Hewan
Ruminansia
Hewan ruminansia adalah hewan herbivora yang
mencerna makanannya dengan dua langkah, pertama dengan menelan bahan makanan
mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dari perutnya
dan mengunyahnya lagi. Lambung hewan ruminansia tidak hanya memiliki satu ruang
(monogastrik) tetapi memiliki lebih dari satu ruang (poligastrik). Pada
ruminansia dewasa, rumen adalah bagian lambung yang paling besar.
Di
antara lambung-lambung tersebut lambung sejatinya adalah abomasum, dimana dalam
abomasum terjadi proses pencernaan sebagaimana lambung monogastrik lain, karena
abomasum menghasilkan cairan lambung (gastric juice). Saat lahir abomasum bayi
ruminansia berukuran 70% dari keseluruhan lambung majemuknya, sangat kontras
dengan kondisi saat dewasa dimana abomasum hanya 8% dari total volume lambung
majemuknya.
Contoh hewan ruminansia ialah kerbau,
domba, kambing, sapi, kuda, jerapah, kancil, rusa dan lain – lain.
TERNAK
KAMBING
Di Indonesia, kambing telah lama
dipelihara di pedesaan. Akan tetapi peranan kambing sampai saat ini belum
banyak berarti, baik sebagai sumber daging maupun sumber air susu. Hal ini
terjadi karena usaha peternakan kambing masih sederhana dengan jumlah pemilikan
sedikit dan masih merupakan usaha sampingan dan sebagai tabungan. Sebenarnya
ternak kambing mempunyai potensicukup besar untuk berkembang,
karena termasuk ternak yang mempunyai adaptasi cukup tinggi, disamping modal
yang diperlukan relatif sedikit.
Pengembangan peternakan berkaitan dengan peningkatan
pendapatan. Pendapatan yang meningkat dari suatu usaha
peternakan akan memberikan motivasi untuk berusaha lebih baik. Sukses dan
gagalnya suatu usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh kemampuan ternaknya
berproduksi dan harga input produksi serta output yang dihasilkan. Keadaan
tersebut erat kaitannya dengan kemampuan peternak dalam mengelola usahanya dan
tingkat keuntungan maksimum yang dicapainya. Peternak dengan jumlah ternakpemilikan
yang banyak, mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.
Jumlah pemilikan ternak yang lebih banyak umumnya akan lebih efisien dalam hal
tenaga kerja dan biaya produksi.
Populasi kambing di Indonesia cukup tinggi tetapi data
mengenai bangsa kambing perah di Indonesia tidak ada, karena data tersebut
masih secara umum dan tidak dikelompokkan menurut tipe kambing perah maupun
kambing potong. Pengembangan produksi susu merupakan upaya yang bertujuan
meningkatkan dan memanfaatkan potensi yang ada di dalam negeri sehingga terjadi
peningkatan produksi susu. Peningkatan produksi susu ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri, mengurangi impor dan sekaligus menciptakan lapangan
pekerjaan.
Jenis kambing perah yang ada di Indonesia adalah
kambing Peranakan Etawah (PE). Kambing PE tersebut banyak terdapat di daerah
Kali Gesing, Purworejo, Jawa Tengah. Kambing PE merupakan kambing persilangan
antara kambing Etawah dengan kambing Kacang. Kambing Etawah berasal dari India
sedangkan kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing perah lain
yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah kambing Saanen yang berasal dari
Swiss.
Jumlah penduduk Indonesia yang besar sangat potensial
bagi permintaan produk peternakan. Menurut pangsanya pada tahun 2001, konsumsi
produk peternakan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masing-masing adalah
daging sebesar 5,11 kg/kapita/tahun, telur sebesar 3,47 kg/kapita/tahun dan
susu sebesar 6,46 kg/kapita/tahun. Perkembangan konsumsi susu dalam lima tahun
terakhir menunjukkan peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata 7,9 % per tahun.
Peningkatan konsumsi susu dari tahun ke tahun merupakan peluang bagi
pengembangan ternak penghasil susu (diolah dari Deptan, 2001).
Produksi susu di Indonesia pada tahun 1997 adalah
423.664 ton terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata 5,1 % per
tahun, sehingga pada tahun 2001 menjadi sebesar 505.024 ton. Jumlah produksi
susu tersebut belum dapat memenuhi permintaan total konsumsi. Total konsumsi
susu pada tahun 1997 sebesar 1.050 ribu ton dan terus mengalami peningkatan,
sehingga pada tahun 2001 menjadi sebesar 1.330 ribu ton. Dengan demikian
penyediaan susu dalam negeri selama lima tahun terakhir mengalami defisit
rata-rata sebesar 740,66 ribu ton per tahun (diolah dari Deptan, 2001).
Umumnya susu dihasilkan dari ternak sapi perah.
Defisit penyediaan susu yang tidak terpenuhi dari penyediaan susu sapi perah,
merupakan peluang bagi pengembangan ternak kambing perah sebagai alternatif
pengembangan usaha dan penyediaan susu di Indonesia. Jumlah defisit tersebut
ekuivalen dengan 740.660 ekor kambing perah laktasi, yang berarti dapat
dijadikan sebagai usaha kecil yang layak untuk 74.066 orang peternak.
Susu kambing perah yang diproduksi kemudian dipasarkan
masih terbatas. Hal ini karena susu kambing belum banyak dikenal dan kurang
populer dibandingkan dengan susu sapi. Permintaan susu kambing terbatas untuk
daerah tertentu dan untuk etnik tertentu.
Kambing menjadi pilihan alternatif usahaternak dengan
mempertimbangkan keunggulan yang dimiliki ternak tersebut. Beberapa keuntungan
dalam memelihara ternak kambing adalah sebagai berikut (Sudono, 2002) :
Kebutuhan lahan untuk
memelihara ternak kambing tidak terlalu luas.
Kambing memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap
berbagai lingkungan, sehingga mudah dipelihara dan dikembangkan baik di dataran
tinggi maupun dataran rendah bahkan di daerah kering dengan sumber makanan
kasar sekalipun.
Kambing memiliki perkembangbiakan yang cepat. Umur 1,5
tahun sudah mulai beranak dan dalam dua tahun dapat beranak tiga kali. Setiap
kali beranak dapat melahirkan dua ekor.
Selain daging dan susu, kambing dapat diambil kulitnya untuk kebutuhan industri.
Selain daging dan susu, kambing dapat diambil kulitnya untuk kebutuhan industri.
Limbah kotoran kambing dapat digunakan sebagai pupuk
pertanian.
Kambing merupakan sumber uang tunai yang sewaktu-waktu
lebih mudah dijual.
Susu kambing mengandung kadar protein dan lemak yang
lebih tinggi daripada susu sapi.
Investasi yang dibutuhkan untuk memelihara ternak
kambing lebih kecil daripada ternak besar seperti sapi perah.
Masalah
pakan ternak memang menjadi pertimbangan utama jika ingin usaha di bidang
peternakan. Ketersediaan pakan sepanjang tahun merupakan persyaratan mutlak
bagi kelangsungan usaha peternakan. Biaya untuk menyediakan pakan ini menempati
porsi terbesar dalam biaya produksi, mencapai 60-80%.Besarnya biaya tersebut
ditentukan oleh jenis dan bangsa ternak yang dikembangkan. Ternak ruminansia
seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing merupakan ternak herbivora yang
memiliki sistem pencernaan yang berbeda dengan ternak nonruminansia (unggas dan
babi). Sistem pencernaan ternak ruminansia dapat memanfaatkan pakan berserat
tinggi.
Oleh
karena itu, ternak ruminansia dapat mengkonsumsi pakan hijauan dalam jumlah yang
banyak, seperti vegetasi alami, hijauan introduksi, dan produk samping pertanian.
Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki produk samping pertanian yang
cukup banyak dan tersedia sepanjang tahun. Namun, pemanfatan produk samping
pertanian tersebut untuk bahan pakan ternak ruminansia belum optimal.
Penyebabnya adalah kurang disukai ternak dan kualitas gizinya rendah, sementara
pakan hijauan lain masih banyak tersedia terutama dari vegetasi alami. Namun demikian
pada musim kemarau, ketersediaan vegetasi alami makin berkurang sehingga perlu
diupayakan pemanfaatan sumber pakan lain seperti produk samping pertanian.
Jerami padi merupakan salah satu produk samping pertanian yang tersedia cukup
melimpah. Namun, jerami padi tergolong bahan pakan yang berkualitas rendah,
karena kandungan protein kasarnya rendah sementara kandungan serat kasarnya
tinggi. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan terus dilakukan untuk
meningkatkan kualitas jerami padi agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan
secara optimal, terutama untuk ternak ruminansia. Balai Penelitian Ternak
(Balitnak) di Ciawi, Bogor telah berhasil meningkatkan nilai gizi jerami dengan
cara yang sederhana, yaitu fermentasi dan amoniasi
Proses
Pembuatan Jerami Padi Fermentasi
Fermentasi
dan amoniasi jerami dimaksudkan agar kualitas biomassa/ jerami padi meningkat
dan dapat disimpan lebih lama. Pembuatan jerami padi fermentasi dilakukan
secara terbuka selama lebih kurang 21 hari. Proses fermentasi dilakukan di
bawah naungan agar terhindar dari hujan dan sinar matahari langsung.
Proses
fermentasi dilakukan dua tahap, yaitu tahap fermentasi serta tahap pengeringan
dan penyimpanan. Agar proses fermentasi berlangsung dengan baik perlu ditambahkan
urea, sedangkan untuk membantu memecahkan komponen serat yang terdapat dalam
jerami
dapat ditambahkan probion (salah satu produk Balitnak). Setiap 1 ton jerami segar memerlukan urea dan probion masing-masing 2,5 kg. Jerami padi yang baru dipanen (mengandung air 60%) dikumpulkan pada suatu tempat yang telah disediakan. Jerami ditimbun setinggi ±20 cm, selanjutnya ditaburi urea dan probion, ditumpuk lagi sampai tinggi tumpukan sekitar 3 m. Tumpukan jerami dibiarkan selama 21 hari agar proses fermentasi berlangsung dengan baik.
Setelah melewati tahap fermentasi, jerami dikeringkan di bawah sinar matahari atau dianginkan pada tempat yang terbuka. Jerami padi fermentasi yang telah kering dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan dasar pengganti rumput untuk sapi, kerbau, kambing dan domba.
Sisanya disimpan pada tempat yang terlindung. Jerami kering ini dapat disimpan hingga 3 bulan. Proses pembuatan jerami padi fermentasi cukup sederhana, mudah dan murah sehingga dapat diaplikasikan di tingkat petani-ternak di pedesaan.
dapat ditambahkan probion (salah satu produk Balitnak). Setiap 1 ton jerami segar memerlukan urea dan probion masing-masing 2,5 kg. Jerami padi yang baru dipanen (mengandung air 60%) dikumpulkan pada suatu tempat yang telah disediakan. Jerami ditimbun setinggi ±20 cm, selanjutnya ditaburi urea dan probion, ditumpuk lagi sampai tinggi tumpukan sekitar 3 m. Tumpukan jerami dibiarkan selama 21 hari agar proses fermentasi berlangsung dengan baik.
Setelah melewati tahap fermentasi, jerami dikeringkan di bawah sinar matahari atau dianginkan pada tempat yang terbuka. Jerami padi fermentasi yang telah kering dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan dasar pengganti rumput untuk sapi, kerbau, kambing dan domba.
Sisanya disimpan pada tempat yang terlindung. Jerami kering ini dapat disimpan hingga 3 bulan. Proses pembuatan jerami padi fermentasi cukup sederhana, mudah dan murah sehingga dapat diaplikasikan di tingkat petani-ternak di pedesaan.
Nilai Gizi dan
Pemanfaatannya
Jerami
padi yang telah difermentasi memiliki penampakan warna kecoklat-coklatan dan
tekstur lebih lunak. Kandungan zat gizinya juga lebih tinggi dibanding jerami
tanpa fermentasi, serta lebih disukai ternak. Berdasarkan hasil penelitian,jerami
padi fermentasi memiliki nilai gizi hampir sebanding dengan rumput gajah. Pemeliharaan
sapi perah dengan memanfaatkan jerami padi
fermentasi dan dedak padi sebagai pakan memberikan keuntungan sekitar Rp11.000/ekor/hari dari penjualan susunya saja. Dengan teknologi ini, seekor sapi perah yang memproduksi susu 8-10 liter/hari hanya memerlukan biaya pakan senila penjualan 3 liter susu. Pemanfaatan jerami padi fermentasi sebagai ransum dasar untuk sapi potong telah banyak diaplikasikan dan cukup menjanjikan
fermentasi dan dedak padi sebagai pakan memberikan keuntungan sekitar Rp11.000/ekor/hari dari penjualan susunya saja. Dengan teknologi ini, seekor sapi perah yang memproduksi susu 8-10 liter/hari hanya memerlukan biaya pakan senila penjualan 3 liter susu. Pemanfaatan jerami padi fermentasi sebagai ransum dasar untuk sapi potong telah banyak diaplikasikan dan cukup menjanjikan
Sebagaimana kita ketahui, Hijauan Makanan Ternak (hmt), adalah merupakan
salah satu hal yang sangat penting bagi dunia peternakan. Tanpa manajemen pakan
yang baik, niscaya ternak kambing yang kita pelihara akan merana, karena
makanan yang diberikan ke ternak tidak dapat tersedia secara tetap. Oleh karena
itu, diperlukan suatu cara yang tepat untuk mengatur agar supaya hmt yang
diperlukan oleh ternak tidak terganggu pengadaannya
Ada beberapa macam
hijauan makan ternak yang layak dan disukai oleh kambing etawa:
a.
Rumput Gajah
Rumput gajah banyak
di jumpai di persawahan. Tingginya bisa mencapai 5 m, berbatang tebal dan
keras, daun panjang, dan dapat berbunga seperti es lilin. Kandungan rumput
gajah terdiri atas; 19,9% bahan kering (BK), 10,2% protein kasar (PK), 1,6%
lemak, 34,2% serat kasar, 11,7% abu, dan 42,3% bahan ekstrak tanpa nitrogen
(BETN).
Rumput gajah mempunyai beberapa varietas, antara lain varietas afrika dan
varietas hawai.
1. varietas afrika,
ditandai dengan batang dan daun yang kecil, tumbuh tegak, berbunga dan produksi
lebih rendah jika dibandingkan dengan rumput varietas hawai.
2. varietas hawai,
ditandai dengan batang dan daun yang lebar, pertumbuha, rumpun sedikit
menyebar, produksi cukup tinggi, dan berbunga.
Panen pertama pada
rumput gajah dapat di lakukan pada umur 90 hari setelah tanam. Panen
selanjutnya setiap 40 hari sekali pada musim hujan dan 60 hari sekali pada
musim kemarau. Tinggi potongan dari permukaan tanah antara 10-15 cm. Produksi
hijauan rumput gajah antara 100-200 ton rumput segar/hektar/tahun. Alangkah
lebih baik kalau sehabis pemanenan rumput gajah diberi pupuk, pupuk dapat
berupa pupuk kimia (urea, npk, tsp/kcl) ataupun pupuk alami (kotoran kambing).
Sehingga pertumbuhan rumput itu akan semakin bagus dikemudian hari.
b. Rumput Raja atau King Grass
b. Rumput Raja atau King Grass
Rumput raja mempunyai
karakteristik tumbuh tegak berumpun-rumpun, ketinggian dapat mencapai kurang
lebih 4 m, batang tebal dan keras, daun lebar agak tegak, dan ada bulu agak
panjang pada daun helaian dekat liguna. Permukaan daun luas dan tidak berbunga
kecuali jika di tanam di daerah yang dingin. Rumput raja dapat di tanam di
daeah yang subur di dataran rendah sampai dataran tinggi, dengan curah hujan
tahunan lebih dari 1.000 mm. Produksi hijauan rumput raja dua kali lipat dari
produksi rumput gajah, yaitu dapat mencapai 40 ton rumput segar/hektar sekali
panen atau setara 200-250 ton rumput segar/hektar/tahun. Mutu hijauan rumput
raja lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumput gajah Hawai ataupun rumput
Afrika.
c. Rumput Setaria
Rumput setaria sering
juga disebut sebagai rumput setaria lampung. Rumput setaria tumbuh tegak,
berumpun lebat, tinggi dapat mencapai 2 m, berdaun halus dan lebar berwarna
hijau gelap, berbatang lunak dengan warna merah keungu-unguan, pangkal batang
pipih, dan pelepah daun pada pangkal batang tersusun seperti kipas.
Rumput setaria sangat cocok di tanam di tanah yang mempunyai ketinggian
1200 m dpl, dengan curah hujan tahunan 750 mm atau lebih, dapat tumbuh di
berbagai jenis tanah, dan tahan terhadap genangan air. Pembiakan dapat di
lakukan dengan memisahkan rumpun dan menanamnya dengan jarak 60 x 60 cm.
Pemupukan di lakukan pada tanaman berumur kurang lebih dua minggu, dengan pupuk
urea 100 kg/hektar lahan, dan sebulan sekali di tambah dengan 100 kg
urea/hektar.
Produksi hijauan rumput setaria dapat mencapai 100 ton rumput
segar/hektar/tahun. Komosisi rumput setaria (dasar bahan kering) terdiri atas;
abu 11,5%, ekstrak eter (EE) 2,8%, serat kasar (SK) 32,5%, bahan ekstrak tanpa
nitrogen (BETN) 44,8%, protein ksar (PK) 8,3% dan total digestible nutrients
(TDN) 52,88%
d. Turi (sesbania grandiflora)
Sifat
khusus dari tanaman turi adalah pertumbuhannya yang
begitu cepat, tinggi tanaman bisa mencapai 10 meter, dan bunga berbentuk
seperti kupu-kupu berwarna merah muda atau putih. Turi dapat beradaptasi pada
tanah asam yang tidak subur, kadang-kadang juga tumuh subur pada tanah yang
tergenang air.
Daun turi merupakan
hijauan makanan ternak yang potensial. Komposisi zat gizi daun turi terdiri
atas; protein kasar 27,3%, energi kasar 4.825 kkal/kg, SDN 24,4%, lignin 2,7%, abu 7,5%, Ca 1,5%
dan P 0,4%.
e. Kaliandra (calliandra calothrysus)
Tinggi tanaman (pohon) kaliandra dapat mencapai 8 m. tanaman kaliandra
dapat tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1500 m dpl, toleran terhadap
tanah yang kurang subur, dapat tumbuh cepat dan berbintil akar sehingga mampu
menahan erosi tanah dan air.
Manfaat kaliandra pada makana ternak adalah sebagai bank protein. Penanaman
kaliandra pada tanah-tanah yang kurang produktif dapat menekan pertumbuhan
gulma. Selain itu tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman penahan erosi dan
penyubur tanah.
Daun kaliandra mudah dikeringkan dan dapat dibuat sebagai tepung makanan
ternak kambing. Kaliandra mengandung protein kasar 22,4%, lemak 4,1%, energi
kasar 46,30 kkal/kg, SDN 24,0%, lignin 1995,0%, Ca 1,6% dan P 0,2%.
Ada baiknya sewaktu
pemberian makanan kepada ternak di berikan secara campur. Hal ini bertujuan
agar kandungan yang berada di dalam masing-masing tanaman dapat saling
melengkapi, sehingga kambing akan merasa tercukupi kandungan gizi maupun
proteinnya. Selain itu juga akan meminimalkan kambing merasa bosan makan
apabila di sajikan dalam satu jenis tanaman saja secara berulang-ulang.
Kambing akan memilih daun yang dia paling sukai terlebih dahulu, setelah
daunan yang disukainya habis, maka kambing baru akan menyantap rumputan jenis
yang lain.
Pengembangan Usaha Sapi Perah di Indonesia
Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya
bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa subsektor peternakan menyumbang Rp. 33
309.9 Milyar (12.75 persen) dari jumlah total PDB sektor pertanian secara
nasional. Permintaan terhadap komoditi peternakan sebagai sumber protein hewani
diperkirakan akan semakin meningkat akibat peningkatan jumlah penduduk dan
meningkatnya kesadaran akan gizi masyarakat.
Susu sebagai salah
satu hasil komoditi peternakan, adalah bahan makanan yang menjadi sumber gizi
atau zat protein hewani. Kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia dari
tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan
tingkat kesadaran kebutuhan gizi masyarakat yang didukung oleh ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hal ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya konsumsi susu dari
6.8 liter/kapita/tahun pada tahun 2005 menjadi 7.7 liter/kapita/tahun pada
tahun 2008 (setara dengan 25 g/kapita/hari) yang merupakan angka tertinggi
sejak terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 (Ditjen Bina Produksi
Peternakan, 2008 dan Sinar Harapan, 2007). Pembangunan sub sektor petemakan,
khususnya pengembangan usaha sapi perah, merupakan salah satu alternatif upaya
peningkatan penyediaan sumber kebutuhan protein.
Permintaan terhadap
komoditi susu dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, tetapi produksi
susu nasional belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan impor susu
dari luar negeri. Selain melakukan impor pemerintah juga melakukan ekspor susu
dalam bentuk susu olahan.
Pengembangan usaha
sapi perah merupakan salah satu alternatif dalam rangka pemenuhan gizi
masyarakat serta pengurangan tingkat ketergantungan nasional terhadap impor
susu. Sebenarnya usaha persusuan di Indonesia sudah sejak lama dikembangkan.
Usaha ternak sapi perah di Indonesia didominasi oleh skala kecil dengan
kepemilikan ternak kurang dari empat ekor (80 persen), empat sampai tujuh ekor
(17 persen), dan lebih dari tujuh ekor (tiga persen). Hal itu menunjukkan bahwa
sekitar 64 persen produksi susu nasional disumbangkan oleh usaha ternak sapi
perah skala kecil, sisanya 28 dan delapan persen diproduksi oleh usaha ternak
sapi perah skala menengah dan usaha ternak sapi perah skala besar Erwidodo
(1998) dan (Swastika et al., 2005). Sehingga dengan keragaan usaha ternak sapi
perah kita yang masih sangat kecil, menyebabkan ketidakmampuan untuk bersaing
dengan produk impor. Kondisi ini tentunya akan memperlemah daya saing
usaha usaha ternak sapi perah di Indonesia.
ARTIKEL RUMINANSIA
DISUSUN
OLEH: DIDI MULYADI
Komentar