Berikan aku satu bintang


Berikan aku satu bintang


















Izinkan daku bertanya tentangnya
Sedang senyumpun tak seindah purnama
Ku bertanya tentang diriku
Akan kah bahagia ku rasa
Bila bahagia datang bersama senyum
Ku tak mungkin bertanya
Mengapa bintang ada di langit?
Bulan,
Aku ingi belajar bahagia
Memandang indahnya cahaya mu di malam hari,
Menikmati manisnya senyummu menyambut pagi
Boleh kah aku bertanya?
Ada apa gerangan pada bintang?
Yang telah membuat hati ini
Laksana mawar merah diterpa embun pagi.
Bulan,
Terimakasih atas cahaya dan senyummu
Aku tak berharap lebih dari itu
Maka, izinkan daku memetik satu bintang dari sisimu 

aku hanya ingin kau tersenyum

Beri aku kesempatan sekali lagi untuk mengenangmu
Dosakah bila itu berlebihan?
Ah tidak,
Aku hanya ingin melihatmu tersenyum
Aku ingin kau hadir disetiap kebahagiaanku
D isaat toga bertengger di kepalaku
Bukankah kau ingin bersamaku berkeliling jogja?
Kau tersenyum manis saat aku bercerta tentang kota gudeg
Walau ku tahu berat hatimu jauh dariku
Ibu,
Setahun silam anakmu menangis disaat toga dikepala ini…
Tahukah engkau tulisan pertamaku ketika menginjakkan kaki di pulau jawa?
‘Aku akan membahagiakanmu ibu”
Semoga engkau bahagia di alam kubur dan di yaumil akhir….

Khitbah


Segulung pasrah itu menggelinding bersama iringan alibi,
memintal pada tabuhan doa yang merangkul pada munajah
ikatan restu orang tua

Melamarmu malam ini merisaukan segala dosa,
karena tak ada mahar bahkan akad yang mengikat dengan sempurna
aku tak suka dengan tabuhan pantai, atau
tarian ilalang mengiringi semboyan dalam cerita khitbah,
karena aku, telah memilih; Taman Firdaus
serta bidadari yang menjadi istana taman hatiku.
Segenggam Ruh Ditangan Malaikat

Langit tetap biru walau Jibril tak berganti generasi
Wahyu dari langit adalah terletak pada butir-butir tasbih yang pada desah malam ini kenapa kau angkuh, walau kutahu.
Pada ruh yang suci demi segenggam tulus,
haruskah ku bersimpuh bertekuk lutut dan meretaskan butir-butir airmata penyesalan?
Bulan tetap bundar walau terkadang akan terpenggal menjadi sabit,
tapi demi imanku yang tak bundar, sirna dan pudar bisikkan aku bisa mekar dan tegar.
Demi ruh yang ada pada genggam Izroil
Demi amal yang tertuang dalam tinta Raqib dan Atid
Demi Jibril yang memberi secercah wahyu,
Ma’afkan atas khilaf demi lembar taubat.

Setia

Ku kan setia menunggumu

Aku bukanlah gadis cantik yang layak kau rindukan
Aku tidak memiliki apa-apa yang dapat dibanggakan
Penampilanku tidak menarik untuk dipandang
Aku biasa-biasa saja...
Aku rela kau lupakan
Karena aku hanya sebuah desa pedalaman
Tapi,
Lima tahun lalu kita pernah bersama
Kau masih lugu dan bersahaja.
Bahkan sebelum pergi pun kau pernah berjanji...
Kan segera kembali bila telah kau dapati yang dicari
Ah...
Itukan dulu...
Kau mungkin sudah lupa...
Duniamu telah datang
Kau harus terus berjuang
Tuk raih cita-cata hingga kau tenang
Kelak kau kan mengerti dunia awang
Jangan risaukan diriku yang kian usang
Karena kau yang menjadi harapan
Tuk membangun desamu masa depan.

Komentar