. Aku merangkul paman Eqbal dan minta doanya.
Juga merangkul Magdi dan mengucapkan banyak terima kasih padanya. Mereka lalu
keluar. Aku beranjak mengambil bungkusan besar berisi makanan. Tiba-tiba Magdi
kembali.
“Sst..Fahri ceritakan padaku kau diinterogasi bagaimana?”
Aku menceritakan semuanya. Paksaan untuk mengakui perbuatan
itu dan aku bersikukuh tidak mau mengakuinya.
“Keputusan yang tepat sekali. Sebab jika kau mengaku dan
menandatangani berkas pengakuan maka sangat sulit diselamatkan. Aku dan Eqbal
akan mencari pengacara yang baik untukmu. Kapan sidangnya?”
“Tiga hari lagi.”
“Siksaan apa yang kau terima selama tiga hari ini?”
Aku menceritakan semuanya. Termasuk kekurangajaran Si Kumis
mempermainkan kemaluanku. Juga siksaan setiap pagi.
“Tapi kumohon kau jangan ceritakan siksaan-siksaan ini pada
Aisha atau paman Eqbal mereka akan sedih. Biarlah nanti kuceritakan sendiri
setelah keluar dari penjara ini.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
247
“Yang kau terima itu masih termasuk ringan. Jangan kuatir.
Sakit hatimu pada Si Kumis itu biar teman-temanku yang nanti membalasnya. Dia
memang polisi kurang ajar. Aku akan mencoba berbicara pada kepala penjara ini.
Dan makanan ini, jika dirampas sama sipir penjara nanti bilang. Terus ciri-ciri
sipir itu bagaimana? Aku akan mengurusnya. Sudah ya satu hari sebelum sidang,
insya Allah aku dan pengacara yang akan membelamu akan datang kemari. Aku pamit
dulu. Selamat beribadah oh ya ada salam dari Syaikh Abdurrahim Hasuna, imam
masjid kita. Beliau ikut berbela sungkawa atas musibah yang menimpamu dan
beliau akan ikut serta mendoakanmu.”
“Terima kasih atas segalanya Magdi, salam balik untuk
beliau.”
Magdi pergi. Aku kembali ke sel. Aku beritahu mereka apa
yang terjadi. Mereka semua ikut senang dan berdoa semoga aku cepat bebas dari
penjara ini. Bisa kembali belajar dan pulang ke Indonesia mengamalkan ilmu yang
kudapat di bumi para nabi ini. Ismail membuka bungkusan besar yang kubawa. Ia
heran bagaimana aku bisa membawa makanan sebanyak itu. Kujelaskan semuanya.
“Alhamdulillah, di dunia ini masih ada polisi baik seperti
Magdi,” gumam Ismail.
“Dia SLTA di ma’had Al Azhar Damanhur,” sahutku.
“Pantas.”
“Tapi Si Noura, gadis itu juga ma’had Al Azhar, kenapa dia
bisa berbuat sejahat itu?” heranku.
“Aku yakin itu bukan semata-mata kemauan Noura. Setidaknya
ada sesuatu yang menekannya. Puteriku yang nomor tiga juga di Al Azhar, dan dia
sangat jujur,” tukas Haj Rashed.
Belum puas kami berbincang terdengar langkah sepatu bot dan
pintu kami digedor.
“Tahanan 879!” teriaknya seperti anjing menyalak.
“Ya!” jawabku dengan suara keras.
“Ayo ikut!”
Aku dibawa ke ruang penerimaan tamu. Di sana sudah ada Staf
Konsuler KBRI dan Ketua PPMI. Keduanya memelukku erat-erat. Mereka berdua ingin
tahu sebenarnya apa yang terjadi denganku. Aku ceritakan kronologis
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
248
penangkapanku dan dakwaan yang dialamatkan kepadaku. Staf
konsuler berjanji akan membantu sekuat tenaga membebaskan aku dengan upaya
diplomatis, meskipun dengan nada yang agak pesimis,
“Tahun 1995 pernah ada mahasiswa kita yang mengalami nasib
mirip denganmu. Dia naik lift. Di dalam lift ada anak kecil Mesir. Entah kenapa
anak kecil itu menangis. Anak kecil itu melapor pada kedua orang tuanya takut
pada mahasiswa kita itu. Orang tuanya melapor pada polisi menuduh mahasiswa
kita mencoba mencabuli anaknya. Padahal mahasiswa kita tidak berbuat demikian,
dia hanya menyapanya dan mengajaknya bicara seperti kalau bertemu dengan
anak-anak di Indonesia. Polisi lebih percaya pada pengaduan orang tua anak itu.
Orang Mesir jika sudah menyinggung kehormatan perempuan sangat sensitif.
Menyiul perempuan berjalan saja bisa ditangkap polisi jika perempuan itu merasa
terhina dan tidak terima. Akhirnya mahasiswa kita itu dipenjara beberapa bulan.
Ia dikeluarkan dari Al Azhar dan dideportasi. Ia tidak dihukum gantung karena
setelah divisum anak kecil itu memang tidak apa-apa. Bayangkan, hanya karena
mengajak bicara anak kecil di dalam lift, mahasiswa kita dipenjara. Dan pihak
KBRI tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mahasiswa kita itu harus keluar dari
Mesir. Sekarang ia belajar di Turki. Bahkan ikut membantu staf KBRI di sana.
Juga menjadi pemandu travel bagi orang Indonesia yang melancong ke Turki yang
biasanya satu paket dengan umrah. Di sana dia malah kaya dan makmur sekarang.
Untuk kasusmu ini, kita akan berusaha sekuat tenaga. Tapi kita tidak bisa
menjamin keberhasilannya.”
Kata-kata staf konsuler KBRI itu membuat hatiku ciut. Aku
tiba-tiba ingin jadi warga negara Amerika saja. Jika aku warga negara Amerika
pasti polisi Mesir tidak berani berbuat macam-macam. Menyentuh kulitku saja
mereka tidak akan berani apalagi mengancam hukuman gantung. Jika aku jadi warga
negara Amerika, mungkin seandainya benar-benar memperkosa pun, tetap selamat.
Sebab presiden Amerika akan ikut bicara membela warganya seperti ketika Clinton
membela warganya yang dicambuk di Singapura. Lain Amerika lain Indonesia. Apa
yang dibela oleh presiden Indonesia kalau bukan jabatan dan perutnya sendiri?
Mana mungkin dia mendengar rintihan dan rasa sakitku dicambuk tiap pagi dan
membeku kedinginan di bawah tanah dalam musim dingin
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
249
yang membuat tulang ngilu? Apalagi diriku yang jauh di
Mesir. Sedangkan ribuan gadis Indonesia dijual, dirobek-robek kehormatannya dan
diperlakukan seperti binatang di Singapura saja presiden diam saja? Kapan dalam
sejarahnya ada Presiden Indonesia membela rakyatnya? Kecuali Soekarno di zaman
mempertahankan kemerdekaan.
“Kalau kami, apa yang bisa kami bantu menurut Mas Fahri?”
kata Ketua PPMI.
“Pertama, aku ingin dukungan seluruh teman-teman dari
Indonesia. Demi Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan di
bumi, aku tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadaku itu. Aku ingin
dukungan moral dari teman-teman semua. Tolong disosialisasikan kisah yang
sebenarnya. Orang satu rumah denganku dan Nurul tahu akan hal itu. Jika nanti
ada wartawan Mesir mewawancarai tolong opinikan yang baik mengenai diriku,
tolong! Juga teman-teman yang jadi koresponden media massa di tanah air tolong kisahkan
yang sebenarnya jangan yang malah menimbulkan interpretasi yang macam-macam.
Kedua, kepada PPMI dan KBRI mohon kerjasama dengan pengacaraku nanti. Sekarang
isteriku dan seorang polisi Mesir yang baik sedang mencari pengacara untuk
membelaku. Tolong bantu mereka. Ketiga, mohon doa teman-teman Indonesia
semuanya, ketika sahur, ketika tarawih, ketika shalat malam. Doakan aku selamat
dari ujian berat ini. Itu saja harapanku saat ini.” Jelasku dengan sedikit
terisak, sebab masalah yang aku hadapi sangat serius. Nyawaku sedang terancam.
Staf KBRI dan Ketua PPMI berjanji akan memenuhi keinginanku itu. Aku
mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka. Mereka minta maaf terlambat
tapi itu karena pihak kepolisian Mesir yang membuat urusan berbelit-belit.
Sesedih apapun, kunjungan KBRI dan PPMI menambah kekuatan
dalam diri. Kedatangan mereka berdua seolah berisi dorongan moral dari seluruh
saudara setanah air di Indonesia. Di negeri orang, orang satu tanah air yang
berlainan pulaupun menjadi seperti saudara sendiri. Apalagi yang satu pulau.
Satu propinsi. Satu kabupaten. Satu kecamatan. Aku merasa diperhatikan oleh dua
ribu lima ratus lebih mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Rasa cintaku pada
mereka semakin membulat, juga pada segenap saudara di KBRI.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
250
* * *
Satu hari menjelang sidang Aisha, paman Eqbal, dan Magdi
datang membawa seorang pengacara bernama Amru. Dia menginginkan diriku
menceritakan semua hal yang kira berkaitan dengan masalah yang sedang aku
hadapi. Aku menceritakan semuanya dari kejadian ribut malam itu sampai berita
terakhir dari Syaikh Ahmad bahwa Noura telah menemukan orang tuanya yang asli
setelah melalui test DNA. Amru dan Magdi akan membantu sekuat tenaga untuk
membebaskan aku dari segala tuduhan itu. Semua saksi dan bukti yang kira-kira
bisa membela diriku akan dia gunakan. Amru juga mengingatkan diriku agar dalam
sidang besok bersikap tenang dan tidak terpancing emosi. Sebab jaksa penuntut
akan menggunakan teror kata-kata dan psikologis untuk melemahkan diriku dan
menjebakku. Aku mungkin akan sangat dihina oleh kepandaiannya bersilat lidah
dan berargumentasi tapi aku tidak boleh terbawa oleh irama permainannya.
Kemungkinan besar besok adalah sidang untuk mendengarkan pengakuan Noura dan
pengakuanku. Serta teror investigasi dengan perkataan dan pertanyaan di depan
sidang. Aku mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya. Amru tersenyum.
“Meski berliku, aku yakin kebenaran akan menang. Apa pun
yang terjadi pada akhirnya kebenaran akan menang. Jangan kuatir, Saudaraku.
Nanti malam perbanyaklah shalat dan memohon pertolongan kepada Allah.” Kata
Amru mengingatkan. Mereka pamitan. Seperti saat mengunjungi sebelumnya sebelum
pergi, Aisha mengajakku ke pojok ruangan. Dia membuka cadarnya agar aku dapat
melihat wajahnya. Kami berangkulan dalam tangis.
“Fahri, kuatkanlah dirimu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak
mau kehilangan dirimu. Aku tak ingin bayiku ini lahir tanpa dirimu disisiku.”
Isak Aisha yang membuat hatiku bagai diremas-remas. Aku merasa langit-langit
ruangan itu basah, dan dinding-dindingnya melelehkan air mata. Kuusap air
matanya dengan ujung jilbabnya, pelan kubisikkan padanya sebuah harapan:
Sayang, tancapkan dalam hati
walau tak kini
esok insya Allah terjadi
kita akan bulan madu lagi
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
251
berkali kali
lebih indah dari yang telah kita lalui
apalagi di sorga nanti
walau tak kini
esok insya Allah terjadi
selama cinta kita tak pernah mati
selama iman masih terpatri dalam diri
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
252
25. Persidangan
“Nona Noura, saya persilakan Anda mengisahkan apa yang
menimpa pada diri Anda?” Hakim gemuk dengan rambut hitam bercampur uban
mempersilakan Noura yang sudah berdiri dipodium untuk berbicara. Sementara aku
berada di tempat terdakwa yang berbentuk seperti kerangkeng. Ratusan mata
memandang Noura dengan seksama. Aku melihat orang-orang yang kukenal turut
serta menghadiri sidang pertamaku ini. Teman-teman satu rumah di Hadayek Helwan
; Rudi, Saiful, Hamdi dan Mishbah duduk dibagian agak belakang. Beberapa puluh
mahasiswa Indonesia, Ketua dan pengurus PPMI, Pengurus Wihdah—termasuk Nurul
sang ketua—juga datang. Sekitas aku memandang ke arah Nurul, mata kami bertemu.
Ia tak bisa menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Pengacaraku duduk bersama
Maqdi. Di belakangnya ada Aisha, paman Eqbal, Syaikh Ahmad dan isterinya. Bibi
Sarah tidak datang. Keluarga Tuan Boutros juga tidak satu pun yang kelihatan.
Di barisan dekat jaksa penuntut banyak sekali orang Mesir. Mungkin mereka
keluarga Noura. Beberapa wartawan sibuk merekam dan membidikkan kamera. Aku
pasrah pada apa yang akan ditulis mereka. Jika ada ketidakadilan dalam tulisan
mereka aku akan menuntutnya kelak di akherat sana.
“Saya akan menceritakan dengan sejujurnya tragedi yang
menimpa diri saya. Tragedi yang menginjak-injak kehormatan saya dan
menghancurkan masa depan saya.” Kata Noura dengan terisak. Air matanya meleleh.
Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan. Apakah dia akan mengatakan dengan
sejujurnya siapa yang mengamili dirinya ataukah justru akan menghabisi diriku
dengan sandiwaranya seperti Zulaikha pura-pura menangis dan menjebloskan Yusuf
ke dalam penjara.
“Pada hari Rabu, 7 Agustus yang lalu saya masih hidup bersama
keluarga Bahadur. Hari itu sore hari setelah aku shalat ashar, Bahadur yang
saat itu masih saya anggap sebagai ayah memaksaku untuk ikut Mona selepas
maghrib ke sebuah Nigh Club mengapung di sungai Nil, tempat di mana Badahur dan
Mona bekerja. Bahadur sebagai pukang tukul dan Mona sebagai penari dan wanita
penghibur. Saya tidak mau. Bahadur mengancam akan membunuh saya jika
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
253
sampai jam sembilan malam tidak sampai di sana bersama Mona.
Saat itu juga ia menjambak rambut saya kuat-kuat dan menyambuk punggung saya
dengan ikat pinggang. Saya tidak tahan, akhirnya saya pura-pura mau. Bahadur
lalu berangkat kerja dengan sebuah ancaman saya akan mati jika tidak datang.
Saya bertanya pada Mona apa kerja saya di sana. Dia bilang, ‘Seperti pertama
aku kerja di sana. Menyerahkan keperawanan pada turis bule dengan imbalan
sepuluh ribu pound!’ Jawaban Mona membuat saya merinding. Saya tidak mungkin
melakukan perbuatan terkutuk itu. Saya bertekad lebih baik mati daripada
menjual diri. Akhirnya begitu shalat maghrib saya mengurung diri di kamar.
Pintu kamar dan jendela saya kunci. Mona berteriak-teriak dan menggedor-gedor
tidak saya pedulikan. Mona pun berangkat sendirian. Saya terus di kamar sampai
tengah malam. Jam setengah satu ayah pulang bersama Noura dengan kemarahan
meluap. Pintu kamarku didobrak dan saya disiksanya habis-habisan lalu diusir
dan diseret ke jalan. Ternyata saya tidak dibunuhnya hanya diusir saja. Tapi
malam itu saya merasa sangat merana. Saya meratapi nasib saya sambil memeluk
tiang lampu di jalan, depan apartemen. Saya meratap sendirian agak lama. Lalu,
kira-kira pukul setengah dua datanglah Maria menghibur saya. Ia juga mengajak
saya naik dan tidur di kamarnya, saya pun ikut. Di kamar Maria aku mencurahkan
semua kesedihanku padanya. Yang tidak kuduga Maria menceritakan sebenarnya yang
membuatnya turun menghiburku adalah Fahri, mahasiswa dari Indonesia yang malam
itu kebetulan tidak tidur. Sebenarnya Maria takut sekali pada Bahadur. Keluarga
Maria juga tidak mau berurusan dengan Bahadur. Maria meminta bagaimana kalau
malam itu menginap sementara di rumah Fahri. Saya merasa kediaman Fahri adalah
tempat yang aman untuk sementara. Akhirnya tepat pukul tiga Maria mengantarkan
aku turun ke tempat Fahri. Fahri sendiri yang masih bangun. Ia membukakan pintu
dan mempersilakan aku masuk ke kamarnya. Maria kembali ke rumahnya. Mulanya
Fahri banyak menghibur. Dia lalu merayuku dan membujukku dengan kata-kata
Manis. Entah dari mana ia tahu kalau aku mau dijual pada turis bule. Fahri
menawari saya untuk kawin dengannya dan akan diajak hidup bahagia di Indonesia.
Ia berjanji akan membuat hidupku bahagia. Akan mencurahkan segala kasih sayang
dan cintanya padaku. Fahri juga mengungkapkan sebenarnya dia telah lama jatuh
cinta pada saya. Fahri
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
254
mampu memanfaatkan keadaan saya yang sedih, yang selama itu
belum pernah merasakan kasih sayang dan cinta. Malam itu saya menangis dalam
pelukan Fahri. Saya merasakan Fahri adalah dewa penyelamat. Entah bagaimana
prosesnya malam itu saya telah menyerahkan kehormatan saya padanya. Saya
terhipnotis oleh manisnya janji yang ia berikan. Ketika masjid melantunkan azan
pertama saya tersadar. Saya menangis sejadi-jadinya atas apa yang menimpa diri
saya. Saya melihat Fahri sedang tertidur. Saya pun keluar dan kembali ke tempat
Maria. Saya menangis Maria bertanya pada saya ada apa. Saya tidak menjawabnya.
Saya malu untuk menceritakannya. Pukul tujuh pagi Fahri datang ke tempat Maria.
Keluarga Maria minta agar saya meninggalkan rumah mereka sebelum Bahadur
bangun. Akhirnya Fahri menyuruh saya untuk menginap di tempat mahasiswi
Indonesia bernama Noura. Sebelum berangkat Fahri memberi uang sebanyak dua
puluh pound untuk ongkos jalan. Beberapa hari di rumah Nurul saya dijemput
Syaikh Ahmad dan isterinya dan diamankan di Tafahna, Zaqaziq. Syaikh Ahmad
membantu saya menemukan saya dengan orang tua saya asli yang ternyata bernama
Adel dan Yasmin. Beliau berdua dosen di Ain Syams University. Sejak itu saya
tinggal bersama mereka. Suatu hari setelah satu minggu tinggal bersama mereka
saya muntah-muntah. Mama Yasmin membawa saya ke dokter dan saya ketahuan hamil
satu bulan setengah. Mama mendesak untuk mengatakan siapa yang menghamili saya.
Saya tidak mau mengatakannya. Ayah mengancam akan mengusir saya jika tidak
mengatakan siapa yang menghamili saya. Terpaksa saya jelaskan siapa sebenarnya
yang menghamili saya. Tak lain dan tak bukan adalah Fahri Abdullah. Dia manusia
berhati serigala pura-pura menolong ternyata menerkam. Saya telah beberapa kali
minta pertanggung jawabannya dan menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.
Saya menuntut janjinya mau mengawini saya ternyata ia berkelit. Ia bahkan
menuduh saya pelacur. Uang dua puluh pound yang dia berikan itu ternyata
dianggap sebagai harga diri saya. Betapa remuk dan hancur hati saya. Dia malah
menikah dengan seorang gadis Turki. Dia benar-benar manusia yang sangat busuk
hatinya. Saya minta kepada pengadilan untuk memberikan hukuman yang setimpal
dengan perbuatan terkutuknya!”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
255
Noura lalu menangis terisak-isak di podium. Orang-orang
Mesir yang tidak tahu masalah sesungguhnya terbakar emosinya. Mereka
berteriak-teriak minta kepada hakim menggantung diriku. Aku sendiri sangat
terpukul mendengar semua yang dikatakan Noura. Aku tidak percaya bahwa yang
dipodium itu adalah Noura. Gadis innocent yang sangat pendiam yang dulu sangat
aku kasihani. Kini Noura seperti puteri jahat yang siap mencincangku dengan
belati beracun yang ia sembunyikan di balik bajunya.
Aku melihat ke arah orang-orang yang simpati padaku. Wajah
Syaikh Ahmad tampak marah. Aisha jatuh pingsan. Tiba-tiba Nurul berteriak
lantang dan memaki-maki Noura yang tidak tahu balas budi dan mengarang cerita
bohong. Hakim mengetuk palunya berkali-kali meminta semuanya untuk tenang. Dia
lalu meminta tanggapanku. Dengan emosi yang kutahan aku menolak tuduhan Noura.
Aku jelaskan bahwa Noura sama sekali tidak pernah masuk kamarku. Aku bahkan
belum pernah menyentuh kulit Noura. Malam itu Noura bersama Maria sampai pagi.
Tiba-tiba Noura berteriak menganggap diriku yang bohong. Hakim menenangkan
Noura. Pihak jaksa mengajukan saksi. Seorang lelaki ceking bernama Gamal. Hakim
mempersilakan saksi itu bicara setelah disumpah. Seorang lelaki mengaku melihat
aku membukakan pintu dan mengajak Noura masuk rumah jam tiga dini hari, Kamis 8
Agustus 2003.
Amru pengacaraku mengintrogasi saksi itu. Sang saksi
bersikukuh melihat dengan jelas Noura masuk rumahku. Amru bertanya posisinya di
mana dan sedang apa dia sampai begitu jelas melihat Noura masuk rumahku. Dia
menjawab dia seorang pemburu burung hantu. Hobinya berburu pada waktu malam.
Kebetulan ia melintas di apartemen dan di sutuh melihat ada burung hantu. Ia
hendak menembaknya dari jarak dekat dengan cara naik ke sutuh melalui tangga.
Ketika ia naik itulah dari jarak tiga meter ia melihat Noura masuk flat di
lantai tiga.
Aku heran dengan lelaki ceking bernama Gamal. Bagaimana
mungkin dia berani membuat kesaksian palsu seperti itu. Belum pernah aku
mendengar ada seorang yang hobinya sedemikian aneh. Untuk apa burung hanru
diburu? Tubuhku tiba-tiba terasa dingin dan gemetaran. Aku yakin keluarga Noura
telah menggunakan segala cara untuk menggantung diriku. Yang aku tidak bisa
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
256
mengerti adalah perubahan diri Noura. Beberapa waktu yang
lalu ia menulis surat sangat mencintaiku. Kini tiba-tiba ia ingin membunuhku.
Apa dosa dan salahku padanya? Apakah karena aku tidak menanggapi perasaannya
dia lalu dendam yang ingin membunuhku? Kenapa dia begitu keji memfitnahku.
Kapan sebenarnya dirinya kehilangan kegadisannya sehingga hamil? Dan siapa
sebenarnya yang menghamili dirinya? Semua pertanyaan itu bagaikan palu yang
menghantam-hantam batok kepalaku. Aku nyaris tak sanggup menegakkan kepalaku.
Hakim memutuskan melanjutkan sidang minggu depan. Aku turun dari kerangkeng
terdakwa dengan dikawal dua polisi. Orang-orang Mesir mencacimaki diriku dengan
kata-kata kotor. Seorang ibu setengah baya bahkan melempar botol air mineral
dan mengenai mukaku. Polisi yang mengawalku tidak begitu peduli. Aku dibawa
kembali ke penjara. Di dalam penjara aku teringat Aisha yang tadi jatuh
pingsan. Aku takut kondisi psikisnya berpengaruh pada janin yang dikandungnya.
* * *
Sampai di dalam penjara, Profesor Abdul Rauf menanyakan
jalannya sidang. Aku ceritakan semuanya dari awal masuk ruang sidang sampai
dilempar botol mineral oleh seorang wanita setengah baya saat berjalan meninggalkan
ruang sidang. “Profesor, perlakuan wanita setengah baya itu aku maklumi dia
tidak tahu masalah sebenarnya. Yang aku heran dan belum bisa kumengerti adalah
Noura. Gadis itu pernah menulis surat ucapan terima kasih dan perasaan cinta
padaku dengan sedemikian tulusnya. Tapi dipengadilan itu ia menjadi orang yang
sama sekali tak kukenal. Ia tampak sangat membenci aku dan ingin sekali
membinasakan diriku. Aku juga heran dengan lelaki ceking bernama Gamal.
Bagaimana mungkin dia bisa setega itu memberikan kesaksian palsu untuk
membinasakan orang? Apakah dia sudah tidak punya nurani?” Kataku.
“Noura itu sebenarnya sangat mencintaimu. Karena dia tidak
mendapatkan apa yang dia inginkan darimu dia berubah membencimu. Cinta yang
berubah jadi kebencian tiada tara itu seringkali terjadi dalam sejarah
kehidupan manusia,” jawab Profesor Abdul Rauf.
“Dan orang seperti Gamal jangan kau herankan keberadaannya
di zaman yang telah kehilangan nurani kemanusiaannya seperti sekarang. Uang
menjelma AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
257
menjadi tuhan. Uang adalah segalanya. Demi uang begundal
seperti Gamal siap mengerjakan apapun saja,” sahut Haj Rashed.
“Berbicara tentang kemanusiaan, aku jadi teringat sebuah
film sukses yang dibuat oleh Spielberg yaitu ET. Lewat film itu Spielberg ingin
menunjukkan bahwa mungkin tempat terbaik untuk untuk menemukan nilai-nilai
kemanusiaan adalah diangkasa, tidak di bumi.” Suara Ismail terdengar parau.
Tadi malam ia menjadi bulan-bulanan para algojo penjara.
“Kau suka menonton film Amerika juga rupanya?” Haj Rashed
agak kurang senang.
“Sebenarnya tidak juga. Aku menonton film itu karena
penasaran pada analisa Profesor Akbar S. Ahmad dalam karyanya Postmodernism and
Islam. Dan memang seperti itu ironi yang dibangun Spielberg dalam film ET.
Nilai-nilai kemanusiaan di bumi semakin punah,”jJawab Ismail.
“Tapi, insya Allah, selama masih ada yang teguh kukuh
mengamalkan Al-Qur’an dan As Sunnah, nilai-nilai kemanusiaan tidak akan hilang
dari muka bumi ini!” tukas Professor Abdul Rauf Manshour mantap.
“Insya Allah,” sahut kami semua hampir kompak.
Tiba-tiba pintu digedor. “Tahanan nomor 543!” Kali ini sipir
bersuara cempreng yang memanggil. Meskipun suaranya cempreng tapi kalau
menyiksa para tahanan tak kenal belas kasihan. Menurut cerita Hamada ia pernah
menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Si Cempreng itu memasukkan
mata ganco ke dalam lubang hidung seorang tahanan yang tangan dan kakinya
diikat lalu menarik ganco itu kuat-kuat. Tak ayal hidung tahanan miskin itu
sobek tak karuan bentuknya. Tahanan miskin itu sudah lama tiada kabarnya.
Mungkin telah mati.
“Hai, keledai 543 apa kau dungu!? Apa aku perlu menyeretmu
dengan ganco?” Si Cempreng kembali mendesis seperti ular.
“Ya saya!” jawab Marwan santai sambil melangkah ke pintu.
Setelah pintu terbuka. Kami mendengar suara: buk! buk!
“Doakanlah Marwan, semoga dia tidak cedera berat!” Suara
Profesor Abdul Rauf membuat hati kami gerimis. Setiap hari selalu ada yang jadi
mainan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
258
para algojo penjara. Aku bersyukur bahwa setelah kedatangan
Magdi, KBRI, dan PPMI siksaan yang kuterima sebagai sarapan pagi semakin
ringan.
* * *
Satu hari menjelang persidangan kedua Syaikh Utsman datang
menjenguk bersama Paman Eqbal. Syaikh Utsman banyak memberi siraman jiwa. “Kau
harus ikhlas menerima cobaan ini. Kau tidak boleh sedikitpun merasa ragu akan
kasih sayang Allah kepadamu. Kau tentu tahu, Allah sangat mencintai Nabi Yahya.
Dan Nabi Yahya itu kepalanya dipenggal untuk dihadiahkan kepada seorang
pelacur. Husein cucu baginda Nabi juga dipenggal kepalanya. Ditancapkan diujung
tombak dan diarak di kota Kufah. Mereka tetaplah manusia-manusia mulia meskipun
kelihatannya dinistakan dan dihina. Orang yang divonis salah oleh pengadilan
dunia belum tentu salah di pengadilan akhirat dan sebaliknya. Dekatkanlah
dirimu kepada Allah!” Kunjungan Syaikh Utsman sangat berarti bagiku. Nasihat
beliau bagaikan embun menetes di pagi hari musim semi. Aku semakin
mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang terjadi.
Setelah Syaikh Utsman, tanpa kuduga Madame Nahed, dan Yousef
menjenguk. Mereka berdua meneteskan air mata melihat keadaanku.
“Madame, maafkan aku yang tidak sempat menjenguk Maria.”
“Tak masalah. Sungguh sangat tragis nasibmu, Anakku. Kau
menolong dia tapi dia malah membalasnya dengan fitnah yang keji sekali. Aku
sudah membaca semuanya di koran. Seluruh koran yang memuat berita persidangan
itu tak ada yang membelamu. Andaikan Maria sehat dia pasti akan menulis
membelamu. Sayang dia...ah!” Madame Nahed terisak. Aku takut sesuatu telah
terjadi pada Maria.
“Kenapa Maria, Madame?” tanyaku cemas.
“Sakitnya sangat parah. Empat hari ini dia koma. Hanya
kadang-kadang dia seperti sadar, mulutnya berkomat-kamit mengatakan sesuatu.
Dan apakah kau tahu apa yang dia katakan, Anakku?” Suara Madame Nadia
terbata-bata.
“Apa Madame?”
“Dia menyebut-nyebut namamu. Hanya namamu, Anakku. Dia
ternyata sangat mencintaimu!”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
259
Kalimat yang diucapkan Madame Nadia bagaikan guntur yang
menyambar kepalaku.”Tak mungkin itu terjadi, Madame!” bantahku.
Yousef langsung menyahut:
“Benar Fahri, Maria sangat mencintaimu. Aku telah membaca
diary khususnya. Dia menulis semua perasaan cintanya padamu di sana. Dalam
diarynya itu aku juga menemukan kwitansi pembayaran semua biaya pengobatanmu.
Maria diam-diam mengambil tabungannya dan membayar pengobatanmu tanpa ada
satupun dari kami yang tahu. Dia sangat mencintaimu. Sayang diarynya tidak aku
bawa. Nanti akan aku bawa kemari agar kau bisa membacanya sendiri.”
Keterangan Yousef membuat hatiku mau runtuh. Air mataku
tanpa terasa meleleh. Baru aku tahu bahwa malaikat itu adalah Maria.
“Kenapa dia tidak mengungkapkan isi hatinya padaku?”
lirihku.
“Dia malu. Dia menunggu saat yang tepat untuk membangun
keberaniannya tapi terlambat. Ketika tahu kau telah menikah dengan Aisha yang
baru beberapa bulan kenal denganmu dia sangat terpukul. Dia sangat menyesal.
Padahal dirinya telah mengenalmu jauh lebih lama dan lebih dalam dari Aisha.
Itu ia tulis setelah pulang dari Hurgada dan tahu kabar pernikahanmu. Aku baru
tahu kenapa dia selalu murung dan tidak bersemangat hidup. Maria menulis
dibaris terakhir, when some one is in love he cannot think of anything else.
Bila seseorang dimabuk asmara, dia tak bisa memikirkan hal yang lain. Dia tidak
bisa lepas untuk memikirkan dirimu, memikirkan cintanya, sampai akhirnya jatuh
sakit.” Yousef meneteskan air mata.
“Anakku, aku takut dia akan mati..hiks..hiks!” Madame Nahed
terisak-isak.
Aku jadi melupakan nasibku sendiri. Mataku basah melihat
kesedihan Madame Nahed. Dan Maria, oh, kenapa semua ini bisa terjadi!?
“Oh, andaikan aku bisa membantu. Aku merasa menjadi manusia
paling tiada berguna karena tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri sekarang
dibayang-bayangi vonis hukuman gantung. Oh apa yang bisa aku lakukan?” Ucapku
sedih.
Yousef mengeluarkan tape kecil dari jaketnya dan berkata,
“Kata dokter, Maria harus dirangsang dengan suara atau sentuhan dari
orang-orang yang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
260
dicintainya. Dia sepertinya telah kehilangan gairah untuk
hidup. Suara orang yang dicintainya harus mendorongnya untuk hidup, harus
memberikan harapan-harapan yang indah baginya. Fahri tolonglah, bicaralah pada
Maria apa saja. Ini salah satu usaha menolong dia. Nanti akan kami perdengarkan
suaramu di telinganya.”
“Iya anakku tolonglah! Maria sangat mencintaimu dan
merindukan suaramu,” desak Madame Nahed.
Demi sebuah nyawa aku memenuhi permintaan Yousef dan Madame
Nahed. Dengan suara kupaksakan kebiasa-biasanya, aku berbicara apa saja pada
Maria. Terkadang aku berusaha tertawa. Atau mengingatkan sesuatu yang kira-kira
berkesan baginya. Hanya satu yang tidak kuucapkan di sana yaitu kalimat aku mencintaimu.
Tak mungkin, karena kalimat itu hanya berhak untuk Aisha seorang. Aku berharap
suaraku berguna untuk membantu menyembuhkan Maria. Bahwa di dalam penjara
sekali pun aku bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Namun begitu mengingat
kata-kata Madame Nahed dan Yousef bahwa Maria sakit karena mencintaiku aku jadi
sedih sekali. Aku jadi tidak mengerti apa itu cinta sebenarnya? Yang kutahu
cinta adalah apa yang terjadi antara diriku dengan Aisha. Itu saja. Tapi apa
yang dirasakan Nurul. Yang dirasakan Noura dan yang dirasakan Maria aku tidak
tahu. Apakah itu cinta? Ah cinta. Semacam duka. Mengiris jiwa.
* * *
Persidangan kedua sangat menegangkan. Tuan Boutros hadir
memberikan kesaksiannya. Beliau membantah keterangan Noura yang mengatakan
malam itu masuk di kamarku. “Jam lima pagi ketika saya bangun, saya menemukan
Noura bersama Maria di kamarnya. Dan Maria bercerita Noura sejak tengah malam
ada dikamarnya.”
Penuntut bertanya pada Tuan Boutros, “Apakah antara jam 2
sampai jam 5 anda tidak tidur, jadi anda tahu persis Noura selalu bersama
Maria, misalnya mendengar suara mereka dalam rentang waktu itu?”
Tuan Boutros dengan jujur menjawab, “Tidak saya sedang
tidur. Bahkan jeritan Noura dipukuk Bahadur juga tidak saya dengar. Saya
terlelap dan bangun setengah lima.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
261
Noura diminta bicara. “Maria berkata tidak benar kalau aku
bersamanya terus. Yang benar pukul tiga Maria mengantarku ke tempat Fahri yang
hanya berada di bawahnya. Di kamar Fahri pemerkosaan atas diriku terjadi. Dan
ketika azan pertama berkumandang, aku kembali ke tempat Maria. Saat itu seluruh
isi rumah Maria masih tidur, termasuk Tuan Boutros, kecuali Maria.” Kata Noura.
Teman-teman satu rumah yang pada malam kejadian itu ada di
rumah ikut memberikan kesaksian. Mereka semua menolak tuduhan Noura. Tapi
mereka juga jujur menjawab ketika ditanya sedang apa antara jam tiga sampai
azan pertama? Jawabnya tidur. Hamdi masih berusaha membela, “Saya ini termasuk
manusia yang sangat sensitif. Seringkali dalam keadaan tidur jika pintu dibuka
saya terbangun. Jika Noura masuk rumah pasti saya terbangun. Saya tidak
terbangun malam itu?”
Penuntut malah tersenyum dan berkata, “Menurut cerita Fahri
kalian malam itu berpesta hingga kenyang, benarkah?”
“Benar!” jawab Hamdi.
“Itulah salah satu penyebab kenapa kau tidak terbangun
ketika Noura masuk. Karena kau terlalu kenyang. Dan itu sudah sangat wajar
terjadi!”
Nurul memberikan kesaksian dengan suara terbata-bata menahan
emosi. Ia menceritakan cerita yang dikisahkan sendiri oleh Noura kepadanya
ketika Noura menginap beberapa hari di rumahnya. Cerita yang sangat berbeda
dengan yang dikatakan Noura di sidang pengadilan. “Saya yakin Noura saat ini
sedang berbohong. Apa yang dia katakan di pengadilan ini dusta. Dia bercerita
malam itu di kamar Maria dan baru bertemu Fahri pukul tujuh pagi. Dan uang dua
puluh pound itu diberikan kepadanya bukan sebagai harga atas kegadisannya. Itu
fitnah. Fahri tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu. Dia menyentuh
tangan perempuan saja tidak mau.”
Noura menolak kesaksian Nurul dan berkata dengan tenang,
“Memang seperti itu yang aku kisahkan pada Nurul. Saat itu aku tidak mungkin
dengan jujur menceritakan apa yang terjadi pada diriku di kamar Fahri. Aku
tidak mungkin menceritakan aib. Aib diriku dan aib orang yang akan jadi
suamiku, karena dia memang berjanji akan menikahiku. Sebenarnya yang terjadi
adalah seperti apa yang aku ceritakan. Saat itu aku juga mengira uang dua puluh
pound itu ikhlas
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
262
diberikan oleh Fahri sebagai ongkos pergi ke Masakin Utsman.
Aku tidak mengira sama sekali saat itu kalau itu adalah sebagai harga akan
kegadisanku yang direnggut Fahri. Aku tahu kebusukkannya setelah dia
terang-terangan tidak mau menikahiku dan malah mengatakan diriku pelacur sebab
telah ia bayar dengan dua puluh pound saja mau.”
Di akhir sidang terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan.
Bahadur memberikan kesaksian bahwa dia katanya pernah melihatku beberapa kali
menyiuli Noura dari jendela kamarku. “Saat itu aku sebenarnya sangat marah pada
penjahat itu. Tapi aku masih menghormatinya sebagai tamu di negeri ini dan aku
mengira itu hanyalah iseng anak muda. Apalagi dia kulihat juga rajin ke masjid.
Aku tidak menyangka kalau dia sebenarnya serigala. Dan aku yakin dialah yang
menodai Noura. Dia harus dihukum yang seberat-beratnya!”
Hakim lalu bertanya pada pengacaraku apakah masih ada saksi
atau bukti untuk membela diriku. Pengacaraku bilang masih. Yaitu kesaksian
Syaikh Ahmad dan isterinya, surat yang ditulis Noura untukku, dan Maria. Hakim
memutuskan sidang akan dilanjutkan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri.
Itu berarti aku akan menjalani hari raya terberat selama hidup.
Amru, Magdi dan paman Eqbal mengikutiku sampai ke penjara.
Di ruang tamu penjara mereka mangajakku berbicara. Eqbal terus memintaku untuk
tabah dan besar hati. Magdi dan Amru menganalisa jalannya sidang yang telah
terjadi.
“Saksi yang kita ajukan adalah orang-orang yang sangat
jujur. Mulai dari Tuan Boutros sampai teman-temanmu. Aku salut atas kejujuran
itu, meskipun dalam kasus ini kejujuran teman-temanmu tidak membantu. Kalau
mereka ada yang berani bohong sedikit saja, misalnya pukul tiga terbangun untuk
shalat malam dan mendapati keadaan rumah dalam keadaan sepi seperti biasa tidak
ada Noura di kamarmu. Karena kamarmu berdekataan dengan kamar mandi tempat wudhu,
dakwaan Noura akan runtuh,” ucap Amru sambil memandang lurus kepadaku.
“Tapi insya Allah kejujuran itu tetap akan membantu.
Setidaknya membantu kekuatan moral kita. Kebersihan nurani kita. Dan semoga
dengan kejujuran itu Allah memberikan jalan keluar yang lebih baik,” sahut
Eqbal.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
263
“Dalam sejarah kejahatan selalu dilancarkan dengan segala
cara. Dan kebenaran selalu dipertahankan dengan cara-cara yang jantan dan
bersih,” imbuh Magdi.
“Bisa jadi sidang setelah hari raya adalah sidang penentuan.
Dan dalam sidang itu kita harus membalik keadaan dan meruntuhkan semua tuduhan
dan rekayasa mereka. Senjata kita yang tersisa adalah surat cinta Noura yang
disana dia mengungkapkan semua pengakuannya secara jujur dan pengakuan Maria.
Yang paling penting sebenarnya adalah kesaksian Maria. Sebab dialah yang paling
tahu. Dialah—yang dalam penuturan Noura—mengantarkan dirinya ke tempatmu. Dan
dia juga yang membukakan pintu ketika Noura kembali lagi naik. Adapun kesaksian
Syaikh Ahmad dan isterinya kekuatannya tak akan berbeda dengan kesaksian Nurul
yang memang malam itu tidak tahu apa-apa. Marialah sebenarnya saksi kunci, tapi
sayang dia sekarang sedang koma.” jelas Amru.
“Bagaimana dengan surat Noura itu?” tanya Eqbal.
“Cukup kuat, jika benar-benar bisa dibuktikan itu tulisan
tangannya. Tapi surat itu sekarang ada di mana masih jadi masalah. Oleh Fahri
surat itu diberikan kepada Syaikh Ahmad. Syaikh Ahmad memberikan kepada
isterinya. Isterinya memberikan kepada Noura waktu masih di Tafahna. Sekarang
sedang dicari di Tafahna, siapa tahu ditinggal oleh Noura di sana. Jika surat
itu ternyata dibawa Noura ya kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu
mukjizat Maria bisa membaik dan pada sidang setelah hari raya nanti bisa
memberikan kesaksian,” jelas Amru.
Mendengar semua pembicaraan itu aku merasa nasibku
benar-benar berada di ujung tanduk. Jika nyawaku akhirnya harus melayang dengan
sedemikian tragisnya, aku pasrah saja kepada Yang Mahakuasa. Aku teringat
nasihat Syaikh Utsman agar selalu menjaga keikhlasan menerima takdir Ilahi
setelah berusaha sekuat tenaga. Yang divonis salah dalam pengadilan dunia tidak
selamanya salah di pengadilan akhirat. Kepala Nabi Yahya dipenggal dan
dihadiahkan kepada seorang pelacur. Dalam hati aku berdoa, jika aku harus mati
di tiang gantungan, maka “Allaahumma amitni alasy syahaadati fi
sabilik.Amin.”111
111 Ya Allah matikanlah diriku dalam keadaan mati syahid di
jalanMu. Amin.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
264
“Apa tidak ada jalan lain untuk membuktikan bahwa yang
menghamili Noura bukan Fahri? Bagaimana dengan test DNA? Bukankah Noura
menemukan orang tua kandungnya karena test DNA?” ucap Eqbal dengan mata
berbinar.
Amru dan Magdi mengangguk-anggukkan kepala. Aku merasa di
dalam dadaku ada cahaya. “Benar test DNA!” lirihku.
“Ini ide yang sangat menggembirakan. Aku nanti akan mencoba
bertanya pada dokter apakah janin yang dikandung Noura bisa diperiksa DNA-nya.
Agar ketahuan siapa sebenarnya ayahnya? Jika bukan Fahri yang menghamili tentu
DNA janin itu akan berbeda dengan DNA Fahri. Sebentar aku mau mengontak Dokter
Fatema Zaki, apakah janin bisa diperiksa DNA-nya.” Kata Amru sambil memenjet
handphone-nya dan meletakkan di telinganya. Amru lalu terlibat pembicaraan
dengan orang yang ditujunya. Tiba-tiba mukanya agak pucat, ia berkata setengah
berteriak, “Apa? Tidak bisa! Menunggu sampai lahir?! Oh, begitu. Ya, terima
kasih atas informasinya.”
“Bagaimana Amru?” tanya Eqbal.
“Menurut keterangan Dokter Fatema Zaki, janin yang masih
berada di dalam kandungan tidak bisa diperiksa DNA-nya. Karena harus pakai
sampel jaringan/sel tubuh. Janin tidak bisa diambil jaringan tubuhnya. Yang
bisa diambil cuma sampel air ketuban, tidak bisa untuk pemeriksaan DNA. Jadi
harus menunggu janin itu dilahirkan baru bisa diperiksa DNA-nya,” jelas Amru
yang membuat diriku lemas kembali. Menunggu Noura sampai melahirkan janinnya,
bukan waktu yang singkat di dalam penjara buruk seperti ini. Tapi aku tetap
merasa lebih berbesar hati bahwa jalan untuk membebaskan diri dari tuduhan dan
fitnah itu masih ada.
“Aku akan membuat surat permohonan kepada pengadilan agar
sidang selanjutnya diundur sampai Noura melahirkan bayinya untuk pemeriksaan
DNA.” Ujar Amru dengan wajah optimis.
“Jika pengadilan tidak mengabulkan?” sahut Magdi.
“Kita lihat nanti. Oh ya Magdi, tolong bagaimana caranya
keamanan Maria terjamin. Sebab walau bagaimana pun sebelum test DNA, Maria
adalah saksi kunci. Kau tentu tahu maksudku?” kata Amru.
“Insya Allah,” jawab Magdi pelan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
265
Mereka bertiga lalu pamintan. Amru berjanji akan menengok ke
penjara lagi jika ada perkembangan.
* * *
Sampai di dalam sel, sebelum Profesor Abdul Rauf dan
teman-teman menanyakan yang terjadi di dalam sidang kedua, aku langsung
mengisahkan semuanya. Termasuk pembicaraan berempat dengan Amru, Magdi dan
Eqbal di ruang tamu penjara.
“Bolehkan aku membuat suatu analisa? Siapa tahu ada
gunanya,” ujar Profesor Abdul Rauf begitu aku selesai bercerita.
“Tentu, Profesor,” jawabku senang.
“Pemohonanmu untuk mengundurkan sidang setelah Noura
melahirkan bayinya agar bisa diperiksa DNAnya tidak akan dikabulkan pengadilan.
Pengadilan akan tetap berjalan sesuai yang diinginkan hakim. Dan hakim berjalan
sesuai yang diinginkan oleh keluarga Noura. Mereka sudah tahu saksi kunci sudah
tidak berdaya. Seandainya pun Maria bisa memberikan kesaksian mereka sudah
mempersiapkan jurus yang akan mengejutkan. Selama ini yang terjadi, tertuduh
yang berada dalam posisi seperti dirimu jarang bisa menang. Apalagi kau orang
asing. Mereka juga tahu akan adanya test DNA, maka mereka akan menggunakan cara
agar di pengadilan ini kau kalah. Tindakan yang akan kau ambil adalah naik
banding, menunggu bayi Noura bisa ditest DNAnya. Begitu kau kalah, maka setelah
itu rekayasa yang akan mereka mainkan susah diprediksi. Bisa jadi diam-diam
mereka akan menggugurkan kandungan Noura dengan alasan keguguran dan
membuangnya entah di mana yang penting tidak bisa ditest DNAnya. Dan kau tidak
akan bisa menuntut apa-apa. Atau tidak begitu, tetap membiarkan bayi itu lahir
tapi permohonan bandingmu tidak dikabulkan dengan alasan yang seringkali tidak
masuk. Atau dikabulkan tapi setelah menunggu sekian tahun, setelah dirimu
mengalami penderitaan luar biasa dan sekarat di dalam penjara. Sebab begitu kau
diputuskan pengadilan bersalah kau akan diperlakukan sebagai orang bersalah
meskipun sedang mengajukan banding. Itu analisaku. Aku tidak ingin menakutimu
tapi agar pengacaramu dan pihak kedutaanmu berusaha lebih maksimal untuk
membebaskan dirimu dalam pengadilan terakhir nanti.”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
266
Aku merasa apa yang disampaikan profesor benar. Dalam
pengadilan Mesir seringkali terjadi hal-hal yang tidak masuk akal. Adanya saksi
seorang lelaki yang hobinya berburu burung hantu adalah suatu yang ganjil. Dan
sejak kapan di suthuh apartemen di Hadayek Helwan itu ada burung hantu?
“Menurut Profesor apa yang harus kami lakukan?” tanyaku
dengan hati cemas.
“Minta pertolongan Tuhan. Dan terus berusaha untuk menang!”
ucap Profesor mantap.
“Aku punya sesuatu yang ingin aku katakan, Akhi.” sahut
Ismail.
“Boleh.” kataku pelan.
“Mendengar semua kisahmu sejak kau ditangkap sampai
sekarang, aku melihat ada satu kekuatan yang mengaturnya. Mintalah kepada Magdi
untuk menyelidiki kekuatan backing dibelakang keluarga Noura. Kau masih
beruntung karena kasusmu bukan kasus yang oleh pihak keamanan dianggap
mengancam kekuasaan seperti Profesor Abdul Rauf. Asal bisa menjinakkan kekuatan
di belakang Noura maka jalan pembebasanmu menjadi lebih mudah. Firasatku
mengatakan, yang menghamili Noura adalah seseorang yang sangat memalukan untuk
disebut, jadi mereka mencari kambing hitam. Dan kambing hitamnya adalah
dirimu.Yang aku kuatirkan jika backing Noura adalah orang penting di Keamanan
Negara yang memang sangat berkuasa di negara ini.”
“Namun kau jangan kecil hati Fahri, di atas segalanya
Allahlah yang menentukan. Daya dan kekuatan manusia tiada berarti apa-apa di
hadapan kemahakuasaan Allah. Jika Dia berkehendak apa pun bisa terjadi.” Haj
Rashed menghibur. Aku diam saja. Semuanya lalu diam. Ruangan sel bawah tanah
yang pengap dan dingin itu dicekam suasana senyap sesaat. Keheningan menebarkan
aroma ketakutan yang menguji keimanan. Kini dalam ruangan sempit itu tinggal
kami berempat. Marwan sejak diambil sipir bersuara cempreng itu tak ketahuan
nasibnya. Apakah dipindahkan ke penjara lain? Ataukah dibebaskan? Atau malah
telah menemui kematian. Hamada juga tidak lagi terdengar beritanya sejak dua
hari lalu. Yang paling cemas atas nasib Hamada adalah Ismail. Katanya ia
bermimpi melihat Hamada berpakaian putih di sebuah tanah yang sangat lapang. Ia
kuatir itu adalah pertanda keburukan. Tapi Profesor malah menafsirkan mimpi
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
267
itu dengan hal yang menyenangkan, tanah lapang adalah
kebebasan. Hamada berarti sudah dibebaskan.
* * *
Hari berikutnya, kira-kira pukul sepuluh pagi, aku dibawa
sipir hitam ke kantor. Di sana kepala penjara menyerahkan sepucuk surat. “Ini
surat dari Universitas Al Azhar. Selamat!” Kata kepala penjara dengan nada yang
sangat sinis. Aku menerima surat itu dengan tangan bergetar. Aku teringat
peristiwa tahun 1995 seperti yang diceritakan staf konsuler KBRI. Kubuka amplop
surat cokelat buram itu dan kukeluarkan isinya. Lalu kubaca huruf demi huruf.
Selesai membaca surat itu aku tak mampu menahan isak tangisku. Usahaku sekian
tahun belajar mati-matian seakan sia-sia belaka. “Karena tidak asusila yang
Anda lakukan, maka Anda dikeluarkan dari Universitas Al Azhar dan gelar licence
yang telah Anda dapat dicabut sejak surat ini dibuat!” Demikian salah satu
baris surat dari Universitas Al Azhar itu. Melihat aku sedih dan meneteskan air
mata, kepala penjara malah tertawa mengejek. Ia tentu sudah tahu isi surat itu.
Aku kembali ke penjara dengan memendam kesedihan tiada tara. Al Azhar yang
kucintai itu tidak lagi menganggapku sebagai bagian dari anak muridnya.
Alangkah malang nasibku.
Di dalam sel aku menangis sejadi-jadinya. Aku belum pernah
menangis sesedu itu. Profesor Abdul Rauf menghiburku seperti seorang ayah
menghibur anaknya. Ia bertanya ada apa? Aku tak kuasa menceritakannya. Aku
terus menangis dengan sesak dada yang tiada terkira. Aku teringat semua
pengorbanan orang tua. Sawah warisan kakek, harta satu-satunya, dijual demi
agar aku bisa kuliah di Al Azhar Mesir. Dan kini semuanya seperti sia-sia. Aku
merasa menjadi manusia yang paling tiada gunanya di dunia. Hampir satu jam aku
menangis. Profesor Abdul Rauf masih terus menghibur dan membesarkan hatiku.
Akhirnya aku ceritakan berita duka itu padanya, dengan isak tangis yang
tersisa.
“Kau percayalah padaku, Al Azhar sebenarnya tidak semudah itu
mengeluarkanmu. Di sana masih banyak ulama dan guru besar yang arif bijaksana.
Tapi Al Azhar tidak bisa berbuat apa-apa jika mendapat tekanan dari penguasa.
Apalagi jika datang dari Amn Daulah112. Aku sangat yakin Al Azhar
112 Keamanan Negara.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
268
mengeluarkanmu karena mendapat tekanan. Itu sama seperti
Universitas El-Menya waktu mengeluarkan diriku dan mencopot gelar guru besarku.
Jadi sebenarnya sekarang ini saya bukan seorang profesor lagi, karena gelar
guru besarku telah dicabut. Rektor Universitas El-Menya adalah temanku waktu
mengambil doktor di Universits Lyon, Perancis. Dia tidak mungkin berbuat buruk
padaku, tapi dia mendapat tekanan dari penguasa agar memejatku dari dosen dan
menandatangani surat pencabutan guru besarku. Untungnya aku mendapat gelar
doktor dari Perancis, kalau aku mendapatkan gelar doktor dari salah satu
universitas di sini maka seluruh gelar akademisku juga akan dipreteli. Ah
sebenarnya gelar itu tidaklah segalanya yang paling penting adalah kemampuan
kita. Meskipun kau dikeluarkan dan gelarmu dicopot tapi ilmu yang telah melekat
dalam otakmu tidak bisa mereka copot. Seandainya nanti kau bebas dan kembali ke
tanah airmu kau masih bisa mengamalkan ilmumu meskipun tanpa gelar. Di dunia
ini sangat banyak orang yang sukses tanpa gelar akademis. Aku malah pernah
membaca sejarah Indonesia, bahwa salah seorang Wakil Presiden Indonesia yang
sangat disegani yaitu Adam Malik, tidak memiliki gelar akademis apapun. Tapi
kemampuannya tidak diragukan. Jadi janganlah masalah sekecil itu kau tangisi.
Kau harus menjadi seorang lelaki sejati yang berjiwa besar. Dan aku yakin kau
mampu untuk itu.”
Kata-kata profesor Abdul Rauf mampu menyeka air mata
sedihku. Aku semestinya malu pada diriku sendiri jika menangisi hilangnya
sebuah gelar. Jika aku diharamkan belajar di Al Azhar, maka Allah mungkin akan
membuka jalan untuk belajar di tempat yang lain, termasuk belajar di dalam
penjara. Bahkan bisa jadi penjara adalah universitas paling dahsyat di dunia.
Banyak terjadi orang-orang besar di dunia melahirkan karya-karya monumental di
penjara. Ibnu Taimiyah, ulama terkemuka pada zamannya yang mendapat gelar
“Syaikhul Islam” menulis Fatawanya yang berjilid-jilid di dalam penjara. Sayyid
Qutb menulis tafsir Zhilalnya yang sangat indah bahasa dan isinya, juga di
dalam penjara. Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi juga menulis karya-karyanya
yang monumental di dalam penjara. Kenapa aku tidak berpikiran positif seperti
mereka? Penjara bukanlah penghalang untuk berkarya dan berbuat. Seandainya aku
tidak bisa menelorkan karya di dalam penjara, kenapa aku tidak menggunakan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
269
kesempatan yang ada untuk belajar pada Profesor Abdul Rauf.
Beliau adalah guru besar bidang ilmu ekonomi. Beliau juga pernah belajar di
Perancis. Dengan beliau aku semestinya bisa belajar satu rumus ilmu ekonomi,
atau bahasa Perancis menskipun cuma satu kosa kata.. Rasanya mempersiapkan diri
saja untuk menikmati hidup di dalam penjara, itu lebih realistis dan lebih baik
daripada bersedih, berkeluh kesah dan meratapi nasib. Kuutarakan kemauanku pada
beliau. Hari itu juga aku mulai menimba ilmu pada beliau. Lumayan selain
‘bonjour’ aku mendapatkan sebuah kalimat dari Victor Hugo saat merenungi suatu
keadaan nyata bahwa tangan manusia banyak melakukan suatu kejahilan. Hugo
mengatakan: Tempos edax, home edacior! Artinya: Waktu kejam tapi manusia lebih
kejam lagi!
* * *
Tiga hari setelah itu, kira-kira satu jam menjelang buka
puasa, sipir bersuara cempreng memanggilku. Aku yang biasanya tidak pernah
takut kali ini menyahut panggilannya dengan bulu kuduk merinding. Aku bersyukur
ketika Si Cempreng tidak berbuat macam-macam padaku, ia hanya membawaku ke
ruang tamu penjara. Di sana ada Aisha, paman Eqbal, Maqdi, dan Amru yang telah
menunggu.
“Sore ini kita akan sedikit berbincang dan buka puasa
bersama.” kata Aisha.
“Untuk buka puasanya mungkin aku tidak bisa,” jawabku.
“Kenapa?”
“Aku tidak mungkin makan enak sementara teman-teman satu sel
berbuka hanya dengan seteguk air dan roti isy kering dengan jubnah
kadaluwarsa.”
Aisha langsung mengerti apa maksudku. Dia langsung membagi
beberapa bungkus makanan yang dibawa menjadi dua bagian.
“Ini untuk mereka.”
“Biar kuantar dulu.”
Selesai mengantar buka untuk teman-teman satu sel, barulah
aku mendengarkan semua perkembangan yang terjadi dari mereka.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
270
“Ada kabar kurang menggembirakan untukmu. Surat permohonan
agar jadwal sidang berikutnya diundur sampai janin Noura bisa diperiksa DNAnya
ditolak oleh pengadilan.” Kata Amru dengan wajah mengguratkan kemuraman.
“Aku tidak kaget. Sudah aku kira.” Jawabku lirih. Kemudian
aku menjelaskan prediksi-prediksi Profesor Abdul Rauf dan saran dari Ismail.
“Aku juga memiliki prediksi dan kalkulasi yang tidak jauh
berbeda. Sekarang senjata kita tinggal kesaksian Maria. Dan dia masih koma di
rumah sakit. Kondisinya sangat memprihatinkan, susah untuk kita harapkan.” Kata
Amru lemas.
“Saran Ismail itu cukup bagus. Memang dibelakang Noura
adalah seorang perwira menengah di badan intelijen khusus keamanan negara. Dia
adik bungsu Madame Yasmin, ibu kandung Noura. Dialah yang mendalangi semua ini.
Si Kumis yang mau berbuat tidak baik pada Madame Aisha itu akhirnya buka mulut
juga. Tapi dia sulit disentuh. Kecuali oleh orang yang pangkatnya lebih tinggi
darinya. Kebetulan aku tidak punya akses ke badan intelijen khusus. Aksesku
hanya intel polisi biasa jadi tidak bisa berbuat banyak. Si Kumis itu kalau
bukan desakan diplomatik dari Jerman dia juga tidak akan terproses secara
hukum.” Ucap Magdi.
“Hmm..aku ingat sekarang. Syaikh Ahmad punya sepupu yang
juga bertugas di dalam badan intelijen khusus keamanan negara, namanya Ridha
Shahata. Siapa tahu bisa membantu.” Sahutku sedikit optimis.
“Saya sudah menghubungi Syaikh Ahmad, tapi sayang Ridha
Shahata sedang ditugaskan ke Iran selama dua bulan. Dia baru akan kembali ke
Mesir sekitar pertengahan Syawal, ketika sidang telah usai.” Tukas paman Eqbal
Hakan Erbakan.
Azan maghrib berkumandang. Kami berbuka bersama. Pembicaraan
sore itu belum menghasilkan sesuatu yang nyata untuk membuktikan bahwa diriku
sama sekali tidak berdosa melakukan perbuatan yang hina yang dituduhkan
kepadaku. Aisha pamit dengan air mata tak terbendung. “Aku akan cari jalan
untuk menyelamatkan nyawamu, Suamiku. Aku tak mau jadi janda. Aku tak ingin
anakku ini nanti lahir dalam keadaan yatim. Aku tak ingin kehilangan dirimu.
Kau adalah karunia agung yang diberikan oleh Allah kepadaku.” Kalimat dari
bibirnya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
271
yang bergetar itu membuat hatiku terasa pilu dan sedih. Tak
lama lagi akan memiliki seorang anak. Dan aku tidak tahu apakah masih akan
sempat melihat wajah anakku itu apa tidak? Hanya Tuhanlah yang tahu akan akhir
nasibku. Apapun yang akan terjadi aku harus siap menerimanya.Untuk membesarkan
hati, aku kembali mengingat kisah Nabi Yahya yang mati muda, kepalanya
dipenggal dan dihadiahkan kepada seorang pelacur. Kalau kehidupan dunia adalah
segalanya maka kesalehan seorang nabi tiada artinya.
* * *
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
272
26. Ayat Ayat Cinta
Musim dingin yang beku membuat tulang-tulangku terasa ngilu.
Aku nyaris tidak kuat dengan keadaan sel yang sangat menyiksa. Tanpa disiksapun
musim dingin dalam sel gelap, pengap, basah dan berbau pesing itu sangat
menyiksa. Seluruh sumsum tulang terasa pedih bernanah. Aku memasuki hari-hari
yang sangat berat.
Suatu sore, satu jam sebelum buka, tiga hari menjelang hari
raya Idul Fitri Aisha menjenguk bersama paman Eqbal, dia tampak terpukul
melihat keadaanku yang sangat mengenaskan. Menjalani musim dingin dengan tanpa
pelindung tubuh yang cukup telah membuat seluruh persendianku kaku. Selama ini
aku nyaris tidak pernah tidur kecuali dengan posisi jongkok, tangan memegang
kedua kaki erat-erat. Beberapa kali aku merasa sangat tersiksa bagaikan orang
yang sedang sekarat.
“Suamiku, izinkanlah aku melakukan sesuatu untukmu!” Kata
Aisha dengan mata berkaca-kaca.
“Apa itu?”
“Beberapa waktu yang lalu Magdi mengatakan harapan kau bisa
dibebaskan sangat tipis sekali. Maria masih juga koma. Mungkin hanya mukjizat
yang akan menyadarkannya. Magdi berseloroh, jika punya uang untuk diberikan
pada keluarga Noura dan pihak hakim mungkin kau bisa diselamatkan. Kalau kau
mengizinkan aku akan bernegosiasi dengan keluarga Noura. Bagiku uang tidak ada
artinya dibandingkan dengan nyawa dan keselamatanmu.”
“Maksudmu menyuap mereka?”
“Dengan sangat terpaksa. Bukan untuk membebaskan orang salah
tapi untuk membebaskan orang tidak bersalah!”
“Lebih baik aku mati daripada kau melakukan itu!”
“Terus apalagi yang bisa aku lakukan? Aku tak ingin kau
mati. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Aku tak ingin bayi ini nanti tidak punya
ayah. Aku tak ingin jadi janda. Aku tak ingin tersiksa. Apalagi yang bisa aku
lakukan?”
“Dekatkan diri pada Allah! Dekatkan diri pada Allah! Dan
dekatkan diri pada Allah! Kita ini orang yang sudah tahu hukum Allah dalam
menguji hamba-
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
273
hamba-Nya yang beriman. Kita ini orang yang mengerti ajaran
agama. Jika kita melakukan hal itu dengan alasan terpaksa maka apa yang akan
dilakukan oleh mereka, orang-orang awan yang tidak tahu apa-apa. Bisa jadi
dalam keadaan kritis sekarang ini hal itu bisa jadi darurat yang diperbolehkan,
tapi bukan untuk orang seperti kita, Isteriku. Orang seperti kita harus tetap
teguh tidak melakukan hal itu. Kau ingat Imam Ahmad bin Hambal yang dipenjara,
dicambuk dan disiksa habis-habisan ketika teguh memegang keyakinan bahwa
Al-Qur’an bukan makhluk. Al-Qur’an adalah kalam Ilahi. Ratusan ulama pergi
meninggalkan Bagdad dengan alasan keadaan darurat membolehkan mereka pergi
untuk menghindari siksaan. Jika semua ulama saat itu berpikiran seperti itu,
maka siapa yang akan memberi teladan kepada umat untuk teguh memegang keyakinan
dan kebenaran. Maka Imam Ahmad merasa jika ikut pergi juga ia akan berdosa.
Imam Ahmad tetap berada di Bagdad mempertahankan keyakinan dan kebenaran
meskipun harus menghadapi siksaan yang tidak ringan bahkan bisa berujung pada
kematian. Sama dengan kita saat ini. Jika aku yang telah belajar di Al Azhar
sampai merelakan isteriku menyuap maka bagaimana dengan mereka yang tidak
belajar agama sama sekali. Suap menyuap adalah perbuatan yang diharamkan dengan
tegas oleh Baginda Nabi. Beliau bersabda, ‘Arraasyi wal murtasyi fin naar!’
Artinya, orang yang menyuap dan disuap masuk neraka! Isteriku, hidup di dunia
ini bukan segalanya. Jika kita tidak bisa lama hidup bersama di dunia, maka
insya Allah kehidupan akherat akan kekal abadi. Jadi, kumohon isteriku jangan
kau lakukan itu! Aku tidak rela, demi Allah, aku tidak rela!”
Aisha tersedu-sedu mendengar penjelasanku. Dalam tangisnya
ia berkata dengan penuh penyesalan, “Astaghfirullah…astaghfirullaahal adhiim!”
Paman Eqbal ikut sedih dan meneteskan air mata.
“Aisha isteriku, apakah kau benar-benar mencintaiku?”
tanyaku.
Aisha menganggukkan kepala.
“Aku juga sangat mencintaimu. Dan aku tak ingin kita yang
sekarang ini saling mencintai kelak di akhirat menjadi orang yang saling
membenci dan saling memusuhi.”
“Apa maksudmu? Apakah ada dua orang yang di dunia saling
mencintai di akhirat justru saling memusuhi?” tanyanya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
274
“Jika cinta keduanya tidak berlandaskan ketakwaan kepada
Allah maka keduanya bisa saling bermusuhan kelak di akhirat. Apalagi jika cinta
keduanya justru menyebabkan terjadinya perbuatan maksiat baik kecil maupun
besar. Tentu kelak mereka berdua akan bertengkar di akhirat. Seseorang yang
sangat mencintai kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Tak
peduli pada apa pun juga. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan dosa
atau tidak dosa. Jika yang dilakukan adalah dosa tentu akan menyebabkan
keduanya akan bermusuhan kelak di akhirat. Sebab mereka akan berseteru di
hadapan pengadilan Allah Swt. Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah Swt
dalam surat Az Zuhruf ayat 67: ‘Orang-orang yang akrab saling kasih mengasihi,
pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali
orang-orang yang bertakwa.’ Isteriku, aku tak ingin kita yang sekarang ini
saling menyayangi dan saling mencintai kelak di akhirat justru menjadi musuh
dan seteru. Aku ingin kelak di akhirat kita tetap menjadi sepasang kekasih yang
dimuliakan oleh Allah Swt. Aku tak menginginkan yang lain kecuali itu isteriku.
Hidup dan mati sudah ada ajalnya. Allahlah yang menentukan bukan keluarga Noura
juga bukan hakim pengadilan itu. Jika memang kematianku ada di tiang gantungan
itu bukan suatu hal yang harus ditakutkan. Beribu-ribu sebab tapi kematian
adalah satu yaitu kematian. Yang membedakan rasanya seseorang mereguk kematian
adalah besarnya ridha Tuhan kepadanya. Isteriku, aku sangat mencintaimu. Aku
tak ingin kehilangan dirimu di dunia ini dan aku lebih tak ingin kehilangan
dirimu di akhirat nanti. Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh agar kita
tetap bersama dan tidak kehilangan adalah bertakwa dengan sepenuh takwa kepada
Allah Azza Wa Jalla.”
Tangis Aisha semakin menjadi-jadi.
“Ka...kau benar Suamiku, terima kasih kau telah mengingatkan
diriku. Sungguh beruntung aku memiliki suami seperti dirimu. Aku mencintaimu
suamiku. Aku mencintaimu karena kau adalah suamiku. Aku juga mencintaimu karena
Allah Swt. Ayat yang kau baca dan kau jelaskan kandungannya adalah satu ayat
cinta di antara sekian juta ayat-ayat cinta yang diwahyukan Allah kepada
manusia. Keteguhan imanmu mencintai kebenaran, ketakwaan dan kesucian dalam
hidup adalah juga ayat cinta yang dianugerahkan Tuhan kepadaku dan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
275
kepada anak dalam kandunganku. Aku berjanji akan setia
menempatkan cinta yang kita bina ini di dalam cahaya kerelaan-Nya.”
Kalimat-kalimat yang terucap dari mulut Aisha menjadi
penyejuk jiwa yang tiada pernah kurasa sebelumnya. Ia seorang perempuan yang lunak
hatinya dan bersih nuraninya.
“Kisah percintaan kalian membuat hatiku sangat terharu.
Aisha, memiliki rasa cinta dan kesetiaan pada suami yang luar biasa. Kau
seperti ibumu. Kau mewarisi kelembutan hati seperti nenekmu yang asli
Palestina. Jika beliau masih ada pasti akan sangat bangga memiliki cucu
sepertimu. Dan kau Fahri, aku belum pernah melihat seorang lelaki yang seteguh
dirimu dan sekuat dirimu dalam bertanggung jawab mempertahankan cinta suci di
dunia dan di akhirat. Kau benar, hidup yang sebenarnya adalah hidup di akhirat.
Hidup yang kekal abadi tiada penghabisannya. Sesungguhnya sore ini aku
mendapatkan nasihat agung yang tiada ternilai harganya.”
Azan berkumandang dan kami bersiap untuk buka. Sambil
menjawab azan, lirih kudengar Aisha berdoa, “Ya Allah kekalkan cinta kami di
dunia dan di akhirat. Ya Allah masukkan kami ke dalam surga Firdaus-Mu agar
kami dapat terus bercinta selama-lamanya. Amin.”
Setelah mereka pulang di dalam sel penjara aku menyatukan
diri dalam rengkuhan tangan Tuhan. Meskipun berada di dalam penjara aku masih
merasakan kenikmatan-kenikmatan yang kelihatannya biasa-biasa namun luar biasa
agungnya. Tuhan masih memberikan sentuhan cinta dan kasih sayang-Nya. Aku tiada
kuasa berbuat apa-apa kecuali meletakkan kening bersujud kepada-Nya.
Ilahi, setiap kali,
bila kurenungkan kemurahanMu
yang begitu sederhana mendalam
akupun tergugu
dan membulatkan sembahku padaMu113
* * *
113 Diadaptasi dengan sedikit perubahan dari puisi berjudul
“Saat-saat Sadar” karya penyair Belgia, Emile Verhaeren (1855-1916), yang
sangat terkenal pasca perang dunia pertama.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
276
Hari raya Idul Fitri tiba. Aku merayakannya di dalam penjara
berteman duka dan air mata. Tidak seperti hari raya yang telah lalu. Aku tidak
bisa berbicara langsung dengan kedua orang tua di Indonesia. Aku hanya berpesan
kepada Aisha agar minta tolong kepada Rudi membelikan kartu lebaran di Attaba
dan mengirimnya tanpa memberitahukan keadaanku sebenarnya. Aku tak ingin
membuat mereka berdua berduka tiada terkira. Aku telah berpesan pada Ketua PPMI
agar jika ada teman mahasiswa dari Jawa pulang berkenan mampir ke rumah orang
tuaku dan menceritakan masalah yang menimpaku dengan baik dan bijaksana.
Yang sedikit mengurangi kesedihanku pada hari raya itu
adalah kunjungan yang datang silih berganti dari pagi sampai sore. Pagi sekali,
tak lama setelah shalat Ied selesai Aisha, paman Eqbal dan bibi Sarah
menjenguk. Setelah itu teman-teman satu rumah alias Rudi dkk. Lalu Mas Khalid
dan anak buahnya. Ketua Kelompok Studi Walisongo (KSW) dan bala kurawanya.
Takmir masjid Indonesia. Beberapa staf KBRI yang rendah hati. Teman-teman S2
dan S3. Dan beberapa kenalan lainnya.
Yang cukup mengejutkan diriku adalah kunjungan Nurul bersama
Ustadz Jalal dan isterinya. Nurul menyampaikan rasa terima kasihnya atas surat
yang aku tulis untuknya. Dia minta doanya tiga hari lagi akan melangsungkan
akad nikah dengan salah seorang mahasiswa Indonesia.
“Siapa dia calon suamimu yang beruntung itu, kalau aku boleh
tahu?” Tanyaku pada Nurul. Dia menundukkan kepala dan dia diam saja. Malu.
“Dia juga sedang menulis tesis. Juga kawan dekatmu.” Kata
Ustadz Jalal menanggapi pertanyaanku. Aku berpikir sesaat mencari seseorang
yang diisyaratkan oleh Ustadz Jalal.
“Apakah dia itu Mas Khalid?” tebakku.
“Tebakkanmu tidak salah,” jawab Ustadz Jalal.
“Dia orang yang shaleh, baik dan memiliki karakter dan
dedikasi tinggi.” kataku.
“Tapi cinta pertama sangat susah dilupakan.” Lirih Nurul.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
277
“Sekali lagi cinta sejati adalah yang telah diikat dengan
tali suci pernikahan. Jadikanlah Mas Khalid sebagai cinta pertama dan
terakhirmu.” pelanku.
“Insya Allah, aku sedang berusaha untuk melakukan itu dengan
segenap usaha. Doakanlah pernikahan kami barakah, dan kami bahagia dan
menemukan mawaddah,” lirih Nurul.
“Sama-sama. Kita saling mendoakan,” jawabku.
Aku bahagia mendapat kunjungan yang membawa berita baik itu.
Mas Khalid memang pasangan yang cocok untuk Nurul. Keduanya sama-sama berasal
dari keluarga pesantren. Dan kepiawaian Mas Khalid dalam membaca kitab kuning
ala pesantren salaf akan sangat berguna bagi pengembangan pesantren milik ayah
Nurul. Mas Khalid bisa menjadi pengasuh pesantren yang baik. Dalam banyak acara
diskusi di Cairo dia paling sering diminta untuk memimpin doa. Doanya panjang
namun mampu membuat orang meneteskan air mata di hadapan Tuhannya.
Dan yang tak kalah bahagianya hatiku adalah kunjungan Syaikh
Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far bersama puteranya yang bernama Umar. Beliau
berpesan agar aku bersabar dan tidak pernah putus asa sedetikpun atas datangnya
rahmat Allah Swt. Beliau meminta maaf atas ketidakberdayaan beliau mempertahankan
diriku atas pengeluaranku dari Al Azhar. Beliau juga menjelaskan bahwa
sebenarnya Al Azhar mendapatkan tekanan dari keamanan untuk melakukan hal itu
padaku. Sebelum pulang beliau memelukku erat-erat lalu mengecup ubun-ubun
kepalaku.
“Ingat baik-baik Anakku, wa man yattaqillaha yaj’al lahu
makhraja!”114 Pesan beliau kepadaku. Kunjungan Guru Besar Tafsir Universitas Al
Azhar itu membuat diriku memang benar-benar terasa ada. Orang sepenting dia
masih berkenan menengokku di penjara. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupa.
Menjelang Isya’, Syaikh Ahmad dan isterinya, Ummu Aiman
datang. Syaikh Ahmad sedikit membawa berita baik untukku. Yaitu saudara
sepupunya, Ridha Shahata, yang ditugaskan keluar Mesir pulang lebih awal dari
jadwal yang ditetapkan karena dia telah menyelesaikan semua tugasnya dengan
baik. Ridha
114 Dan siapa yang bertakwa kepada Allah maka dia akan
menjadikan untuknya jalan keluar.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
278
Shahata berjanji akan membantu sebisanya. Yang paling
penting menurut Ridha Shahata dari cerita Syaikh Ahmad adalah bagaimana caranya
Maria bisa memberikan kesaksiannya di depan pengadilan. Aku lebih banyak diam,
dalam hati kukatakan, ‘Maria sangat susah diharapkan, jika memang aku harus
mati di tiang gantungan berarti memang Tuhan berkehendak demikian.’
Sejujurnya kukatakan, selama merayakan Iedul Fitri di Mesir
aku belum pernah mendapatkan kunjungan sebanyak itu. Meskipun berada di
penjara, namun hari raya yang kulewati cukup mengesan. Aku ikhlas seandainya
hari raya yang aku lewati adalah hari raya terakhirku di dunia.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
279
27. Diary Maria
Hari berikutnya, pagi-pagi sekali, Tuan Boutros dan Madame
Nahed datang. Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan datang menjenguk dan
mengucapkan selamat hari raya. Ternyata maksud kedatangan mereka tidak
semata-mata berkunjung. Tuan Boutros berkata, “Kedatangan kami berdua kemari
mau minta pertolonganmu sekali lagi untuk kesembuhan Maria.”
“Aku tidak mengerti maksud Tuan. Apa yang bisa aku lakukan
dalam keadaan seperti ini?” jawabku.
“Kaset rekaman suaramu itu bisa menyadarkan Maria beberapa
menit. Begitu sadar ia menanyakan dirimu. Ia terus menanyakan dirimu sampai tak
sadarkan diri kembali. Dokter ahli syaraf yang menanganinya meminta agar bisa
mendatangkan dirimu beberapa saat untuk menyadarkan Maria. Dengan suara dan
dengan sentuhan tanganmu ada kemungkinan Maria bisa sadar. Dan ketika
mendapatkan dirimu berada di sisinya, dia akan memiliki semangat hidup kembali.
Maria itu ternyata persis seperti ibunya yang tidak mudah jatuh cinta. Namun
sekali jatuh cinta dia bisa melupakan sama sekali orang yang dicintainya.
Madame Nahed ini dulu juga sakit seperti Maria sekarang, cuma tidak separah
Maria,” kata Tuan Boutros.
“Tolonglah Anakku, aku tak mau kehilangan Maria. Aku sudah
pernah mengalami apa yang dialami Maria. Hanya suaramu, sentuhanmu dan
kehadiranmu di sisinya yang akan membuat dirinya kembali memiliki cahaya hidup
yang telah redup,” desak Madame Nahed.
“Kalau hanya memperdengarkan suaraku padanya, insya Allah
aku bisa. Tapi kalau sampai menyentuhnya aku tidak bisa. Anda tentu sudah tahu
kenapa? Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu sementara aku berada di dalam
penjara. Apakah akan rekaman lagi?” jawabku.
“Kami akan minta izin kepada pihak kepolisian untuk
membawamu ke rumah sakit beberapa saat lamanya dengan jaminan,” kata Tuan
Boutros.
“Semoga bisa,” sahutku pelan.
Keduanya lalu keluar. Aku menunggu di ruang tamu penjara
dengan penuh harap berdoa mereka diizinkan membawaku ke rumah sakit menemui
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
280
Maria. Dan semoga aku bisa menyadarkan Maria sehingga nanti
dia bisa menjadi saksi dalam persidangan penentuan yang tidak lama lagi akan
dilangsungkan. Entah bagaimana diplomasi mereka pada pihak kepolisian dan
jaminan apa yang mereka berikan akhirnya mereka diizinkan membawaku ke rumah
sakit sampai maghrib tiba. Saat azan maghrib berkumandang aku harus sudah
berada di dalam penjara lagi. Borgolku dilepas. Aku melihat jam dinding yang
ada di ruangan itu. Baru pukul setengah delapan pagi. Maghrib sekitar pukul
lima empat lima. Ada waktu sembilan jam setengah. Semoga waktu yang ada itu
cukup untuk membantu Maria.
Tuan Boutros dan Madame Nahed membawaku ke mobil mereka. Aku
heran, sama sekali kami tidak dikawal. Apa mereka tidak takut aku akan
melarikan diri. Aku tanyakan hal itu pada Tuan Boutros. Beliau menjawab, “Jika
kau lari maka kami sekeluarga akan mati. Kami sekeluarga yang menjadi
jaminanmu.”
“Apa Tuan tidak kuatir aku akan melarikan diri?” tanyaku.
“Aku sudah mengenal siapa dirimu. Kau bukan seorang pengecut
yang akan melakukan hal itu,” jawab Tuan Boutros mantap.
“Terima kasih atas kepercayaannya,” tukasku.
Rumah sakit tempat Maria dirawat adalah rumah sakit tempat
aku dulu dirawat. Begitu sampai di sana Madame Nahed yang juga seorang dokter
langsung meminta temannya untuk memeriksa kesehatanku. Aku sempat minta pada
Madame Nahed menghubungi Aisha yang tinggal di rumah paman Eqbal yang tak jauh
dari rumah sakit. Seorang dokter memeriksa tekanan darahku dan lain sebagainya
dengan proses yang cepat. Dia minta aku mandi dengan air kemerahan yang telah
disiapkan seorang perawat. Lalu salin pakaian rumah sakit. Aku mandi dengan
cepat. Setelah itu aku disuntik. Barulah aku diajak ke kamar di mana Maria
tergeletak seperti mayat. Aku tak kuasa menatapnya. Maria yang kulihat itu
tidak seperti Maria yang dulu. Ia tampak begitu kurus. Mukanya pucat dan layu.
Tak ada senyum di bibirnya. Matanya terpejam rapat. Air matanya terus meleleh.
Entah kenapa tiba-tiba mataku basah. Seorang dokter setengah baya memintaku untuk
berbicara dengan suara yang datang dari jiwa agar bisa masuk
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
281
ke dalam jiwa Maria. “Ini penyakit cinta, hanya bisa
disembuhkan dengan getaran-getaran cinta,” katanya padaku.
Aku duduk di kursi dekat Maria berbaring. Mulutku tak jauh
dari telinga Maria. Aku memanggil-manggil namanya. Menyuruhnya untuk membukakan
mata. Aku bercerita dan lain sebagainya. Satu jam sudah aku berbicara tapi
Maria tetap tidak sadar juga. Dokter setengah baya mengajakku bicara. Dia minta
agar aku mengucapkan kata-kata yang mesra, kata-kata pernyataan cinta pada
Maria sambil memegang-megang tangannya atau menyentuh keningnya.
Kujawab, “Maafkan diriku atas ketidakmampuanku melakukan hal
itu. Aku tidak mungkin menyatakan cinta dan menyentuh bagian tubuh seorang
wanita, kecuali pada isteriku saja.”
“Tolonglah, lakukan itu untuk merangsang syarafnya dan
membuatnya sadar. Kau harus mengatakan dan melakukan sesuatu yang memiliki efek
pada syaraf dan memorinya. Dan lebih dari itu pada jiwanya. Utarakanlah rasa
cintamu padanya, mungkin itu akan menolongnya.”
“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak menyesal.”
“Ini tidak sungguhan.”
“Aku harus bersikap bagaimana? Aku tidak bisa melakukan hal
itu, juga tidak bisa untuk melakukan suatu kebohongan. Bagaimana jika aku
mengungkapkan rasa cinta lalu dia sadar. Kemudian dia tahu aku membohonginya
apakah itu bukan suatu penyiksaan yang kejam padanya?”
Dokter setengah baya diam. Ia lalu keluar dan beranjak
keluar untuk berbicara pada Tuan Boutros dan Madame Nahed. Aku duduk terpekur
dalam ketermanguan. Lakon hidup ini kenapa begitu rumit? Aku melihat bibir
Maria bergetar menyebut sebuah nama. Hatiku berdesir. Yang ia sebut adalah
namaku. Aku menjawab dengan menyebut namanya tapi ia tidak juga membuka
matanya. Ingin aku menggoyang-goyang tubuhnya agar ia sadar, agar ia tahu aku
ada di dekatnya tapi itu tak mungkin aku lakukan. Tuan Boutros mengajakku
berbicara enam mata dengan Madame Nahed di sebuah ruangan. Tuan Boutros
menyerahkan sebuah agenda berwarna biru.
“Fahri, ini agenda pribadi Maria. Tempat ia mencurahkan
segala perasaan dan pengalamannya yang sangat pribadi yang terkadang kami tidak
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
282
mengetahuinya. Termasuk cintanya padamu yang luar biasa.
Kami tidak pernah menyalahkanmu dalam masalah ini. Sebab kamu memang tidak
bersalah. Kamu tidak pernah melakukan tindakan yang tidak baik pada Maria. Kami
juga tidak bisa menyalahkan Maria. Bacalah beberapa halaman yang telah kami
tandai itu agar kau mengetahui bagaimana perasaan Maria terhadapmu sebenarnya,”
kata Tuan Boutros.
Aku menerima agenda pribadi Maria itu dan membaca pada
halaman-halaman yang telah ditandai dengan sedikit dilipat ujung atas
halamannya.
Kubuka lipatan 1:
Senin, 1 Oktober 2001, pukul 22.25
Sudah dua tahun dia dan teman-temannya tinggal di flat
bawah. Kamarnya tepat dibawah kamarku. Aku tak pernah berkenalan langsung
dengannya, tapi aku mengenalnya. Aku tahu namanya dan tanggal lahirnya. Yousef
banyak bercerita tentang dirinya dan teman-temannya. Setiap Jum’at pagi dia dan
teman-temannya bermain sepak bola di lapangan bersama Yousef dan anak-anak muda
Hadayek Helwan. Mereka semua mahasiswa Al Azhar dari Indonesia yang ramah dan
menghormati siapa saja. Kata Yousef yang paling ramah dan dewasa adalah dia.
Bahasa ‘amiyah dan fushanya juga paling baik di antara keempat orang temannya.
Ayah pernah dibuat terharu oleh sikapnya yang tidak mau
merepotkan dan menyakiti tetangga. Ceritanya suatu hari ayah menagih iuran air
ke tempatnya. Ternyata ia sedang tidak enak badan dan istirahat di kamarnya.
Teman-temannya mengajak ayah masuk ke kamarnya. Di dalam kamarnya ada sebuah
ember untuk menadah air yang menetes dari langit-langit. Ayah langsung tahu
bahwa tetesan air itu berasal dari kamar mandi kami. Karena kamilah yang tepat
berada di atasnya. Dan letak kamar mandi memang berada di samping kamarku. Ayah
bertanya padanya,
“Sudah berapa lama air ini merembes dan menetes di kamarmu?”
“Satu bulan?”
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
283
“Kenapa kau tidak bilang kepadaku kalau ada ketidakberesan
di kamar mandi kami dan merembes ke tempatmu?”
“Nabi kami mengajarkan untuk memuliakan tetangga, beliau
bersabda, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah
tetangganya!’ Kami tahu kerusakan itu perlu diperbaiki. Dan perbaikan itu
memerlukan biaya yang tidak sedikit. Karena lantai rumah Anda adalah
langi-langit rumah kami, maka biaya perbaikan itu tentunya kita berdua yang
menanggungnya. Kebetulan kami tidak punya uang. Kami menunggu ada uang baru
akan memberitahu Anda. Jika kami langsung memberitahu Anda kami takut akan akan
merepotkan Anda. Dan itu tidak kami inginkan.”
Mendengar jawaban itu hati ayah sangat tersentuh dan
terharu. Ayah terharu atas kesabaran dia selama satu bulan. Ada air menetes di
langit-langit kamar tentu sangat mengganggu kenyamanan. Ayah juga terharu akan
kedewasaannya dalam merasa bertanggung jawab. Ayah merasa mendapat teguran.
Bagaimana tidak? Setengah tahun sebelumnya ada air menetes di langit-langit
kamar mandi kami. Berarti kamar mandi penghuni rumah atas kami tidak beres.
Ayah dengan tegas langsung meminta orang atas memperbaikinya tanpa memberi
bantuan finansial sedikit pun. Sebab ayah merasa itu sepenuhnya tanggung jawab
orang atas. Sejak itu kekaguman ayah padanya dan pada teman-temannya sering
ayah ungkapkan. Dan sejak kejadian itu aku jadi penasaran ingin tahu lebih jauh
tentang dirinya.
Sudah dua tahun dia tinggal di bawah dan aku tidak pernah
bertegur sapa dengannya. Seringkali kami bertemu tak sengaja di jalan, di
halaman apartemen, di gerbang, atau di tangga. Tapi kami tak pernah bertegur
sapa. Dia lebih sering menunduk. Jika tanpa sengaja beradu pandangan saat
bertemu denganku dia cepat-cepat menunduk atau mengalihkan padangan. Dia
bersikap biasa. Tidak tersenyum juga tidak bermuka masam. Akhirnya tadi siang
saat aku pulang dari kuliah aku bertemu dia di dalam metro. Dia juga dari
kuliah. Aku memberanikan diri untuk menyapanya dan mengajaknya bicara. Sebab
rasa-rasanya rasa penasaranku ingin tahu sendiri keindahan pribadinya seperti
yang sering diceritakan Yousef dan ayah tidak dapat aku tahan lagi. Aku
menyapanya dengan tersenyum dan dia pun menjawab dengan baik dan halus. Aku
heran pada diriku
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
284
sendiri bagaimana mungkin aku tersenyum padanya. Aku jarang
bahkan bisa dikatakan anti memberikan senyum pada lelaki yang bukan keluargaku.
Aku tidak tahu kenapa aku memberikan senyumku padanya dan aku tidak merasa
menyesal bahkan sebaliknya. Yang membuatku senang adalah dia ternyata tahu
namaku. Saat itu aku ingin bertanya padanya kenapa selama ini kalau bertemu di
jalan atau ditangga tidak pernah menyapaku. Tapi kuurungkan.
Perbincangan dengannya tadi siang sangat berkesan di hatiku.
Dia memiliki tutur bahasa yang halus dan kepribadian yang indah. Ia tidak mau
aku ajak berjabat tangan. Bukan tidak menghormati diriku, kata dia, justru
karena menghormati diriku. Dia juga bisa menjadi pendengar yang baik. Sifat
yang tidak banyak dimiliki setiap orang. Ia sangat senang menyimak aku membaca
surat Maryam. Kelihatannya ia kaget ada gadis koptik hafal surat Maryam. Aku
bukan gadis yang mudah terkesan pada seorang pemuda. Tapi entah kenapa aku
merasa sangat terkesan dengan sikap-sikapnya. Dan entah kenapa hatiku mulai
condong padanya. Hatiku selalu bergetar mendengar namanya. Lalu ada perasaan
halus yang menyusup ke sana tanpa aku tahu perasaan apa itu namanya. Fahri,
nama itu seperti embun yang menetes dalam hati. Kurindu setiap pagi.
Lipatan 2:
Minggu, 16 Desember 2001, pukul 21.00
Kenapa aku menangis? Perasaan apa yang mendera hatiku
sekarang?Begitu menyiksa. Aku tak pernah merindukan seseorang seperti rinduku
padanya. Sudah satu bulan aku tidak melihatnya melintas di halaman apartemen.
Sudah satu bulan dia menghilang membuat hatiku merasa tercekam kerinduan.
Yousef bilang Fahri pergi umrah sejak pertengahan Ramadhan dan sampai sekarang
belum juga pulang. Aku merasa memang telah jatuh cinta padanya. Cinta yang
datang begitu saja tanpa aku sadari kehadirannya di dalam hati.
Lipatan 3:
Sabtu, 10 Agustus 2002 pukul 11.15
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
285
Pulang dari restoran Cleopatra kugoreskan pena ini. Sebab
aku tidak bisa mengungkapkan gelegak perasaanku secara tuntas kecuali dengan
menorehkannya dalam diary ini.
Akhirnya keraguanku padanya hilang, berganti dengan
keyakinan. Selama ini aku ragu apakah dia bisa romantis. Sebab selama bertemu
atau berbicara dengannya dia sama sekali tidak pernah berkata yang manis-manis.
Selalu biasa, datar dan wajar. Dia selalu tampak serius meskipun setiap kali
aku tersenyum padanya dia juga membalas dengan senyum sewajarnya.
Tapi malam ini, apa yang dia lakukan membuat hatiku
benar-benar sesak oleh rasa cinta dan bangga padanya. Dia sangat perhatian dan
suka membuat kejutan. Kali ini yang mendapat kejutan indah darinya adalah Mama
dan Yousef. Mereka berdua mendapat hadiah ulang tahun darinya. Meskipun di atas
namakan seluruh anggota rumahnya tapi aku yakin dialah yang merencanakan
semuanya. Dia ternyata sangat romantis. Tak perlu banyak berkata-kata dan
langsung dengan perbuatan nyata. Fahri, aku benar-benar tertawan olehmu. Tapi
apakah kau tahu yang terjadi pada diriku? Apakah kau tahu aku mencintaimu? Aku
malu untuk mengungkapkan semua ini padamu. Dan ketika kau kuajak dansa tidak
mau itu tidak membuatku kecewa tapi malah sebaliknya membuat aku merasa sangat
bangga mencintai lelaki yang kuat menjaga prinsip dan kesucian diri seperti
dirimu.
Lipatan 4:
Minggu, 11 Agustus 2002 pukul 22.00
Aku sangat cemas memikirkan dia. Dia dia tergeletak
keningnya panas. Kata Mama terkena heat stroke. Kata teman-temannya dia
seharian melakukan kegiatan yang melelahkan di tengah musim panas yang sedang
menggila.
Oh, kekasihku sakit
Aku menjenguknya
Wajahnya pucat
Aku jadi sakit dan pucat
Karena memikirkan dirinya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
286
Aku semakin tahu siapa dia. Untuk pertama kalinya aku tadi
masuk kamarnya ikut Mama dan Ayah menjenguknya. Dia seorang pemuda yang ulet,
pekerja keras, dan memiliki rencana ke depan yang matang. Aku masih ingat dia
menyitir perkataan bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang
jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang
tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang
mulus!’
Aku merasa tidak salah mencintai dia. Aku ingin hidup bersamanya.
Merenda masa depan bersama dan membesarkan anak-anak bersama. Membangun
peradaban bersama. Oh Fahri, apakah kau mendengar suara-suara cinta yang
bergemuruh dalam hatiku?
Lipatan 5:
Sabtu, 17 Agustus 2002, pukul 23.15
Aku belum pernah merasakan ketakutan dan kecemasan sehebat
ini? Aku tak ingin kehilangan dirinya. Dia memang keras kepala. Diingatkan
untuk menjaga kesehatannya tidak juga mengindahkannya. Akhirnya terjadilah
peristiwa yang membuat diriku didera kecemasan luar biasa.
Siang tadi pukul setengah empat Saiful datang dengan wajah
cemas. Minta tolong Fahri dibawa ke rumah sakit. Fahri tak sadarkan diri. Aku
telpon Mama di rumah sakit lalu bersama Yousef membawa Fahri ke rumah sakit.
Aku menungguinya sampai jam delapan malam. Dan dia belum juga siuman. Ah, Fahri
kau jangan mati! Aku tak mau kehilangan dirimu. Sembuhlah Fahri, aku akan
katakan semua perasaanku padamu. Aku sangat mencintaimu.
Lipatan 6:
Minggu, 18 Agustus 2002, pukul 17.30
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
287
Seolah-olah akulah yang sakit, bukan dia. Tuhan, jangan kau
panggil dia. Aku ingin dia mendengar dan tahu bahwa aku sangat mencintainya.
Dia tergeletak tanpa daya berselimut kain putih. Kata Saiful
pukul setengah tiga malam dia sadar tapi tak lama. Lalu kembali tak sadarkan
diri sampai aku datang menjenguknya jam setengah delapan pagi tadi. Kulihat
Saiful pucat. Ia belum tidur dan belum makan. Kuminta dia keluar mencari makan.
Aku mengantikan Saiful menjaganya. Aku tak kuasa menahan sedih dan air mataku.
Dia terus mengigau dengan bibir bergetar membaca ayat-ayat suci. Wajahmu pucat.
Air matanya meleleh . Mungkin dia merasakan sakit yang tiada terkira.
Aku tak kuasa menahan rasa sedih yang berselimut rasa cinta
dan sayang padanya. Kupegang tangannya dan kuciumi. Kupegang keningnya yang
hangat. Aku takut sekali kalau dia mati. Aku tidak mau dia mati. Aku tak bisa
menahan diriku untuk tidak menciumnya. Pagi itu untuk pertama kali aku mencium
seorang lelaki. Yaitu Fahri. Aku takut dia mati. Kuciumi wajahnya. Kedua
pipinya. Dan bibirnya yang wangi. Aku tak mungkin melupakan kejadian itu. Kalau
dia sadar mungkin dia akan marah sekali padaku. Tapi aku takut dia mati. Saat
menciumnya aku katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya. Tapi dia tak juga
sadar. Tak juga menjawab.
Pukul delapan dia bangun dan dia kelihatan kaget melihat aku
berada di sisinya. Aku ingin mengatakan aku cinta padanya. Tapi entah kenapa
melihat sorot matanya yang bening aku tidak berani mengatakannya. Tenggorokanku
tercekat. Mulutku terkunci hanya hati yang berbicara tanpa suara. Tapi aku
berjanji akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya padanya. Aku
ingin menikah dengannya. Dan aku akan mengikuti semua keinginannya. Aku sangat
mencintainya seperti seorang penyembah mencintai yang disembahnya. Memang
memendam rasa cinta sangat menyiksa tapi sangat mengasyikkan. Love is a sweet
torment!
Lipatan terakhir:
Jum’at, 4 Oktober 2002, pukul 23.25
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
288
Aku masih sangat kelelahan baru pulang dari Hurgada. Baru
setengah jam meletakkan badan di atas kasur aku mendapatkan berita yang
meremukredamkan seluruh jiwa raga. Fahri telah menikah dengan Aisha, seorang
gadis Turki satu minggu yang lalu. Aku merasa dunia telah gelap. Dan hidupku
tiada lagi berguna. Harapan dan impianku semua lenyap. Aku kecewa pada diriku
sendiri. Aku kecewa pada hari-hari yang telah kujalani. Andaikan waktu bisa
diputar mundur aku akan mengungkapkan semua perasaan cintaku padanya dan
mengajaknya menikah sebelum dia bertemu Aisha. Aku merasa ingin mati saja. Tak
ada gunanya hidup tanpa didampingi seorang yang sangat kucintai dan kusayangi.
Aku ingin mati saja. Aku ingin mati saja. Aku rasa aku tiada bisa hidup tanpa
kekuatan cinta. Aku akan menunggunya di surga.
Air mataku tak bisa kubendung membaca apa yang ditulis Maria
dalam diary pribadinya. Aku cepat-cepat menata hati dan jiwaku. Aku tak boleh
larut dalam perasaan haru dan cinta yang tiada berhak kumerasakannya. Aku sudah
menjadi milik Aisha. Dan aku harus setia lahir batin, dalam suka dan duka, juga
dalam segala cuaca.
“Hanya kau yang bisa menolongnya Anakku. Nyawa Maria ada di
tanganmu,” ucap Madame Nahed pelan dengan air mata meleleh di pipinya.
“Bukan aku. Tapi Tuhan,” jawabku.
“Ya. Tapi kau perantaranya. Kumohon lakukanlah sesuatu untuk
Maria!”
“Aku sudah melakukannya semampuku.”
“Lakukanlah seperti yang diminta dokter. Tolong.”
“Andai aku bisa Madame, aku tak bisa melakukannya.”
“Kenapa?”
“Aku sudah katakan semuanya pada dokter.”
“Kalau begitu nikahilah Maria. Dia tidak akan bisa hidup
tanpa dirimu. Sebagaimana aku tidak bisa hidup tanpa Boutros.”
“Itu juga tidak mampu aku lakukan. Aku sangat menyesal.”
“Kenapa Fahri? Kau tidak mencintainya? Kalau kau tidak bisa
mencintainya maka kasihanilah dia. Sungguh malang nasibnya jika harus mati
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
289
dalam keadaan sangat sengsara dan menderita. Kasihanilah
dia, Fahri. Kumohon demi rasa cintamu pada nabimu.”
“Masalahnya bukan cinta atau kasihan Madame.”
“Lantas apa?”
“Aku sudah menikah. Dan saat menikah aku menyepakati syarat
yang diberikan isteriku agar aku menjadikan dia isteri yang pertama dan
terakhir. Dan aku harus menunaikan janji itu. Aku tidak boleh melanggarnya.”
“Aku akan minta pada Aisha untuk memberikan belas kasihnya
pada Maria. Aku yakin Aisha seorang perempuan shalihah yang baik hati.
Kebetulan itu dia, baru datang. Kau tunggulah di sini bersama Boutros. Aku mau
bicara empat mata dengan Aisha.” Kata Madame Nahed sambil berjalan menyambut
Aisha. Keduanya lalu berjalan memasuki sebuah ruangan. Entah apa yang akan
dikatakan Madame Nahed pada Aisha. Semoga Aisha tidak terluka hatinya. Dan aku
sama sekali tidak punya niat sedetikpun untuk menduakan Aisha dengan Maria. Aku
tidak pernah berpikir kalau Maria mencintaiku sedemikian rupa.
* * *
Setelah berbincang dengan Madame Nahed, Aisha mengajakku
berbicara empat mata. Matanya berkaca-kaca.
“Fahri, menikahlah dengan Maria. Aku ikhlas.”
“Tidak Aisha, tidak! Aku tidak bisa.”
“Menikahlah dengan dia, demi anak kita. Kumohon! Jika Maria
tidak memberikan kesaksiannya maka aku tak tahu lagi harus berbuat apa untuk
menyelamatkan ayah dari anak yang kukandung ini.” Setetes air bening keluar
dari sudut matanya.
“Aisha, hidup dan mati ada di tangan Allah.”
“Tapi manusia harus berusaha sekuat tenaga. Tidak boleh
pasrah begitu saja. Menikahlah dengan Maria lalu lakukanlah seluruh petunjuk
dokter untuk menyelamatkannya.”
“Aku tak bisa Aisha. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau
yang pertama dan terakhir bagiku.”
“Kalau kau mencintaiku maka kau harus berusaha melakukan
yang terbaik untuk anak kita. Aku ini sebentar lagi menjadi ibu. Dan seorang
ibu akan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
290
melakukan apa saja untuk ayah dari anaknya. Menikahlah
dengan Maria. Dan kau akan menyelamatkan banyak orang. Kau menyelamatkan Maria.
Menyelamatkan anak kita. Menyelamatkan diriku dari status janda yang terus
membayang di depan mata dan menyelamatkan nama baikmu sendiri.”
“Aku mencintai kalian semua. Tapi aku lebih mencintai Allah
dan Rasul-Nya. Budak hitam yang muslimah lebih baik dari yang bukan muslimah.
Aku tak mungkin melakukannya isteriku.”
“Aku yakin Maria seorang muslimah.”
“Bagaimana kau bisa yakin begitu?”
“Dengan sekilas membaca diarynya. Jika dia bukan seorang
muslimah dia tidak akan mencintaimu sedemikian kuatnya. Kalau pun belum menjadi
muslimah secara lesan dan perbuatan, aku yakin fitrahnya dia itu muslimah.”
“Aku tidak bisa berspekulasi isteriku. Aku tidak bisa
melakukannya. Dalam interaksi sosial kita bisa toleran pada siapa saja, berbuat
baik kepada siapa saja. Tapi untuk masalah keyakinan aku tidak bisa main-main.
Aku tidak bisa menikah kecuali dengan perempuan yang bersaksi dan meyakini tiada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kalau untuk bertetangga,
berteman, bermasyarakat aku bisa dengan siapa saja. Untuk berkeluarga tidak
bisa Aisha. Tidak bisa!”
“Suamiku aku sependapat denganmu. Sekarang menikahlah
dengannya. Anggaplah ini ijtihad dakwah dalam posisi yang sangat sulit ini.
Nanti kita akan berusaha bersama untuk membawa Maria ke pintu hidayah. Jika
tidak bisa, semoga Allah masih memberikan satu pahala atas usaha kita. Tapi aku
sangat yakin dia telah menjadi seorang muslimah. Jika tidak bagaimana mungkin
dia mau menerjemahkan buku yang membela Islam yang kau berikan pada Alicia itu.
Itu firasatku. Kumohon menikahlah dan selamatkan Maria. Bukankah dalam
Al-Qur’an disebutkan, Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.?”
Aku diam tidak bisa bicara apa-apa. Aku tidak pernah
membayangkan akan menghadapi suasana psikologis yang cukup berat seperti ini.
Aisha mengambil cincin mahar yang aku berikan di jari manis tangan kanannya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
291
“Ini jadikan mahar untuk Maria. Waktunya sangat mendesak.
Sebelum maghrib kau harus sampai di penjara. Jadi kau harus segera menikah dan
melakukan semua petunjuk dokter untuk menyadarkan Maria.” Kata-kata Maria
begitu tegas tanpa ada keraguan, setegas perempuan-perempuan Palestina ketika
menyuruh suaminya berangkat ke medan jihad. Dengan sedikit ragu aku mengambil
cincin itu. Aku tak bisa menahan isak tangisku. Aisha memelukku, kami
bertangisan.
“Suamiku kau jangan ragu! Kau sama sekali tidak melakukan
dosa. Yakinlah bahwa kau akan melakukan amal shaleh,” bisik Aisha.
Setelah itu aku menemui Madame Nahed dan Tuan Boutros.
Mereka berdua menyambut kesediaanku dengan bahagia. Proses akad nikah
dilaksanakan dalam waktu yang sangat cepat, sederhana, sesuai dengan
permintaanku. Seorang ma’dzun syar’i mewakili Tuan Boutros menikahkan diriku
dengan Maria dengan mahar sebuah cincin emas. Saksinya adalah dua dokter muslim
yang ada di rumah sakit itu.
Setelah itu dokter setengah baya memberikan petunjuk apa
yang harus aku lakukan untuk membantu Maria sadar dari komanya. Aku minta hanya
aku dan Maria yang ada di ruang itu. Aku wudhu dan shalat dua rakaat lalu
berdoa di ubun-ubun kepala Maria seperti yang aku lakukan pada Aisha. Aku
hampir tidak percaya bahwa gadis Mesir yang dulu lincah, ceria dan kini
terbaring lemah tiada berdaya ini adalah isteriku. Segenap perasaan kucurahkan
untuk mencintainya. Aku membisikkan ke telinganya ungkapan-ungkapan rasa cinta
dan rasa sayang yang mendalam. Aku lalu menciuminya seperti dia menciumiku
waktu aku sakit. Tapi dia tetap diam saja. Aku lalu menangis melihat usahaku
sepertinya sia-sia. Aku ingin melakukan lebih dari itu tapi tidak mungkin. Aku
hanya bisa terisak sambil memanggil-manggil nama Maria.
Tiba-tiba aku melihat sujud mata Maria melelehkan air mata.
Aku yakin Maria mulai mendengar apa yang aku katakan. Aku kembali menciumi
tangannya. Lalu mencium keningnya. “Maria, bangunlah Maria. Jika kau mati maka
aku juga akan ikut mati. Bangunlah kekasihku! Aku sangat mencintaimu!”
kuucapkan dengan pelan di telinganya dengan penuh perasaan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
292
Kepalanya menggeliat, dan perlahan-lahan ia mengerjapkan
kedua matanya. Aku memegang kedua tanganya sambil kubasahi dengan air mataku.
“F..f..Fahri..?”
“Ya, aku di sisimu Maria.”
Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Maria bisa bicara
meskipun dengan suara yang lemah,
“Aku mendengar kau berkata bahwa kau mencintaiku, benarkah?”
“Benar. Aku sangat mencintaimu,Maria?”
“Kenapa kau pegang tanganku. Bukankah itu tidak boleh?”
“Boleh! Karena kau sudah jadi isteriku.”
“Apa?”
“Kau sudah jadi isteriku, jadi aku boleh memegang tanganmu?”
“Siapa yang menikahkan kita?”
“Ayahmu. Apa kau tidak mau jadi isteriku?”
Mata Maria berkaca-kaca, “Itu impianku. Aku merasa kita
tidak akan bisa menikah setelah kau menikah dengan Aisha. Terus bagaimana
dengan Aisha?”
“Dia yang mendorongku untuk menikahimu. Ini cincin yang ada
di tanganmu adalah pemberian Aisha. Anggaplah dia sebagai kakakmu.”
“Aku tak menyangka Aisha akan semulia itu.”
“Fahri, aku mau minta maaf. Saat kau sakit dulu aku pernah
men...”
“Aku sudah tahu semuanya. Tadi saat kau belum bangun aku
sudah membalasnya.”
Maria tersenyum. “Aku ingin kau mengulanginya lagi. Aku
ingin merasakannya dalam keadaan sadar.” Pinta Maria dengan sorot mata
berbinar. Aku memenuhi permintaannya. Seketika wajahnya kelihatan lebih
bercahaya dan segar.
“Maria.”
“Ya.”
“Berjanjilah kau akan mengembalikan semangat hidupmu.”
“Setelah aku menemukan kembali cintaku maka dengan
sendirinya aku menemukan kembali semangat hidupku. Saat ini, aku merasakan
kebahagiaan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
293
yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa menjadi
wanita paling berbahagia di dunia setelah sebelumnya merasa menjadi wanita
paling sengsara.”
Aku melihat jam dinding. Satu jam lagi aku harus sampai di
penjara. Dengan mata berkaca aku berkata, “Maria, aku keluar sebentar
memberitahukan keadaanmu pada dokter, ayah ibumu dan Aisha.”
Maria mengangguk. Madame Nahed dan Tuan Boutros sangat
berbahagia mendengar sadarnya Maria. Serta merta mereka berdua melangkah masuk
diiringi dokter setengah baya. Kulihat Aisha duduk sendirian di bangku. Aku
mendekatinya dan duduk di sampingnya. Aisha diam saja. Matanya basah.
“Kau menangis Aisha?”
Aisha diam seribu bahasa seolah tidak mendengar
pertanyaanku.
“Kau menyesal dengan keputusanmu?”
Dia menggelengkan kepala.
“Kenapa kau menangis? Kau cemburu?”
Aisha mengangguk. Aku memeluknya, “Maafkan aku Aisha,
semestinya kau tidak menikah denganku sehingga kau menderita seperti ini.”
“Kau jangan berkata begitu Fahri. Menikah denganmu adalah
kebahagianku yang tiada duanya. Kau tidak bersalah apa-apa Fahri. Tak ada yang
salah denganmu. Kau sudah berusaha melakukan hal yang menurutmu baik. Rasa
cemburu itu wajar. Meskipun aku yang memaksamu menikahi Maria. Tapi rasa
cemburuku ketika kau berada dalam kamar dengannya itu datang begitu saja.
Inilah cinta. Tanpa rasa cemburu cinta tiada.”
“Aku takut sebenarnya aku tidak pantas dicintai
siapa-siapa.”
“Tidak Fahri. Kalau seluruh dunia ini membencimu aku tetap
akan setia mencintaimu.”
“Terima kasih atas segala ketulusanmu Aisha. Aku akan
berusaha membalas cintamu dengan sebaik-baiknya. Aisha, sebentar lagi aku harus
kembali ke penjara. Aku belum menjelaskan keadaanku pada Maria. Kaulah nanti
yang pelan-pelan menjelaskan padanya semuanya. Kau jangan ragu, Maria sangat
menghormatimu.”
Aku lalu masuk ke kamar menemui Tuan Boutros dan Madame
Nadia. Aku mengingatkan keduanya waktuku telah habis. Mata Madame Nadia
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
294
menatapku dengan berkaca-kaca. Aku pamitan padanya dan
mencium tangannya. Dia kini jadi ibuku. Maria kelihatannya heran dengan yang ia
lihat. Tuan Boutros menjelaskan pada Maria bahwa diriku ada urusan penting
sekali. Aku menatap wajah Maria dalam-dalam. Dia menantapku penuh sayang. Air
mataku hendak keluar tapi kutahan sekuat tenaga.
“Tersenyumlah dulu sebelum pergi, Sayang.” lirih Maria. Aku
tersenyum sebisanya. Maria tersenyum manis sekali. Aku jadi teringat Aisha. Dua
wanita itu memiliki senyum yang sama manisnya.
“Nanti Aisha akan menungguimu dan banyak bercerita denganmu.
Kau jangan terkejut jika ada hal-hal yang akan membuatmu terkejut. Aku pergi
dulu. Jangan pernah kau lupakan sedetik pun Maria, bahwa aku sangat
mencintaimu. Cintaku kepadamu seperti cintanya seorang penyembah kepada
sesembahannya.”
Aku mengambil kata-kata yang ditulis Maria dalam agendanya.
Maria sangat senang mendengarnya. Seorang isteri sangat suka dihadiahi
kata-kata indah tanda cinta dan kasih sayang.
“Terima kasih Fahri, kau sungguh romantis dan menyenangkan.”
Aku melangkah keluar bersama Tuan Boutros untuk kembali ke
penjara. Di luar aku memeluk Aisha erat-erat. Sesaat lamanya aku terisak dalam
pelukannya. “Aisha, temani Maria dan ceritakan semua yang sedang aku alami
dengan bijaksana padanya. Aku yakin kau mampu melaksanakannya. Semoga saat
sidang nanti dia bisa memberikan kesaksiannya.”
“Insya Allah, aku akan melakukan tugasku dengan baik
Suamiku. Jangan lupa nanti malam shalat tahajjud. Berdoalah kepada Allah untuk
dirimu, diriku, anak kita, dan Maria. Di sepertiga malam Allah turun untuk
mendengarkan doa hamba-hamba-Nya,” pesan Aisha.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
295
28. Sidang Penentuan
Sidang penentuan itu pun datang. Amru dan Magdi datang
dengan wajah tenang. Syaikh Ahmad dan isterinya juga datang. Orang-orang
Indonesia di Mesir banyak yang datang. Namun Maria, dan Aisha belum juga
datang. Sudah dua puluh menit menunggu mereka belum juga kelihatan. Noura dan
keluarganya beberapa kali memandangku dengan pandangan yang merendahkan. Apapun
yang akan terjadi aku pasrah kepada Tuhan.
Akhirnya hakim memulai sidang. Sambil menunggu Maria datang,
Amru mengajukan Syaikh Ahmad dan isterinya sebagai saksi. Mereka berdua tampil
bergantian memberikan kesaksian. Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menangis saat
memberikan kesaksiannya. Ia merasa sangat sakit hatinya atas apa yang dilakukan
Noura. Sambil terisak dan sesekali menyeka matanya Ummu Aiman berkata, “Entah
dengan siapa Noura melakukan perzinahan. Tapi jelas bukan dengan Fahri. Apa
yang dikatakan Noura bahwa Fahri memperkosanya adalah fitnah yang sangat keji.
Noura sungguh gadis yang tidak tahu diri. Ia telah ditolong tapi memfitnah
orang yang dengan tulus hati menolongnya. Aku hanya bisa bersaksi bahwa selama
Noura di Tafahna ia menceritakan kejadian malam itu dan tidak pernah menyebut
bersama Fahri dari jam tiga sampai azan pertama. Ia bercerita malam itu ia
bersama Maria sampai pagi. Jika pengadilan ini akhirnya memenangkan seorang
pemfitnah maka kelak di hari kemudian seorang pemfitnah akan dibinasakan oleh
keadilan Tuhan.”
Kulihat reaksi Noura. Dia hanya menundukkan kepala.
Sementara ayah dan ibunya menatap Ummu Aiman tanpa kedip dengan tatapan garang
dan kebencian. Jaksa penuntut mencerca Ummu Aiman dengan beberapa pertanyaan
dan Ummu Aiman menjawabnya dengan tenang. Beberapa kali ia menjawab, ‘Tidak
tahu!’
Ketika Ummu Aiman turun dari memberikan kesaksian, Maria
datang. Ia duduk di atas kursi roda didorong oleh adiknya Yousef. Di iringi
Aisha, Tuan Boutros, Madame Nahed, Paman Egbal, Bibi Sarah, dan seorang polisi
berdasi yang gagah. Melihat Maria datang serta merta Syaikh Ahmad bertakbir
diikuti oleh gemuruh takbir orang-orang Indonesia. Polisi berdasi langsung
mendekati
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
296
Syaikh Ahmad berbincang sebentar lalu mendekati Amru. Dia
tampak menyerahkan beberapa berkas. Amru melihat berkas itu sebentar lalu
tersenyum padaku. Amru meminta kepada hakim untuk mendengarkan kesaksian Maria.
Saksi kunci dalam kasus ini. Sebab dialah yang mengerti dengan pasti apa yang
dilakukan Noura malam itu. Benarkah Noura berada di kamarku antara jam tiga
sampai azan pertama ataukah justru Noura bersama Maria. Hakim mempersilakan
Maria berbicara setelah disumpah akan memberikan kesaksian yang
sejujur-jujurnya. Maria pun berbicara dengan suara agak lemah. Wajahnya tampak
memerah karena emosi. Ia berusaha menahan emosinya. Mikrofon yang dipegangnya
cukup membantu memperjelas suaranya.
“Pak Hakim dan seluruh yang hadir dalam sidang ini, saya
berani bersaksi atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui bahwa Noura malam itu,
sejak pukul dua malam sampai pagi berada di kamarku. Ia sama sekali tidak
keluar dari kamarku. Ia selalu bersamaku. Jika dia mengatakan pukul tiga aku
mengantarnya turun ke rumah Fahri itu bohong belaka. Dalam rentang waktu itu
dia sama sekali tidak keluar dari rumahku. Jika Noura mengatakan pemerkosaan
atas dirinya terjadi dalam rentang waktu itu sungguh tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin ada pemerkosaan waktu itu padahal dia berada di kamarku. Dan
Fahri berada di kamarnya. Untuk membuktikan omongan saya ini, saya punya bukti
nyata. Begini, kira-kira pukul tiga lebih sepuluh menit Maria menelpon ke salah
satu temannya dengan telpon rumahku. Dia menelpon teman satu kelasnya bernama
Khadija yang tinggal di Wadi Hof. Dia berbicara kira-kira sepuluh menit. Dan
kami bawa bukti tercatat dari kantor telkom adanya percakapan itu. Bahkan
rekaman pembicaraan Noura dengan Khadija juga ada. Kebetulan Khadija juga
datang bersama kami. Dia bisa menjadi saksi. Dengan bukti kuat ini, aku
berharap Bapak Hakim bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Apa
yang dikatakan Noura adalah fitnah belaka. Dia harus mendapatkan ganjaran atas
tuduhan kejinya. Entah setan apa yang membuat Noura yang dulu jujur dan baik
hati kini berubah menjadi tukang fitnah yang tidak memiliki nurani. Dia
menyerahkan kegadisannya pada orang lain lalu menuduh Fahri yang melakukannya.
Aku sangat menyesal menolong perempuan berhati busuk seperti dia. Demi Allah
Yang Maha Mengetahui, aku tidak rela atas tuduhan yang
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
297
dilontarkan Noura kepada Fahri. Aku tidak rela. Jika sampai
Fahri divonis salah maka Noura akan menjadi musuhku di hadapan Allah di akherat
kelak..ugh..ugh..ugh..!” Maria batuk lalu jatuh tak sadarkan diri di kursi
rodanya. Madame Nahed yang tahu akan hal itu langsung mengambil Maria dan
menggeledeknya keluar ruangan bersama Yousef. Mungkin langsung membawanya
kembali ke rumah sakit.
Setelah Maria, Khadija memberikan kesaksian memang benar
pada malam itu sekitar jam tiga lebih Noura menelponnya dan menceritakan kisah
sedihnya. Namun Noura minta agar tidak memberitahukan Bahadur bahwa dia
menelponnya. Amru lalu memberikan selembar kertas dari kantor telkom Mesir
berisi perincian pemanggilan dan penerimaan panggilan nomor telpon rumah Maria.
Yang membuat heran adalah Amru membunyikan rekaman pembicaraan Noura-Khadija
via telpon malam itu. Setelah itu Amru mengajukan kesaksian paling mengejutkan
yaitu kesaksian lelaki ceking bernama Gamal yang pada saat pengadilan pertama
menjadi saksi pihak Noura. Kini Gamal bersaksi kembali:
“Pak Hakim dan hadirin semuanya. Saya ingin memberikan
kesaksian yang sejujurnya. Di tempat ini saya hendak berkata apa sebenarnya
yang saya alami. Sebenarnya apa yang saya katakan pada pengadilan pertama tidak
benar. Saya minta maaf atas kesaksian palsu saya. Saya khilaf. Dan pada
kesempatan kali ini saya mengaku dengan sejujurnya saya tidak tahu menahu
mengenai masalah ini. Saya tidak melihat nona Noura turun dan masuk rumah
Fahri. Sebab malam itu saya tidur di rumah bersama isteri dan anak saya. Saya
bukan seorang pemburu burung hantu. Itu semua rekayasa belaka. Terima kasih.”
Setelah mendengar semua kesaksian itu Amru berpidato dengan
bahasa yang luar biasa kuatnya. Ia meyakinkan kepada siapa saja yang
mendengarnya bahwa Noura seorang pemfitnah. Berkali-kali dengan bahasa yang
kuat dan tajam dia menghabisi Noura. Kulihat Noura pucat dan meneteskan air
mata. Selesai Amru bicara Noura angkat tangan dan minta kepada hakim untuk
bicara. Hakim memberinya waktu lima menit. Noura berdiri dan menuju podium. Di
sana dia berbicara dengan kepala menunduk sambil menangis terisak-isak:
“Pak Hakim dan hadirin sekalian. Selamanya kebenaran akan
menang. Jika tidak di pengadilan dunia maka kelak di pengadilan akhirat.
Selamanya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
298
rekayasa manusia tiada artinya apa-apa dibanding kekuasaan
Tuhan. Hadirin, jika ada gadis malang di dunia ini yang semalang-malangnya
adalah diriku. Sejak kecil sampai beberapa bulan yang lalu aku diasuh oleh
orang yang bukan orang tua kandungku. Waktu bayi aku tertukar di rumah sakit
dengan bayi lain. Aku hidup dalam keluarga bermoral setan. Namun aku selalu
tabah dan terus bertahan. Sampai akhirnya malam itu. Aku ingin mengatakan apa
yang sebenarnya terjadi. Malam itu sebelum aku diusir dan diseret si jahat
Bahadur ke jalan terlebih dahulu aku diperkosanya…hiks..hiks..!” Noura tersedu
sesaat lamanya. Ruang pengadilan diselimuti keheningan berbalut kepiluan dan
rasa kasihan.
“Aku merasa bisa menyembunyikan aib yang menimpaku. Aku kira
tidak akan terjadi apa-apa denganku. Waktu terus berjalan sampai akhirnya Allah
mempertemukan diriku dengan kedua orang tua kandungku lewat bantuan banyak
orang termasuk, Fahri, Maria, Nurul, Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman. Kedua orang
tua kandungku adalah orang terpandang dan dari keluarga besar terhormat. Mereka
menerima kedatanganku dengan penuh rasa bahagia luar biasa. Petaka itu datang
kembali ketika perutku semakin membesar. Mereka menanyakan padaku siapa yang
telah menghamiliku. Aku tak mau berterus terang bahwa Bahadur yang menghamiliku
dengan memperkosa. Aku sudah sangat benci dengan dirinya. Akhirnya aku
berbohong pada mereka yang menghamiliku adalah Fahri. Sebab aku sangat
mencintai Fahri dengan harapan Fahri nanti mau menikahiku. Namun yang kulakukan
ternyata tak lain adalah dosa besar yang sangat keji aku telah menghancurkan kehidupan
orang yang kucintai dan di sisi lain aku telah membiarkan penjahat yang
menghamiliku tertawa terbahak-bahak. Semua rekayasa yang telah diatur rapi juga
diporak-porandakan oleh kekuasaan Allah Swt. Di sini, sebelum di akhirat nanti,
aku akui dengan sejujurnya Fahri tidak bersalah. Dia bersih. Dan kepadanya dan
kepada keluarganya serta siapa saja yang terzhalimi atas kebodohanku aku mohon
maaf yang sebesar-besarnya. Aku memang ditakdirkan untuk hidup malang di dunia.
Namun aku bertekad memperbaiki diri agar tidak malang di akhirat kelak.”
Atas dasar semua bukti yang ada dan pengakuan Noura akhirnya
mau tidak mau Dewan Hakim memutuskan diriku tidak bersalah dan bebas dari
dakwaan apa pun. Takbir dan hamdalah bergemuruh di ruang pengadilan itu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
299
dilantunkan oleh semua orang yang membela dan bersimpati
padaku. Seketika aku sujud syukur kepada Allah Swt. Aisya memelukku dengan
tangis bahagia tiada terkira. Paman Eqbal dan bibi Noura tak mampu membendung
air matanya. Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman juga sama. Nurul dan suaminya yaitu
Mas Khalid datang memberi selamat dengan mata berkaca. Satu persatu orang-orang
Indonesia yang di dalam ruangan itu memberi selamat dengan wajah haru. Amru
memberi tahu bahwa Kolonel Ridha Shahata, sepupu Syaikh Ahmad yang memiliki
posisi cukup penting di Badan Kemanan Negara juga punya andil dalam membantu
mendapatkan bukti dari kantor telkom dan memaksa Gamal berkata jujur. Suatu
bukti bahwa dunia belum kehilangan orang-orang yang baik dan cinta keadilan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
300
29. Nyanyian dari Surga
Begitu divonis bebas, aku dibawa oleh Aisha ke rumah sakit
Maadi untuk diperiksa. Penyiksaan dipenjara seringkali menyisakan cidera atau
luka. Dokter mengatakan aku harus dirawat di rumah sakit beberapa hari untuk
memulihkan kesehatan. Beberapa jari kakiku yang hancur harus ditangani serius.
Ada gejala paru-paru basah yang kuderita. Aisha memesankan kamar kelas satu
bersebelahan dengan kamar Maria. Teman-teman dari Indonesia banyak yang
menjenguk, meskipun mereka sedang menghadapi ujian semester ganjil Al Azhar.
Sementara musim dingin semakin menggigit.
Sudah tiga hari, sejak jatuh tak sadarkan diri saat
memberikan kesaksian di pengadilan Maria belum juga siuman. Dokter mengatakan
ada kelenjar syaraf di kepalanya yang tak kuat menahan emosi yang kuat mendera.
Ada pembengkakan serius pada pembuluh darah otaknya karena tekanan darah yang
naik drastis. Akibatnya dia koma. Untung pembuluh darah otaknya itu tidak
pecah. Kalau pecah maka nyawanya bisa melayang.
Sekarang tidak hanya Madame Nadia dan keluarganya saja yang
merasa bertanggung jawab menunggui Maria. Aisha merasa punya panggilan jiwa tak
kalah kuatnya. Ia sangat setia menunggui diriku dan menunggui Maria. Ia bahkan
sering tidur sambil duduk di samping Maria. Aisha menganggap Maria seperti
adiknya sendiri. Beberapa kali aku memaksakan diri untuk bangkit dari tempat
tidur dan menemani Aisha menunggui Maria.
Pada hari keempat sejak Maria tak sadarkan diri, tepatnya
pada pukul sembilan pagi handphone Aisha berdering. Aisha mengangkatnya. Ia
terkejut mendengar suara orang yang menelponnya. “Alicia? Di mana? Oh masya
Allah, Subhanallah! Ya..ya...baik. Kalau begitu kau naik metro saja turun di
Maadi. Aku jemput di dekat loket tiket sebelah barat. Okey? Wa ‘alaikumussalam
wa rahmatullah.”
Aisha lalu tersenyum padaku dan berkata,
“Selamat untukmu Fahri, kau telah mendapatkan kenikmatan
yang lebih agung dari terbitnya matahari. Alicia sudah menjadi muslimah
sekarang. Apa yang kau lakukan sampai kau akhirnya jatuh sakit itu tidak
sia-sia. Jawabanmu itu
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
301
mampu menjadi jembatan baginya menemukan cahaya Tuhan. Dia
ingin menemuimu. Kira-kira pukul setengah sepuluh dia akan sampai di Mahattah
Maadi.”
Aku merasakan keagungan Tuhan di seluruh jiwa. Aku merasa
Dia tiada pernah meninggalkan diriku dalam segala cuaca dan keadaan.
PadaMu
Kutitipkan secuil asa
Kau berikan selaksa bahagia
PadaMu
Kuharapkan setetes embun cinta
Kau limpahkan samudera cinta
Aisha menengok kamar Maria, tak lama ia kembali lagi dan
berkata, “Dia belum juga sadar. Hanya detak jantungnya yang masih terus bekerja
dan hembusan nafasnya yang masih mengalir menunjukkan dia masih hidup. Sungguh
aku tak tega melihat dia terbaring begitu lemah tiada berdaya. Seringkali ada
lelehan air mata di sudut matanya. Entah apa yang dialaminya di alam tak
sadarnya.”
Aisha melihat jam. “Sayang, aku keluar sebentar ya menjemput
Alicia.”
“Ya, tapi jangan cerita tentang penjara.” Lirihku. Aisha
menganggukkan kepalanya lalu beranjak keluar.
Seperempat jam kemudian Aisha datang bersama Alicia. Aku
nyaris tidak percaya bahwa sosok yang datang bersamannya adalah Alicia. Sangat
kontras dengan penampilannya waktu pertama kali bertemu di dalam metro dulu.
Dulu pakaiannya ketat mempertontonkan aurat. Sekarang dia memakai jilbab,
pakaiannya sangat anggun dan rapat menutup aurat. Tak jauh berbeda dengan
Aisha.
“Aku datang kemari sengaja untuk menemuimu, Fahri. Untuk
mengucapkan terima kasih tiada terkira padamu. Karena berjumpa denganmulah aku
menemukan kebenaran dan kesejukan yang aku cari-cari selama ini.” Kata Alicia,
mata birunya berbinar bahagia. Alicia lalu mengisahkan pergolakan batinnya
sampai akhirnya masuk Islam dua bulan yang lalu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
302
“Selain itu aku membawa ini.” Alicia membuka tas hitamnya
yang agak besar. Ia mengeluarkan dua buah buku dan menyerahkan padaku. Aku
terkejut membaca tulisan yang ada di sampulnya. Namaku tertulis di sana.
“Jawabanmu tentang masalah perempuan dalam Islam jadi buku
itu. Dan terjemahan Maria jadi yang ini. Semuanya diterbitkan oleh Islamic
Centre di New York. Tiap buku baru dicetak 25 ribu exemplar. Dr. Salman Abdul
Adhim direktur penerbitannya meminta nomor rekeningmu, Maria dan Syaikh Ahmad
untuk tranfer honorariumnya. Kau boleh bangga sekarang dua buku itu sedang
dicetak lagi karena satu bulan diluncurkan langsung habis.” Cerita yang dibawa
Alicia benar-benar menghapus semua duka yang pernah kurasa. Sangat mudah bagi
Tuhan untuk menghapus duka dan kesedihan hamba-Nya.
“Kau tidak ingin menemui Maria?” tanyaku.
“Ingin.”
“Aisha, antarkan Alicia melihat Maria.”
Aisha menggamit tangan Alicia ke kamar sebelah di mana Maria
terbaring lemah. Aku tidak tahu seperti apa reaksi Alicia bertemu Maria dalam
keadaan seperti itu. Sambil berbaring aku memperhatikan dengan seksama dua buku
yang diberikan Alicia itu. Buku pertama, Women in Islam. Sebuah buku kecil.
Tebalnya cuma 65 halaman. Namaku terpampang sebagai pengarangnya. Aku jadi malu
pada diri sendiri, aku hanya menulis ulang dan merapikan pelbagai macam bahan
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar perempuan dalam Islam. Bukan
menulis suatu yang baru. Di dalamnya kulihat editornya dua orang: Alicia Brown
dan Syaikh Ahmad Taqiyuddin. Di halaman terakhir buku itu ada biodataku secara
singkat. Lalu buku kedua berjudul, Why Does the West Fear Islam? ditulis Prof
Dr. Abdul Wadud Shalabi. Aku dan Maria tercantum sebagai penerjemah. Editornya
sama.
Setengah jam kemudian Alicia kembali bersama Aisha.
“Semoga isteri keduamu itu cepat sembuh. Selamat atas
pernikahan kalian. Semoga dirahmati Tuhan. Oh ya aku ada pesan dari Dr. Salman
Abdul Adhim, kau akan diundang untuk memberikan cemarah di beberapa Islamic
Centre di Amerika sekalian mendiskusikan apa yang telah kau tulis. Tiket, surat
undangan dan jadwal kegiatannya ada di hotel, tidak terbawa,” kata Alicia.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
303
“Waktunya kapan?” Aisha menanggapi.
“Bulan depan. Selama sepuluh hari.”
“Semoga dia benar-benar sudah sembuh.”
“Semoga.”
Setelah itu Alicia minta diri dan berjanji akan datang lagi
keesokan hari untuk menyerahkan tiket dan semua berkas yang akan digunakan
untuk mempermudah mengurusi visa masuk ke Amerika.
“Begitu banyak perubahan silih berganti yang kita alami,”
kata Aisha setelah Alicia pergi.
* * *
Tengah malam, Aisha membangunkan diriku. Kusibak selimut
tebal. Kaca jendela tampak basah. Musim dingin mulai merambat menuju puncaknya.
Aisha melindungi tubuhnya dengan sweater. Untung penghangat ruangan kamar kelas
satu berfungsi baik. Tapi kaca jendela tetap tampak basah. Berarti di luar sana
udara benar-benar dingin. Mungkin telah mencapai 8 derajat. Aku tidak bisa
membayangkan seperti apa dinginnya kutub utara yang puluhan derajat di bawah
nol. Suasana malam senyap dan beku.
“Fahri, ayo lihatlah Maria, dia mengigau aneh sekali..aku
belum pernah melihat orang mengigau seperti itu.” Kata Aisha pelan.
Aku mengikuti ajakan Aisha untuk melihat keadaan Maria. Tak
ada siapa-siapa di kamar Maria saat kami masuk. Kecuali Madame Nadia, yang
pulas di sofa tak jauh dari ranjang Maria. Ibu kandung Maria itu kelihatannya
kelelahan. Kami melangkah pelan mendekati Maria. Dan aku mengenal apa yang
diigaukan oleh Maria. Aku pasang telinga lekat-lekat dan memperhatikan dengan
seksama. Subhanallah, Maha Suci Allah! Yang terucap lirih dari mulut Maria, tak
lain dan tak bukan adalah ayat-ayat suci dalam surat Maryam. Ia memang hafal
surat itu. Aku tak kuat menahan haru.
“Sepertinya yang keluar dari bibirnya itu ayat-ayat suci
Al-Qur’an? Bagaimana bisa terjadi, Fahri?” Heran Aisha.
“Kita dengarkan saja baik-baik. Nanti aku jelaskan padamu.
Banyak hal yang belum kau ketahui tentang Maria.” Jawabku pelan.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
304
Kami pun menyimak igauan Maria baik-baik. Mendengarkan apa
yang diucapkan oleh Maria dalam alam tidak sadarnya. Pelan. Urut. Indah dan
lancar. Tak ada yang salah. Meskipun tajwidnya masih belum lurus benar. Maria
melantunkan ayat-ayat yang mengisahkan penderitaan Maryam setelah melahirkan
nabi Isa. Maryam dituduh melakukan perbuatan mungkar. Allah menurunkan
mukjizat-Nya, Isa yang masih bayi bisa berbicara.
Fa atat bihi qaumaha tahmiluh,
qaalu yaa Maryamu laqad ji’ta syaian fariyya.
Ya ukhta Haaruna maa kaana abuuki imra ata sauin
wa maa kaanat ummuki baghiyya.
Fa asyaarat ilaih, qaalu kaifa nukallimu man kaanat fil
mahdi shabiyya.
Qaala inni abdullah aataniyal kitaaba wa ja’alani nabiyya.
Wa ja’alani mubaarakan ainama kuntu
wa aushaani bish shalati waz zakaati maa dumtu hayya.
(Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan
menggendongnya. Kaumnya berkata, ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan
sesuatu yang amat mungkar.
Hai saudara perempuan Harun ayahmu sekali-kali bukanlah
seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.
Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata,
‘Bagaimana kami akan berbicara pada anak kecil yang masih dalam ayunan?’
Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia
memberiku Al Kitab dan dia menjadikan aku seorang nabi.
Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja
aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat menunaikah zakat
selama aku hidup)115
Seorang malaikat pun jika mendengar apa yang dilantunkan
Maria dalam alam bawah sadarnya itu akan luluh jiwanya, bergetar hatinya, dan
meneteskan air mata. Maria sedang mengeluarkan apa yang bercokol kuat dalam
memorinya. Dan
115 QS. Maryam: 27-31.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
305
itu adalah ayat-ayat suci yang menyejukkan. Maria terus
melantunkan apa yang dihafalnya ayat demi ayat. Air mataku menetes setetes demi
setetes. Cahaya keagungan Tuhan berkilat-kilat dalam diri semakin lama semakin
benderang. Bibir Maria terus bergetar. Aku bertanya dalam diri, siapa
sebenarnya yang menggerakkan bibirnya? Dia sedang tak sadar apa-apa. Ia sampai
pada akhir surat Maryam. Namun bibirnya tidak juga berhenti bergetar, terus
melanjutkan surat setelahnya. Surat Thaaha. Subhanallah!
Thaaha.
Maa anzalna ‘alaikal Qur’aana li tasyqa
Illa tadzkiratan liman yakhsya
( Thaaha.
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu
agar kamu jadi susah
Tetapi sebagai tadzkirah
bagi orang yang takut kepada Allah
)116
Aku jadi tidak mengerti sebenarnya berapa surat. Berapa juz
yang telah dihafal Maria. Dulu saat pertama kali dia menyapa di dalam metro dia
mengatakan hanya hafal surat Al Maidah dan Maryam saja. Sekarang dia membaca
surat Thaaha. Aku benar-benar terkesima dibuatnya. Masih banyak rahasia dalam
dirinya yang tidak aku ketahui. Aku jadi tidak tahu pasti keyakinan dalam
hatinya. Dengan air mata terus mengalir di sudut matanya yang terpejam ia
melantunkan ayat-ayat suci itu seperti sedang asyik bernyanyi dalam mimpi.
Malam yang dingin terasa hangat oleh aura getar bibir Maria. Ia mengajak
pendengarnya berada di Mesir pada masa nabi Musa melawan Fir’aun. Ia terus
bernyanyi, seperti bidadari menyanyikan lagu surga.
Innama ilaahukumullah al ladzi laa ilaha illa huwa
wasia kulla syai in ilma
Kadzalika naqushu ‘alaika anbai ma sabaq
wa qad aatainaaka min ladunna dzikra
116 QS. Thaaha: 1-3.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
306
(Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah,
yang tiada tuhan selain Dia, pengetahuannya
meliputi segala sesuatu.
Demikianlah kami kisahkan kepadamu
sebagian kisah umat yang telah lalu,
dan sesungguhnya telah kami berikan kepadamu
dari sisi Kami suatu peringatan
)117
Sampai ayat ini bibir Maria berhenti bergetar. Lelehan air
matanya semakin deras. Namun ia tidak juga membuka mata. Entah apa yang ia
rasa. Aku hanya bisa ikut melelehkan air mata. Berdoa. Dan memegang erat
tangannya. Sesaat lamanya keheningan tercipta. Tiba-tiba bibirnya bergerak dan
mendendangkan zikir dengan nada aneh:
Allah. Allah. Allah.
Aku ingin Allah.
Allah. Allah. Allah.
Aku rindu Allah.
Allah. Allah. Allah.
Aku cinta Allah.
Allah. Allah. Allah
Allah.
Allah.
Allah.
Allah.
Allah.
Allah. Allah. Allah.
CahayaMu Allah.
Allah. Allah. Allah.
SenyumMu Allah.
Allah. Allah. Allah.
BelaianMu Allah.
117 QS. Thaaha: 98-99
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
307
Allah. Allah. Allah.
CiumanMu Allah.
Allah. Allah. Allah.
CintaMu Allah.
Allah.
Surgamu Allah.
Allah.
Surgamu Allah.
Allah.
Surgamu Allah.
Surgamu Allah.
Surgamu Allah.
Surgamu Allah.
Allah. Allah.Allah.
Allah.
Allah.
Allah.
Semakin lama volume suaranya semakin mengecil. Lalu hilang.
Hatiku berdesir ketika melihat bulu matanya yang lentik bergerak-gerak.
Perlahan ia mengerjap. Allah. Allah. Allah. Sembari bibirnya berzikir matanya
tampak mulai terbuka perlahan. Dan akhirnya benar-benar terbuka. Subhanallah!
“Maria!” sapaku pelan.
“Fa..Fahri?” suaranya sangat lirih nyaris tiada terdengar.
“Ya. Apa yang kau rasakan sekarang, Sayang? Apanya yang
sakit?”
“Tolonglah aku? Aku sedih sekali.”
“Kenapa sedih?”
“Aku sedih tak diizinkan masuk surga!”
Jawaban Maria membuat aku dan Aisha kaget bukan main. Dari
mana dia tiba-tiba dapat kekuatan untuk berkata sejelas itu? Apakah dia akan
mati? Tanyaku dalam hati. Dan cepat-cepat aku membuang pertanyaan tidak baik
itu. Tapi kenapa dia berulang-ulang menyebut-nyebut surga.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
308
“Aku telah sampai di depan pintu surga, tetapi aku tidak
boleh masuk!” ulangnya.
“Kenapa?”
“Katanya aku tidak termasuk golongan mereka. Pintu-pintu itu
tertutup bagiku. Aku terlunta-lunta. Aku menangis sejadi-jadinya.”
“Aku sungguh tak mengerti dengan apa yang kau alami, Maria.
Tapi bagaimana mulanya kau bisa sampai di sana?”
“Aku tidak tahu awal mulanya bagaimana. Tiba-tiba saja aku
berada dalam alam yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dari kejauhan aku
melihat istana megah hijau bersinar-sinar. Aku datang ke sana. Aku belum pernah
melihat bangunan istana yang luasnya tiada terkira, dan indahnya tiada pernah
terpikir dalam benak manusia. Luar biasa indahnya. Ia memiliki banyak pintu.
Dari jarak sangat jauh aku telah mencium wanginya. Aku melihat banyak sekali
manusia berpakaian indah satu persatu masuk ke dalamnya lewat sebuah pintu yang
tiada terbayangkan indahnya. Kepada mereka aku bertanya, “Istana yang luar biasa
indahnya ini apa?” Mereka menjawab, “Ini surga!” Hatiku bergetar. Dari pintu
yang terbuka itu aku bisa sedikit melihat apa yang ada di dalamnya. Sangat
menakjubkan. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan. Tak ada pikiran yang
mampu melukiskan. Aku sangat tertarik maka aku ikut barisan orang-orang yang
satu persatu masuk ke dalamnya. Ketika kaki mau melangkah masuk seorang penjaga
dengan senyum yang menawan berkata padaku, “Maaf, Anda tidak boleh lewat pintu
ini. Ini namanya Babur Rayyan. Pintu khusus untuk orang-orang yang berpuasa.118
Anda tidak termasuk golongan mereka!” Aku sangat kecewa. Aku lalu berjalan ke
sisi lain. Di sana ada pintu yang juga sedang penuh dimasuki anak manusia
berpakaian indah. Aku mau ikut masuk. Seorang penjaga yang ramah berkata,
“Maaf, Anda tidak boleh lewat pintu ini. Ini Babush Shalat. Pintu khusus untuk
orang-orang shalat. Dan Anda tidak termasuk golongan mereka!” Aku sangat sedih.
Hatiku kecewa luar biasa. Aku melihat di kejauhan masih ada pintu. Aku berjalan
ke sana dengan harapan bisa masuk lewat pintu itu. Namun ketika hendak masuk
seorang penjaga yang wajahnya bercahaya berkata, “Maaf, Anda
118 Imam Syamsuddin Al-Qurthubi (w. 671 H.) dalam kitabnya
At Tadzkirah banyak menjelaskan tentang deskripsi surga sesuai dengan yang
dijelaskan dalam hadits-hadits nabi, termasuk jumlah pintu surga dan
nama-namanya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
309
tidak boleh masuk lewat sini. Ini Babuz Zakat. Pintu khusus
untuk orang-orang yang menunaikan zakat. Ada banyak pintu. Dan setiap kali aku
hendak masuk selalu dicegah penjaganya. Sampai di pintu terakhir namanya Babut
Taubah. Aku juga tidak boleh masuk. Karena itu khusus untuk orang-orang yang
taubatnya diterima Allah. Dan aku tidak termasuk mereka. Aku kembali ke
pintu-pintu sebelumnya. Semuanya tertutup rapat. Orang-orang sudah masuk semua.
Hanya aku sendirian di luar. Aku menggedor-gedor pintu bernama Babur Rahmah.
Tak ada yang membuka. Aku hanya mendengar suara, “Jika kau memang penghuni
surga kau tidak perlu mengetuknya karena kau pasti punya kuncinya. Bukalah
pintu-pintu itu dengan kunci surga yang kau miliki!” Aku menangis
sejadi-jadinya. Aku tidak memiliki kuncinya. Aku berjalan dari pintu satu ke
pintu yang lain dengan air mata menetes di sepanjang jalan. Aku putus asa. Aku
tergugu di depan Babur Rahmah. Aku mengharu biru pada Tuhan. Aku ingin menarik
belas kasihNya dengan membaca ayat-ayat sucinya. Yang kuhafal adalah surat
Maryam yang tertera di dalam Al-Qur’an. Dengan mengharu biru aku membacanya penuh
penghayatan. Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai
ayat sembilan puluh sembilan aku berhenti karena Babur Rahmah terbuka perlahan.
Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan
berkata,
“Aku Maryam. Yang baru saja kau sebut dalam ayat-ayat suci
yang kau baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru
tangismu. Apa maumu?”
“Aku ingin masuk surga. Bolehkah?”
“Boleh. Surga memang diperuntukkan bagi semua hamba-Nya.
Tapi kau harus tahu kuncinya?”
“Apa itu kuncinya?”
“Nabi pilihan Muhammad telah mengajarkannya berulang-ulang.
Apakah kau tidak mengetahuinya?”
“Aku tidak mengikuti ajarannya.”
“Itulah salahmu.”
“Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau
tunduk penuh ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
310
sebenarnya datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk
surga. Tapi karena kau sudah menjaga jarak dengan Muhammad maka aku tidak
diperkenankan untuk memberitahukan padamu.”
Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku
langsung menubruknya dan bersimpuh dikakinya. Aku menangis tersedu-sedu.
Memohon agar diberitahu kunci surga itu. “Aku hidup untuk mencari kerelaan
Tuhan. Aku ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan
melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam tolonglah berilah aku kunci
itu. Aku tidak mau merugi selama-lamanya.” Aku terus menangis sambil
menyebut-nyebut nama Allah. Akhirnya hati Bunda Maryam luluh. Dia duduk dan
mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang,
“Maria dengarkan baik-baik! Nabi Muhammad Saw. telah
mengajarkan kunci masuk surga. Dia bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu dengan baik,
kemudian mengucapkan: Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan
abduhu wa rasuluh (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi
sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya) maka akan dibukakan delapan
pintu surga untuknya dan dia boleh masuk yang mana ia suka!’ 119 Jika kau ingin
masuk surga lakukanlah apa yang diajarkan olah Nabi pilihan Allah itu. Dia nabi
yang tidak pernah bohong, dia nabi yang semua ucapannya benar. Itulah kunci
surga! Dan ingat Maria, kau harus melakukannya dengan penuh keimanan dalam
hati, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Tanpa keimanan
itu, yang kau lakukan sia-sia. Sekarang pergilah untuk berwudhu. Dan cepat
kembali kemari, aku akan menunggumu di sini. Kita nanti masuk bersama. Aku akan
membawamu ke surga Firdaus!”
Setelah mendengar nasihat dari Bunda Maryam, aku lalu pergi
mencari air untuk wudhu. Aku berjalan ke sana kemari namun tidak juga menemukan
air. Aku terus menyebut nama Allah. Akhirnya aku terbangun dengan hati sedih.
Aku ingin masuk surga. Aku ingin masuk surga. Aku ingin ke sana, Bunda Maryam
menungguku di Babur Rahmah. Itulah kejadian atau mimpi yang aku alami. Oh Fahri
suamiku, maukah kau menolongku?”
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Maria?”
119 Hadits riwayat Imam Muslim.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
311
“Bantulah aku berwudhu. Aku masih mencium bau surga.
Wanginya merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku
berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih
dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya. Suamiku, bantu aku
berwudhu sekarang juga!”
Aku menuruti keinginan Maria. Dengan sekuat tenaga aku
membopong Maria yang kurus kering ke kamar mandi. Aisha membantu membawakan
tiang infus. Dengan tetap kubopong, Maria diwudhui oleh Aisha. Setelah selesai,
Maria kembali kubaringkan di atas kasur seperti semula. Dia menatapku dengan
sorot mata bercahaya. Bibirnya tersenyum lebih indah dari biasahnya. Lalu
dengan suara lirih yang keluar dari relung jiwa ia berkata:
Asyhadu an laa ilaaha illallah
wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh!
Ia tetap tersenyum. Menatapku tiada berkedip. Perlahan
pandangan matanya meredup. Tak lama kemudian kedua matanya yang bening itu
tertutup rapat. Kuperiksa nafasnya telah tiada. Nadinya tiada lagi denyutnya.
Dan jantungnya telah berhenti berdetak. Aku tak kuasa menahan derasnya lelehan
air mata. Aisha juga. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun!
Maria menghadap Tuhan dengan menyungging senyum di bibir.
Wajahnya bersih seakan diselimuti cahaya. Kata-kata yang tadi diucapkannya
dengan bibir bergetar itu kembali terngiang-ngiang ditelinga:
“Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam
sukma. Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya
dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan
Tuhan selama-lamanya.”
Sambil terisak Aisha melantunkan ayat:
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah
irji’ii ilaa Rabbiki
raadhiyatan mardhiyyah
Fadkhulii fii ‘ibaadii
wadkhulii jannatii
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
312
(Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu
dengan hati puas lagi diridhai
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu
Maka masuklah ke dalam surga-Ku.120
)
Saat itu Madame Nahed, terbangun dari tidurnya dan bertanya
sambil mengucek kedua matanya, “Kenapa kalian menangis?”
Kaca jendela mengembun. Musim dingin sedang menuju
puncaknya. O, apakah di surga sana ada musim dingin? Ataukah malah musim semi
selamanya? Ataukah musim-musim di sana tidak seperti musim yang ada di dunia?
Selesai, Rabu 8 Oktober 2003
Pukul 01: 03 dini hari.
Bangetayu Wetan, Semarang
120 QS. Al-Fajr: 27-30
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
313
Kitab-kitab yang mendampingi penulisan novel ini:
1. As-Sunnah wal Bid’ah, (Sunah dan Bid’ah), karya Syaikh
Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhwi, Maktabah Wahbah, Cairo, Cet. I, 1999.
2. At Tadzkirah (Peringatan), karya Imam Syamsuddin
Al-Qurthubi, Dar Ibnu Khadun, Alexandria, Cet. I, 1997.
3. Fatawa Mu’ashirah (Fatwa-fatwa Kontemporer) Juz II &
III, karya Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Darul Qalam, Cairo. Cet. I,
2001.
4. Kitab Ar-Ruuh (Kitab Ruh) karya Imam Ibnu Qayyim Al
Jauziyyah, Darul Fajr, Cairo, Cet I, 1999.
5. Limadza Yakhafunal Islam? (Kenapa Mereka Takut Kepada
Islam?), karya Prof. Dr.Abdul Wadud Syalabi, Darul I’tisham, Cairo, 1999.
6. Makanatul Mar’ah Fil Islam (Posisi Wanita dalam Islam),
karya Prof. Dr. Muhammad Biltaji, Darus Salam, Cairo, Cet.I, 2000.
7. Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Quran (Sumber Pengetahuan
Ilmu-ilmu Al-Qur’an), karya Syaikh Prof. Muhammad Abdul Adhim Az-Zarqani,
Muassasah At Tarikh Al Arabiy, Beirut-Lebanon, Cet. III, 1991.
8. Tuhfatul ‘Arus aw Az Zawaj Al Islamiy As Sa’id, (Hadiah
Untuk Pengantin atau Perkawinan Islami Yang Bahagia), karya Syaikh Mahmud Mahdi
Al-Istanbuli, Al Maktabah Al Islamiyyah, Amman, 1410 H.
9. Tuhfatul ‘Aris wal ‘Arus (Hadiah untuk Pengantin Lelaki
dan Pengantin Perempuan), karya Syaikh Muhammad Ali Qutb, Darul Anshar, Cairo,
tanpa tahun.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
314
Komentar